Dijodohkan

Dijodohkan
Salah Paham


__ADS_3

Siang ini Raka di temani Rio pergi menuju ke restoran yang sudah disepakati untuk melakukan pertemuan dengan pemimpin perusahaan Prawira Grup. Mereka akan melakukan makan siang sekaligus membicarakan perihal kerja sama yang akan mereka sepakati. Mereka berdua terlihat gelisah menanti kedatangan seorang tersebut.


Tidak biasanya Raka di posisi ini, menanti seseorang untuk kerja sama dengan perusahaannya. Memang di dunia ini tidak ada yang kekal kadang di atas kadang juga bisa di bawah. Jika kemarin Raka diposisi tinggi tapi saat ini dia sedang di bawah. Ia sedang berusaha keras untuk memulihkan perusahaannya. Ada banyak keluarga dari karyawan-karyawan yang membutuhkan uang dari perusahaannya.


Cukup lama Raka dan Rio menunggu. Akhirnya seseorang yang mereka nanti datang juga. Seorang wanita berpenampilan formal memakai rok pendek bagian atas mengenakan blazer sepatu hak tinggi menambah kecantikan yang sempurna. Wanita itu berjalan menuju ke arah mereka dengan elegan. Mata Rio seketika tidak berkedip seperti melihat pemandangan keajaiban dunia.


“Selamat siang, Tuan. Maaf saya tadi mengalami masalah di jalan jadi terlambat dan Anda harus menunggu,” ucap wanita itu tersenyum ramah. “Apa aku boleh duduk?”


Belum juga Raka menjawab Rio segera berdiri menarik kursi mempersilahkan. “Silah kan, Nona ....” ucapnya. Dasar Rio tidak bisa lihat wanita cantik langsung gercep.


“Terima kasih ....” Wanita itu duduk di kursi yang di tarik Rio untuknya. Setelah menarik kursi Rio segera duduk di tempat semula. “Perkenalkan, namaku Pravita, aku biasa di panggil Vita,” ucapnya mengulurkan tangan kepada Raka.


Dengan berat Raka mengangkat tangan, kalau saja bukan karna kerja sama lelaki itu tidak akan mungkin mau menyentuh tangan wanita itu. “Raka,” ucapnya. Dengan cepat ia menarik tangannya lagi.


Dan wanita itu membalas dengan senyuman ramah. “hemm... apa kalian sudah memesan makanan, Tuan?”


“Ti—“ Belum juga Raka berucap Rio menyambung lebih dulu.


“Belum, kami sengaja menunggumu untuk memesan bersama-sama.”


Mendengar itu Raka melirik ke arah Rio berharap Rio tidak melakukan hal yang membuatnya malu. Rio yang menyadari seketika menggaruk tengkuk leher sambil meringis.


“Baiklah kalau begitu, aku yang akan memesan makanan.” Vita pun langsung berdiri memanggil pelayan dengan melambaikan tangan.

__ADS_1


Pelayan itu pun mendekat. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” ucapnya menundukkan kepala.


“Aku ingin memesan makanan.” Vita membuka buku menu di tangannya. Ia memilih-milih makanan yang di inginkan. “Aku salad aja. Kalau kau mau memesan apa Tuan Raka?” tanyanya kepada Raka yang terlihat tidak nyaman.


“Maaf, aku masih kenyang. Biar Rio yang mewakilkan untuk makan. Rio pesanlah makanan.”


Rio pun memesan makanan. Ia mengobrol panjang lebar seperti sudah lama berteman. Vita adalah perempuan baik hati tidak pernah sombong dengan kekuasaan yang ia miliki. Ia gampang bergaul kepada siapa saja tanpa membedakan seseorang. Hingga Raka yang terkesan dingin kepada wanita pun ikut serta mengobrol dengan akrab.


“Sepakat!”


Akhirnya kerja sama mereka di sepakati atas persetujuan masing-masing pihak. Raka menjabat tangan Vita dan begitu juga Rio.


“Jadi setelah ini kalian mau langsung pergi, Tuan-tuan?” ucap Vita menatap Rio setelah itu Raka.


“Baiklah ... tidak masalah, Tuan. Aku juga ingin pergi, ada klien dari luar negeri yang harus aku temui. Baiklah sampai jumpa Tuan Raka, Tuan Rio. Semoga kerja sama kita bisa berjalan mulus,” Vita berpamitan pergi lebih dulu dari mereka berdua.


