
Saat itu Varen datang ke rumah Ticia. Akan tetapi kata pembantu di rumah Ticia. Anak majikannya tersebut sedang keluar bersama temannya. Karena penasaran, Varen lantas menanyakan siapa teman yang keluar bersama Ticia tersebut.
"Kayaknya bukan teman sekolah mas, itu teman non Ticia di gereja kalau nggak salah." ucap pembantu itu.
"Teman gereja? sering kesini juga mbak? laki-laki atau perempuan?" tanya Varen masih dilanda penasaran. Pasalnya Ticia tidak pernah bercerita teman-temannya di luar sekolah.
"Ada laki-laki juga ada perempuan mas, enam orang kayaknya tadi."
"Mbak tahu nggak, mereka mau kemana?"
"Tidak mas," jawab pembantu tersebut sembari menggelengkan kepalanya. Sebagai seorang pembantu. Rasanya tidak sopan jika kepo tentang urusan majikannya.
Varen mengucapkan terima kasih. Varen keluar dari komplek perumahan itu. Dia tidak berniat pulang. Tapi menunggu Ticia di depan komplek tersebut.
Varen membulatkan matanya ketika kepo dengan story wa Ticia. Dari story wa tersebut. Akhirnya Varen tahu dimana Ticia berada dan bersama siapa.
Hatinya seperti tertusuk, sakit ketika melihat wanita yang dia cintai tertawa bersama lelaki lain. Bukan pertama kali Varen melihat Ticia bersama lelaki itu. Beberapa hari yang lalu. Saat dia menunggu Ticia yang sedang ibadah. Varen juga melihat Ticia berjalan bersama lelaki itu. Dan mereka terlihat sangat akrab. Akan tetapi, dari perawakannya. Lelaki itu terlihat lebih tua dari Varen.
Waktu itu Varen masih bisa mengendalikan amarahnya. Dia berpikir mungkin saja mereka kebetulan keluar bersama. Tapi, kali ini sepertinya Varen sangat marah. Dia masih belum rela jika Ticia akan dimiliki lelaki lain.
Varen memutuskan untuk menghampiri dimana Ticia berada. Varen sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
Ketika dia menjalankan motornya. Belum cukup jauh dari komplek perumahan Ticia. Varen sekilas melihat Ticia berada di dalam mobil bersama lelaki itu. Dengan cepat, Varen memutar laju motornya.
Varen mengikuti mobil tersebut sampai akhirnya dia menghentikan motornya tepat di depan mobil lelaki tersebut.
Ciitttt.
Mobil tersebut ngerem mendadak karena terhalang Varen dan motornya yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Ah..." teriak Ticia dengan memegangi dahinya. Sepertinya dahinya terbentur sesuatu di depannya.
"Lo nggak kenapa-napa Cia?" tanya lelaki itu dengan cemas.
"Siapa sih dia?" gumam lelaki itu dengan sedikit marah. Lalu dengan cepat keluar dari mobilnya. Lelaki itu menegur Varen yang melakukan hal yang sangat berbahaya.
__ADS_1
Tapi, tanpa menjawab dan berkata. Varen tiba-tiba maju dan memukul lelaki tersebut dengan satu tinju. Brukkk. Varen juga mencengkeram baju lelaki itu.
Melihat Varen yang melakukan hal gila. Ticia buru-buru keluar dari mobil tersebut. "Kak Varen apa-apaan sih?" Ticia menarik tangan Varen yang sudah bersiap akan memukul lelaki itu lagi.
"Kak Davin nggak kenapa-napa?" tanya Ticia penuh perhatian.
"Nggak kok, lo kenal dia?" tanya lelaki bernama Davin tersebut sembari mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
"Dia teman gue."
Melihat Ticia begitu perhatian kepada lelaki itu. Belum lagi Ticia yang mengatakan jika Varen adalah temannya. Membuat Varen semakin murka. Varen kembali maju dan menendang Davin sampai terjatuh.
"Kak Varen!!" bentak Ticia sembari melotot. Ticia tidak apa yang membuat Varen bisa menjadi gila seperti itu.
"Seharusnya gue nggak pernah kenal lelaki kasar kayak lo." ucap Ticia dengan marah.
"Harusnya lo tahu, kenapa gue bisa jadi kayak gini!" Varen menarik tangan Ticia yang hendak membantu Davin berdiri.
"Mulai sekarang jangan pernah nyapa satu sama lain, kita udah putus, jadi nggak ada urusan lagi diantara kita." ucap Ticia tidak mau lagi membahas apapun dengan Varen.
"Kita udah putus,"
"Lo yang minta putus tapi gue nggak mau."
"Mau atau nggak, yang jelas kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Kasihan Rosalinda, ngertiin perasaan tunangan lo!" ucap Ticia menarik tangannya dari cengkeraman Varen.
"Kenapa lo selalu minta gue buat ngertiin perasaan Rose, sementara lo sendiri nggak ngertiin perasaan gue?" Varen semakin murka.
"Karena Rosalinda adalah calon istri lo." seru Ticia.
"Tolong jangan lagi ganggu gue. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Gue doain semoga kalian bahagia!"
"Ke depannya jangan lagi ganggu satu sama lain, gue nggak mau dituduh perusak hubungan lo dengan Rosalinda." lanjut Ticia.
"Pers*tan dengan semuanya! Apa lo bener-bener rela gue sama wanita lain?"
__ADS_1
"Ya, gue sangat rela." jawab Ticia dengan cepat.
Mendengar jawaban yang sangat yakin dari Ticia membuat Varen menjadi sakit di dalam hatinya. Apalagi melihat Ticia yang memapah Davin masuk ke dalam mobilnya.
"Cia, apa lo udah nggak mau bersama-sama gue?" tanya Varen menahan rasa sakit di dalam hatinya.
"Kita tidak akan pernah bisa bersama. Lo tahu alasannya. Kenapa kita harus membuang kebahagiaan kita dengan cinta yang tak akan pernah bersatu?" Ticia kembali mengingatkan Varen alasan kenapa mereka tidak bisa bersama lagi.
"Kak Davin pulang aja, biar gue jalan kaki aja, udah deket juga." pinta Ticia. Dia buru-buru meminta Davin pulang. Karena takut Varen akan lepas kendali lagi dan memukul Davin kembali.
"Gue minta maaf atas nama temen gue ya kak, maaf banget. Gue janji, lusa akan traktir kak Davin deh sebagai permintaan maaf gue." imbuh Ticia. Dia merasa tidak enak hati atas tindakan gegabah Varen.
"Gue tunggu," Davin sempat menatap Varen tajam. Setelah kemudian dia melajukan mobilnya meninggalkan Ticia dan Varen.
Setelah mobil Davin sudah tidak terlihat. Ticia tanpa berkata lagi, dia berjalan meninggalkan Varen. Ticia sudah cukup dengan Varen. Dia tidak mau lagi membahas hubungan yang tidak akan pernah bersatu.
"Cia, seandainya gue pindah agama, apa kita masih bisa bersama?" tanya Varen yang membuat Ticia menghentikan langkahnya.
"Nggak. Gue nggak akan pernah mau dengan orang yang menghalalkan segala cara demi cinta." jawab Ticia.
"Jadi masalahnya bukan karena perbedaan keyakinan kita kan? Tapi karena emang lo nggak pernah cinta sama gue, iya kan?" tanya Varen dengan marah.
Sebenarnya cinta itu masih ada di dalam hati Ticia. Hanya saja dia tidak mau membuat Varen meninggalkan Tuhannya atas apa yang disebut cinta. Karena dia juga tidak tahu, sampai kapan cinta itu akan ada di hati mereka.
"Jawab Cia! Lo sebenarnya nggak pernah kan cinta sama gue? Lo selama ini cuma kasihan kan sama gue? Lo nggak benar-benar cinta sama gue?" Varen tidak bisa mengendalikan amarahnya menghadapi kebisuan Ticia.
Varen baru sadar jika cintanya selama ini hanyalah bertepuk sebelah tangan. Ticia tidak benar-benar mencintainya. Varen merasa jika Ticia telah mempermainkan hatinya.
"Maafin gue-"
"Oke. Karena lo nggak pernah cinta sama gue, mulai sekarang gue nggak akan lagi ganggu lo, gue akan menghargai wanita yang mencintai gue, dan itu bukan lo. Makasih untuk semua kebohongan lo." Varen berkata dengan marah. Kemudian dia pergi meninggalkan Ticia dengan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sesaat kemudian. Hujan mulai turun dengan begitu derasnya. Ticia tidak berniat menghindari hujan tersebut. Langkahnya terasa sangat berat. Hatinya terasa sangat sakit. Air matanya mengalir bersama dengan derasnya air hujan yang turun membasahi tubuhnya.
Ticia tidak apa yang dia lakukan ini benar atau salah. Dia tidak tahu. Yang dia tahu, hatinya terasa sakit saat melihat Varen pergi dengan amarahnya. Dan berharap Varen akan menemukan kebahagiaannya.
__ADS_1