Dijodohkan

Dijodohkan
episode 19


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah. Randy memandang wajah tidur Larry dengan penuh kasih. Ia mencium kening istrinya itu " Bangun sayang, sudah pagi "


" Lima menit lagi " ucap Larry dengan suara serak dengan mata yang masih menutup. Randy tersenyum, ia tahu kalau istrinya itu akan mengucapkan kata-kata itu berulang kali sama seperti hari-hari sebelumnya.


Randy menggosokkan hidung mancung miliknya ke hidung pesek milik istrinya untuk membangunkannya.


Dengan mata yang masih memerah dan susah untuk dibuka, Larry akhirnya bangun dari tidurnya dengan kesal. Ia memegang pinggang miliknya yang sakit karena ulah Randy.


" Dasar... katanya akan lembut tapi yang aku lihat dan rasakan semalam tidak ada kelembutan " gerutu Larry kesal.


Randy tersenyum " Maaf sayang, tapi kamu terlalu nikmat jadi kebablasan deh " ucap Randy memegang tangan Larry.


" Sudahlah... seharusnya aku tidak mempercayai mu " Ia beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan kearah kamar mandi dengan pelan karena rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Randy tersenyum sumringah karena mengingat malam yang begitu indah baginya.


Ia mengikuti Larry dan masuk ke kamar mandi. Larry terkejut melihat Randy yang tiba-tiba muncul " Apa yang kamu lakukan? " tanya Larry menutup dadanya yang tidak memakai pakaian lagi.


" Mandi bersama " ucap Randy santai.


" Hah? Mandi bareng? tidak... tidak. Apa kamu tidak malu? " tanya Larry yang sudah memerah tersipu malu.


" Untuk apa malu. Kita kan sudah pernah mandi bareng. Masa kamu belum terbiasa sih " Randy menanggalkan pakaiannya dan memeluk Larry. Ia menyalakan shower dan membasuh tubuh Larry, menggosok lembut tubuh Larry dengan sabun yang ada ditangannya. Ia meminta Larry untuk melakukan apa yang ia lakukan kepada Larry. Awalnya Larry menolak, tapi dengan sikap manja Randy, akhirnya dia mau juga untuk membasuh dan menggosok tubuh Randy. Setelah selesai bersiap-siap, mereka menuruni tangga dan melihat makanan lezat yang sudah tersedia di meja makan. Mereka menikmati makanan Lezat itu dan memasuki mobil mahal mereka untuk berangkat ke kantor.


Mereka akhirnya tiba dan terlihat juga Lidya yang baru saja sampai. Mereka bertiga berangkat keatas. Lidya membuka pintu dan melihat bahwa Gibor yang sedang bekerja. Ia sedikit segan mengingat kejadian semalam.

__ADS_1


" Bapak sudah sampai? " tanya Lidya berjalan ke tempat duduknya.


" Mmm..." jawab Gibor singkat


Lidya menghembuskan nafas pelan dan berhasil membelalakkan kedua bola matanya keatas. Lagi dan lagi ia harus berhadapan dengan situasi hening yang ia sangat tidak suka. Ia mengernyitkan keningnya, mendengus kesal memulai pekerjaannya. Gibor tiba-tiba berhenti dan menghadap kearah Lidya.


Lidya melirik kearah Gibor yang tiba-tiba saja menghadapnya tetapi tidak mengatakan apapun. Lidya mendengus dan membuka pembicaraan yang seharusnya Gibor lakukan. " Ada apa pak? " Gibor menggaruk kepalanya. Ia ingin berbicara tetapi seperti ada lem dalam mulutnya. Lidya menatap tajam Gibor " Pak? "


Gibor mendengus " Orangtuaku ingin bertemu dengan mu nanti "


" Hah? untuk apa? "


" Untuk apa? kamu masih bertanya? tentu saja mereka harus melihat calon menantunya "


" Tapi...tapi...aku "


" Sial... ini benar-benar hari terburuk ku. Apa yang harus gue lakukan? Menghadapi anaknya saja gue sudah kesal, apalagi keluarganya. Gue kan paling tidak suka dengan suasana hening dan sepi. Bagaimana gue harus menghadapi keluarga yang dingin ini? " Lidya menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari menggeleng kepala tidak percaya.


