
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Raka, di mana seorang Raka Sanjaya harus berdiri di dapur memasak sebuah mie instan. Lelaki itu sedang terlihat ragu-ragu saat memegang spatula untuk membalik telur di atas penggorengan. Bahkan sebegitu takutnya terkena minyak yang meletup, ia harus menggunakan tutup panci sebagai perisai wajahnya ia membalik penuh kehatia-hatian. Tidak tahu bentuk telur mata sapi yang ia buat seperti apa, ia letakkan di atas mie instan yang sudah selesai di masak. Apa pun hasilnya yang jelas makanan itu sangat spesial, karena ia membuat penuh perjuangan. Aroma semerbak yang mengusik indra penciumannya itu sepertinya enak, dan saatnya makanan siap menghadap sang istri.
Raka pun membawa nampan berisikan mie instan dan buah itu untuk segera mengantarkan makanan ke kamar.
Saat bik Sri melihatnya ia bertanya. “Maaf Tuan, apa Anda yakin ingin membawa makanan itu untuk nyonya Zia?” ucapnya. Ia melihat ke arah piring lalu mengulum senyum.
Entah kenapa Raka merasa wanita paru baya itu menertawakannya. Apa yang salah?
“Bibik, kenapa tertawa seperti itu? Apa ada yang salah, Bik?”
“Tidak Tuan,” bik Sri menutup mulutnya yang sedang tersenyum. Ia tidak mau membuat tuanya itu tersinggung. Semoga nona Zianya itu mau memakan mie itu. “Saya permisi dulu, Tuan. Mau membereskan dapur dulu.”
Raka pun mengangguk lalu lelaki itu pergi membawa nampan menaiki tangga dengan sudah tidak sabar supaya istrinya itu cepat menyantap makanan yang ia buat.
Sedangkan bik Srie melangkah pergi ke dapur untuk membersihkan. Betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan dapur seperti kapal meledak. Wanita paru baya itu pun menepuk jidat putus asa, bingung harus mulai dari mana untuk membersihkannya. Yang pasti kondisi dapur saat ini sangat kacau. Hanya sekedar memasak mie instan dan telur mata sapi banyak perlengkapan memasak yang harus berada di luar, padahal itu tidak ada berhubungan sama sekali dengan memasak mie, ia menggeleng takjub. Ya, kenyataannya Rakalah sultan di rumah ini mau berbuat apa pun bebas.
Raka membuka pintu kamar penuh dengan ke hati-hatian. Ia takut jika menimbulkan suara akan membuat Zia terganggu jika tidur. Ia pun masuk, dan melihat istrinya itu terbaring lemas memejamkan mata ia tahu kalau tidak tidur sepertinya sedang menahan rasa mualnya.
Kasihan sekali Zia...
Raka tanpa beralih memandang Zia itu pun meletakkan nampan di atas meja sebelah ranjang. Ia duduk dan memegangi kening memastikan kalau istri tercintanya itu dalam keadaan baik-baik saja.
Keringat dingin membasahi pelipis Zia. Ia seolah tidak sanggup lagi berbolak-balik hanya untuk muntah ke kamar mandi. Hampir saja ia terlelap dalam buaian alam. Tiba-tiba tubuhnya terguncang pelan ia pun seketika kembali tersadar ke dunia nyata. Sayup-sayup ia mendengar suara parau memanggil namanya.
__ADS_1
“Zia, bangun sayang ....” Raka memanggilnya dengan lirih.
Zia dengan berat membuka matanya. Dan sialnya, ketika membuka mata ia merasakan rasa mual itu kembali lagi. Perempuan itu pun mengabaikan suami yang duduk di sampingnya lalu berlari menuju kamar mandi.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa ia mencoba mengeluarkan rasa yang mengaduk-aduk perutnya. Tapi hasilnya tetap sama dia hanya mual tidak mengeluarkan apa pun dari mulutnya, mungkin karena belum ada makanan yang memasok dalam tubuhnya. Dengan lemas ia keluar dari kamar mandi seperti tidak sanggup lagi kembali ke ranjang ia berjalan lunglai dengan memegangi perut yang rata tidak berisi itu.
