
Gibor menghampiri Lidya yang sedang menonton dan duduk di sampingnya.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Gibor yang melihat Lidya mengganti siaran.
"Gak ada yang menarik" Lidya mematikan televisi dan menyandarkan punggungnya di sofa.
"Lho gak kerja?" tanya Lidya yang melihat suaminya bersantai.
"Lho kira gue apaan? Ini hari libur buat pengantin baru" ucap Gibor kesal memainkan handphone miliknya.
"Siapa yang tahu? Secara lho itu kan si penggila kerja!" ucap Lidya menatap Gibor.
"Gue juga butuh waktu untuk istirahat kali. Dua Minggu lagi kita akan bekerja" jelas Gibor tanpa mengalihkan pandangannya dari gadget nya.
"Lama banget! Emang kita mau ngapain?"
"Itu waktu yang diberikan perusahaan untuk sepasang suami istri yang akan menjalankan bulan madu"
"Bu-bulan madu?" tanya Lidya ketakutan.
"Apa yang lho takutkan? Tenang aja, gue gak akan melakukan hal yang tidak lho inginkan. Kita hanya akan liburan saja. Aku janji tidak akan melakukannya sebelum lho siap"
"Janji?" Lidya mengajukan jari kelingkingnya ke arah Gibor.
"Iya janji!" ucap Gibor mengabaikan tangan Lidya yang dianggap kekanakan.
Lidya tidak menurunkan jarinya dan tetap bersikeras supaya Gibor membalas. Gibor akhirnya menyerah dan membalas jari kelingking Lidya supaya Lidya diam.
.
.
.
.
Lidya dan Gibor mengemasi barang mereka untuk pergi bulan madu di kota X. Terlihat wajah cerah bersinar milik Lidya.
"Yeay... Besok liburan. Sayang Gibor... jangan bangun terlambat yah" Lidya melingkarkan tangannya di leher Gibor.
"Lho gak geli apa dengan satu kata sebutan itu" ucap Gibor merasa risih dengan kata sayang yang belum pernah ia dengar untuk dirinya sebelumnya.
__ADS_1
"Emang kenapa? Jangan bilang lho belum pernah mengatakan itu?"
"Tentu saja. Gue kan belum pernah pacaran"
Lidya terkekeh lembut mendengar pernyataan Gibor. "Suamiku masih polos ternyata"
Lidya mengacak rambut Gibor dan kembali merangkul leher Gibor.
"Jangan menguji kesabaran seorang pria. Memang gue belum pernah mengatakan hal-hal seperti itu, tetapi kalau lho bilang gue masih polos lho bisa coba gue masih polos atau gak" Gibor menatap dalam dan merangkul pinggang Lidya.
Lidya sontak kaget karena Gibor membalas candaannya. Ia melepaskan tangannya dari leher Gibor dan menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya karena malu mengingat betapa cool nya Gibor saat membalas candaannya tadi.
Gibor tersenyum kecil dan mengikuti Lidya. Ia menarik selimut dari wajah Lidya tetapi Lidya memegangnya dengan erat.
"Jangan menutup wajahmu dengan selimut nanti lho bisa sesak!"
Lidya akhirnya membuka selimut yang menimpa wajahnya.
"Lho tidak apa kan kalau gue belum memenuhi kewajiban gue sebagai istri?" tanya Lidya khawatir menatap wajah yang juga menatapnya.
Gibor tersenyum dan memeluk Lidya. "Gue udah bilang, gue akan tunggu sampai lho siap tapi ingat gue gak akan menunggu dengan waktu yang lama. Gue gak nikahin lho hanya untuk sebagai pajangan karena gue juga pengen punya keturunan. Jadi lho harus cepat untuk mempersiapkan diri dan bersedia menyerahkan dirimu untukku!" ucap Gibor dengan suara yang sangat lembut.
Lidya mencium bibir Gibor dengan cepat. "Ini hanya untuk penyemangat" ucap Lidya melihat wajah Gibor yang masih linglung.
