Dijodohkan

Dijodohkan
BAB 7. TIDAK SEPERTI YANG LAIN


__ADS_3

BAB 7. TIDAK SEPERTI YANG LAIN


**


Pesta di kediaman tuan Atmaja sudah berakhir sejak dua jam yang lalu, dan Elena sendiri sudah izin ke kamar sejak tadi. Dia sudah amat risih dengan gaun yang melekat di tubuhnya. Serta riasan tebal yang sudah sangat menganggu mengakibatkan Elena lebih memilih meninggalkan seluruh anggota keluarga kemudian masuk kedalam kamar.


Tidak lama setelah Elena, Aziz pun ikut undur diri. Dia pun izin masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuhnya. Meski rasanya bingung harus pergi ke kamar yang mana. Terlebih istri itu malah sudah lebih dulu meniggalkan dirinya.


Nyatanya, niat hanyalah niat. Elena tidak langsung istirahat. Setelah keluar dari kamar mandi Elena meraih ponselnya yang sengaja ia matikan dan di biarkan begitu saja. Pasalnya jika ponsel tersebut hidup maka akan sangat mengganggu.


Banyak sekali pesan yang masuk dan juga miscall. Dari semua pesan hanya satu orang yang membuat Elena berdecak malas. Siapa lagi jika bukan Sarah sahabat sengklek yang Elena punya.


Sarah berkali-kali mengirimi Elena sebuah pesan, kemudian dia juga miscall nomor Elena. Entah apa maksudnya yang jelas Sarah sangatlah kepo.


Hingga pandangan Elena beralih pada grup kelas, dimana semua teman kelas nya meributkan tugas kelompok yang di berikan oleh Bu Wida, wali kelas Elena sendiri.


Elena bisa melihat semua teman-teman nya yang kelimpungan untuk mencari bahan materi, bahkan ada di antara mereka yang akan sengaja bolos. Namun semua nya sirna ketika ketua kelas memberitahu jika pada waktunya untuk mengumpulkan tugas dan mereka tidak hadir maka nilai mereka akan mendapat 3 di setiap mata pelajaran selama seminggu.


Elena terus membaca satu persatu pesan yang masuk, hingga fokus nya jatuh pada pengumuman selanjutnya. Bahwa tugas tersebut harus di kumpulkan besok. Dan itu tandanya Elena harus menyelesaikan malam ini juga. Ya salam niat hati ingin mengambil libur justru malah harus pergi Sekolah. Nasib.


Elena langsung menghubungi semua anggota kelompoknya, menanyakan sudah sampai mana mereka mengerjakannya. Dan untungnya mereka sudah menyelesaikan sebagian. Elena bisa bernafas lega, meski sebagian lagi harus dia yang mengerjakan.


"Lagian kamu Na, darimana aja coba? Gue udah hubungi lu dari kemarin!!" Sarah terlihat begitu marah, ketika sambungan vidio call sudah tersambung.

__ADS_1


"Gue kemarin ada acara, sorry deh."


"Iya ada acara gue tahu, tapi ini gimana woy. Tugas mesti di kumpulin besok." Kali ini Niko yang tampak geram.


"Iya deh iya, ini biar gue yang ngerjain."


"Jangan mentang-mentang lu pinter yah Na." Nah yang ini Bimo, dia biasanya kalem tapi jika lagi kayak gini dia berubah jadi panikan.


"Udah lah kalian gak usah khawatir, biar gue yang kerjain. Gue lembur nih malem ini biar tugas nya beres."


Obrolan mereka terus berlanjut, hingga pintu kamar Elena terbuka. Memperlihatkan Aziz yang masuk dengan begitu saja, awalnya Elena kaget dengan kedatangan Aziz tapi tidak lama ekspresi wajahnya langsung berubah mengingat jika teman-teman nya sedang memandang ke arahnya.


"Lu lagi di kamar kan Na?" Suara cempreng Sarah mengalihkan arah pandang Elena, dia langsung melihat ke arah laptopnya lagi.