Raka segera menggeser tubuhnya saat Zia mendekat ke arah menyisakan satu ruang di sebelahnya. Hingga Zia mendekat dan duduk disampangnya. Ia pun segera meraih tubuh istrinya yang lemas itu membenamkan di dadanya. Dekapan itu begitu intens sehingga membuat Zia tenang.
“Aku sudah menelepon Vino, dia akan segera ke sini. Setelah dia memberi obat kamu akan kembali sembuh.”
Zia mengangguk pertanda memang ingin segera sembuh. Ia ingin segera kembali mengurus Raka dan tokonya seperti semula.
Raka mengecup pucuk kepala istrinya yang sedang terbenam itu lalu menangkup supaya menghadapnya seraya berkata, “Aku sudah siapkan mie instan untukmu, sekarang kamu makan dulu oke!” Zia pun mengangguk. Suaminya itu segera meraih piring yang ia letakkan sebelumnya tadi.
Raka pun memutar sendok garpu untuk menggulung mie lalu menyerahkan satu suapan ke mulut Zia. “Bagai mana rasanya sayang, enakkan?” tanyanya di sela-sela Zia mengunyah suapan pertamanya.
Zia pun berhenti mengunyah sejenak, lalu menaikkan bola matanya mencari gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan makanan yang ia kunyah melalui indra perasanya itu.
“Enak!” Ia kembali melanjutkan kunyahannya lagi.
Suapan demi suapan ia terima dengan nikmat. Entah kenapa walau makanan itu penampilannya terlihat berantakan, tetapi itu terasa nikmat di lidah Zia. Tidak akan dia menemukan makanan seperti itu di mana pun, karena ini spesial di buat dari tangan yang mulia rajanya. Sebegitu nikmatnya makanan yang di lahab, tidak terasa ia menghabiskan tanpa tersisa hingga hanya menyisakan piring dan sendok. Sehingga Pada akhirnya perutnya mengirimkan kode kenyang.
Perasaan lega menghampiri Raka. Ia senang melihat istrinya itu menghabiskan makanan yang ia buat tanpa tersisa, bahkan tanpa rasa mual mengganggu. “Anak pintar ....” ujarnya mengusap kepala Zia seperti anak kecil.
__ADS_1
“Minumlah.” Ia pun memberikan segelas air untuk penutup makan.
Setelah selesai minum Raka kembali meletakkan gelas di dekat piring yang kosong. Mata Zia membulat saat melihat potongan buah apel seperti menggodanya, sepertinya buah akan meredakan rasa mualnya. Ia pun segera berdiri dan meraih piring yang berisikan apel tersebut dan segera mengunyahnya.
Raka yang melihat menggelengkan kepala kenapa istrinya menjadi aneh begini sih? Makan sambil berdiri itu bukan kebiasaannya.
Setelah menghabiskan buah apel itu Zia memutar bola matanya, ia memikirkan sesuatu. Raka tahu itu, pasti ada yang ingin ia minta.
Dengan menggigit bibir bawah sebagai bukti keraguan Zia mengatakan, “Apa boleh aku minta sesuatu lagi, sayang?” Menatap Raka menunggu jawaban masih dengan menggigit bibir bawahnya.
“Apa?”
“Aku mau ... buah mangga yang belum
masak,” katanya.
Raka menggosok pangkal hidungnya. Menghela napas permintaan macam apa lagi ini, bukanya seorang yang sedang sakit mag dilarang makan-makanan yang asam? Lagi pula sekarang bukan musim buah di mana dia harus mencarinya. Lelaki itu kembali menghela napas lalu berkata, “Maaf sayang ... kalau itu aku tidak bisa menurutimu, apa kau tau itu dilarang untuk penderita mag. Lupakan keinginanmu itu ya, kita akan tunggu Vino memeriksamu dan setelah sembuh aku akan membelikan untukmu.”
Zia mengerucutkan bibir lalu pergi ke tempat tidur. Sembari tiduran ia memainkan ponselnya mengabaikan suami yang tidak menuruti permintaannya itu.
BERSAMBUNG HARAP BERSABAR!
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN YANG LUAR BIASA YANG SELALU MENANTIKAN KELANJUTAN UPDATE DIJODOHKAN ... KALIAN LUAR BIASA😘
__ADS_1