
“Terima kasih, Sita. Kamu sudah membantuku berbohong di depan Raka. Aku harap sandiwara kita tidak akan terbongkar sampai perusahaannya kembali normal seperti semula,” ucap Erick saat keluar dari ruangan Raka.
“Tidak usah bilang terima kasih, Tuan. Zia adalah teman sekaligus keluarga bagiku, aku akan melakukan apa pun untuk membahagiakannya,” Balas Sita tersenyum.
Mereka tidak tahu kalau Raka ada di belakang saat ini. Raka pun tersenyum licik sampai akhirnya melangkah menghampiri mereka. Ada sesuatu yang dia rencanakan, tapi entah apa itu.
“Erick.”
Pasangan sandiwara itu dengan wajah gugup menoleh secara bersamaan. Mereka berdua terlihat panik takut jika Raka mendengar pembicaraan barusan. Dengan terbata-bata Erick menjawab, “Raka, kenapa kau di sini, sejak kapan kau berada di situ?”
“Apa urusanmu, Erick.” Balas Raka menautkan alis. “Oh ya, aku sudah lama tidak mengunjungi tante Lisa (Mama Erick) bagai mana kabar dia, Erick?” tanyanya.
“Keadaan mamahku, baik. Kenapa kau tiba-tiba tanya tentang mama, Raka?” tanya Erick sedikit merasakan perasaan tidak enak, dari raut wajah Raka sepertinya merencanakan sesuatu yang tidak ia sukai.
“Aku ingin menemui, untuk melihat keadaannya. Sita, Erick, kalian mau kan menemaniku untuk menemui tante Lisa?”
Benar saja yang dipikirkan Erick, ternyata Raka merencanakan sesuatu yang tidak ia sukai. Untuk menemui Mamanya kenapa harus membutuhkan dia dan Sita untuk menemani? Perasaannya jadi semakin tidak enak. Erick memandang Sita mempertanyakan ajakkan Raka dan Sita berkedip meminta Erick untuk menyetujuinya.
Sampai akhirnya Raka memandang mereka penuh harap.
“Baiklah, Raka. Aku akan menemanimu menemui mamaku, tapi hanya sebentar, oke!”
Raka tersenyum akhirnya rencana yang akan ia buat berjalan dengan mulus. Mereka menuju rumah Erick dengan satu mobil Raka di jok belakang sedangkan Sita duduk di depan dekat Erick mengemudi. Sudut bibir Raka sedikit menyeringai melihat mereka seperti pasangan kekasih. Tidak lama lagi Raka akan membuat itu nyata Erick, Sita.
Akhirnya mobil tiba di halaman rumah mewah bergaya modern sangat bersih nan asri dari depan terlihat banyak tanaman-tanaman hias menyapa, membuat setiap mata yang melihat terpana. Sita yang baru turun pandangannya tertuju kepada wanita paru baya dengan telaten menyiram tanaman.
“Sedang apa Mama di situ?” tegur Erick saat melihat mama tercintanya sibuk menyiram tanaman. Ia tidak suka jika mamanya harus mengerjakan semua itu sendiri.
__ADS_1
Wanita paru baya itu menoleh saat mendengar Erick memanggilnya. Ia segera mematikan keran, lalu pergi menghampiri putranya.
“Di mana bik Ina? Kenapa membiarkan mama bekerja seperti ini?” ucap Erick saat mamanya tiba di hadapannya.
“Ini hanya menyiram tanaman, Erick. Lagi pula mama sangat suka merawat tanaman-tanaman itu. Tidak usah berlebihan ... mama akan semakin stres kalau kamu melarang melakukan aktifitas apa pun.” Mama Lisa berucap hingga akhirnya matanya tertuju kepada gadis yang baru saja ia sadari kehadirannya. “Siapa dia, Erick?” ia bertanya tetapi mata tidak beralih dari memandang Sita sedikit pun, sehingga membuat Sita malu salah tingkah.
“Dia adalah ....”
“Dia adalah pacar Erick, tante!” sahut Raka dari arah belakang yang baru selesai menerima telepon lalu dengan langkah lebar ia berjalan menuju kearah mereka bertiga.
“Hai tante ... apa kabar? Tante masih ingat aku tidak?” sapanya. meraih tangan mama Lisa lalu mencium punggung tangan itu dengan keseganan.
“Bagai mana aku bisa melupakanmu, Raka. Kamu yang lupa dengan tante, sudah lama kamu tidak berkunjung ke sini.”
“Iya, tante. Aku minta maaf, pekerjaan membuatku sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk berkunjung kemari,” ucap Raka.
