
"Pokoknya aku mau buka toko kue, titik!"
Tidak ada negosiasi lagi, Ziara tetap dalam pendirian, ingin membuka toko kue. Walau Raka melarangnya ia akan terus bersikeras supaya mendapat izin.
Raka tidak memperdulikan ia pura-pura tidak mendengar menutup mata, tapi tidak tidur tangan dilipat di tengkuknya. Sepertinya dia ingin Ziara merayu memohon izin.
"Ohh kamu tidur?! Baiklah ... tunggu saja pembalasanku...." Ziara bermuka masam beranjak dari kasur menuju kamar mandi, ia kesal dengan tingkah Raka yang tidak mendengarkan saat bicara. Gadis itu karena kesal saat menutup pintu membantingnya keras.
Menyebalkan banget, lihat aja nanti kamu akan tau balasanku.
Raka membuka matanya sebelah melihat Ziara pergi kemana. Ia pun segera beranjak mengetuk pintu kamar mandi. Ia berencana akan menjahili istrinya. Ini mungkin akan menjadi kebiasaannya setiap hari.
Tok, tok, tok!
Ziara membuka pintu hanya separo kepalanya yang nampak. Ia melirik kesal saat melihat Raka yang tersenyum manis, menggoda memainkan alis untuk menggodanya. "Kenapa?" tanyanya dari balik pintu.
Raka mendorong pintu yang setengah terbuka itu. Sehingga membuat tubuh Ziara terdorong. Lagi-lagi gadis itu hanya menghela napas kesal.
"Barangku ada yang tertinggal di dalam." Raka masuk ke dalam, pura-pura mencari sesuatu. Padahal ia tidak meninggalkan apapun di sana, itu hanya akal bulusnya supaya bisa masuk.
"Apa sudah ketemu?" tanya Ziara dari belakangnya, membuat cowok itu menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal.
"Cepatlah, aku mau merendam diri ... jangan ganggu aku. Kamu sana!" Ia menarik tubuh Raka supaya keluar. Namun cowok itu malah maju melanjutkan aktingnya.
"Cepat pergilah...." pinta Ziara berusaha menarik keluar. Bukan tubuh Raka yang tertarik, justru tubuhnya yang tertarik mengikuti Raka.
"Sepertinya aku menaruhnya di situ." Raka menunjuk kesembarang tempat. Mencari ke kanan dan ke kiri.
"Ada?"
"Tadi ... aku menaruhnya di situ, kenapa nggak ada ya?" Cowok itu berpura-pura bingung.
"Kalau nggak ada, ayok keluar...." Ziara menarik tangan lagi.
"Tunggu-tunggu, sepertinya di situ." Raka masih mau berpura-pura.
__ADS_1
"Enggak ada, ayo cepet keluar!" Gadis itu menarik keluar kamar mandi. Lalu Raka berbalik menarik tangannya, dalam waktu sekejab tubuh kecil itu, di dekap Raka dari belakang. Cowok itu melingkarkan tangannya di dada hingga tidak ada akses untuk melepaskan diri.
"Apa—an sih, lepas kan aku." Gadis itu mencoba melepaskan tangan yang terkunci tangan Raka. Namun wajahnya terliahat senang, matanya berbinar.
"Dengar! Aku akan memberimu izin," ucap Raka, wajahnya tepat di samping wajah istrinya. Hingga hembusan napasnya sampai ke leher Ziara.
"Kamu pasti bohong!" ucap Ziara tidak percaya. Ia mencoba melepas tangan Raka. Namun suaminya malah membalik tubuhnya menjadi saling berhadapan, mengunci tangan di punggung Ziara.
"Apa tanpangku ada muka pembohong? Lihat ini, perhatikan wajahku...." Pria itu mendekatkan wajahnya tepat di depan mata.
"Nggak mau,"
"Tatap!"
Ziara mengeleng menolak dan mengalihakan pandangannya. Raka tidak tahan melihat wanita di hadapannya yang selalu membuat gemas. Cowok itu membalik tubuh itu kembali ke posisi semula, namun tangannya masih mendekap. Ia membawa tubuh itu ke ranjang dan menggulingkan berasama dengannya.
"Apa, apa-an ini?" Ziara tertawa karna ia terjatuh diatas tubuh Raka. Wajahnya sudah berubah menjadi merah jambu.
"Aku tidak bohong, aku akan menyuruh Rio sialan itu mencari lokasi yang pas buatmu, sayang...."
