Dijodohkan

Dijodohkan
BAB. 6 PERNIKAHAN


__ADS_3

BAB.6 PERNIKAHAN


**


Waktu nyatanya begitu cepat berputar, hari ini kediaman Abraham maupun Atmaja begitu ramai. Banyak sanak keluarga yang datang untuk memberi restu pada calon mempelai.


Jika di kediaman Atmaja, Della tengah membujuk putrinya untuk segera di rias. Berbeda dengan kediaman Abraham. Di rumah megah nan mewah tersebut mereka tengah kelimpungan mencari cincin pernikahan yang mendadak hilang.


Nyonya Desi sudah memberikan ceramah nya sejak tadi pada putranya, sedangkan tuan Abraham tengah memesan kembali agar masalah cepat selesai.


"Aziz astaga, kamu ini. Mama tidak habis pikir, kamu simpan cincin itu dimana?" Kepala nya berdenyut, menahan kesal dan amarah. Tidak habis pikir pada putranya.


"Saya tidak tahu ma, bukan saya yang menyimpan cincin tersebut." Hanya kata-kata itu yang sejak tadi keluar dari mulut Aziz.


"Jika bukan kamu siapa? Waktu terus berputar Aziz ini sudah siang. Acara pernikahan kamu akan segera di mulai. Astaga dosa apa aku di masa lalu?" Geram, sangat lah geram. Nyonya Desi hanya bisa pasrah.


Aziz mencoba berpikir, terkahir kali dia menyimpan nya di saku jas yang dia kenakan sekarang. Tapi bagaimana bisa cincin tersebut bisa hilang. Padahal dia tidak memindahkannya.


Semua orang tengah sibuk mencari cincin yang entah dimana letaknya, sedangkan Aziz dia hanya duduk termenung seolah itu bukan lah masalah besar.


Kakak nya yang melihat Aziz begitu tenang hanya menggeleng, dia sudah sangat hafal pada sifat Aziz yang terlewat tenang.


Sebuah teriakan mengintruksikan semua orang yang tengah mencari benda kecil berupa cincin tersebut, dari arah luar seorang wanita cantik berlari melambai-lambai kan sebuah benda yang mungkin saja yang tengah mereka cari sekarang.


Nafas nya tidak beraturan, keringat di dahinya bercucuran.


"Cin.. cin.. CINCIN ada di tas aku." Ucapnya memberitahu, semua orang bernafas lega mendengarnya.


"Gimana bisa sama kamu?"


"Aku lupa, tadi mama yang nitip."


Mereka hanya menggeleng, kemudian melirik sinis pada nyonya Desi.

__ADS_1


"Maaf tadi mama nitip sama Nindi, terus kelupaan." Sesal Desi dengan wajah sok polosnya, sedangkan Aziz dia hanya menggeleng bagaimana dia bisa lupa jika tadi cincin tersebut di pinta oleh sang mama.


Semua nya sudah kembali normal, kemudian mereka bersiap untuk segera berangkat ke kediaman mempelai wanita.


Dikediaman Atmaja Elena sudah siap dengan kebaya putih yang sangat ciri khas dengan kebiasaan orang-orang Indonesia jika akan melangsungkan akad. Wajah nya sudah di poles sedemikian rupa, terlihat sangat cantik dan juga anggun.


"Mama ini gak bisa apa di gerai aja gitu? Di sanggul gini berat tahu." Ucapan tersebut bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Mama Della sampai pusing mendengarnya.


"Udah deh Nem, kamu jangan banyak protes. Sebentar lagi calon suami kamu itu sampai. Udah rapih gini juga. Mama keluar dulu mau nyambut mereka." Pada akhirnya hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Della, setelah sekian lama diam.


Elena hanya mendesah, kemudian melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Tidak lama setelah mama keluar terdengar sedikit keributan dari lantai bawah. Elena yakin jika calon suami dan rombongannya itu sudah sampai.


Pintu di dorong pelan, memperlihatkan wajah seorang perempuan yang sangat cantik. Elena mengernyit ketika perempuan tersebut masuk dengan wajah berseri dan sedikit aneh.


"Hai?" Sapa nya dengan binar bahagia di mata.


Elena hanya mengangguk kaku, untuk membalas sapaan dari perempuan tersebut. Perlahan dia berjalan mendekat pada Elena, kemudian mencengkram pundaknya sedikit kuat.


"Kamu pasti tegang?" Tanya nya menatap wajah Elena yang berada di depannya.


"Enggak usah tegang, yang harusnya tegang itu si bodoh. Kamu rileks saja." Ucapnya, kemudian tangannya turun dan masuk ke dalam tas yang dia pakai.


Elena kembali melirik, ekor matanya tidak sengaja melihat gagang pisau. Rasa resah dan juga takut tiba-tiba menyeruak di dalam pikirannya. Dia takut jika perempuan yang berada di belakang nya ini adalah salah satu mantan calon suaminya dan dia datang untuk membunuh dirinya. Sungguh picik bukan pemikiran seorang Elena?


