
Bab 10. Berfikir
**
Aziz vop
Hari ini aku bekerja dengan tidak fokus, bukan karena apa-apa. Tapi karena rasa sakit yang begitu menjalar di seluruh tubuhku. Semalam aku memutuskan bekerja di sofa, yang berada di kamar Elena. Aku tidak menyangka jika aku sampai tertidur di sofa tersebut.
Sebelumnya, aku juga memindahkan Elena dari tempat belajarnya. Dia terlihat begitu lelah hingga tidur begitu nyenyak. Padahal posisinya sangat lah tidak enak. Hingga akhirnya aku memindahkan dia ke atas kasur, tubuhnya tidak berat padahal aku lihat postur tubuh Elena cukup berisi untuk gadis remaja.
Aku memandang wajahnya begitu lekat, dia cantik dan juga terlihat imut. Rambut hitamnya yang hanya sebahu begitu mendukung dengan wajah Elena. Aku awalnya ingin ikut merebahkan diri di samping Elena, tapi pekerjaanku yang begitu banyak mengurungkan niatku. Hingga aku berakhir di atas sofa, dengan mengenaskan.
Aku mengusap wajahku dengan frustasi, badanku benar-benar sakit semua. Tapi sialnya, pekerjaan ku begitu banyak.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku, sekarang sudah pukul tiga. Pasti Elena sudah pulang, aku merogoh ponselku yang berada di saku celana ingin bertanya dia pulang kemana. Tapi bodohnya aku akan mengirim pesan pada siapa? Nomor nya saja saya tidak punya. Benar-benar bodoh.
Aku putuskan menyandarkan tubuh ku sejenak, mengistirahatkan tubuhku sejenak. Aku benar-benar merasa lelah. Andai hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan aku lebih memilih cuti dari pada menyiksa tubuh ku sendiri seperti ini.
"Maaf pak, di luar ada yang ingin bertemu!" Aku menoleh ke arah pintu, Disa sekertaris ku tengah berdiri. "Siapa?" Aku bertanya sembari menegakkan tubuhku kembali. "Itu nona-
"Saya yang mau bertemu Ziz, kenapa?" Aziz mengibaskan tangannya, menyuruh Disa untuk kembali ke tempat kerja nya.
"Mau apa kamu?" Bosan, itu yang Aziz rasakan. Hampir dua tahun ini wanita tersebut terus mepet pada Aziz, padahal sudah jelas-jelas Aziz sering kali menolaknya. "Aku kangen tahu gak, kamu kemana aja sih? Aku telpon gak pernah kamu angkat. Aku kirim via teks juga gak pernah kamu balas?" Wanita tersebut memposisikan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan Aziz, kemudian sengaja mengangkat kakinya agar lebih terlihat jelas paha mulusnya.
Bukanya tergoda Aziz malah merasa risih, wanita yang ada di ruangannya ini sangat tidak punya malu. "Sudah lah Sa, saya sudah pernah bilang jangan ganggu saya."
__ADS_1
"Kamu masih belum move-on pada Vita Ziz, ayolah dia sudah menjadi masa lalu." Elsa sengaja membenarkan blazer yang dia pakai, sehingga benjolan dadanya ikut bergerak.
Aziz memposisikan duduknya, dia memutar kursi yang dia duduki agar langsung menghadap pada Elsa. Elsa tersenyum puas, sepertinya ide memakai baju seksi tidak lah buruk. Buah dada yang besar bisa ia gunakan.
"Jika kamu pikir saya belum move-on, kamu salah besar. Bagi saya masa lalu harus saya lupakan apalagi dia sudah menyakiti hati saya."
"Oh yah, jadi apa bisa aku mengisi hati kamu yang kosong itu?"
"Sangat bisa."
Elsa tersenyum miring, apa yang dia lakukan selama ini ternyata tidak sia-sia. Usaha nya akan berhasil.
"Andai kamu tidak berpenampilan seperti itu, dan tidak bertingkah layaknya jalang. Mungkin saya bisa memikirkan nya, tapi sayang apa yang kamu punya sudah menjadi tontonan banyak orang. Dan saya tidak suka wanita yang seperti itu, kamu tahu kenapa saya memutuskan Vita? Karena dia sudah banyak yang menyentuh. Dan saya tidak ingin memiliki istri bekas orang lain."
Wajah Elsa terlihat merah, rahangnya juga terlihat mengeras. Dia berdiri dengan tidak sabarnya.
Dan setelahnya wanita pergi dengan begitu saja, meninggalkan Aziz dengan pikirannya sendiri. Entah harus bagaimana dia mengusir wanita tersebut. Dia sudah lelah, apa harus pernikahannya ia buka dan tunjukan pada seluruh masyarakat berharap semua wanita menjauh. Dan tidak lagi mendekati nya. Tapi apakah istrinya akan mau? Mengingat dia masih berstatus pelajar.
Lain tempat lain pula kejadian, di Sekolah tempat Elena belajar dia tengah terduduk dengan lesu. Di depan nya ada tiga pria yang begitu ia kenal. Dan di sampingnya seorang wanita yang menjabat sebagai sahabatnya. Yang menjadi masalah untuk apa tiga pria tersebut menghampiri nya? Sangat tidak biasa pikir Elena.
Elena melirik ke arah Sarah, sahabatnya itu terlihat begitu berbinar. Bola matanya seperti memancarkan banyak bintang. Bahkan wajahnya begitu berseri. Elena tidak habis pikir kenapa dia bisa sampai seperti itu. Dan lagi, lelaki yang ada di depannya ini kenapa terus menatap padanya? Bukannya Elena tidak sadar hanya saja dia berusaha acuh dan pura-pura tidak menyadarinya.
"Sar, ni anak pada ngapain coba?" Elena mendekat kemudian berbisik, Sarah hanya geleng kepala dan malah membuat Elena semakin jengah. Jam pulangnya sudah terlambat 15 menit dan ini semua gara-gara para lelaki yang ada di depannya.
"Kalian mau pada apa sih sebenarnya? Gue mau balik nih kalo misalkan kalian gak tahu!"
__ADS_1
"Ya ampun Na, bentar ngapa? Ngobrol dulu kita. Masa mau langsung balik sih?"
"Eh sorry yah, sejak tadi kalian cuman pada diem. Gak ngeluarin satu kata pun."
Mereka semua hanya nyengir, ingin membantah pun percuma memang benar dengan apa yang di katakan oleh Elena.
"Gue balik deh."
"Ah si Lena mah, bener-bener. Kali-kali ngapa Na!"
"Ch, kali-kali kepala lu botak. Kalo mau ngobrol noh sama si Sarah. Gue balik takut di hajar Emak."
"Lah Na, kenapa jadi Gue? Mereka kan kesini karena mau ngobrol sama lu." Sarah langsung menoleh, ketika nama di sebut Elena.
"Gue mau balik Sar, lagian dari tadi mereka cuman pada bengong. Gak ngomong apa-apa. Lu juga, dari tadi cuman bengong kaya ayam bego."
"Tapi Na gue mau balik, entar si Denis ngamuk."
"Lah kagak sadar diri, si Denis balik dari tadi woy. Lu kelamaan bengong."
"Hah?"
"Dia udah balik Sar, mending lu lanjut bengong aja. By!"
"Ini tuh gara-gara lho, ah ilah yayang gue."
__ADS_1
"Ngapa jadi gue?" Ucap Satrio menunjuk dirinya sendiri.