Dijodohkan

Dijodohkan
15 HARI INI TIDAK ADA SEKAT


__ADS_3

BAB 15. HARI INI TIDAK ADA SEKAT


**


Seperti yang sudah di katakan oleh Aziz, pria tersebut benar-benar menjemput Elena. Namun, karena kesibukannya maka dia mengutus supir kantornya untuk menjemput sang istri. Elena yang masih merasa sakit pada lutut pun berjalan dengan tertatih. Supir yang melihat Elena berjalan mendekat lantas dengan cekatan langsung membuka pintu. Dan menyuruh nyonya muda nya untuk segera masuk.


Perjalan dari Sekolah menuju Kantor memakan waktu cukup lama. Hampir 60 menit mereka berada di jalan raya, hingga akhirnya mereka sampai. Supir tersebut kembali membuka pintu dan membantu Elena untuk keluar.


"Nyonya, nanti ada Sekertaris bapak yang akan menjemput anda." Ucap sang supir tersebut, sebelum dia kembali masuk kedalam mobil.


Ck, nyonya katanya gumam Elena.


Elena kembali melangkah, suasana Kantor yang lumayan ramai membuat Elena merasa risih. Terlebih tidak sedikit dari mereka yang menatap ke arah Elena, ada yang menatap nya dengan tidak suka. Ada juga yang menatap nya dengan kagum.


Seseorang dari dalam lift berjalan tergesa ke arah Elena, bahkan dia sedikit berlari agar segera sampai kehadapan Elena.


"Maaf nyonya saya terlambat." Ucapnya sembari membungkuk.


"Tidak papa, dan bisakah jangan panggil saya Nyonya!" Jawab Elena, menggaruk kepala nya yang terasa gatal. Dia merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut.


"Tapi saya memang harus memanggil anda seperti itu Nyonya." Jawabnya kemudian, dia menoleh ke arah orang-orang yang tengah berdiri di belakangnya, kemudian mengangguk seperti memberi kode.


Seseorang dengan perawakan tegap berjalan seraya mendorong kursi roda, kemudian memberikannya pada Sekertaris pribadi Aziz.


"Nyonya silahkan, tuan menyuruh saya agar anda duduk di kursi roda ini." Ucapnya sembari menunduk.

__ADS_1


"Eu saya masih bisa berjalan." Tolak Elena dengan halus, dia merasa seperti orang yang tidak berguna apabila duduk di atas kursi roda. Sedangkan kakinya masih bisa di ajak jalan.


"Lebih baik nyonya cepat duduk, agar saya lebih cepat mengantar anda ke atas." Ucapnya dengan nada memohon.


"Baiklah." Pada akhirnya Elena mengalah, dari pada terus menjadi bahan tontonan oleh karyawan Kantor.


Kursi roda di dorong pelan, kemudian berjalan ke arah lift. Mereka semua masuk dan menghilang begitu saja. Elena merasa tidak nyaman di antara para lelaki yang di tugaskan untuk menjemput nya. Mereka berbadan tegap, dan terlihat sangar. Elena malah merasa takut sendiri.


Pintu lift terbuka, mereka kembali berjalan dan mendorong kursi roda Elena. Mereka terus melaju sampai akhirnya mereka berhenti tepat di depan ruangan berpintu kayu. Seseorang membuka pintu tersebut, setelah sebelum nya mereka meminta izin.


Kursi roda kembali di dorong, Elena menatap takjub ruangan yang di huni oleh suaminya ini. Dia tidak menyangka jika suaminya itu adalah seorang pemimpin perusahaan besar. Terlihat dengan jelas dari interior ruangan tersebut yang begitu menawan.


"Sudah sampai?" Suara seseorang membuyarkan lamunan Elena, dia menoleh seraya menggerakkan kursi roda tersebut.


"Lutut ku baik-baik saja, seharusnya Mas gak perlu kaya gini nyuruh aku duduk di atas sini." Elena menunjuk kursi roda yang tengah ia duduki, dia sudah merasa tidak nyaman terlebih suaminya itu masih saja betah jongkok. "Aku masih bisa berjalan, tidak perlu duduk begini." Sambungnya, dan kemudian Elena mencoba bangkit. Aziz refleks bangun dari tempat jongkoknya.


"Apa kau yakin, saya lihat lutut mu itu malah semakin membiru. Bukannya sembuh malah sepertinya semakin parah." Ucapnya dengan senyum mengejek. Elena menatap sinis ke arah Aziz, suaminya ini menyebalkan sekali. Dan seperti apa yang di katakan Aziz Elena terhuyung ketika dia tengah mencoba untuk berdiri.


"Bukannya sudah saya bilang!!" Ucap Aziz yang dengan cepat langsung menahan tubuh Elena.


"Tadi juga bisa jalan kok, gara-gara Mas suruh aku buat duduk. Lututnya kelamaan di tekuk."


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kejadian Elena yang hampir ambruk benar-benar membuat Aziz lebih waspada, dia takut jika istri nya itu tiba-tiba memaksa untuk berjalan. Padahal sudah jelas jika lututnya itu cedera.

__ADS_1


Seolah tidak sadar dengan apa yang sudah dia lakukan, Aziz terus memperhatikan Elena. Bahkan pria tersebut tidak segan untuk menyuapi Elena. Padahal dengan jelas dia menolak perjodohan tersebut. Namun nyatanya, dia seperti sudah luluh akan pesona Elena yang begitu memabukkan.


Sedangkan Elena sendiri, dia menurut saja karena baginya akan berdosa jika membantah perkataan sang suami. Meski pikirannya ingin sekali rasanya menolak setiap apa yang di lakukan oleh Aziz.


"Mas kamu gak makan?" Elena bertanya di sela kunyahan nya, mulutnya selalu penuh ketika pipinya tidak lagi menggembung.


"Saya sudah makan, lebih baik cepat habiskan. Kemudian istirahat." Jawabnya dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah manis Elena. Kenapa gadis ini terlihat dewasa, tidak seperti gadis manja ketika pertama bertemu dulu batin Aziz yang terus memperhatikan Elena.


Cara makan istrinya itu terlihat begitu lucu, pipi bulatnya terus menggembung ketika Sesendok makanan masuk ke dalam mulutnya. Dan lagi bibir kecilnya itu seperti ikan yang tengah berenang. Terlihat lucu dan menggemaskan. Rasanya tidak tahan untuk tidak mencium nya. Ehh.


"Mas."


"Mas."


Aziz mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian melihat ke arah Elena yang tengah tertawa.


"Kenapa kamu ketawa?" Tanya dengan nada ketus.


"Abisnya Mas Aziz lucu, aku ngomong gak di dengerin. Malah ngelamun. Udah gitu matanya kedip-kedip keliatan lucu tahu." Jawabnya kemudian menutup mulut nya ketika kembali tertawa.


"Berani kamu sama saya?"


"Ngapain gak berani suami sendiri."


Seolah tertantang, Aziz langsung menyimpan makanan milik Elena. Dia menyerang gadis yang berada di depannya dengan brutal. Sedangkan Elena dia hanya mampu tertawa dan memohon ampun.

__ADS_1


__ADS_2