"Kamu kenapa? Kok pucat gitu wajahnya?" Tanya nya, ketika menyadari wajah pucat Elena. Bahkan pundaknya terasa bergetar. "Kamu sakit?" Tanya nya lagi.


Elena tidak menyahut, fokus nya sekarang pada benda yang tengah dia pegang.


"Nah ketemu." Ucapnya dengan wajah senang.


"Ka.. kamu ma.. mau apa?" Tanya Elena dengan nada gemetar.


Perempuan tersebut tampak mengernyit, kemudian menarik ponselnya. "Aku mau ajak kamu selfie, sebelum si bodoh Aziz gak kasih izin." Ucapnya, yang membuat Elena tercengang.

__ADS_1


Perempuan tersebut mengarahkan ponselnya, kemudian tersenyum dengan gaya pepsodent nya. Sedangkan Elena hanya tersenyum kaku, setelah tadi sempat merasa curiga.


"Ah manisnya, pantesan mama begitu mengidolakan kamu. Kamu sangat imut." Ucapnya yang tengah melihat hasil jepretan asalnya. "Astaga aku lupa." Pekiknya, kemudian langsung memasukan ponselnya kedalam tas.


"Aku kesini di suruh jemput kamu, kenapa malah selfie. Nanti aku di semprot nenek lampir lagi. Ayo Lena kita turun." Ajaknya, kemudian membantu Elena bangun dari tempat duduknya.


Sebenarnya Elena masih merasa bingung, pada perempuan yang sekarang tengah membantu nya berjalan. Tapi rasa bingung tersebut hilang seketika, ketika dirinya turun ke lantai bawah dan semua orang langsung menatap ke arah nya tanpa berkedip. Termasuk Aziz calon suaminya.


Elena duduk di samping Aziz dengan canggung, matanya melirik semua orang yang masih menatap ke arah nya tanpa berkedip. Bahkan calon mertuanya sampai menganga menatap ke arah Elena.


Elena tampak risih dengan tatapan semua orang, tapi deheman dari seseorang menyadarkan mereka.


Pak penghulu mulai menyiapkan semua berkas, membaca berulang-ulang agar tidak ada kesalahan. Setelah di rasa yakin bahwa semua data benar. Dia langsung meminta dari wali pengantin wanita untuk maju.


Tuan Atmaja berjabat tangan dengan Aziz, dia menatap Aziz dengan sorot mata berbeda. Sebenarnya Aziz sejak tadi merasa gugup, tapi rasa gugup nya bisa ia hilangkan dengan rasa tenang dan juga wajah datar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Elena Atalia Atmaja dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Hening sesaat, sampai kata "Sah" menggema di kediaman Tuan Atmaja. Elena memejamkan matanya dengan erat, kali ini status nya telah berganti dari single menjadi seorang istri sekaligus pelajar.


Setelah semuanya selesai, sepasang pengantin baru tersebut sekarang tengah berdiri di atas pelaminan. Mereka tengah bersalaman dengan para tamu yang satu persatu naik ke atas untuk memberikan ucapan selamat dan juga doa.


Satu jam, dua jam, tiga jam bahkan entah berapa jam lama nya mereka berdiri tapi para tamu tidak juga habis. Justru semakin sering waktu berputar semakin banyak para tamu yang datang. Padahal kedua keluarga hanya mengundang para sanak saudara tapi kenapa bisa sampai sebanyak ini. Elena mendesis karena merasa capek terlebih kakinya pasti sudah lecet karena terlalu lama berdiri.


"Kamu capek?" Bisikan yang terdengar halus langsung membuat tubuh Elena menegang, dia bahkan sangat sulit hanya untuk menjawab iya.


"Kalau capek istirahat saja, jangan di paksakan." Ucapnya lagi


Elena menoleh dengan kaku, melihat wajah Aziz yang tengah menatap ke arahnya. Aziz mengangkat sebelah alisnya seolah berkata "Apa?"


Akhirnya Elena menggeleng, meski hatinya ingin berkata "iya". Tanpa di duga Aziz beranjak dari samping nya meninggalkan nya tanpa sepatah kata pun. Sampai Elena mengeram kesal karena kelakuan Aziz.


Tidak lama Aziz kembali, dengan kedua tangan yang membawa barang berbeda. Satunya membawa air minum di dalam botol kemudian satunya lagi menenteng sendal. Sendal jepit lebih tepatnya.

__ADS_1


"Pakai ini, saya tahu kaki kamu pasti sakit." Perintahnya, kemudian membantu Elena untuk membuka heels yang dia kenakan.


Elena menunduk malu dengan apa yang di lakukan Aziz, rasanya begitu manis. Padahal sebelum nya, dia berpikir jika Aziz itu pergi untuk meninggalkan dirinya seorang diri di atas pelaminan.


__ADS_2