Gibor yang melihat itu, tersenyum menggeleng. Ia tahu apa yang dipikirkan Lidya tentang keluarganya. " Keluarga ku tidak seperti yang kamu pikirkan jadi tenang saja dan kembali bekerja " Gibor menenangkan Lidya tanpa beralih dari pekerjaannya.


Lidya menoleh kearah Gibor dan menatapnya " Bagaimana ia tahu apa yang gue pikirkan? Apa dia bisa membaca pikiran? "


" Jangan pikir yang macam-macam, ini bukan dongeng dimana orang bisa membaca pikiran "


" Sial... dia benar-benar bisa membaca pikiran. Sebaiknya gue kembali bekerja atau dia akan membaca semua yang ada di pikiranku " Lidya segera menoleh ke komputer yang ada didepannya, dan mulai bekerja.

__ADS_1


Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Lidya benar-benar gugup dan takut. Ia ingin melarikan diri tetapi selalu saja tertangkap basah oleh Gibor. Ia memasuki mobil Gibor dengan enggan dan duduk disampingnya. Gibor memberikan setumpuk kertas kepada Lidya, untuk dibaca. Didalam kertas itu tertulis apa kesukaan Gibor dan apa yang tidak ia suka. Lidya membuka lembaran yang baru dan melihat bagaimana cerita mereka bertemu dan saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah.


" Untuk apa setumpuk kertas ini? "


" Lho harus mengingat semua yang ada didalam kertas itu, karena orangtuaku akan menanyakan banyak hal "


" Benarkah? Gue tidak yakin orangtuamu akan menanyakan sebanyak ini. Apalagi dilihat dari sifat mu yang tidak banyak bicara "


" Jangan terlalu banyak bicara. Apa lho tidak kehabisan kata-kata? Yang lho harus lakukan ialah mengingat semua yang tertulis disitu. Atau kalau lho gak mau, lho bisa kembali menikah dengan si mata keranjang itu "


" Jangan membahas dia lagi oke? Itu membuat semua bulu roma gue bergidik "


" Makanya jangan banyak cakap. Cukup ingat semua yang sudah gue tulis itu "


" Siap bos. " Lidya mulai membaca dan menghafal semuanya. Dia sangat cepat dalam hal mengingat, Jadi dia dengan mudah menghafal semua yang ada didalam setumpuk kertas itu. Gibor merasa tidak yakin dan menguji Lidya sebelum memasuki pagar rumah mereka. Dan yang benar saja, Lidya bisa menjawab semuanya. Gibor sangat heran, bagaimana bisa orang yang selalu kelihatan bodoh itu, bisa sepintar itu.


Gibor melajukan kembali mobilnya dan memarkirnya. Lidya turun dari mobil dengan rasa gugup dan takut yang tidak bisa ia jelaskan. Ini benar-benar menjadi yang pertama kalinya baginya. Bahkan mantan kekasihnya saja tidak pernah mempertemukan kedua orangtuanya kepadanya. Yang ada hanya Lidya yang selalu membawa mantan kekasihnya untuk bertemu dengan keluarganya.


Ia menghembuskan nafas untuk mengatur detak jantung yang tidak karuan miliknya.


Gibor lagi dan lagi menenangkan Lidya dengan ucapannya.


" Sudah gue bilang, orang tua gue tidak seperti apa yang lho pikirkan jadi santai saja "


" Lho kalau ngomong tuh enak banget yah. Sekalipun orang tua lho tidak seperti lho, tapi tetap saja tidak menghilangkan fakta bahwa gue akan bertemu dengan orang tua lho. Kegugupan dan ketakutan gue itu didasarkan dari fakta bahwa gue akan bertemu keluarga lho, bukan dari suasana keluarga lho. Kalau itu hanya tentang suasana, gue mana mungkin gugup yang ada gue itu kesal dan sangat kesal oke. "

__ADS_1


" Baiklah... baiklah itu salahku.


Tapi kita tidak bisa selalu berdiri disini kan? " Gibor menyodorkan tangannya untuk bergandengan dengan Lidya. Kehangatan genggaman Gibor membuat rasa gugup Lidya berkurang. Ia benar-benar nyaman dengan genggaman tangan Gibor.


__ADS_2