Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
104. (Episode Akan Tamat)


__ADS_3

Murid kelas 12 sudah selesai menjalani ujian akhir nasional. Dan saat ini sudah bisa bernafas lega. Setelah selama seminggu mereka dipusingkan dengan ujian nasional yang mereka jalani.


"Ke club yuk, kita rayain kebebasan kita, seminggu ini pikiran gue benar-benar tegang," ajak Digta.


"Sama anj*r." sahut Iqbal.


"Sorry gue nggak bisa, gue ada kerjaan di kantor soalnya." Varen tidak bisa ikut teman-temannya ke club, dia disibukan dengan pekerjaan dan juga urusan kepindahannya keluar negeri.


"Wuih, anak kantoran sekarang." goda Iqbal.


"Lo beneran mau kuliah di luar negeri?" tanya Tika sedih.


"Iya, nih juga mau urus dokumen yang diperlukan."


"Lo mau ninggalin kita? Mau ninggalin semua kenangan kita?" Tika tidak bisa menahan kesedihannya.


"Lo yakin mau ninggalin Ticia?" timpal Digta.


Varen terdiam mendengar ucapan Digta. Entah, apa yang dia lakukan ini benar atau salah. Tapi yang jelas dia ingin melupakan Ticia dengan kuliah di luar negeri.


Sejak pertemuannya dengan Ticia terakhir kali. Dia sudah tidak lagi ketemu dan komunikasi dengan Ticia. Wa dan teleponnya tidak pernah di balas Ticia.


"Udah, jangan sedih lagi, mending kita ke club, seneng-seneng!" Iqbal tidak mau semakin menambah beban pikiran Varen. Dia tahu, ada alasan tersendiri kenapa Varen memutuskan untuk pergi.


***


Sebulan setelahnya, tepatnya hari kelulusan kelas 12. Suasana bahagia berubah menjadi suasana mengharukan. Teman-teman Varen masih saja belum rela jika Varen pergi. Terutama Tika, dia terus menangis karenanya.


Pasalnya, besok pagi, Varen akan terbang ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Tika juga sempat kesal, kenapa Ticia seolah tidak peduli dengan kepergian Varen.


Ticia sama sekali tidak menahan Varen yang akan pergi. Bahkan juga udah tidak ada kabar lagi.


"Gi, apa lo memang harus pergi?" tanya Tika disela isak tangisnya.


"Iya," Varen tersenyum kecil.


Sebenarnya Varen kangen sekali dengan Ticia. Dia ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum dia terbang besok pagi. Tapi sampai sekarang, Ticia bagai menghilang ditelan bumi. Tidak membalas atau mengangkat telepon dari Varen.

__ADS_1


"Ntar malam ke rumah gue! Gue adain acara ulang tahun, sekalian acara pelepasan gue." Tika dan yang lain bahkan hampir lupa jika besok adalah bertepatan dengan hari ulang tahun Varen.


Varen sengaja mengadakan acara malam ini. Karena besok dia sudab harus terbang. Sekalian dia pamit ke teman-temannya, karena mereka mungkin tidak akan bertemu selama tiga tahun.


"Wooh, happy birthday bro, panjang umur, dan sehat selalu.." Iqbal dan yang lain bergantian memberikan selamat kepada Varen.


Ulang tahunnya kali ini sangat berbeda dengan ulang tahunnya tahun lalu. Jika tahun lalu dia mendapat kejutan dari sang kekasih. Tahun ini, jangankan kejutan. Varen tidak yakin jika Ticia masih ingat hari ulang tahunnya.


Senyuman yang terlihat hanyalah untuk menutupi rasa kecewanya.


"Hari ini jangan ada yang membahas apapun tentang Ticia! Kasihan Gio, dia kayaknya berharap banget kabar dari Ticia, tapi sepertinya Ticia tidak peduli lagi sama dia." bisik Rafa memperingatkan kepada ketiga sahabatnya.


Untuk menghargai perasaan Varen. Ketiga temannya setuju dengan masukan Rafa. Mereka sepakat untuk tidak membahas tentang Ticia di depan Varen.


***


Anabella ke rumah Ticia dengan terburu-buru. Sepertinya ada sesuatu yang mendesak, yang ingin dia sampaikan ke Ticia.


