
Pagi yang cerah itu. Ticia berangkat ke sekolah dengan naik mobil. Tidak seperti biasanya. Pagi itu untuk pertama kalinya Ticia membawa mobil ke sekolah.
Mungkin karena dia tidak mau hal kemarin terulang lagi. Dia selalu telat pulang karena harus menunggu jemputan yang lama. Lagipula, mobil hadiah dari papanya juga jarang sekali dia pakai.
Saat hendak sampai di sekolah. Tepatnya di gang menuju sekolahnya. Tanpa sengaja Ticia melihat Varen yang berboncengan dengan Rosalinda.
Tin tin..
Ticia membunyikan klaksonnya untuk menyapa mereka. Kemudian menyalip motor Varen.
"Siapa sih?" gumam Rosalinda marah. Dia berpikir jika pengemudi mobil tersebut tidak sopan karena membunyikan klakson. Padahal jalanan juga lenggang.
Berbeda dengan Varen yang terkejut melihat mobil tersebut. Varen tahu jika itu adalah mobil milik Ticia. Dia hafal nomor kendaraan, dan juga stiker anime one piece yang ada di kaca belakang mobil tersebut.
"Tumben dia bawa mobil." gumam Varen seorang diri.
"Kenapa kak?" tanya Rosalinda yang samar-samar mendengar Varen ngomong.
"Nggak apa-apa kok," jawab Varen.
Begitu sampai di parkiran sekolah. Rosalinda memicingkan matanya. "Bukannya ini mobil tadi ya?" gumamnya.
Rosalinda baru pertama kali melihat mobil tersebut ada di parkiran sekolah. Sebelumnya cuma ada beberapa murid yang menggunakan mobil ke sekolah. Salah satunya Rosalinda. Jadi, Rosalinda tahu betul jika mobil itu tidak ada sebelumnya.
"Kak, apa murid baru ya?" tanya Rosalinda penasaran.
"Kenapa emangnya?" Varen tidak apa yang dimaksud Rosalinda.
"Maksud gue gini. Mobil ini biasanya nggak ada disini, ini kan mobil yang klakson-klakson kita tadi kayaknya. Apa mungkin ini mobil milik murid baru?" Rosalinda meyakini jika memang mobil tersebut milik murid yang baru masuk.
"Bukan, itu milik murid sini juga, bukan murid baru." jawab Varen yakin. Karena dia tahu mobil siapa itu.
"Tapi sebelumnya hanya beberapa murid yang naik mobil. Dan tidak ada mobil ini." ucap Rosalinda lagi.
Varen mengerutkan keningnya. Varen merasa jika Rosalinda memiliki sifat sombong di dalam dirinya. Kenapa juga jika ada mobil baru yang parkir disitu. Mungkin saja murid lain sebenarnya juga punya mobil. Tapi mereka tidak mau memakainya ke sekolah. Seperti Varen contohnya.
"Sebenarnya banyak dari murid sekolah ini yang punya mobil. Hanya saja mereka tidak mau memakainya ke sekolah. Jadi, jangan suka menduga-duga apa lo tidak tahu!" ucap Varen kemudian berjalan mendahului Rosalinda.
__ADS_1
Varen tidak suka dengan orang yang congkak. Dia tidak pernah melihat seseorang dari penampilan atau dari apa yang mereka miliki. Karena semua itu hanyalah titipan.
"Kak, tunggu!!" seru Rosalinda harus berlari untuk mengikuti Varen yang sudah jauh meninggalkannya.
Sementara di kelas Ticia. Indah dan Anabella penasaran alasan Ticia ke sekolah memakai mobil. Karena selama satu tahu menjadi murid sekolah itu. Baru kali ini Ticia ke sekolah membawa mobil.
"Ya nggak kenapa-napa, pengen aja." jawab Ticia sambil tersenyum.
"Kalau gitu, nanti pulang sekolah, lo harus ajak gue ama Anabella jalan-jalan!" ucap Indah dengan konyol.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Ticia sambil tertawa.
"Kemana gitu kek, atau kalau nggak ke Mall aja gimana?" ucap Indah.
"Tapi gue bawa motor, nj*r." sahut Anabella mendorong kepala Indah pelan.
"Motor lo tinggal aja di sekolah!" jawab Indah santai.
"Terus gue pulangnya? Besok ke sekolah gue gimana? Nggak punya otak sih lo." Anabella kembali menoyor kepala Indah.
"Nah, pinter nih. Nggak kayak lo, bisanya cuma esmosi dulu!" ucap Indah. Tapi lagi-lagi dia mendapat jitakan dari Anabella dan juga Ticia, karena pelesetin kata emosi menjadi esmosi.
"Emosi, beg*." ucap Anabella dan Ticia bersamaan sambil menjitak kepala Indah.
