
Hari berganti hari, rumah tangga Larry dan Randy semakin harmonis dan romantis. Tia karyawan yang jatuh cinta kepada Randy sangat membenci Larry dan Lidya karena mereka selalu bersama dengan Randy. " Dasar perempuan sok cantik, dia pikir dia siapa bisa terus bersama pak Randy? dasar jalang. Lihat saja nanti saat gue sudah menjadi istri pak Randy, lho akan gue hempaskan" ucap Tia sinis.
Tia merapikan dirinya dan beranjak dari tempatnya. Ia berjalan ke arah Randy dan yang lainnya. Randy dan Gibor yang melihat kedatangan Tia mengerutkan wajah jijik. Untuk pertama kalinya ada karyawan lancang yang mendatangi mereka saat makan siang. Tia tahu kalau semua karyawan takut untuk menghampiri Randy saat makan, tapi ia memberanikan diri karena ia tahu kalau Randy tidak benar-benar mengerikan seperti yang orang lain katakan karena ia melihat dengan jelas tawa Randy saat itu. Larry dan Lidya saling menatap mengartikan pertanyaan siapa yang datang dan keduanya menggeleng kepala tidak tahu. Larry menyapa Tia duluan untuk mengetahui apa keperluan dia datang. Tetapi Tia mengabaikan Larry dan menatapnya jijik. "dasar jalang. Dia pikir dia siapa untuk berbicara denganku? dia pikir dia sudah jadi ratu hanya karena dia bisa selalu bersama dengan Randy? kalau bukan karena dia asisten pribadinya Randy, dia juga tidak akan pernah ada di samping Randy sekarang" Randy menatap kesal kepada Tia karena dia mengabaikan istrinya. Ia ingin menampar wajah perempuan itu, tetapi ditahan oleh Larry yang membuat Randy semakin kesal dan memalingkan wajahnya dari Larry. "huh... dasar jalang. Malu kan lho karena Randy memalingkan wajah darimu. makanya jangan sok deh jadi cewek. Siapa suruh lho sok ngajakin gue bicara, lho itu tidak ada tandingannya dari gue. Sepertinya Randy sangat kesal karena Larry sok ngajakin gue bicara duluan " gumam Tia yang salah mengartikan kekesalan Randy. Ia berpikir Randy kesal kepada Larry.
__ADS_1
" Bolehkah saya duduk disini? " ucap Tia lembut memandang ke arah Randy. Randy tidak menjawab pertanyaan Tia dan akhirnya Larry mengiyakan. Tia semakin kesal karena Larry semakin menjadi-jadi. Ketiga orang itu menatap jijik kepada Tia. " Kamu sudah makan Randy? " tanya Tia membuat Randy sangat marah karena Tia menyebut namanya dan tidak memakai pak. Kalau bukan karena Larry yang sedari tadi memegang tangan Randy dibawah meja, Randy benar-benar akan lepas kendali dan tidak akan menahan amarahnya seperti itu. Gibor dan Lidya sangat terkejut melihat keberanian perempuan yang bahkan namanya saja mereka tidak tahu. Gibor dan Lidya saling menatap dan tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya diam melihat pemandangan buruk didepannya dan sesekali saling menatap bingung. Tia yang tidak mengetahui kalau Randy marah semakin menjadi dan memegang tangan Randy. Semua membelalakkan mata terkejut melihat keberanian perempuan itu. Randy yang merasa jijik menarik tangan dan tanpa belas kasihan menampar wajah Tia dengan sangat keras. Larry dan Lidya yang belum pernah melihat kemarahan Randy sangat terkejut dan menelan ludah dengan mata yang tidak berkedip. Tia sangat kaget karena Randy menampar wajahnya dengan sangat keras. Ia tidak menyangka kalau yang dikatakan banyak orang itu benar adanya. Ia memegang wajahnya dengan air mata di pipinya karena sakit yang ia rasakan. " Lancang sekali anda memegang tangan bos mu dan mengatakan namanya tanpa menyebut pak. Kamu pikir kamu siapa melakukan hal itu? Bahkan mengabaikan istri dari atasanmu? kamu pikir kamu masih bisa bekerja disini dengan sikap yang tidak ada sopan santun seperti ini? " Randy berteriak dengan sangat keras kepada Tia. Tia tercengang mendengar pernyataan Randy bahwa Larry adalah istrinya. Ia merasa bodoh karena mendekati bos yang mengerikan dan mengabaikan istri dari bosnya itu. Gibor mulai bicara untuk menghentikan keributan didepannya. " Pak Randy sabar dulu. Dan kamu, apa kamu tidak tahu peraturan disini? kamu begitu lancang datang kesini tanpa izin dan bahkan lancang memegang tangan atasanmu?
kamu kembali ke tempat kerjamu sekarang juga. " ucapan Gibor membuat Randy kesal.
__ADS_1
kamu sekarang pergi dari perusahaan ini dan tanda tangan surat pecat sekarang juga. " bentak Gibor dengan suara yang sangat menggelegar. Tia berlari dengan tangis dalam dirinya. Semua terkejut melihat kemarahan Gibor. Beberapa detik kemudian, Lidya dan Randy mulai menertawakan Gibor yang sudah tidak bisa mereka tahan lagi. Kemarahan Randy benar-benar hilang karena melihat Gibor yang memakan karma sendiri. Larry tersenyum melihat kedua orang yang sedang tertawa terbahak-bahak itu. Gibor melihat Randy dan Lidya dengan kesal karena menertawakan dirinya. "hahaha pak... pak. bukannya kamu yah yang bilang kalau dia harus dikasih kesempatan. Kok malah bapak yang pecat sih hahaha " ejek Lidya memegang perutnya yang sakit karena tertawa. " Makanya bro jangan sok jadi orang. Awalnya mau buat gue panas eh malah sendirinya yang panas hahaha "
" Diam loh berdua. Gue juga gak tahu kalau perempuan itu benar-benar tidak tahu diri. Gua hanya mau melihat wajah kesal Randy. Siapa sangka dia akan memegang gue seperti itu. Kamu beli saya pakaian baru, saya akan mandi dikamar mandi kantor " ucap Gibor menyuruh Lidya. Lidya yang tadinya tertawa dengan seketika menjadi kesal. Randy masih menertawakan Gibor karena dia memang tahu kalau sahabatnya itu sama seperti dirinya sangat anti terhadap perempuan. Hanya istrinya tercinta yang tidak membuat dia jijik dari pertama kali mereka bertemu dihari pernikahan mereka.
__ADS_1