"Gue gak tahu ternyata lelaki dingin ini bisa menjadi sehangat ini. Gue yakin, gue gak akan menyesal telah menikahi patung bernafas ini" batin Lidya memeluk kembali tubuh lebar suaminya.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Lidya belum tertidur dan mengusap hidungnya di dada lebar Gibor.
"Tidak bisa tidur?" tanya Gibor yang terbangun karena tubuh Lidya yang seperti cacing kepanasan.
Lidya hanya mengangguk membalas pertanyaan Gibor.
"Apa yang harus gue lakukan untuk membuat cacing kepanasan ini untuk tidur?" Gibor menatap Lidya dengan wajah lesu.
"Gak tahu. Gue hanya tidak bisa tidur"
"Lho harus tidur karena besok kita harus pergi ke kota X dan juga, lho lagi dapet jadi gak baik untuk begadang"
"Sstt... Lho gak ada malu-malunya mengungkit itu setiap saat. Gue aja yang perempuan malu"
"Itu kan normal jadi apa yang membuat malu? Kita sudah menjadi suami istri dan juga itu wajar bagi seorang perempuan. Yang gak wajar itu yang gak menstruasi padahal sudah cukup umur" Gibor memencet hidung Lidya dengan lembut.
__ADS_1
"Oke stop. Gue gak mau bahas itu. mending lho tidur lagi aja"
"Gak. Gue gak akan tidur sebelum lho tidur. Gue akan temani lho!" ucap Gibor dengan suara berat.
.
.
"Katanya akan nungguin gue sampai gue tidur, eh malah dianya yang tidur duluan. Dasar suami yang tidak tepati janji"
Lidya masih terjaga sampai matahari terbit. Gibor merenggangkan tubuhnya yang mati rasa.
"Pagi" ucap Gibor yang melihat Lidya terbangun di pelukannya.
Lidya tidak menjawab Gibor karena masih marah kepadanya.
"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Gibor bingung dengan sikap dingin Lidya.
"Kenapa? Lho masih nanya kenapa? Semalam siapa yang bermulut manis mengatakan akan menunggu gue sampai tidur?" Tengik Lidya.
"Maaf tapi mata gue tidak bisa diajak kompromi. Oh iya, lho tidur jam berapa?"
"Nih liat mata gue. Menurut lho gue tidur jam berapa?" ucap Lidya menunjuk mata yang menyempit dan bengkak karena tidak tidur.
"Lho gak tidur?" tanya Gibor dengan serius.
"Udahlah. Lupain lagian juga udah pagi"
" Kita bisa menunda perjalanan kita kok jadi lho bisa tidur dulu pagi ini" ucap Gibor yang mengkhawatirkan keadaan tubuh Lidya.
"Tidak bisa. Gue udah nungguin ini dengan waktu yang agak lama. Semalaman loh gue nungguin ini"
Gibor akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan Lidya untuk cepat bersiap dan berangkat. Ia membawa semua barang milik mereka dan membiarkan Lidya tidak membawa apapun karena masih khawatir dengan Lidya yang tidak tidur semalaman.
Lidya ingin menikmati perjalanannya dengan menatap sekeliling, tetapi rasa ngantuk nya datang dan membuat Lidya tertidur.
Gibor menatap Lidya dengan cerah. Ia mengusap air liur Lidya dengan tangannya.
Banyak orang memandangi mereka dengan rasa kagum dan terharu. Karena sangat jarang ada seorang pria yang perhatian dan tidak merasa jijik sama sekali.
Gibor tidak menyadari tatapan itu. Pandangan dan pikirannya hanya tertuju kepada istri imutnya. Ia mengelus pipi dan rambut Lidya untuk membuat tidur Lidya semakin nyenyak karena mengingat Lidya yang tidak tidur.
__ADS_1
Ia berharap, supaya Lidya tidur yang cukup dan mendapatkan energi penuh. Apalagi mengingat seorang perempuan harus mendapatkan tidur yang cukup untuk menjaga kestabilan tubuhnya karena akan mengeluarkan banyak darah dan tenaga.
Lidya terbangun karena badannya yang kaku karena posisi tidur yang agak lama. Gibor membuat Lidya tidur di atas pahanya. dan mengelus kening Lidya supaya Lidya tertidur kembali.