
Untuk sementara tubuh Vita tenang sejenak setelah mendapat suntikan dari salah satu perawat. Sepertinya perempuan itu mengalami depresi sebelum mengalami kecelakaan. Entah kenapa Vita seperti tidak ingin hidup lagi, setelah dia sadar bahkan ingin melukai dirinya sendiri dengan mencabut selang infus.
Raka yang tampak bingung itu hanya diam menunggu Vita sadar kembali. Sebenarnya ia ingin kembali ke rumah, tetapi Zia melarangnya. Menyuruh Raka supaya tetap di samping Vita sampai keluarganya datang. Raka mulai menghembuskan napas berulang kali. Tanda kalau dia sudah mulai bosan berada di ruangan itu. Ia pun beranjak ingin keluar ruangan untuk mencari makan, karena sudah tiga jam dia di sana perutnya mulai meronta minta di isi.
Saat Raka sudah siap akan keluar dan memegang hendel pintu. Tiba-tiba Vita memanggilnya dan ia segera menoleh, ternyata Vita sudah sadar.
“Raka ....” lirih Vita dengan suara halus.
Raka pun seketika berbalik ke arah perempuan itu lalu menghampiri dengan rasa lega. Ia senang akhirnya Vita sudah sadarkan diri. Jadi supaya dia bisa segera pulang untuk menemani istrinya.
“Kamu sudah sadar, Vita ....” panggilnya saat menghampiri Vita. “Aku sudah menunggumu di sini selama tiga jam, tapi kau tidak kunjung sadar, bahkan keluargamu tidak ada satu pun yang datang ke sini,” ucap Raka.
“Aku memang tidak punya keluarga, aku ....” Belum Vita menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar dengan kencang.
Seorang lelaki bertubuh tegap, berwajah gugup dan khawatir tampak tergesa-gesa saat memasuki kamar. Lelaki itu segera menghampiri Vita yang terbaring dengan penuh kecemasan. “Kau tidak apa-apa, sayang? Kenapa bisa jadi seperti ini, apa kau sedang pergi bersama selingkuhanmu?” Belum juga Vita menjawab mata lelaki itu menatap Raka tajam yang berdiri di hadapannya.
Lelaki itu adalah Legio suami dari Vita, ia lelaki yang selalu mencurigai istrinya. Legio juga sering bertindak kasar kepada Vita. Dia sangat sulit untuk mengontrol emosi, apa lagi mengenai sang istri. Lelaki itu mengepal geram, berjalan ke arah Raka dengan cepat melayangkan satu pukulan mengenai pipi Raka.
Raka yang belum siap dan tidak mengerti kenapa lelaki itu memukulnya hanya mencoba menangkis tidak membalas. Sampai Legio melayangkan pukulan dengan brutal hingga bertubi-tubi ke wajah dan tubuhnya.
“Hentikan Le!” pekik Vita dari atas ranjang mencoba untuk bangkit meski dengan tubuh yang lemah.
Bukanya mendengar Vita justru Legio tidak mengindahkan kata-kata perempuan itu. Legio terus saja melanjutkan aksinya memukul Raka hingga berkali-kali.
Raka yang merasa tersudut pun tersulur emosi, ia melawan Legio. Ia membalas memukul seperti apa yang Legio lakukan rasa tidak terimanya lebih besar karena seseorang memukul tanpa sebab.
__ADS_1
“Hentikan!!” pekik Vita sekali lagi hingga menghentikan pertengkaran mereka. Dada perempuan itu mengembang kempis akibat menstabilkan napas setelah berteriak yang menguras tenaga.
Mereka berdua seketika berhenti. Menoleh serentak ke arah Vita. Legio segera menghampiri Vita saat melihat tangan perempuan itu kembali mengeluarkan darah dari salaran infus.
“Kau berdarah, Vita. Panggil dokter, siapa pun panggil dokter,” ucap Legio penuh kekhawatiran.
“Tidak usah! Jangan ada yang memanggil dokter, atau siapa pun! Biarkan aku mati bersama anak dan kedua orang tuaku. Aku benci kamu, Legio ... aku benci kamu!” pekik Vita histeris.
Raka yang berdiri sembari memegangi luka lebam di wajah mencoba mencerna semua perkataan Vita dan Legio.
“Maafkan aku, Vita. Aku tidak tau kalau kau sedang hamil, aku tidak sadar melukaimu,” ucap Legio penuh penyesalan.
“Kau akan tau kalau kau tidak sibuk dengan perempuan murahan itu, kau akan tau kalau tidak memukulku saat bicara denganmu!”
