
BAB 13. KEHANGATAN
**
Aziz vop
Semalam ketika aku melihat nya murung, dan tidak semangat entah mengapa rasanya begitu berbeda. Padahal sebelumnya aku hanya cuek, dan mencoba tidak perduli apapun yang dia lakukan. Tapi ketika aku bertanya kenapa dia berkemas dia malah menjawab akan pindah ke Rumah orang tua ku. Kaget? Sangat kaget, aku tidak ada niatan pindah sampai dia menyelesaikan pendidikan menengahnya. Dan akan pindah ketika dia sudah siap nanti.
Aku tahu dia belum bisa menerima semua ini, sama halnya dengan ku. Aku pun belum bisa menerima nya. Tapi disini aku tidak boleh egois, aku suami yang sudah dewasa sedangkan dia seorang istri yang masih sangat muda. Dan entah dorongan dari mana aku malah merengkuhnya, memeluknya dan mencium puncak kepalanya berkali-kali. Tanpa sadar aku mulai perduli.
Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan, yang jelas aku bahagia. Aku memandang wajah terlelap nya. Dan untuk pertama kalinya aku tidur satu ranjang dengan nya. Aku bangun lebih dulu untuk menyelesaikan laporan ku, tidak lama dia juga mulai bergerak di bawah selimut. Mengerjapkan matanya yang malah terlihat lucu menurut ku. Dia seperto orang yang linglung. Meraba-raba wajahnya kemudian berjalan ke arah cermin, matanya memang terlihat bengkak tapi tidak terlalu parah. Dia tidak menengok ke arah ku barang sedikitpun. Yang dia lakukan malah berjalan ke arah lemari mengambil seragam dan juga pakaian ku. Aku tersenyum tipis melihat kelakuan nya. Dia masih remaja, tapi dia paham dengan tugas nya sebagai seorang istri.
30 menit dia berada di dalam kamar mandi, dia keluar dengan handuk yang melilit di kepalanya. Dia terlihat lebih segar dan juga bengkak di matanya sedikit berkurang. Dia melirik ke arah ku, kemudian menunduk. Aku malah ingin tertawa melihat raut mukanya wajahnya begitu merah, mungkin dia malu mengingat kejadian tadi malam. Aku langsung masuk ke kamar mandi, dan tertawa sepuasnya. Biar lah di kata gila, yang penting aku puas tertawa.
__ADS_1
Selepas aku mandi aku keluar, dan hal pertama yang aku lihat adalah istriku. Yang sudah rapih, dan terlihat cantik. Selama aku menikah aku terlalu acuh, hingga aku tidak sadar jika istriku ini teramat cantik.
Aku dan dia memang tidak banyak mengobrol, aku sendiri yang bingung untuk memulai dan dia sendiri yang malah sibuk dengan ponselnya. Hingga aku sudah siap, dia pun langsung berdiri. Dengan cekatan tanpa diminta dia membawa tas kerjaku seperti biasanya. Dan untuk pertama kalinya aku dan dia turun bersama.
"Kenapa papah gak bilang sih ke aku?" Wajahnya terlihat cemberut, dan itu malah terlihat lucu menurut ku. Di usianya yang sudah memasuki remaja, tapi dia masih bisa merajuk layaknya anak SD.
Mamah mencoba memberitahu dan menjelaskan kenapa papa tidak pamit, dia hanya diam dan menunduk. Hingga dia pasrah dan kemudian menyiapkan sarapanku duduk di samping ku dan menikmati sarapannya. Hingga aku merasa aneh dengan gelagatnya, yang tiba-tiba mempercepat ritme makannya. Dia terlihat grasak-grusuk hingga kejadian yang sudah aku kira terjadi.
Dugh
Ketika aku mencoba mengusap lututnya, dia hanya diam dan meringis. Sudah di pastikan itu rasanya ngilu dan perih. Tapi mau bagaimana lagi ternyata istriku ini tipikal perempuan yang ceroboh meski dia pintar.
"Apa masih tetap mau Sekolah?" Aku mulai membuka suara ketika kami sudah berada di dalam mobil, dia melirik ku sekilas kemudian tidak lama mengangguk. "Di dashboard ada kotak P3K kamu lihat apa masih ada salep pereda nyeri, biasa jika aku terbentur aku selalu menggunakan itu." Dia langsung membuka nya, dan mencari yang aku suruh tadi.
