
Randy menghentikan mobilnya dan berlari memasuki rumah Andi. Ia membuka pintu kamar Andi dan melihat Larry yang tertidur tanpa sehelai benangpun hanya selimut yang menutupi tubuh mungilnya.
"Selamat datang kakakku tersayang" terdengar suara dari sudut ruangan. Randy melihat Andi yang duduk di sofa dengan senyuman sinis. Ia menghampiri Randy dan memegang pundaknya.
"Kakak ipar ternyata sangat lezat" bisik Andi.
Randy membelalakkan kedua matanya dan berhasil mendaratkan pukulan keras ke wajah Andi. Andi tersungkur dan kehilangan keseimbangan. Ia menghapus darah yang keluar dari mulutnya dan meringis kesakitan.
Dengan bersusah payah menahan rasa sakit, ia tersenyum dan tertawa kecil. "Gimana? Sakit tidak saat orang yang lho sayangi disakiti? Gue mau lihat lho mencampakkan dia"
Dengan amarah yang memuncak ia bersimpuh dan meraih kerah baju Andi dengan keras "Lho harus ingat ini. Gue tidak akan pernah meninggalkan dia hanya karena orang brengsek dan bajingan seperti lho" pukulan keras melayangkan wajah Andi. Kesadarannya mulai menghilangkan. Randy menghempaskan tubuh Andi di lantai dengan keras.
Ia kembali menatap tubuh Larry yang dipenuhi dengan bekas kecupan. Ia menyeka air matanya dan menggendong Larry dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Urus dia" ucap Randy kepada pengawal yang ia bawa. Pengawal tersebut menunduk dan segera mengangkat tubuh Andi yang terbaring di lantai.
Sesampainya di rumah, Randy membersihkan tubuh Larry dan memakaikan pakaiannya. Ia membakar selimut yang ia bawa.
__ADS_1
Larry menggeliat dan perlahan membuka mata yang berat karena obat tidur. Ia melihat sosok yang ia cintai duduk disampingnya. Larry melingkarkan tangannya di pinggang Randy.
"Oh... Kamu udah bangun? Apa ada yang sakit?" tanya Randy cemas menutupi kekecewaan nya.
Larry menggeleng kepalanya. Ia bangkit dan duduk. Ia melihat tubuhnya yang penuh dengan ******. Kedua matanya membulat tidak percaya. Air yang membendung menetes dengan deras di pipinya. Pikirannya kosong dan mengingat apa yang terjadi padanya. Ia hanya mengingat bahwa lelaki yang ia temui memberikan obat padanya dan setelah itu ia sampai di rumahnya. Mulutnya seperti dikunci. Ia tidak dapat berkata-kata. Rasa kecewanya sekarang terletak dititik tertinggi. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia ingin menangis dengan teriakan tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia ingin berlari dan menenangkan pikirannya tetapi badannya membeku dan tidak bisa bergerak. Hanya air mata yang tidak bisa dibendungnya yang keluar.
Hatinya hancur melihat apa yang terjadi. Ia merasa kotor dan jijik pada dirinya. Ia merasa tidak pantas untuk suaminya. Badannya menggigil dimana pada saat itu terasa panas. Perasaan linglung dan benci kepada dirinya.
Randy dapat melihat betapa hancurnya perasaan istrinya itu. Hal ini yang ia takutkan. Ia mungkin kecewa tentang apa yang terjadi tetapi ia lebih sakit saat melihat istrinya yang kehilangan dirinya sendiri.
Ia dapat menerima apa yang terjadi hari ini, tetapi ia yakin Larry pasti tidak dapat menerimanya. Ia tidak masalah dengan apa yang terjadi karena baginya keselamatan Larry nomor satu. Tetapi karena hal ini, ia lebih sakit melihat Larry yang seperti ini dibandingkan dengan Larry yang terluka jasmaninya. Setidaknya akan lebih mudah untuknya mengobati tubuh yang terluka.
"Tidak... kamu tidak boleh macam-macam. Aku...aku sudah punya suami... tidak... jangan mendekat" Larry membelai keras wajahnya.
