Dijodohkan

Dijodohkan
Tahu Namanya


__ADS_3

“Baiklah, aku akan menemuinya.” Ziara meletakan buku catatan di atas meja lalu berjalan menemui Erick yang sedang mencarinya.


Berbeda dari sebelumnya menggebu-gebu ingin tahu dan berkenalan dengan Ziara. Tetapi Erick terlihat kaku saat melihat wanita yang dikagumi itu berjalan semakin mendekat ke arahnya. Semakin dekat langkah Ziara semakin juga jantungnya berdebar kencang. Ya ampun perasaan apa ini Erick?


Apa pun, yang terjadi dia harus bisa mendapatkan kesempatan berkenalan lebih dekat dengan wanita itu. Apa pun, caranya hari ini pergi harus membawa kemengan. Tapi bagai mana dengan indra yang seperti tidak berkerja saat Zia tiba di hadapannya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” ucap Ziara saat tiba di hadapan Erick.


“Hem ....” Dan benar saja bibir Erick seperti terkunci saat ingin bicara, saat mendengar suara yang menyapanya seperti embun menyejukkan.


Sedangkan wanita di hadapannya menunggu kalimat itu keluar. “Iya?” ucap Zia setia menunggu kalimat dari cowok kaku itu.


Erick berpikir keras sekirannya apa yang bisa di jadikan alasan kuat untuk membuat lebih dekat dengan wanita itu. Kenapa rencana yang sudah disusun dari semalam hilang begitu saja. Haruskah ia meminta bantuan kepada seseorang? Raka contonya.


Erick menarik napas dalam-dalam lalu akhirnya menemukan sebuah ide. Ia memastikan rencana yang di temukan sudah pas dan tidak mengecewakan.


“M-maaf, apa boleh saya ... hem ....”


"Iya?" Zia masih setia menunggu jawaban keluar meskipun menyita waktu. Tapi cukup lama ia menanti kata-kata itu tidak kunjung terucap. "Maaf, apa anda bisa percepat apa yang anda ingin kan, Tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku bisa memanggil salah satu pegawaiku jika anda mau," ucap Zia dengan nada sedikit ketus.


"Tidak, tidak, aku minta maaf. Jadi begini, aku ingin membeli kue untuk setiap hari aku akan membeli kuemu, bagai mana?".


Erick kata-katamu terlalu berbelit. Ayolah susun kata-kata yang tepat.


"Jadi ... begini Nona. Aku menawarkan kerja sama dengan tokomu ini dengan perusahanku, untuk lebih jelasnya apa kita bisa bicarakan sambil duduk, Nona? Makan siang di luar munkin." Erick menatap penuh harap. Semoga dia tidak mendapat penolakan.


Mendapat tawaran dari Erick Zia terlihat memikirkan sesuatu. Tawaran itu sepertinya menggiurkan, disaat ia baru mulai merintis ada perusahaan menawari kerja sama itu menarik bukan. Tapi, ia tidak boleh menerima begitu saja terlebih lagi belum mengenal siapa lelaki di hadapannya saat itu.

__ADS_1


"Maaf, aku belum mengenal anda siapa. Jadi aku tidak bisa memutuskan begitu saja untuk pergi bersama anda." Zia memandang malas berbalik melangkah pergi membuat Erick melangkah maju menghadang langkahnya.


"Tunggu, Nona."


Ziara menghentikan langkah ia tidak suka dengan orang bertele-tele sehingga membuang waktunya saja.


"Nona, kenalkan aku Erick." Erik mengulurkan tangan, dan Zia hanya melihat tanpa membalas uluran tangan itu. Bahkan wanita itu memandang malas. "Begini saja untuk membuatmu percaya, aku akan memberimu kartu nama." Merogoh kantong untuk mengambil kartu nama lalu menyerahkan kepada Zia.


Ziara membaca kartu itu, memang benar tertera nama Erick di sana. Cowok itu pemilik perusahaan yang tak kalah besarnya dengan Sanjaya grup milik Raka. Erick adalah pemilik utama perusahaan Anggana Grup. Setelah membaca itu, wanita itu sedikit menarik napas.


"Baiklah, tawaran anda akanku pikirkan, Tuan. Tapi kalau untuk membicarakan itu sekarang maaf, aku tidak bisa, akan kupikirkan setelah ini. Mohon maaf, saya permisi dulu. Kalau ada yang sekira ada yang ditanyakan panggil saja salah satu karyawanku, ada banyak karyawan di sini mereka akan senang melayani." Lalu Zia pergi meninggalkan Erick.