Setelah mendapat ijin, Anabella buru-buru berlari ke kamar Ticia.


Di kamar, Ticia sedang menulis sepucuk surat untuk Varen, yang akan dia berikan besok, di hari ulang tahun Varen.


Rencananya, besok dia akan datang ke rumah Varen untuk memberinya surprise.


"Cia,, Cia,, lo tahu nggak?" ucap Anabella mengagetkan Ticia. Anabella menerobos begitu aja ke kamar Ticia.


"Anj*r, kaget gue.." Ticia njondil karena saking terkejutnya.


"Lo kenapa sih ngagetin aja!" omel Ticia masih merasa terkejut.


"Kak Varen.. hah, kak Varen..." ucap Anabella terbata-bata.


"Kak Varen kenapa?" Ticia masih santai menanggapinya.


Anabella mengatur nafasnya terlebih dahulu. Setelah agak tenang, dia mulai melanjutkan perkataannya.


"Kak Varen besok mau berangkat keluar negeri," baru saat itu Ticia membulatkan matanya.

__ADS_1


"Serius?"


"Iya, gue baru aja di kasih tahu kak Iqbal." Tiba-tiba ketakutan menyergap hati Ticia. Air matanya sudah hampir jatuh.


Awalnya Iqbal tidak ingin memberitahu Anabella maupun Ticia. Tapi, dia berubah pikiran. Karena Iqbal yakin, Varen sangat ingin bertemu Ticia sebelum dia pergi.


Maka dari itu, Iqbal sengaja meminta Anabella untuk memberitahu Ticia. Takutnya Ticia juga akan menyesal, jika tidak bertemu Varen sebelum Varen pergi.


Dia tahu jika perpisahan itu pasti. Tapi tidak menyangka jika secepat ini. Melihat Ticia yang sedih, Anabella kemudian memeluk Ticia.


"Kenapa sih dia harus pergi? Apa dia udah nggak mau berteman sama gue?" tanyanya sedih.


Dia pikir, setelah dia menjauh. Varen akan membatalkan rencananya keluar negeri. Tapi siapa sangka, jika Varen begitu kekeh pergi.


Yang Ticia mau, meskipun mereka sudah tidak lagi bersama, setidaknya mereka masih bisa berteman. Masih bisa bertemu dan mendukung satu sama lain.


"Malam ini kak Varen adain acara ulang tahun dan perpisahan di rumahnya. Lo mau kesana nggak?" Ticia terdiam.


"Setidaknya lo temuin dia sebelum dia pergi." Ticia masih tidak bergeming.


Cukup lama Ticia terdiam. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Varen malam ini.


*Malam hari**


Ticia datang ke rumah Varen tanpa undangan. Di tangannya menenteng tas berisi kado untuk Varen. Sebenarnya dia ingin memberikan kado itu besok hari. Tapi dia takut, dia tidak ada waktu bertemu Varen.


Saat itu acara hanya dihadiri teman-teman Varen, Jane dan Rosalinda. Acara pun cukup meriah karena kehebohan Iqbal, Rafa, dan Digta.


Sementara yang memiliki acara, hanya terdiam sambil melamun. Wajahnya yang tampan terlihat begitu sedih. Meskipun dia tersenyum, tapi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Kak Varen..." ucap Ticia membuat semua orang kaget karena kehadirannya. Seketika, Varen menoleh ke arah sumber suara yang begitu familiar untuknya.


"Leticia.." gumam Varen tersenyum bahagia. Sudah lama dia tidak melihat wanita itu. Rasa rindu membelenggu di hatinya.


Varen melompat dari tempat duduknya kemudian berlari ke arah Ticia. Tanpa peringatan, Varen langsung memeluk Ticia. Dia sudah tidak bisa mengendalikan rasa kangennya.


"Gue kangen banget sama lo." ucapnya semakin erat memeluk Ticia.

__ADS_1


"Gue juga," Ticia tanpa sadar mengungkapkan perasaannya. Rasa kangen yang itu sudah tidak bisa dia pendam.


Ya, Ticia sangat merindukan sosok pria konyol itu. Tanpa ragu, Ticia juga memeluk Varen dengan erat.


__ADS_2