
Hae semua pembenci Claris dan Varsa... Sudah saatnya mereka menyudahi rencana-rencana ala-ala sinetron.
Selamat membaca😉
Malam hari sudah usai waktunya berhenti untuk melakukan aktifitas. Kini saatnya beristirahat meregangkan otot-otot yang kaku setelah seharian disibukan denga pekerjaan.
Ziara meluruskan kakinya melipat satu kaki di atas kaki sebelahnya di atas ranjang. Ia sedang menatap tanpa berkedip nonton tayangan kesukaan semua wanita. Apa lagi kalau bukan drama kesayangan. Zia malam ini sedang ingin bermalas-malasan di atas kasur yang lembut dan nyaman itu. Wanita itu sedang menikmati masa liburnya tanpa melayani Raka untuk beberapa hari kedepan.
Disela-sela keseruan Zia terlihat khawatir saat melihat benda berbentuk bulat yang mengantung di dinding. “Jam sembilan.” Ia melihat ke arah pintu menanti kapan pintu itu terbuka. “Kenapa Raka belum pulang?” Menghela napas dan membenamkan tubuhnya dipermukaan kasur.
“Kenapa dia belum pulang juga?” katanya terlihat gelisah. Pikirannya dipenuhi rasa khwatir, takut, cemas, memikirkan suaminya yang tak kunjung pulang.
Setelah beberapa saat ia menunggu Raka pulang. Tiba-tiba perutnya berbunyi minta di isi ia memang sengaja tidak makan karena menunggu sang suami pulang dan ingin makan barsama.
Bosan menunggu di dalam kamar dan tayangan yang ia tonton tidak menarik lagi. Akhirnya Zia memutuskan keluar kamar untuk pergi ke ruangan tengah. Sudah sepi para pelayan sudah pulang, karena Zia yang menyuruhnya untuk tidak menunggu Raka pulang dan pelayan yang tinggal mungkin sudah tidur karena kurang enak badan.
Saat Zia berada di ruangan tengah, matanya tertuju ada obat yang tergeletak di atas meja. Ia meraih obat itu lalu melihat lebih dekat.
Sepertinya itu obat Mama Claris.
Mungkin Claris lupa menaruhnya di sana. Gadis itu berinisiatif membawakan obat tersebut ke kamar Claris. Supaya kalau ibu mertuanya mau meminum obat lebih mudah. Gadis yang sekarang sudah tidak gadis itu masuk ke kamar Claris. Mencari-cari keberadaan ibu mertuanya itu, tidak ada di tempat. Mungkin beliau sedang ke rumah Varsa batin Zia.
Ziara berinisiatif menaruh obat itu ke laci sebelah tempat tidur. Akan lebih aman dan mungkin mertuanya itu biasa menyimpanya di sana.
Dan...
Saat menarik laci itu, betapa terkejutnya dia matanya membulat dan tangannya reflek dengan gemetar memeriksa obat-obatan yang numpuk di sana. Begitu banyak obat dengan merek yang sama tetapi tidak ada yang berkurang sedikit pun. Jadi?
Ternyata Claris tidak meminum obat-obat itu. Tapi kenapa? Gadis itu bertanya-tanya dalam benaknya. Apa sebenarnya yang terjadi?
__ADS_1
Zia memegang erat obat-obat itu.
Sudah jam sepuluh malam Raka tiba di halaman rumah. Begitu melelahkan hari ini banyak sekali pertemuan-pertemuan dengan klien dari perusahaan luar negeri hingga ia harus pulang malam. Setelah memarkir mobil Raka masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar. Menaiki tangga akan langsung masuk kamar.
Mata Raka tertuju saat melihat pintu kamar Claris terbuka. Ia melihat ada sang istri berdiri di sana.
Sedang apa dia di sana? Cowok itu menghampiri Zia di dalam kamar Claris. Ia melihat Ziara yang sedang bertolak punggung tidak menyadari kehadirannya itu sedang menatap sesuatu.
“Sedang apa kau di sini?”
Suara Raka membuat Zia tersentak kaget. Seketika berbalik dan menyembunyikan tangan di balik tubuhnya.
“Sayang, kau sudah pulang?” ucap Zia dengan gugup dan getir.