Sedangkan Erick menyalahkan dirinya sendiri kenapa sebodoh itu saat berhadapan denga wanita itu. Jika biasanya ia di rayu cewek-cewek di luaran sana, apa lagi saat mereka tahu kalau Erick adalah pengusaha sukses dan segudang penghargaan yang ia dapat. Mereka selalu merayu untuk bisa memiliki hubungan dengan cowok itu. Tapi pengalaman berbeda yang ia temui baru saja.


Gadis yang baru ia temui bahkan terlihat tidak tertarik sama sekali dengan nama besarnya. Erick memijit pangkal hidung, sepertinya ia melupakan sesuatu, tapi apa?


Ya ampun, ternyata ia lupa tujuan awal sebenarnya untuk mencari tahu siapa nama dari gadis itu. Sudahlah, mungkin lain kali ia akan menanyakan lagi.


"Sita, sedang apa kau di sini?"


"Seharusnya aku yang tanya, tuan ... sedang apa kau di sini, tuan?" tanya Sita balik.


"Aku sedang membeli kue, Sita," ucap Erick seraya menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal. Tidak mungkin dia mengakui kalau sedang mendekati sang pemilik toko. Tentu itu hal memalukan kalau Sita mengetahui bisa buruk citranya sebagai cowok ganteng jika ketahuan mengejar-ngeajar seorang wanita. "Kau sendiri, juga mau membeli kue, Sita?"


"Tidak, aku ingin menemui sahabatku, Tuan," jawab Sita.


"Siapa sahabat mu, Sita?" tanya Erick menaikan sebelah alisya penasaran.

__ADS_1


Sita menelan senyum ternyata Erick tidak mengetahui kalau Zia bukan hanya sahabat Sita tetapi juga istri dari sahabatnya sendiri. "Zia itu sahabatku, tuan."


"Zia? Siapaa dia, Sita?" tanya Erick penasaran memang sebelumnya ia tidak pernah mendengar nama itu.


"Kamu tidak tahu, tuan? Zia itu adalah pemilik toko dan juga—"


Saat mendengar kalimat Sita memberi tahu nama pemilik toko dan juga itu adalah teman baik Sita, mata Erick tiba-biba menyala memancarkan rona bahagia. "Jadi! Nama pemilik toko ini adalah Zia? Dan kamu adalah temannya? Terima kasih Sita, ternyata Tuhan sangat baik padaku ...." Memeluk Sita dengan cepat dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Sita manautkan alis bingung, apa yang Erick barusan katakan tadi? Kenapa dia terlihat bahagia sekali, dan kenapa dia memeluk Sita se enaknya tanpa meminta izin. Semua itu membuat bingung.


Sita hari ini datang menemui Zia adalah perintah dari Raka. Bosnya itu ingin supaya Sita menemani untuk menemui seseorang di kantor properti mencari rumah untuk Claris. Cewek itu masuk dan ia sudah tahu tempat yang harus ia tuju.


"Kau sedang apa, Zia?" tanya Sita saat melihat temanya itu sedang mencoret-coret beberapa nota, sepertinya itu daftar-daftar pengeluaran. Temannya itu memang pintar dalam hal itu dari semenjak kuliah.


"Ternyata itu kau, Sita. Tujuanmu ke sini pasti atas perintah Raka. Padahal tidak perlu merepotkanmu aku bisa sendiri." Zia membereskan nota-nota yang berserakan di depannya.


Sedangkan Sita menggeleng tidak habis pikir, sudah begitu banyak harta yang suaminya berikan, tetapi Zia masih saja menghitung uang recehan yang tertulis di nota itu.


Setelah Zia selesai dengan pekerjaannya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, seperti biasa Sita mengemudi dan Zia duduk di sampingnya. Sepanjang jalan Zia menceritakan kalau dia kasihan jika melihat Mama Claris harus sendiri. Gadis itu mempunyai rencana akan menemui mertuanya itu tanpa sepengetahuan dari Raka, dan tentu saja ia akan mencarikan rumah yang dekat tidak seperti keinginan suaminya.



Jawban Athor.


Kok ceritanya gantung sih, mana lanjutanya gak enak banget bacanya? lni memang cerita belum tamat kalau sampai selesai itu namanya tamat berarti END sedangkan saya belum menulis end😐


Udah segitu saja kakak terima kasih🙏

__ADS_1


Selamat melanjutkan puasa yang tinggal selangkah lagi menuju lebaran.


Cerita berlanjut ya.... enggak END ingat enggak END. Jadi mohon untuk terus mendukung saya untuk memberi Vote. Terima kasih semua...


__ADS_2