Raka yang sedari tadi diam, ia melangkah maju untuk mempertanyakan kepada Vita. “Apa maksudmu dia suka melakukan kekerasan padamu, Vita?”
Vita mengangguk.
Vita menangis tersedu-sedu mengingat luka yang diberikan suaminya itu begitu sakit. Tidak hanya luka raga, suaminya itu juga melukai batinnya. Ia harus kehilangan bayi yang masih dalam kandungan hanya karena perbuatan kasar Legio.
“Aku akan diam, karena ada yang lebih berwenang dan pantas menangani ini.” Raka menghubungi Rio yang berada di loby rumah sakit, memerintahkan supaya membawa petugas keamanan untuk membawa Legio kepada polisi.
Tidak selang beberapa menit pintu kamar rawat terbuka. Petugas keamanan dan kebetulan dengan seorang polisi datang. Polisi itu memang kebetulan datang untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang dialami Vita.
Seketika wajah Legio pucat dan gugup, ia ketakutan saat polisi berjalan ke arahnya. Ia mencoba memohon kepada Vita. Tetapi terlalu banyak sakit hati yang di derita Vita membuatnya tidak peduli walau pun Legio memohon dan menangis darah sekali pun.
__ADS_1
Setelah mendapat keterangan dari Vita, para anggota kepolisian segera membawa Legio untuk dihukum sebagai mana mestinya hukum berlaku.
Vita menangis sejadi-jadinya saat suami yang telah menyakitinya itu sudah tidak terlihat lagi. Bukti, rasa sakit itu masih ada walau hukum membawanya.
“Tenangkan dirimu ... Vita. Tidak ada gunanya menangisi lelaki seperti dia, kau bisa gunakan air matamu untuk menangis karena bahagia kelak, jika telah menemukan seseorang yang menyayangimu dengan tulus,” ucap Raka mencoba menenangkan Vita.
“Terima kasih, Raka. Kejadian demi kejadian yang kualami ini mungkin adalah karma, begitu banyak kesalahan yang ayah dan ibuku perbuat.”
Raka menaikkan sebelah alisnya lagi-lagi Vita mengucapkan kata-kata ambigu untuknya "Maksudmu?”
“Aku adalah anak hasil dari perselingkuhan ayahku, ibu kandungku memberikan aku kepada ayah untuk merawatku dari semenjak bayi.” Vita menatap Raka yang masih terlihat kebingungan mencerna ceritanya.
“Apa kau tau, siapa ibu kandungku, Raka.” Vita bertanya sembari tersenyum getir. “Clarisa Sanjayalah ibu kandungku,” ucapnya yang seketika membuat mata Raka membulat tercengang.
Sontak pernyataan Vita membuat Raka syok. Ia sulit untuk menerima ini, bagai mana mungkin? Apakah Clarisa yang dimaksud adalah Vita adalah ibu kandungnya? Setega itukah Clarisa yang ia kenal membuang anaknya untuk tinggal bersama selingkuhannya? Kejadian ini membuat Raka terkejut sampai sulit untuk mempercayai ini.
“Apa yang kamu maksud ... Clarisa ibu kandungmu adalah Claris ibuku, Vita?” tanya Raka dengan wajah kaku sulit untuk berkedip.
Vita mengangguk, membenarkan bahwa memang benar kalau mereka berdua memiliki satu ibu, yaitu Clarisa. “Aku dilahirkan dua tahun setelah kamu dilahirkan, ayahku sudah menceritakan semua kepadaku. Aku juga beruntung memiliki ibu yang merawatku dengan kasih sayang, tanpa membedakan statusku,” ucap Vita.
“Jadi kau adalah adik kandungku, Vita? Apa karena itu kau sering membantuku saat mengalami kesulitan?”
Vita mengangguk. “Aku menyayangimu, kakak. Tapi aku takut kamu tidak mau menerimaku sebagai adik, karena aku adalah anak dari perselingkuhan ibumu. Selama ini aku diam, aku akan berusaha membantu tanpa sepengetahuanmu, aku takut kalau kamu tau siapa aku sebenarnya akan membenciku, karena aku tau kau sangat membenci ibu Clarisa.” Vita mengusap air mata yang mengalir dari pelupuknya.
Raka segera memeluk tubuh Vita, sekarang tidak ada lagi jarak di antara mereka. Sedih, terkejut, senang, terharu menyelimuti suasana kamar rumah sakit itu. Mereka saling melepas kerinduan sebagai adik dan kakak yang baru saja dipertemukan.
__ADS_1
Vote biar kencang author up 🙄
Aku suka bingung deh... yang suka menyimpulkan cerita sebelum membaca.. padahal ceritanya masih berlajut...