
Keluarga silu terlihat sangat bahagia karena Gibor menyukai putri mereka. Mereka membicarakan pernikahan Gibor dan Lidya. Setelah semua selesai, mereka berpamitan untuk pulang. Lidya memasuki kamarnya dengan sangat bahagia karena perjodohannya dengan Ardian dibatalkan. " Huh... akhirnya gue gak jadi nikah sama playboy itu. Tapi gimana kalau gue beneran nikah sama pak Gibor kan gak lucu. Tapi kalau dia membatalkan pernikahan, maka keluarga kami akan malu dan papa pasti sangat marah. Tapi kalau gue nikah sama dia, gimana kehidupan gue selanjutnya. Masa iya gue harus nikah sama kulkas berjalan sih, belum juga keluarganya pasti tidak menyukai gue. Aduh makin pusing deh gue " pergolakan batin Lidya membuatnya sangat kesal. Ia memutuskan untuk melupakannya dan memilih tidur di kasur ternyaman miliknya.
Disisi lain terlihat Gibor yang sedang menyetir untuk pulang. Ia tersenyum tipis mengingat betapa bahagianya Lidya saat perjodohannya dibatalkan. " Oih... kenapa gue mikirin dia? gak boleh...gak boleh. Ini gak boleh terjadi." Gibor menggeleng kepalanya dan dengan sekejap dia tersenyum lagi "Tapi gak papa sih, bagaimanapun juga dia akan menjadi istriku. Tapi gimana kalau dia ninggalin gue saat mantannya kembali. Dia kan masih cinta sama mantannya. Kalau mantannya datang sebelum pernikahan, itu lebih bagus walaupun gue akan malu. Tapi kalau mantannya datang dihari pernikahan atau setelah pernikahan dan merusak pernikahan kami? bisa malu semua keluarga gue. Sialan, kenapa ini begitu rumit? gue lebih baik bekerja sepanjang malam daripada memikirkan tentang pernikahan seperti ini. " Gibor akhirnya sampai dirumahnya orangtuanya. Ia sangat jarang untuk pulang kerumahnya karena ia lebih nyaman sendirian di rumah yang ia beli. Ia membuka pintu dan melihat kedua orangtuanya sedang menonton, adik perempuannya yang memainkan handphone miliknya, kakak laki-lakinya yang sedang bermain bersama anak perempuannya yang berusia lima tahun dan kakak iparnya yang sedang sibuk menidurkan anak laki-lakinya yang memasuki usia dua tahun di gendongannya.
" Oh...kamu pulang? " tanya kakaknya yang melihat Gibor terdiam ditempatnya.
" Kapan kau kesini? " tanya balik Gibor tanpa ekspresi.
" Oih... lho benar-benar tidak punya sopan santun. Bukannya menjawab pertanyaan kakaknya, malah bertanya balik. "
" Tinggal jawab aja susah amat sih? " Gibor duduk di samping ibunya. Ibunya menggeleng kepala dan tersenyum tipis melihat tingkah kedua putranya yang selalu bertengkar saat berjumpa. " Dia datang semalam " ucap ibunya menjawab pertanyaan Gibor.
" Lalu kenapa kamu pulang? apa ada sesuatu yang penting sampai datang larut malam seperti ini? " tanya ayah Gibor dingin. Sikap dingin dan pekerja keras Gibor diturunkan dari gen ayahnya namun mereka mempunyai hati yang sangat tulus dan sifat kakak dan adiknya diturunkan dari gen ibunya yang periang dan sabar.
__ADS_1
" Aku akan menikah " ucap Gibor tanpa basa-basi. " hah? " semua terkejut mendengar apa yang Gibor ucapkan. Mereka belum mengetahui kalau Gibor menyukai seseorang, dan tiba-tiba saja Gibor mengatakan bahwa ia akan menikah. " Siapa yang bisa menaklukkan hati adikku yang dingin ini? " goda Prem kepada Gibor.
" Apa kamu serius nak? " tanya ibu Gibor yang masih tidak percaya. " Tentu saja ma." Gibor memegang tangan ibunya untuk menyakinkan ibunya. Dengan seketika ibunya tertawa dengan air mata di pipinya. Ibunya sangat bahagia dengan apa yang ia dengar. Akhirnya penantian yang sangat lama ia tunggu terwujud juga. Ayah Gibor menonjok pelan bahu Gibor. " Kau membuat mama mu menangis lagi. " Senyuman dibibir ayahnya sangat jelas terlihat.
