Dijodohkan

Dijodohkan
Bonchap season 2


__ADS_3

Kebahagiaan sebuah keluarga pada dasarnya adalah sebuah kebahagiaan yang hakiki. Tidak ada yang berharga dari pada apa pun selain kebersamaan sebuah keluarga yang bahagia.


Hari ini tepat delapan bulan Zia mengandung. Perutnya semakin membesar sehingga berjalan saja, terasa kesulitan. Oleh sebab itu Raka tidak pernah membiarkan istrinya itu sendirian saat ia pergi ke kantor. Ia memerintahkan Vita atau Mama Claris untuk selalu menemani Zia dan calon buah hatinya.


“Sayang, Ayah pergi dulu, ya. Jangan nakal, jangan buat Bunda kesulitan,” ujar Raka mengusap-mengusap lembut perut Zia penuh kasih sayang.


“Jangan lupa, hari ini kita ada jadwal ke dokter ya sayang,” ucap Zia memegang pundak Raka yang berlutut di bawahnya itu.


“Tentu saja aku tidak lupa, sayang. Bahkan aku sudah menyuruh sekretaris memasukkan ke dalam agenda mingguanku.”


Zia tersenyum. “Dasar!” ia memukul lengan Raka pelan setelah suaminya itu bangkit dan berdiri di hadapannya.


“Ayo kita ke meja makan, Mama dan Vita sepertinya sudah di sana,” ajak Zia menyelinapkan tangannya ke bahu Raka, lalu menggandengnya untuk keluar kamar.


“Selamat pagi, Ma. Selamat pagi, Vita,” sapa Zia kepada Claris dan Vita yang sedang mengolesi selai di atas roti tawar.


“Pagi ....” balas mereka berdua serentak.


“Zia, ini susu dan sarapan untuk kamu.” Mama Claris meletakkan segelas susu dan roti di hadapan Zia.


“Terima kasih, Ma ....”


“Vita, apa keperluan pernikahanmu semua sudah selesai?” tanya Raka memotong di sela-sela saat Vita hendak menggigit roti.


Vita meletakkan roti itu dan berkata, “Semua sudah beres. Hanya tinggal menyebarkan undangan saja, Kak.”


“Baguslah, kalau begitu. Apa mantan suami sudah tau, Vita? Aku rasa dia harus tahu, supaya dia tidak mengganggu kamu lagi, karena sudah mempunyai suami.”


“Aku belum memberitahukannya, Kak. Mungkin aku akan memberikan undangan lewat pos saja.”


“Apa kau berniat untuk mengundangnya, Vita?” sergah Zia, meminum susu lalu kembali melanjutkan kalimatnya lagi.


Sedangkan Vita menunggu kalimat itu.

__ADS_1


“Memberi tahu, bukan berarti mengundang, Vita. Kau tau sendiri bukan, bagaimana sifat mantan suamimu itu? Aku hanya tidak ingin dia membuat kerusuhan saat hari pernikahan nanti.”


“Kakak iparmu benar, Vita. Alangkah baiknya jika kita tidak mengundang dia. Karena sifatnya yang urakan bisa membuat kacau pernikahan kalian,” sahut Mama Claris.


“Baiklah, semua ... aku tidak akan mengundang dia,” balas Vita lalu melanjutkan menggigit roti di tangannya.


Pagi ini mereka sarapan pagi bersama seperti biasanya. Meja makanlah tempat biasa yang mereka gunakan untuk memecahkan masalah atau mencari solusi.


“Zia, hari ini adalah jadwal ke dokter bukan?” tanya Claris.


“Iya Mah,” jawab Zia sedikit menunduk entah kenapa selera makanya tiba-tiba menghilang.


“Jangan sedih sayang, semua pasti akan baik-baik saja. Kamu sudah menentukan untuk mempertahankan bayimu. Mama yakin semua pasti baik-baik saja.” Claris beranjak dari kursi memeluk Zia dari samping.


Sedangkan Raka juga tak kalah sedihnya dari Zia. Ia segera meletakkan roti di tangannya saat mengingat penyakit Zia yang mengancam nyawa istrinya itu dan juga bayinya.


“Aku akan pastikan semua pasti baik-baik saja. Dokter terbaik akan menangani dengan profesional.” Raka mencoba membuat Zia tenang, pada nyatanya ia tak kalah khawatir dengan Zia.