Raka menaikan sebelah alisnya melihat wanitanya itu gugup membuat ia menaruh curiga. “Apa? Apa yang kau sembunyikan?” tanyanya mengintimindasi.
“A-aku ... sedang mencari Mama. Tapi ... dia tidak ada di sini,” balas Zia terbata-bata. Ia tidak ingin jika Raka mengetahui apa yang ada di tangannya. Ia tidak ingin Raka marah jika mengetahui yang belum tentu kebenarannya.
“Apa ini, Zia?”
Ziara hanya menunduk tidak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa sedangkan dia sendiri tidak tau kenapa begitu banyak obat di laci Claris.
“Apa ini, Zia?” tanyanya lagi dengan nada sedikit menekan.
“Aku tidak tahu. Saat aku mau menemukan obat ibu yang berada di atas meja, akan menyimpan ke laci, aku menemukan itu di sana.”
Raka meremas obat itu kuat, pikirannya sudah dipenuhi amarah. Pikiran buruk yang selalu ia tunjukan kepada Mama Claris kini menunjukan kebenaran. Pasti ada hal yang tidak beres yang ibunya sembunyikan. Mata tajam menyala menatap lurus seolah tidak bisa dipadamkan dengan apa-pun.
“Sayang, kau pasti capek kan? Ayo kita ke kamar dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi.” Zia menarik lengan kekar itu, tetapi Raka tidak mengindahkan. Dengan langkah cepat dan membawa obat yang di tangannya ke luar kamar.
__ADS_1
“Kau mau kemana sayang?!” Ziara mengejar Raka yang terus saja berjalan ke luar. Inilah hal yang ditakutkan gadis itu. Suaminya itu mempunyai sifat tempramental yang tinggi akan memberi kesimpulan sendiri sebelum mencari kebenaran.
“Tunggu!” Zia menghadang membentangkan tangannya. Sebisa mungkin ia mencegah supaya jangan pergi.
“Minggir, jangan halangi aku!” Raka menyingkirkan tubuh di hadapannya lalu melanjutkan berjalan cepat menuju mobil.
“Kau boleh pergi, tapi aku ikut denganmu.” Zia mengejar dan tanpa menunggu persetujuan Raka masuk ke dalam mobil. Dia tidak atu apa yang terjadi kalau dia tidak ada di sana.
—
Di rumah Varsa.
Varsa terlihat sedang duduk di sofa berhadapan dengan Claris. Mereka berdua terlihat serius membicarakan sesuatu. Varsa memandang sinis ke arah Claris yang menunduk di hadapannya.
“Maaf kan tante, Varsa. Tapi ... aku saat ini sudah menyadari kalau Rakalah satu-satunya orang yang kusayangi di dunia ini. Tante sudah terlalu banyak menyakiti dia, dan membuat dia benci sama tante, mulai saat ini aku akan menebus semua kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat Dan aku akan mengatakan semua kebohongan kepada dia. Aku tidak bisa mengelak kalau Ziara adalah wanita yang sangat ia cintai.” Claris mengusap air mata yang menetes.
“Jadi rencana yang kita buat? Dan janji tante akan menikah kan aku dengan Raka, aku harus melupakan begitu saja?” Varsa menggeleng malas. “Aku menyesal harus berhubungan dengan kamu, tidak berguna sama sekali.” Berdiri dari sofa bercekak pinggang.
Setelah mendengar kata-kata Varsa, Claris barulah menyadari siapa wanita yang pantas hidup dengan putranya dan siapa yang bukan. Dari ucapan itu juga Claris bisa menilai kalau Varsa tidak tulus membantunya. Status tinggi memang tidak menjamin sifat seorang.
“Harusnya kau mendukung tante, tapi ... kenapa kau justru menyalahkan tante? Raka mencintai istrinya. Apa pun itu sudah tidak bisa di danggu gugat lagi.” Wanita itu mengimbangi berdiri di hadapan Varsa.
Wajah mereka saling beradu, berbeda dengan sebelumnya yang saling mendukung. Mereka saat ini menatap permusuhan. Entah apa yang membuat Claris sadar sehingga ia berani melawan Varsa untuk Ziara.
—
Tolong Bantu jenny buat Vote dong kakak ... supaya jenny seneng kalian seneng😂
Udah itu dulu ya kakak besok kita sambung lagi dua kali up. Semoga kalian suka😂
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.