Dijodohkan

Dijodohkan
BAB 04. Keputusan


__ADS_3

Bab 04. Keputusan


**


Pria tua ini yang akan menjadi suami ku, yang benar saja? Batin Elena memandang pria yang berada di depannya.


Dia manis dan imut, sangat sayang jika di jadikan seorang istri. Lebih pantas menjadi seorang adik. Aku tidak mengerti dengan pola pikir kedua orang tua ku, pikir Aziz.


Mereka kini sudah di duduk di ruang keluarga, kedua orang tua mereka tengah berdiskusi. Dan mereka sendiri malah sedang bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Aziz kadang tidak habis pikir dengan pola pikir kedua orang tuanya, lebih tepatnya sang ibu. Yang sangat ngotot menjodohkan diri nya dengan wanita yang berada di depannya. Aziz akui, Elena sangatlah cantik dengan riasan naturalnya, apalagi wajahnya yang terlihat sangat lah imut benar-benar menambah kadar kecantikan nya. Namun bukan itu yang menjadi fokus utama Aziz, Elena ini masih ABG bisa di bilang jika Elena itu sangatlah muda. Masih terlalu mentah jika harus di jadikan seorang istri. Apalagi Aziz ini adalah pria dewasa yang sudah sangatlah matang.


"Bagaimana apa kalian setuju?" Lamunan mereka seketika buyar, mendengar pertanyaan dari tuan Abraham.


Elena dan Aziz sama-sama menoleh, kemudian saling berpandangan.


"Bagaimana setuju tidak?" Kali ini Nyonya Desi yang bertanya, Aziz tampak mengkerut kan dahinya.


Helaan nafas yang panjang terdengar dari ke empat orang tua tersebut, mereka tidak habis pikir dengan kelakuan anak mereka.


"Aziz, Lena apa dari tadi kalian tidak menyimak obrolan kami?"


Aziz dan Elena sama-sama menggeleng, toh memang benar mereka tidak mendengarkan apa yang sedang di bahas oleh para tetua.


"Begini, dengarkan ucapan saya baik-baik. Pernikahan kalian akan di laksanakan sekitar seminggu lagi. Terhitung dari malam ini, dan kalian. Besok pergilah ke Butik untuk mencoba gaun pengantin."


"SEMINGGU?" Ulang Elena dan Aziz. "Yang benar saja."


Ke empat orang tua tersebut hanya geleng kepala, melihat reaksi dari anak-anaknya.


Sedangkan Elena dia begitu muak pada pria yang berada di depannya, kenapa pria tua tersebut mengikuti setiap kata yang di ucapkan oleh nya.


"Ini keputusan yang finally kalian tidak bisa merubah, atau pun menolak nya."


"Mama"

__ADS_1


"Apa, ini sudah menjadi keputusan yah mama tidak bisa berbuat apa-apa."


"Tapi ma, aku kan masih Sekolah."


"Siapa bilang kamu kuliah?"


"Mama, bagaimana nanti jika semua teman dan guru tahu jika aku menikah. Aku tidak mau di keluarkan dari Sekolah."


"Lena, kamu tenang saja jangan khawatir."


"Tapi ma."


"Hus diam."


Aziz memijit pangkal hidung nya, rasanya begitu pusing mendengar rengekan gadis yang berada di depannya. Dia masih tidak habis pikir bagaimana mungkin kedua orang tuanya bisa dengan rela melepaskan anak gadis mereka. Dan malah membiarkan menikah dengan dirinya, jalan pikiran kemana? Aziz bingung memikirkan itu semua.


"Lena, apa kamu tidak mau tidur di rumah tante? Bukannya selama ini kamu ingin ke Rumah kami?" Tanya nyonya Desi, dia tengah berusaha untuk merayu Elena.


"Tante jika untuk menginap dan bermain aku masih mau, tapi untuk menikah dengan nya. Aku tidak mau. Ayolah." Sahut Elena, dia menunjuk Aziz yang tengah menatap padanya. "Dia sudah tua tante." Sambung nya.


Bukannya marah karena anak nya di hina, nyonya Desi justru malah tertawa.


"Haha nah itu kamu tahu, makanya tante menikahkan si tua ini dengan mu. Agar usia tua nya bermanfaat untuk mu."


Elena melongo mendengar ucapan nyonya Desi, bagaimana mungkin seorang ibu malah mengatai putranya sendiri. Dan Aziz jangan di tanya lagi wajahnya sudah merah padam, menahan malu dan marah.


Tuan Abraham beserta istri dan putra mereka sudah pulang sejak satu jam yang lalu, kini Elena sudah berada di dalam kamarnya. Mengganti gaun yang tadi dia kenakan dengan piyama bermotif bunga. Matanya terus memandang langit-langit kamar nya, baginya apa yang dia dengar tadi sudah seperti mimpi buruk. Dan Elena berharap semoga ketika dia bangun besok semua nya hanya lah mimpi dan khayalannya.


🍃


🍃


🍃


Di pagi hari setelah Elena bangun dia melakukan aktifitasnya seperti biasa, menyiapkan peralatan Sekolah nya kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Setelah semuanya sudah beres.

__ADS_1


"Nem kamu Sekolah hari ini?" Pertanyaan dari sang ibu membuat Elena mengerjap bingung, pasalnya hari ini bukan hari minggu.


"Apa hari ini Lena libur?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Elena, Della yang tengah mengoles selai pada roti tawar lantas menoleh.


"Ya kalo bisa mending kamu libur aja, memangnya hari ini gak padat jadwal kelas kamu?" Sahut Della, dia tidak menyadari jika putrinya itu mendadak amnesia ketika bangun tidur tadi.


"Mama kok tumben sih nyuruh aku bolos, biasanya kalo aku lagi sakit aja pasti di suruh Sekolah mulu." Si anak yang kelewat pintar ini hanya menyahut dengan acuh, dan si ibu mulai curiga dengan gelagat putrinya. Seperti dia lupa pikir Della.


"Kamu kan bolos buat fithing baju Nem, lagian kan nanti bisa mama ijin kan sama wali kelas kamu."


"Oh, fithing baju."


Eh tapi dia kok gak lupa, gak marah juga pikir Della. Dia kembali menekuni kegiatannya setelah putrinya tidak lagi menyahut.


Namun tidak lama, suara kursi yang di dorong membuat Della langsung menoleh ke sumber suara.


"Mau kemana?" Heran Della melihat putrinya berdiri.


"Lah mama gimana sih, mau Sekolah lah. Udah rapih gini juga."


"Lah tadi katanya mau izin aja, gimana sih kamu?"


"Buat apa izin, Lena hari ini ada ulangan."


"Kan kamu mau fithing baju Na, gimana sih? Kok mama malah jadi bingung gini."


"Fithing baju buat apaan? Mau ada acara emang nya?"


"Astagfirullah jadi dari tadi kamu nyahut mama ngomong tapi kamu sendiri gak ngerti."


"Apaan sih mama gak jelas."


"Kamu yang gak jelas, kamu fithing baju buat nikah sama Aziz Lena apa kamu lupa?"


"Hah? Jadi yang semalem itu buka mimpi? Aku beneran mau nikah?"

__ADS_1


"Astaga, julukan nya aja Ratu Pinter padahal aslinya lemot. Gak habis pikir."


Jengker-jengker deh mama Della ngadepin Elena yang kada lemot nya naudzhubilah. Gue aja gak faham kenapa tuh anak bisa jadi juara umum tiap semester.


__ADS_2