“Kakak, tetap tenang ya. Ada kami yang akan selalu menemani dan memberi suport,” sahut Vita.


Zia sudah mengambil keputusan untuk dia dan bayi yang ia kandung. Saat dokter memvonis ada kista ovarium besar dalam perutnya, dan dokter itu menyarankan saat usia kehamilan Zia delapan belas Minggu agar melakukan operasi. Tetapi berisiko menyebabkan keguguran pada kandungan.


Namun Zia bersikukuh tidak mau menjalankan operasi. Karena ia takut dengan risiko kehilangan bayi yang baru saja ia kandung. Hingga saat ini perempuan yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu, Zia bertekat akan melahirkan anak untuk suaminya walau nyawa taruhannya.


Pun Raka, lelaki itu selalu di hantui rasa khawatirnya. Bahkan, saat bekerja pun ia tidak tenang, memikirkan istrinya yang sedang di rumah. Oleh sebab itu, ia tidak pernah membiarkan Zia sendirian di rumah saat ia tidak ada.


“Sayang, aku pergi dulu ya.” Raka beranjak dari kursi mengecup kening Zia.


“Mah, aku titip Zia. Kalau ada sesuatu langsung hubungi aku.”


“Kau tidak usah khawatir, Raka. Mama akan selalu menjaga cucuku dengan baik,” balas Claris.


“Kalian ini kenapa? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan,” sahut Zia tersenyum menandakan kalau dia baik-baik saja.

__ADS_1


“Kau memang baik-baik saja. Tapi apa salahnya kalau selalu siaga kalau, tiba-tiba mengeluh sesuatu. Ya sudah, aku berangkat dulu ya.” Raka mencium kening lalu berangsur ke pipi.


“Aku merindukanmu, sayang ....” lirihnya di dekat telinga Zia.


Demi apa pun Raka sudah menahan hasratnya selama beberapa bulan ini. Demi kondisi jabang bayi dan Zia ia rela, walau itu sangat menyiksa. Hanya satu keringanannya yaitu melihat istri yang sangat ia cintai itu, melahirkan dalam keadaan selamat.


“Yang sabar ya, Kak ....” sergah Vita dari belakang mendengar ucapan Raka. “Hahaha kau kira aku tidak mendengar ya?” candanya membuat pipi Zia malu.


“Lagian, kamu sih, dengarkan jadinya Vita.”


Di sore hari Raka dan Zia berjalan menuju ruangan dokter Aine. Dokter yang sangat ahli dalam menangani masalah kandungan. Raka dan Zia berjalan menuju ruangan bergandengan tangan mesra.


“Silakan masuk, Tuan, Nyonya. Dokter Aine sudah menunggu Anda,” sambut perawat yang berjaga di depan ruangan dokter itu.


“Terima kasih ... suster.” Zia dan Raka berjalan memasuki ruangan yang telah dibukakan sebelumnya.


“Selamat sore, dok ....”


“Sore, Zia. Sore Raka.” Dokter itu mempersilakan mereka untuk duduk. “Ayo silakan duduk.”


Zia dan Raka duduk bersebelahan. Menghadap ke arah dokter Aine. Zia tampak cemas saat dokter belum mengatakan apa pun.


Raka menautkan tangan hingga saling menggenggam. Mereka saling bertatapan untuk menguatkan. Mereka pasti bisa melewati semua ini, Zia dan anak di kandungannya pasti akan baik-baik saja, nanti saat lahir.


“Silakan berbaring, Zia.” Dokter Aine beranjak dari kursi lalu mendekat ke arah Zia untuk membantunya berbaring di ranjang periksa.


Raka setia mendampingi, berdiri di samping istrinya itu tampak sudah tidak sabar ingin mengunjungi sang buah hati dalam.


Dokter mulai mengoleskan gel ke perut Zia. Lalu memutar alat ultra senografi di perut buncit itu. Tak selang berapa lama layar berbentuk persegi itu berbunyi menampilkan seorang bayi meringkuk sedang menghisap jari.


Wajah Raka dan Zia seketika tersenyum merekah. Raka menggenggam tangan Zia kuat dan mencium keningnya.


*Seseon dua dimulai, yang lupa alur cerita bisa di baca ulang ya kak....

__ADS_1


Terima kasih pada kalian yang tetap setia memasukkan novel Dijodohkan dalam rak favorit kalian*.


__ADS_2