Dijodohkan

Dijodohkan
Sandiwara


__ADS_3

Hallo semua... Aku mau jelasin. Banyak yang tanya keberadaan pak Handoko kemana ya kok hilang? Sebebarnya bukan hilang, tapi dia pensiun. Usianya sudah seusia papa Romi dan ayah Zia yang sudah meninggal dunia. Karena sudah tua jadi Raka menyuruhnya untuk tetap di rumah author belum bisa jabarinnya.


Lanjut membaca ....


Dengan napas terengah-engah dan satu tangan yang memegangi perut mencoba mengatur napas. Tiga orang laki-laki berwajah seram dan bertubuh kekar menatap tajam, seolah siap menghakiminya.


“Apa ini yang kamu bilang penculik, Nak?” tanya salah satu seorang di sana. Di angguki oleh kedua bocah itu. “Berani sekali kau!” Orang tersebut menggeram siap menerkam.


“Bukan Pak ... bukan seperti itu, aku bukan penculik.” Raka menggeleng mencoba meyakinkan. “Ini ....” Ia mengeluarkan kartu tanda penduduk dari dompet dengan tangan bergetar.


“Awas! kalau sampai bohong!” ucap seorang tersebut saat mengambil kartu nama dari tangan Raka. Dengan ragu ia membaca nama yang tertera di sana. Smpai pada akhirnya orang tersebut memandang wajah Raka lalu membaca lagi kartu tanda penduduk itu. Memang penampilan Raka bukan seperti penculik.


Ketiga orang tersebut saling memandang setelah melihat kartu tersebut. Mereka baru tahu kalau Raka adalah pemilik perusahaan Sanjaya grup yang selama ini cukup terkenal. Banyak orang mengiginkan bekerja di sana.


“Maaf Tuan, kami salah paham terhadap Anda,” ucap salah satu seseorang tersebut saat mengembalikan kartu itu kepada Raka.


“Tidak masalah Pak.” Raka menerima dan memasukan ke dompet kembali.


“Lantas Anda kenapa mengejar anak-anak kami, Tuan?” tanya salah satu seorang dan yang lain mengangguk mempunyai pertanyaan yang sama.


“Aku mengejar mereka, hanya ingin meminta buah mangga yang mereka bawa. Istriku sedang mengidam buah mangga muda, aku sudah berkeliling ke pasar, tapi ... tidak dapat. Saat aku berhenti, melihat anak-anak itu membawa buah mangga, jadi aku ingin memintanya. Tapi mereka malah lari dan mengira aku adalah penculik.” Raka tertawa mengingat kejadian tadi.


“Kami benar-banar minta maaf, Tuan. Karena kami sudah salah paham, sekali lagi minta maaf,” ucap salah satu seseorang mewakili orang di belakangnya.


Raka membalas dengan tersenyum pertanda dia sudah memaafkan. “Tidak masalah, Pak.”

__ADS_1


“Kalau begitu ambillah, ini.” Seorang laki-laki tersebut merebut buah yang di tangan anaknya dan memberikan kepada Raka.


“Tapi Ayah, buah itu ....” ucap anak tersebut tidak rela buahnya di berikan kepada Raka.


“Sudah, nanti ayah ganti buah yang banyak di dalam rumah,” gumam sang ayah kepada anaknya, tidak terdengar oleh Raka.


“Terima kasih Pak, mangga ini sangat berharga. Sekali lagi terima kasih,” ucap Raka kegirangan seperti habis mendapat piala penghargaan.


“Ambillah ... Tuan.”


Raka dengan rasa bahagia membawa dua mangga muda itu pulang. Dengan tidak sabar ia ingin menyerahkan buah itu kepada Zia dan ingin melihatnya sang istri memakan dihadapannya.


Setibanya di rumah.


Zia sedang menonton televisi di ruang tengah ditemani bik Srie di samping. Sesuai dengan permintaan Raka wanita paru baya itu tidak meninggalkan Nyonyanya itu sedikit pun. Zia menekan-tekan benda kecil berwarna hitam alat yang digunakan untuk mengontrol layar televisi itu untuk mencari tayangan yang pas.


