Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
41. Dinner


__ADS_3

Sebagai ganti makan malam yang gagal karena kelalaian Varen. Varen mengajak Ticia untuk dinner romantis di sebuah restoran yang lagi viral di kota tersebut. Dimana tempat dinner tersebut berada di ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut.


Dari tempat itu. Terlihat lampu dari gedung pencakar langit yang begitu indah. Terlihat lampu gemerlip di sejauh mata memandang.


Restoran dengan desain modern tersebut menyuguhkan pemandang yang begitu menawan.


Untuk tempat yang baru buka kurang dari setengah tahun. Tempat tersebut termasuk rame. Tidak ada meja yang kosong saat Varen dan Ticia masuk ke dalam restoran tersebut. Bahkan Varen harus melakukan reservasi sehari sebelumnya terlebih dahulu.


"Suka nggak sama tempatnya?" tanya Varen ketika Ticia terlihat begitu tercengang dengan keindahan pemandangan di luar sana.


"Bagus banget kak," jawabnya dengan tersenyum kagum.


Ticia tak henti-hentinya melempar pandangannya keluar. Dia sempat kesal, kenapa Varen baru mengajak ke tempat itu sekarang.


Sejujurnya, Varen juga tahu tempat tersebut dari rekomendasi Digta. Dari ketiga temannya. Digta yang paling sering pedekate dengan wanita. Digta juga tipe lelaki romantis. Jadi tidak sulit untuk Digta menemukan tempat yang sangat romantis tersebut.


Varen pernah dengar tentang tempat tersebut. Akan tetapi dia tidak pernah datang. Itu pertama kalinya dia datang. Dan itu bersama dengan Ticia.


Sebelumnya Varen juga sudah memesan makanan dan minuman. Jadi tidak terlalu lama untuk sepasang kekasih tersebut menunggu makanan datang.


Varen juga menyiapkan sebuah buket bunga untuk sang kekasih. Menambah suasana romantis.


Ticia merasa sangat bahagia sekali. Dia tidak pernah menyangka jika pacarnya bisa begitu sangat romantis. Ticia bahkan berkaca-kaca. Berulang kali dia mencium bunga tersebut. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Varen.


"Asalkan lo bahagia, gue bakal lakuin apapun buat lo." ucap Varen meraih tangan Ticia dan menggenggamnya.


Diam-diam Varen menyelipkan sesuatu di antara jari jemari Ticia. Sebuah cincin berbentuk ring terpasang di jari manis tangan kanan Ticia.


"Ini??" Ticia kaget melihat sebuah cincin telah terpasang di jari manisnya.


"Ini hadiah gue buat lo. Sebagai tanda kalau gue cinta banget sama lo." ucap Varen sembari menatap Ticia dengan lembut.


"Dilarang nolak!" imbuh Varen, yang membuat Ticia tertawa kecil. Varen tahu kalau Ticia pasti akan menolak pemberiannya. Maka dari itu, Varen mengatakan kata terakhir tersebut.

__ADS_1


"Gue nggak punya hadiah apapun buat lo." ucap Ticia sedikit manyun.


"Gue nggak butuh hadiah dari lo, yang gue butuh cuma cinta lo." jawab Varen membesarkan hati sang kekasih. Varen kemudian mencium tangan Ticia dengan lembut.


Mereka lalu menikmati hidangan yang telah mereka pesan sebelumnya. Ticia dan Varen juga sangat suka dengan makanan di tempat itu. Menurut Ticia dan Varen, rasa makanan tersebut sangatlah enak. Layaklah dengan harganya yang mahal.


Selesai makan, Varen ingin mengajak Ticia ke tempat pandang rumput yang pernah mereka singgahi sebulan yang lalu. Tapi Ticia menolak. Dengan alasan dia masih merasa sedikit pusing. Akibat kecelakaan beberapa hari lalu.


"Nggak cek ke dokter aja? Gue takut kenapa-napa," ucap Varen dengan khawatir.


"Nggak usah kak, kalau obatnya udah habis pasti udah sembuh." Ticia menolak ajakan Varen ke dokter. Bukannya dia tidak khawatir dengan luka di kepalanya. Hanya saja dia malas kalau harus di suruh minum obat lagi. Ticia tidak suka obat.


"Ya udah istirahat aja! Besok kalau masih pusing, nggak usah masuk sekolah dulu!"