__ADS_1
"Ini mas?" Dia menunjukan salep tersebut pada ku, aku melirik sekilas kemudian mengangguk. Dia mulai mengolesi nya dengan sangat hati-hati. Sepertinya lututnya itu memanglah sangat sakit. "Nanti kamu telpon saya, jika sudah keluar dari kelas. Aku akan langsung menjemputmu." Dia menoleh dengan tatapan bingung, sepertinya dia belum tahu jika aku memasukan nomor ku pada ponselnya. "Tadi malam aku sudah menyimpan nomorku di ponsel mu ketika kamu sudah tidur." Dia kembali menoleh, tapi dengan mimik wajah yang kaget. "Aku tidak macam-macam hanya menyimpan nomor ku saja." Jelas ku kemudian. " Bukan itu Mas, aku tidak masalah kamu mau memeriksa ponsel ku. Itu hak mu." Dewasa sekali istriku ini, mantan pacar ku saja dulu tidak pernah mengizinkan ku.
Tidak terasa kami telah sampai di depan gerbang Sekolahnya, aku bisa melihat jika Sekolah ini ada Sekolah yang elit. Terlihat dari gaya bangunan nya dan juga kendaraan yang sudah tertata rapih. Mobil dan motor di pisah sedemikian rupa. Dan juga aku melihat sepeda. Masih ada ternyata zaman sekarang yang memakai sepeda ke Sekolah.
"Mau Mas antar?" Dia yang tengah sibuk dengan ponselnya lantas menoleh, kemudian menggeleng dan memasukan ponselnya pada saku. "Aku minta di jemput Sarah, dia lagi turun ke sini." Jawabnya, kemudian menyandarkan kepalanya pada kursi. "Teman mu masih ada yang membawa sepeda ke Sekolah?" Dia mengangguk, lantas menegakan duduknya. "Yang jalan kaki pun ada." Aku mengangguk sekilas, kemudian kembali memperhatikan deretan kendaraan yang sudah tertata rapih itu. "Sekolah ini memang elit, tapi siswa nya banyak yang dapat beasiswa. Jadi gak heran meski elit kendaraannya masih banyak yang standar. Mereka yang hidupnya cukup dan berlebihan pasti bawa kendaraan yang mewah. Sedangkan yang tidak punya hanya jalan kaki atau naik kendaraan umum. Meski begitu kami disini saling tolong menolong, saling memikul satu sama lain. Tidak di perkenankan untuk membully dan menghina. Kami saling melindungi satu sama lain. Jadi meski kami bersekolah di tempat yang elit kami tidak pernah melakukan hal-hal yang memalukan dan merugikan diri kami sendiri."
"Ternyata ikatan kalian sangat kuat, Mas tidak menyangka masih ada Sekolah yang sangat ketat dengan peraturan dan juga sangat di taati oleh muridnya."
"Sebenarnya, Sekolah ini sama seperti yang lain. Aturannya tidak ketat masih di batas wajar, hanya saja kami sadar untuk apa kami berulah jika itu merugikan diri kami sendiri. Yang meski pun tidak aku pungkiri jika di Sekolah ini pun masih ada yang suka sinis dan so berkuasa. Tapi untuk tahap membully sepertinya belum ada."
"Berarti kepala sekolah dan yang lain sebagai nya mereka bisa membawa anak didik nya kejalan yang benar."
"Iyah, bahkan untuk menjadi ketua Osis di sini pun tanggung jawabnya sangat besar. Apabila ada salah satu siswa/i yang berulah maka dia yang akan bertanggung jawab. Dan hukumannya tidak main-main. Jadi ketua Osis di sini sangatlah galak." Pembicaraan kami teralihkan ketika ponsel milik Elena berdering, dia menoleh ke arah ku memberitahu jika temannya itu sudah menunggu di parkiran.
__ADS_1
"Hati-hati kalo ada apa-apa telpon Mas." Untuk kedua kalinya dia mencium punggung tanganku, dan entah kenapa aku malah merasa senang dengan perlakuannya. "Lena keluar yah Mas, hati-hati di jalan." Dia mulai menurun kan kakinya, tapi dengan cepat aku menarik tangannya. Dan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya aku lakukan di dalam mobil ini. Wajah nya merona dan malah terlihat lucu sedangkan aku seperti anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta.