
"Maaf karena sudah mengingatkan rasa sakit yang dulu. Maaf karena gue gak ada saat kamu merasa terpuruk. Maaf karena..."
"Maaf..." ucapan Gibor terhenti saat Lidya mengatakan satu kata itu.
"Maaf sudah membuatmu kecewa dan maaf sudah membuatmu merasa khawatir" sambung Lidya dengan suara serak dan segukan karena menahan tangis untuk mengucapkan kata itu.
"Tidak. Gue tidak mau maaf akan hal itu! Gue mau ucapan maaf karena sudah menempatkan aku bersama orang brengsek yang lho temui dulu!"
"Maaf. Gue hanya takut dan..."
"Oke cukup. Gue hanya butuh maaf akan hal itu, sekarang lho harus tidur dan mendapatkan istirahat yang cukup!" Gibor membaringkan Lidya dan memeluknya. Ia mengusap kepala Lidya untuk memberikan tidur yang nyenyak.
"Gue gak bisa tidur lagi. Gue kan udah terlalu lama tidur saat perjalanan. Lagian nanti malam gue jadi begadang lagi"
"Betul juga. Kalau begitu, gue hanya akan memeluk lho dengan erat seperti ini sebagai hukum karena sudah menyakiti diri sendiri!"
"Hahaha... ini namanya membunuh karena sesak bukan menghukum!" ucap Lidya dengan dengan suara yang terbenam karena dihimpit oleh badan Gibor.
"Jangan lakukan itu lagi oke?" ucap Gibor yang masih khawatir.
"Mmm.. gue janji tidak akan melakukannya lagi" ucap Lidya dengan lembut menyakinkan Gibor.
"Kalau sampai lho lakuin itu lagi, lihat aja hukum apa yang akan lho terima"
"Gue tidak akan pernah menerima hukum itu".
.
.
.
.
" Gimana yah keadaan adikku sekarang? Apa Gibor bisa menjaganya dengan baik?" tanya Larry yang duduk di meja kerjanya.
"Berhenti memikirkan orang yang tidak di sini" ucap Randy kesal.
"Tentu saja aku harus memikirkan orang yang tidak di sini. Kalau dia di sini, untuk apa aku memikirkannya?"
"Dia sudah punya suami sekarang jadi berhenti khawatir"
"Ya udah aku mau beli eskrim dulu"
"Tidak usah. Aku akan menyuruh salah satu karyawan"
__ADS_1
"Tapi aku ingin memilih sendiri" ucap Larry memohon dengan mata yang bersinar dan mengepulkan pipi.
"Tidak boleh. Kamu bisa pilih yang mana yang kamu suka"
"Ran...." Larry mencolek dan menarik jas Randy dengan dengan lembut.
"Oke aku kalah. Tapi ingat harus hati-hati"
"Siap bos. Lagian tempatnya juga dekat" Larry berlari dan dengan cepat memasuki tokonya.
Saat Larry berjalan pulang, ia dengan tidak sengaja menabrak seorang lelaki tampan dan mengotori jas pria tersebut.
Dengan rasa khawatir Larry segera meminta maaf. Lelaki itu tersenyum sinis dan mengatakan tidak apa kepada Larry. Karena Larry masih berasa bersalah, akhirnya lelaki itu meminta Larry untuk membelikannya satu eskrim. Dengan cepat Larry membeli eskrim dan meminta maaf lagi.
Setelah ia memberikan eskrim kepada lelaki tampan itu, ia segera memasuki kantor dan melihat Randy yang mulai gelisah.
"Kenapa lama?" tanya Randy dingin.
"Tadi aku nabrak orang jadi agak lama. Maaf"
"Lain kali aku tidak akan memberikan kamu keluar" Randy melanjutkan pekerjaannya.
Larry tahu bahwa suaminya itu sedang marah karena khawatir. Ia melingkarkan tangannya dari belakang Randy dan mengatakan maaf dengan dengan lembut tepat di telinga Randy.
"Tunggu. Kamu masih harus bekerja"
"Itu bisa nanti"
"Tapi..." ucapan Larry terhenti karena bibir Randy yang menancap di bibirnya.
Perlahan Larry menolak karena ia tahu masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh suaminya. tetapi karena tekanan bibir Randy akhirnya Larry terbawa arus cinta Randy dan tenggelam di dalamnya.
Saat tubuh Larry melemah dan terbaring di kasur kantor, semangat kerja Randy semakin besar. Randy terlihat sangat bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda tadi.
Jam pulang kerja akhirnya tiba. Randy belum menyelesaikan pekerjaannya dan meminta Larry untuk pulang karena ia akan sedikit lebih lama. Larry hanya mengangguk karena badannya masih merasa lemas. Randy meminta seorang supir untuk mengantar istrinya.
Larry membuka kaca mobil dan menikmati angin yang menerpa wajah dan rambutnya.
Saat Larry ingin memejamkan matanya, mobil tiba-tiba berhenti dan membuat Larry terkejut.
"Maaf non tapi ada banyak mobil di depan" ucap sang supir merasa bersalah karena mengejutkan atasannya.
"Huh? Bagaimana bisa?"
Seorang lelaki tampan menghampiri mobil Larry "Bertemu lagi" ucap lelaki itu menyapa Larry.
__ADS_1
"Kamu? Kenapa kamu di sini?" tanya Larry bingung.
Salah satu bawahan lelaki itu menghajar supir pribadi Randy sampai tidak sadarkan diri. Larry sangat kaget dengan apa yang dilihat oleh matanya. Saat ia ingin berteriak, lelaki itu menutup mulut Larry dan menggendong Larry ke dalam mobilnya.
"Apa yang kamu lakukan? Lepasin!" Larry tiada henti memberontak dari lelaki itu. Tetapi kekuatan Larry tidak ada bandingannya dengan lelaki tampan itu.
Mobil akhirnya berhenti dan lelaki itu menggendong Larry dan menghempaskan nya di tempat tidur miliknya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tubuh Larry menggigil bukan karena kedinginan tetapi karena rasa takut.
"Larry Silu suami dari Randy Luga dan namanya berubah menjadi Larry Luga. Wanita yang benar-benar cantik. Sayang sekali, kenapa kamu harus menjadi suami dari orang yang paling ku benci? Aku mau tau gimana reaksi kakak tiri ku saat mengetahui bahwa istrinya berhubungan badan dengan adik lelakinya, orang yang paling ia benci." ucap lelaki itu tersenyum sinis.
"Tidak... a..aku mohon jangan lakukan itu. To... tolong jangan lakukan itu. aku mohon jangan..." tangis Larry memenuhi ruangan itu.
"Aku merasa kasihan tetapi salahkan nasib buruk mu karena sudah menikah dengan Randy."
Lelaki itu mengambil obat yang di simpannya dan memaksa Larry untuk meminum obat tersebut. Setelah bersusah payah, Larry meminum obat tersebut dan tertidur.
.
.
.
.
Saat Randy mengemudi untuk pulang, ia melihat mobil yang mengantar Larry berhenti di tengah jalan. Dengan buru-buru ia menghampiri mobil itu dan melihat supir yang tidak sadarkan diri dan dipenuhi dengan darah. Ia mencoba memanggil nomor Larry tetapi tidak diangkat. Randy memanggil dokter untuk menangani supir tersebut.
Dengan rasa cemas, ia mengemudi mobilnya dan terus mencoba memanggil nomor Larry.
Untuk yang kesekian kalinya, akhirnya telponnya diangkat.
"Halo sayang. Larry kamu dimana? Kamu udah sampai yah? Aku khawatir karena melihat supir yang terluka. Kamu tidak apa kan?"
"Halo kakak ku tersayang" mendengar suara itu, sontak ia menggenggam handphone yang ada ditangannya dengan keras.
"Andi... Apa yang lho lakukan dengan istriku? Jangan macam-macam yah awas saja terjadi apa-apa dengan istriku aku tidak akan pernah memaafkan mu" ucap Randy dengan suara yang menggelegar.
"Jangan marah dong kak. Lagian kita sudah berbagi ibu dan ayah apa salahnya kita berbagi istri juga"
"Sialan lho. Lho jangan macam-macam yah"
"Kakak benar-benar pemarah. Oh iya ternyata suara tangisan kakak ipar saat di ranjang sangat seksi yah!"
"Kurang ajar lho. Brengsek. Andi halo... halo... ahk sialan... brengsek. Tidak... tidak boleh terjadi apapun denganmu Larry" Randy menghapus air matanya dan segera melajukan mobilnya ke rumah Andi dan memanggil bawahannya untuk datang bersamanya.
__ADS_1