Tidak berselang lama Raka juga pergi akan segera pulang karena tidak terasa waktu sudah hampir malam. Ia akan menjemput istri tercintanya ke toko. Ia berencana akan menghabiskan waktu malam ini dengan Zia tanpa siapa pun mengganggu.


Setibanya di toko kue milik Zia. Ia masuk dan mencari keberadaan istrinya, tetapi tidak terlihat batang hidungnya. “Di mana Zia?” tanyanya kepada salah satu karyawan yang bertugas.


“Nyonya Zia, belum kembali ke sini setelah makan siang tadi, Tuan. Mungkin Nyonya langsung pulang karena dia tadi terlihat sedikit kurang sehat,” ucap karyawan tersebut.


Kekhawatiran tergurat di wajahnya, ketika mendengar istrinya itu kurang sehat. Ia pun segera keluar dari toko dan ingin segera pulang. Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobilnya. Ia ingin supaya cepat sampai ke rumah melihat keadaan Zia.

__ADS_1



Di rumah Zia sedang terlihat menggigit bibir bawahnya. Ia nampak gelisah di dalam kamar berjalan mondar-mandir memikirkan kegusaran hatinya. Tadi siang ia bosan makanan yang biasa dia makan di restoran dekat tokonya. Ia ingin makan di restoran Kemuning yang biasa ia datangi dengan teman-temannya. Walau sedikit jauh ia rela menempuh, hanya demi memakan kesukaannya.


Tetapi saat memasuki restoran ia harus melihat pemandangan yang membuat hatinya cemburu yaitu Raka sedang asik mengobrol dengan seorang wanita cantik seusia suaminya. Mereka begitu akrab dalam berbincang sehingga Raka tidak menyadari kalau Zia berdiri di sana.


Zia yang sedang dibakar api cemburu itu pun langsung pergi meninggalkan restoran tanpa menghampiri suaminya itu ia langsung pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah ia masih seperti sekarang modar-mandir di kamar memikirkan Raka. Banyak pertanyaan di hatinya, ia ingin semua hal tentang suaminya kenapa berubah. Dan wanita itu kenapa seakrab itu. Entahlah, dia akan menanti suaminya pulang lalu setelah itu akan bertanya.


Zia mendengar suara langkah sepatu menuju kamar, mungkin itu Raka batinya dan saat hendel pintu mulai memutar ke bawah pertanda ada seseorang yang akan masuk. Ia segera pergi ke ranjang pura-pura tidur menutup semua anggota tubuhnya dengan selimut dan memunggungi arah pintu.


Dugaan Zia benar suara langkah kaki tidaklah lain yaitu Raka. Pelan-pelan pintu kamar terbuka. Raka memasuki kamar sudah gelap hanya satu menyala di dekat Zia sinarnya tertuju ke tubuh yang meringsut di atas kasur.


Zia mendengar langkah kaki itu semakin mendekat. Lalu ia merasakan sisi kasur beringsut pertanda suaminya itu duduk di samping. Tiba-tiba ia merasakan pipinya hangat karena di kecup Raka.


“Kamu sudah tidur rupanya ....” lirih Raka di dekat telinga istrinya itu. Embusan napasnya membuat Zia merasakan merinding geli. Raka melanjutkan aksinya, ia menurunkan wajahnya berangsur ke leher Zia membuat wanitanya itu merasakan sensasi geli menegangkan. Raka menyesap leher jenjang itu hingga meninggalkan stempel kepemilikan. Ia tahu kalau istrinya itu belum tidur.


“Berhenti,” pekik Zia saat tangan Raka menyentuh area favoritnya. Ia tidak mau melupakan pertanyaan yang sudah terkumpul dalam otaknya.


Raka menaikkan sebelah alisnya dengan posisi mendekap istrinya. “Bukanya kamu sedang tidur, sayang? Tapi kenapa tiba-tiba kau bangun?” ucapnya menggoda Zia.


“Aku normal, siapa saja jika diperlakukan seperti itu akan bangun.” Zia mencebik. Kali ini wanita itu akan bertanya semua yang ada di dalam benaknya kepada Raka. Ia sudah siap bertanya mendengar apa pun jawaban dari Raka.

__ADS_1


Terserahlah kalian mau komeng apa, suka-suka kalian😆


__ADS_2