Gibor mengusap air mata bahagia ibunya. Alia mendekatkan wajahnya kepada Gibor " Apa dia secantik gue? " Gibor mendorong kepala adiknya dengan jari telunjuknya. " Terlihat seperti kamu itu cantik saja. "
" Auh... apa kakak mengatai gue jelek. Yang benar saja, orang secantik ini dibilang jelek. " Alia tidak terima dengan apa yang Gibor ucapkan.
Gibor tidak merespon candaan adiknya lagi. Yah, dia memang seorang yang tidak tahu untuk berkomunikasi lebih dekat lagi dengan keluarganya. Dia benar-benar menjadi orang yang sangat introvert. Tani kakak iparnya Gibor mendekat dan bergabung bersama mereka. "Jadi siapa nama yang akan menjadi istri adik ipar ku nanti? "
" Kenapa? bukankah kamu menyukai putrinya? bukankah seharusnya kamu juga menyukai keluarganya? " tanya ayah Gibor. " Aku hanya tidak menyukai orangtuanya yang hanya mata duitan. Bahkan tadi saja, orangtuanya ingin menjodohkan Lidya dengan seorang yang sudah mempunyai tiga istri. Tapi tidak dengan kakaknya, ia sangat perhatian kepada Lidya."
" Apa ada orang tua seperti itu? papa saja yang terlihat sangat jahat tidak seperti itu. Kasihan kakak ipar gue. Jadi sebelum kesini, kakak masih harus menghentikan perjodohan kakak ipar? " Gibor mengangguk menjawab pertanyaan Alia. " Oih...ini betul-betul romantis seperti didalam sinetron yang sering gue tonton. " Alia menggigit jarinya dengan senyum yang lebar. Prem berdecak menggeleng kepala melihat tingkah adiknya itu. " Jadi kapan pernikahannya? " tanya ayah Gibor serius. "Bulan depan" ucapnya ragu. Sontak semua kaget mendengarnya. " Bulan depan? Bukankah itu terlalu cepat? kita bahkan belum mempersiapkan apapun " pertanyaan diberikan kepada Gibor secara bergilir. " Aku tahu itu terlalu cepat makanya aku langsung menuju kesini untuk memberitahukan kepada kalian semua " semua akhirnya pasrah. Mereka memberitahukan pernikahan Gibor dengan semua anggota keluarganya. Orang tua Gibor memaksa Gibor untuk membawa calon menantunya besok bertemu dengan mereka. Gibor terpaksa mengiyakan permintaan kedua orangtuanya.
__ADS_1
" Apa benar Gibor akan menikahi adikku? " tanya Larry kepada suaminya yang berbaring di pangkuannya. " Mmm... sebenarnya aku yang nyuruh dia. awalnya dia gak mau, tapi lama-lama dia mau juga karena menurutnya itu baik juga untuk keluarganya yang gelisah tentang pernikahannya karena dia belum pernah mencintai siapapun"
" Apa dia akan meninggalkan adikku nanti? "
" Dia tidak akan. Selain namanya yang akan hancur, keluarganya juga akan ikut malu dan dia bukan tipe orang yang akan membuat keluarganya mengalami kesusahan " Randy mengusap wajah Larry. " Baguslah kalau begitu. Aku khawatir adikku nanti akan mengalami kesedihan lagi "
" Kamu benar-benar khawatir tentang adikmu yah. Apa kamu tidak khawatir denganku juga?" Randy cemberut karena istrinya lebih perhatian kepada orang lain dibandingkan dengan dirinya.
" Apa yang perlu aku khawatirkan darimu? "
" Kamu tidak perlu khawatir, kamu hanya perlu untuk memberikan cucu kepada ayahku. Apa kamu siap? " ucap Randy penuh *****.
" Hah? lagi? ayolah... pinggangku bahkan hampir patah karena mu " keluh Larry
__ADS_1
" Ayolah... aku akan pelan, aku tidak akan membuatmu merasa sakit lagi oke? " Randy mulai mencium bibir Larry dan berlanjut ke seluruh tubuh Larry.