Mama Lisa menepuk dahi, keasyikan berbicara dengan Raka sampai lupa dengan dua orang yang berdiri di sampingnya. Ia kembali menatap Sita lagi sambil tersenyum ramah. “Ayo masuk, Sayang,” ajaknya menggandeng tangan Sita membawanya masuk ke dalam rumah.
Raka yang beriringan dengan Erick itu pun tersenyum puas, melihat Erick jatuh dalam perangkap. Temanya itu terlihat menggaruk tengkuk yang tidak gatal menyaksikan mama Lisa begitu akrab dengan Sita mengobrol di sofa ruang tamu.
Sita yang nampak malu-malu itu tersenyum canggung. Ini di luar dugaan dia terjebak dihubungan yang salah. Bukan ini rencana yang di susun dia dan Erick. Perempuan itu sesekali membulatkan mata merapatkan giginya mempertanyakan kepada Erick melalui ekspresi wajahnya.
Sedangkan Erick hanya meringis dan menggaruk kepala yang tidak gatal, ingin mencoba menjelaskan tapi Raka berada di sana, ini sungguh situasi yang sulit.
“Siapa namamu, sayang?” tanya mama Lisa.
“Namaku Sita, Tante,” jawab Sita.
__ADS_1
“Wah ... nama yang cantik, seperti orangnya. Aku senang jika kalian segera menikah. Jangan terlalu lama, aku sudah tidak sabar ingin melihat kalian menjadi pengantin. Mama akan pamerkan kepada teman-teman, kalau Erick akan segara menikah,” ucap mama dengan perasaan bahagia. Akhirnya keinginannya ingin segera mempunyai menantu akan terwujud.
Erick dan Sita kebingungan apa yang harus mereka lakukan. Pepatah bilang, hidup segan mati tak mau, itulah keadaan yang dialami Erick saat ini. Ia bingung harus bagai mana mau mengatakan kepada mama Lisa kalau tidak ada hubungan apa pun dengan Sita tetapi, ada Raka di sana. Terpaksa dia mengiyakan semua ucapan sang mama.
Sedangkan Raka menikmati sandiwara mereka dengan duduk santai di sofa hadapan mereka. Ingin ia tertawa tapi menahannya. “Apa tante tidak ingin segera menemui keluarga Sita. Aku rasa pernikahan ini harus segera dilaksanakan, supaya Sita cepat menyusul Zia yang sedang hamil.”
Seketika mata Erick, Sita dan mama membulat serentak menoleh ke arah Raka dengan rasa penasaran dan bahagia mereka memandang. Ke dua sudut bibir Sita tertarik ke atas membentuk guratan senyum bahagia, dia hampir tidak percaya dengan kabar bahagia ini. Ingin rasanya ia berloncat-loncat dan menari mendengar kabar ini.
“Apa kau tidak bohong, Tuan? Aku tidak salah dengar, bukan?” tanya Sita memastikan. Raka pun mengangguk membenarkan kalau semua benar adanya. “Selamat, Tuan. Sebentar lagi akan menjadi seorang ayah,” ucap Sita kegirangan.
“Jadi istrimu hamil, Raka? Selamat ya ... tante ikut senang mendengarnya. ” Mama Lisa beranjak dari duduknya lalu melangkah memeluk Raka seperti anak sendiri. Momen yang sebelumnya dialami Erick dan Sita menegangkan berubah menjadi momen bahagia.
Sedangkan Erick juga turut bahagia mendengarnya. Tapi dia masih ada yang mengganjal di pikirannya ia bingung bagai mana menjelaskan tentang dia dan Sita. Sial! dia mengumpat dalam hati.
“Kau tidak ingin memberiku ucapan selamat, Erick?” ujar Raka menatap curiga. Ia berpikir kalau temannya itu tidak senang dengan kabar kehamilan Zia.
“Tentunya aku ingin memberimu selamat, Raka. Akulah orang pertama yang akan menyambut calon keponakanku itu, jika ia lahir nanti,” ucap Erick.
“Apa kau mau menggantikan posisiku, Erick. Akulah orang yang akan melihat anakku untuk pertama kali.” Raka menatap kesal.
“Iya maaf, aku salah berucap ....” Erick memandang malas ke arah Raka. “Apa kau akan menyuruh dokter menutup mata, saat menolong persalinan istrimu?” gumamnya. Sampai akhirnya ia beranjak berdiri dengan elegan dan berkata, “Aku ada urusan mendadak, ayo kita pergi!” ajaknya kepada Sita dan Raka.
Mama Lisa terlihat sedih seperti tidak ingin ditinggalkan Sita. Entah kenapa dia senang bertemu pacar palsu Erick itu sehingga tidak ingin berpisah.
NEXT....
Vote kalau mau 🙄
__ADS_1