"Kalau gitu gue pulang dulu!" pamit Varen setelah menuntun Ticia masuk ke dalam rumahnya. Ticia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


....


"Wuis keren amat, jadi dinner-nya?" tanya Digta menyambut kedatangan Varen.


"Yupz, thanks bro rekomendasi tempatnya, dia seneng banget." jawab Varen.


"Terus Ticia-nya mana?" tanya Tika yang tidak melihat batang hidung Ticia.


"Di rumah, pusing katanya."


Varen mengambil gitar yang di pegang oleh Iqbal. Petikan demi petikan dia mainkan. Harus diakui, jika permainan gitar Varen lebih hebat dibanding temannya yang lain.


Dengan suara pelan dan lembut. Varen menyanyikan sebuah lagu romantis. Lagi tersebut mencerminkan perasaannya saat ini. Karena saking enaknya lagu yang dibawakan Varen. Teman-teman Varen menjadi ikut terbawa perasaan. Mereka ikut menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.


"Udah lama kita nggak kayak gini," gumam Rafa merasa sangat senang.


"Lagu lain Gi!" pinta Tika.

__ADS_1


"Cinta dalam doa," imbuh Tika dengan penuh semangat.


"Cinta ama siapa lo? Iqbal?" goda Varen, yang membuat Tika jadi salah tingkah. Sementara Digta dan Rafa sibuk mencie-ciekan. Dan Iqbal mengomel nggak jelas.


"Apaan sih Gi, gue suka aja sama lagunya." dalih Tika karena tidak mau membuat hubungannya dengan Iqbal menjadi canggung.


"Itu lagunya buat lo, si Tika doain lo supaya lo bahagia terus, gitu." gantian Iqbal yang menggoda Varen. Bukan rahasia lagi, kalau Tika memang sempat memiliki rasa kepada Varen.


"Nggak jadi aja, ntar biar gue nyanyi sendiri.." sahut Tika dengan memukul lengan Iqbal keras. Tika buru-buru mengalihakan topik pembicaraan. Dia tidak mau hubungan pertemanannya dengan Varen akan kembali renggang.


Tika mulai membahas tentang sikap aneh Rosalinda. Dia juga curiga, kalau Rosalinda memiliki perasaan khusus ke Varen. "Gue juga mikir gitu," sahut Iqbal.


"Ticia juga bilang gitu sih," ucap Varen menanggapi kecurigaan Iqbal dan Tika.


Sebelumnya, Ticia juga mengatakan kepada Varen tentang kecurigaannya kepada Rosalinda. Menurut Ticia, Rose dengan sengaja mengunggah video yang sempat membuat Ticia marah kepada Varen.


Dan Varen pun juga tidak tahu apa motif Rosalinda memvideo dirinya secara diam-diam dan mengunggahnya di story wa. Dan itu sempat membuat Ticia jadi salah paham kepadanya.


Maka dari itu. Sejak Ticia mengutarakan kecurigaannya. Varen mulai menjaga jarak dengan Rosalinda. Varen tidak ingin melukai hati kekasihnya.


"Lo kayaknya deket banget sama dia sebelumnya, apa lo udah kenal duluan sama dia?" tanya Tika.


"Dia temen masa kecil gue." setelah lama terdiam. Akhirnya Varen memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tika.


Varen ragu ingin mengatakan jika dia dengan Rosalinda akan menjadi saudara tiri. Karena teman-temannya yang lain, belum tahu tentang masalah ibunya yang pergi dari rumah. Hanya Tika yang tahu masalah ibunya.


"Lo harus bisa jaga jarak dari dia! Gue takut dia akan jadi duri dalam daging di hubungan lo dengan Ticia." Tika menasehati Varen supaya Varen berhati-hati dengan Rosalinda. Karena Tika memiliki feeling yang tidak enak kepada Rosalinda.


"Iya, gue tahu apa yang harus gue lakuin. Btw thanks, lo udah perhatian sama Ticia." ucap Varen dengan tersenyum kepada Tika.


"Ya karena gue udah anggep dia sebagai adik gue, karena kecantikan kita kan hampir sama." jawab Tika dengan bangga. Tentu saja itu membuat teman-temannya menjadi heboh dan tidak terima. Terutama Varen. Dia protes dengan kepedean Tika.


"Cantikan cewek gue kemana-mana lah," protes Varen dengan sengit.

__ADS_1


__ADS_2