"Oh, udah ganti?" tanya Indah dengan muka konyol.
"Ganti pala lo, emang dari dulu gitu. Gue gibeng juga lo." Anabella sedikit kesal dengan kekonyolan Indah. Dia sampai menggulung lengan bajunya, bersiap akan memukul Indah. Tapi semua itu hanya bercanda saja. Setelah itu ketiga remaja putri tersebut sama-sama tertawa.
"Kantin yuk!" ajak Ticia.
Ketika ketiga cewek tersebut sedang berjalan menuju kantin. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Varen yang juga sepertinya akan ke kantin.
"Kak Varen tuh, Cia." Indah menyenggol lengan Ticia.
"Sapa gih!" ucap Anabella.
"Meskipun udah putus tapi jangan sampai putus silahturahmi!" imbuh Anabella menasehati Ticia.
__ADS_1
Sementara Ticia hanya terdiam. Tapi begitu mereka semakin dekat. Ticia akhirnya menurunkan ego-nya. "Kak, mau ke kantin?" sapanya tepat di persimpangan antara kelasnya dengan kelas Varen.
"I..iya. Lo juga mau ke kantin?" tanya Varen sedikit gugup. Dia tidak menyangka jika Ticia akan menyapanya duluan.
"Iya, bareng yuk!" ajak Ticia yang semakin membuat Varen terkejut. Tapi tanpa pikir panjang, dia berjalan berdampingan dengan Ticia menuju kantin. Sedangkan Indah dan Anabella ada di belakang mereka.
"Lo tumben ke sekolah bawa mobil?" tanya Varen sudah tidak segugup tadi.
"Iya, kayaknya enak kalau bawa mobil sendiri, nggak harus nungguin sopir jemput." jawab Ticia dengan biasa saja. Dia tidak terlihat gugup sama sekali. Padahal sebenarnya tangannya terasa dingin dan gemetar.
Sudah lebih satu minggu dia tidak saling sapa dengan Varen. Sejak saat dia menolak ajakan Varen, yang mengajaknya balikan.
Dan Varen lebih dekat dengan Rosalinda sejak saat itu. Ticia tidak mau mengganggu hubungan Varen dengan Rosalinda. Makanya, dia tidak mau menyapa atau berbicara dengan Varen. Toh, juga Varen tidak menyapanya. Terlebih lagi, Varen tidak mengajaknya bicara.
"Kenapa nggak minta Roman buat jemput lo?" tanya Varen dengan nada sedikit cemburu.
"Kak Roman? Nggaklah, dia bukan siapa-siapa gue, masa iya gue minta dia jemput. Mendingan juga enak bawa mobil sendiri." Entah kenapa, Ticia merasakan jika Varen sedang cemburu kepadanya.
"Cia, gue boleh nggak main ke rumah lo lagi?" tanya Varen dengan hati-hati.
"Boleh aja, rumah gue selalu terbuka buat semua teman-teman gue kok." jawab Ticia yang sebenarnya kaget dengan pertanyaan Varen.
Sementara Varen tersenyum pahit mendengar Ticia mengucapkan kata teman. Hatinya seperti tertusuk. Sakit. Dia merasa tidak suka dengan kata teman yang diucapkan oleh Ticia.
"Kak Gio.." lagi-lagi suasana seperti itu diganggu oleh kehadiran Rosalinda yang mengikuti mereka ke kantin.
"Hai, Cia. Maaf gue ada yang mau diomongin penting sama kak Gio, jadi maaf, gue bawa kak Gio dulu ya!" Rosalinda berkata dengan nada kesal. Meskipun dia tersenyum, tapi itu tidak bisa menyembunyikan kekesalannya melihat Varen berjalan bersama Ticia.
"Silahkan." jawab Ticia sambil tersenyum. Ticia justru merasa jika Rosalinda sengaja menjauhkan Varen dari dirinya. Mungkin karena Rosalinda cemburu melihat Varen dan dirinya berjalan berdampingan.
"Gue duluan ya, Cia." pamit Varen sambil menoleh menatap Ticia. Takut Ticia marah karena perilaku Rosalinda yang tiba-tiba menggandeng tangannya dan menariknya menjauh dari Ticia.
Tanpa menjawab, Ticia hanya menganggukan kepalanya saja. Wajahnya tersenyum, tapi masih terlihat kesal.
"Ish, kenapa sih tuh orang selalu ganggu Ticia dan kak Varen?" gumam Indah dengan kesal.
"Dia pasti sengaja," sahut Anabella juga tak kalah kesal. Apalagi saat Rosalinda menoleh ke belakang dengan tersenyum yang seperti mengejek. Dengan terus menggandeng tangan Varen menjauh.
__ADS_1