"Kuping gue yang salah atau emang gue denger pintu di buka sih Na, siapa yang masuk kamar lu?"


"Laki gue."


"Dih si Elena, masih Sekolah udah ngebet kawin."


"Kagak percaya ya udah."


"Iya lah gak percaya, lu kan jomblowati sejati."

__ADS_1


"Kurang ajar."


Tidak ingin berlarut-larut debat, akhirnya Elena mematikan sambungan tersebut secara sepihak. Dia memandang pintu kamar mandi kemudian beranjak dari atas tempat tidur. Meski Elena tidak menginginkan pernikahan ini setidaknya dia harus menjadi istri yang baik bukan. Mengingat status nya yang kini sudah berubah.


Setelah Elena menyiapkan semua keperluan Aziz, dia kembali berkutat dengan laptop nya. Mengerjakan tugas yang tadi katanya tinggal sebagian. Tapi nyatanya tugas tersebut masih lah utuh, hanya di kerjakan seper empatnya saja. Memang punya teman kelompok seperti mereka malah membuat Elena semakin stres saja, bukan nya membantu malah yang ada menyiksa.


Pintu kamar mandi terbuka, Elena menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada apa yang dia kerjakan. Targetnya sebelum jam 12 malam dia harus sudah selesai mengerjakan, karena bisa fatal akibatnya jika Elena tidur lewat dari jam 12.


Aziz pov


Hari ini sesuai dengan apa yang di inginkan oleh kedua orang tua ku, aku sudah mempersunting seorang gadis pilihan mereka. Meski hati begitu berat untuk menerima tapi mau bagaimana lagi, status ku kini sudah berubah.


Setelah mengobrol dan berbasa-basi aku memutuskan untuk menyusul istriku, sebenarnya bukan apa-apa hanya saja aku sudah merasa sangatlah gerah. Ketika aku meminta izin untuk masuk kedalam kamar aku mendengar ada yang meledek ku. Mereka semua mentertawakan ku karena mengira aku sudah tidak tahan. Padahal bukan itu yang ingin aku lakukan, aku ingin mengganti pakaian ku dan juga mengerjakan beberapa pekerjaan yang terbengkalai.


Ketika aku berdiri di depan kamar, aku mendengar suara seorang pria, apakah dia tengah menelpon kekasihnya untuk mengadukan apa yang terjadi dengan nya. Namun suara tersebut berubah, sekarang seorang wanita suaranya terdengar begitu cempreng bahkan aku mendengar jika ada seorang pria yang memarahinya. Karena penasaran akhirnya aku memutuskan untuk masuk.


Aku melihat istriku yang tengah memangku laptop, dia melihat ke arah ku kemudian mengikuti setiap langkah ku dengan bola matanya. Suara yang tadi aku dengar mendadak hilang, entah dia sudah selesai dengan urusannya atau bagaimana. Hingga akhirnya aku memutuskan masuk ke dalam kamar mandi setelah tadi meraih handuk yang ada di kursi.


Setelah aku masuk suara tersebut kembali aku dengar, wanita tersebut seperti curiga pada istriku. Hingga jawaban yang tidak aku sangka menarik ujung bibir ku untuk tersenyum. Meski mungkin niatnya bercanda tapi entah mengapa perasaanku malah menjadi senang.


Aku tidak lagi mendengar suara-suara tersebut yang ada hanya keheningan, apakah dia sudah tertidur atau keluar kamar. Aku memutuskan menyudahi aktifitas mandi ku, keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk.


Dia sempat menoleh ke arah ku kemudian melanjutkan apa yang dia kerjakan, aku tidak perduli dengan apa yang dia lakukan, hanya saja aku sempat tertegun dengan apa yang dia lakukan pada ku, pakaian ganti yang sudah dia siapkan di sela kegiatannya. Dia memang masih sangat muda, tapi dia tidak lupa kodrat dia sebagai seorang istri. ELENA ATALIA ATMAJA.

__ADS_1


__ADS_2