Air mata Randy bercucuran dengan deras. Hatinya begitu hancur saat melihat orang yang dia cintai seperti itu. Pikirannya benar-benar terganggu. Hanya satu pertanyaan yang ada di pikirannya, apa yang harus dia lakukan? Ia membenci dirinya yang tidak mengetahui satu pertanyaan itu. Ia dapat menjawab ribuan pertanyaan tetapi kenapa dengan pertanyaan yang benar-benar ingin ia ketahui jawabannya, tidak dapat ia jawab. Ia membenci jalan buntu di pikirannya.
Teriakan Larry masih melengking di telinganya. Ia ingin sekali mendekat dan memeluk Larry untuk menenangkannya dan berkata tidak apa, aku akan selalu ada untukmu tidak perlu takut tidak akan ada yang menyakitimu. Tetapi semakin ia mendekat, semakin ketakutan Larry memuncak.
__ADS_1
"Sayang... ini Randy suamimu" ucapan lembut nan serak terdengar di telinga Larry.
"Suamiku? Kamu Randy suamiku? Kamu tidak berbohong?" Larry mendongakkan kepalanya melihat ke arah Randy yang wajahnya sudah dimandikan oleh air mata.
"Iya... Aku Randy suamimu" perlahan Randy mendekat dan memeluk tubuh Larry dengan erat.
Suara tangisan Larry akhirnya keluar. Suara yang membungkam keluar dengan sangat keras. Ruangan itu dipenuhi oleh tangisan Larry yang memuncak.
"Aku kotor Ran... Apa yang lelaki itu perbuat padaku? Kenapa dia memberikanku obat? Kenapa badanku...kenapa... kenapa badanku...huhuhu...kenapa... huhuhu badanku..." Larry benar-benar tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Air matanya membasahi tubuh Randy yang memeluknya.
Randy tetap memeluk Larry dengan tangis akan rasa sakit yang ia lihat sekarang. Ia mengelus rambut Larry dan terus berkata tidak apa ini bukan kesalahanmu ini kesalahanku yang lalai dalam menjaga mu. Suaranya yang getir dan serak tiada henti menenangkan orang yang ada dalam pelukannya.
"Apa kamu membenciku? Apa kamu akan meninggalkanku? Apa kamu merasa jijik?" pertanyaan itu terus terucap tidak peduli berapa kali Randy menjawab tidak.
"Tidak mungkin kamu pasti berbohong. Aku saja merasa jijik dengan diriku sendiri bagaimana kamu tidak jijik?" Larry mendorong tubuh Randy dengan keras.
"Aku tidak berbohong. Mungkin benar aku kecewa tetapi aku tidak jijik kepada orang yang aku cintai. Aku tidak pernah membencimu apalagi meninggalkanmu karena kesalahan yang aku perbuat. Maaf karena membuatmu menderita hanya karena permasalahan kami. Maaf karena sudah menyeret mu ke dalam api kesengsaraan. Maaf karena aku lalai dalam menjagamu. Maaf karena aku belum bisa menjadi suami yang baik dan selalu siaga. Maaf karena aku menjadi orang yang membuatmu paling menderita." Randy terus mengucapkan kata maaf sekalipun ia tahu, Beribu-ribu kata maaf yang terucap dari mulutnya tidak akan bisa menghilangkan rasa sakit yang dialami oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Aku kotor... Aku tidak pantas buat kamu. Aku merasa jijik dengan tubuh sampah ini. Aku... marah... Aku kecewa. Aku ingin pergi dan meninggalkan semuanya"
Dengan perasaan takut Randy memeluk Larry dengan erat. "Tidak... Jangan pergi. Jangan meninggalkanku sendiri. Aku tidak akan bisa hidup sendiri. Hidupku akan sangat hampa tanpa dirimu. Tolong jangan pernah mengatakan untuk meninggalkan ku. Aku tidak akan bisa. Kau benar-benar tidak akan sanggup" pelukan erat Randy tidak ingin kehilangan membuat Larry semakin merasa tidak pantas untuk orang sebaik dia. Ia memberontak dan mendorong tubuh Randy dengan keras.