"Husss! Nggak boleh nyebut nama orang begitu,"
"Zia...." panggil Raka lirih.
"Hemmm?"
Hening tidak ada suara, Raka menatap langit-langit kamar. Dan Ziara menatap wajahnya menanti jawaban.
"Aku mencintaimu, tetaplah bersamaku ... jangan pernah tinggalkan aku." Raka mengecup rambut gadis itu. Lalu mengangkat wajah Ziara dan berkata lagi, "Apapun yang kamu inginkan pasti aku akan turuti. Berjanjilah kalau kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau ... kamu harus bisa membagi waktu untuk melayaniku. Apa kamu sanggup membagi waktu?"
"Aku akan berusaha," jawab Ziara yakin. "Bagaimana kalau hari ini kamu, antar aku ke super market untuk membeli bahan kue, aku akan membuat untuk percobaan."
"Kenapa nggak suruh pelayan aja sih!" Balas Raka.
"Nggak bisa, mereka nggak tau apa yang aku mau. Sayang ... pleass?" Ziara memohon memasang wajah melas.
__ADS_1
Kalau sudah begitu apalah daya, Raka tidak bisa menolak lagi permintaan wanitanya itu. Dengan berat hati ia mengatakan 'Iya' karena semenjak kejadian dua puluh tahun yang lalu, Raka enggan untuk pergi ke mall lagi.
"Makasih sayang ... aku akan bersiap-siap!" Ziara akan segera bangun dan bersiap.
"Mau kemana?" tanya Raka menarik tangan Ziara, hingga membuat tubuhnya terjerambah kembali di atas dada bidang itu.
"Aku mau siap-siap—"
"Nanti aja siap-siapnya, ada yang harus kamu selsaikan di sini," ucap Raka tatapan menggoda.
"Apa yang harus aku selsaikan?" tanya Ziara polos. Ia tidak peka dengan kode keras, dari mata Raka yang menginginkan sesuatu darinya.
Jadi istri polos banget sih, pengen cubit....
***
Waktu tiba hingga sore hari Rio yang diperintahkan Raka mengurus pekerjaan di kantor, dan membawakan surat-surat laporan ke rumah. Ia datang membawa beberapa map, laporan perusahaan. Ia berjalan kedalam rumah mencari Raka. Saat ia baru masuk cowok itu mendapati Claris duduk di sofa, Rio mendekat lalu barkata.
"Tante, dimana Raka?" tanyanya kepada mama Claris yang baru selsai menelefon.
"Dia ada di kamar," jawabnya sewot lalu meletakan ponsel di meja. "Sehari ini bahkan mereka nggak keluar kamar sama sekali," gumam mama Claris namun terdengar oleh Rio.
"Bagus dong ... supaya tante biar cepat punya cucu, dan aku akan dipanggil om," ucap Rio membuat Claris mengepal. "Oh iya, apa aku boleh minta tolong pelayan panggilkan Raka, tante?"
"Pelayan sedang sibuk, kalau kamu mau panggil aja sendiri! Kamarnya di atas pintu kamar pertama," jawab Claris ketus.
"Baiklah." Rio menaiki tangga mencari keberadaan Raka di kamar, menoleh ke kanan-kiri mencari keberadaan kamar Raka. Ia bingung karena ada banyak kamar di sana walau pun Claris memberi tahunya, begitu banyak pintu. Hingga matanya tertuju ke pintu kayu barwarna coklat ia tidak yakin itu adalah kamar Raka.
Aku akan coba ketuk, untuk memastikan.
Rio berjalan mendekat kearah pintu, ia mengetuk pelan. Mendekatkan telinganya memastikan "Apa ada orang di sana?"
Namun indra pendengarannya harus di uji saat mendengar Ziara dan Raka. Ia menepuk-nepuk dahinya menyalahkan dirinya sendiri kenapa harus mendengar suara itu.
❣️Tidak akan ada henti-hentinya Aku Minta dukungan kalian. Harap di baca jangan di abaikan, kalian sebelum baca pasti lihat ada bintang 5 kan? Saya mohon dengan sangat agar meluangkan waktu untuk menekan Bintang lima.
__ADS_1
Like, Love, Vote itu geratisss teman-teman. Akan saya usahakan mulai besok kita akan Update setiap hari. Jadi sekali lagi kalau ingin cerita berlanjut saya mohon tekan diatas, seperti yang saya sebutkan tadi.❣️
JANGAN LUPA KOMEN YA GUYS😘😘😘