Dan saat Raka memasuki rumah wajah Zia semakin berbinar saat melihat buah di tangan hingga menutup mulut dengan tangan. Ia tidak menyangka akan mendapat buah mangga sebanyak itu. “Itu ... banyak banget ... sayang?” dia segera meraih mangga matang yang di kantong keresek dan mengabaikan mangga muda di tangan kiri Raka.


“Ini ....” Raka mengangkat tangan yang berisi dua buah mangga muda itu.


“Enggak mau, aku maunya yang ini, aja.” Zia segera berbalik dan membawa pergi kantong keresek yang berisikan lima kilo mangga ke meja makan.


Raka rasanya seperti ingin pingsan. Ia sudah bersusah payah mencari mangga bukan dimakan justru Zia memilih buah yang ia beli di pasar. Andai saja waktu bisa diulang dia tidak akan bersusah-susah mengejar anak kecil tadi sehingga dituduh sebagai seorang penculik. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa sembari melihat sang istri memakan buah itu.


__ADS_1


Pagi ini dipenuhi rasa semangat luar biasa. Semangat itu berkobar saat mengingat istri dan calon anaknya. Raka berusaha keras memulihkan perusahaan yang mulai menunjukkan titik terang. Saat lelaki itu memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya dengan teliti tidak ada yang terlewat sedikit pun. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu dari arah luar. Dan terlihat Erick memasuki ruangan setelah Raka mempersilahkan.


“Raka aku mohon, terimalah bantuanku ... aku berjanji, tidak akan meminta imbalan apa pun,” ucap Erick meyakinkan teman yang tidak mendengarkan bicaranya itu. “Apa aku harus meyakinkanmu, kalau aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada Zia, Raka. Aku sudah punya pacar ....” Erick terus saja bicara sehingga membuat Raka menoleh memandangnya.


“Pacar?” Raka tertawa tercekat dalam mulut. “Memang siapa pacarmu, Rik? Aku tau kamu pasti bohong.” Lelaki itu menertawakan ucapan Erick.


“Aku tidak bohong, Raka. Aku akan membawanya ke sini, tunggu.” Erick segera berbalik akam membawa Sita ke hadapan temannya itu. Tapi sebelum Erick melangkah keluar, ternyata Sita datang membawa map di tangan memasuki ruangan.


“Kebetulan sekali ....” Erick tersenyum senang melihat kedatangan Sita.


Raka mengangkat sebelah alis masih penasaran, dengan ucapan Erick. Apa benar, kalau temannya itu sudah mempunyai kekasih?


“Raka, perkenalkan dia adalah ... pacarku, Sita.” Erick menautkan tangannya dengan tangan Sita yang terlihat canggung.


Raka membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mana mungkin, Erick mendapat seorang pacar secepat itu, Raka menaruh curiga kepada mereka berdua. “Benarkah?” Menaikkan sebelah alis.


“Tentu saja ....” Erick tersenyum palsu. “Iya kan, Sita?” tersenyum memberi kode Sita supaya perempuan itu menuruti seperti apa yang ia katakan.


“I—iya,” kata Sita dengan senyum terpaksa. Kalau boleh jujur jantungnya kini berdetak kencang karena Erick menggenggam tangannya. Kini kedua tangan itu berpaut jadi satu layaknya sepasang kekasih saling mencintai.


“Apa kau mempercayaiku sekarang, Raka?” tanya Erick.


“Baikalah, aku percaya dan aku terima bantuanmu, tapi ... jangan pernah menipuku tentang hubungan kalian ini.” Dengan nada mengancam. Raka tidak bodoh, dia tau kalau hubungan mereka adalah palsu. Erick juga tidak tahu kalau perusahaan Raka sudah kembali mulai stabil.


Raka sengaja mengikuti sandiwara mereka. Sudah lama ia merencanakan sesuatu untuk menjodohkan Sita dan Erick. Tapi sebelum ia menjodohkan ternyata mereka sudah membuat perengkapnya sendiri. Ia akan berpura-pura percaya dan mengikuti sandiwara mereka berdua.

__ADS_1


VOTE JANGAN LUPA...🙄


__ADS_2