Dijodohkan

Dijodohkan
Rindu Ayah dan Ibu


__ADS_3

“Aku akan menderita sepanjang hari jika kamu ada di dekatku.” Sita melirik laki-laki yang ia benci itu di hapannya.


“Kamu kenapa benci aku?” tanya Rio bingung merasa tidak berdosa.


“Kenapa kamu masih polos, dan pura-pura tidak mempunyai dosa! Kamu lupa apa yang kamu perbuat dengan kedua sahabatku? Gara-gara kamu, Zie dan Arini saling membenci.” Sita melipat tangan di perut memandang sinis.


“Kenapa kamu masih mengungkit masalah itu? Sedangkan Ziara saja sudah memaafkan. Kamu sudah enggak punya alasan untuk menjadikanku musuh.” Rio berjalan melewati Sita.


Apapun yang terjadi aku membenci, aku benci benci! Itulah yang ada dalam benak sita. Ia sangat membenci laki-laki yang gonta-ganti pasangan. Sampai kapan pun ia akan membenci laki-laki yang mempermainkan perempuan, seperti halnya ayahnya sendiri.


“Sita, kamu kenapa?” Tanya Arkas. Melihat Sita membuka map dengan cepat.


“Kenapa?” tanya Sita balik melihat Arkas.


“Sita kamu nggak mau kawin?” tanya Arkas ragu takut kalau Sita tersinggung. Karna semenjak wanita itu kabur dari perjodohan itu belum pernah terlihat menjalin hubungan dengan laki-laki. “Sita ... hemmm apa kamu normal?” tanya Arkas ragu.


Pertanyaan Arkas membuat Sita berkacak pinggang. Rahangnya menguat, kepala seperti mau mengeluarkan tanduk. Bagaimana hal gila itu bisa dipertanyakan? Tentu saja dia wanita normal yang ingin di cintai, dan disayangi. Hanya saja ia belum menemukan laki-laki yang tepat untuknya.


“Dasar gila!” Sita melempar map kotak botol yang ada dihadapannya kearah Arkas. Namun Arkas menundukan badannya hingga botol itu tidak mengenai dirinya.


“Apa-apa-an ini?” Suara laki-laki dari belakang Arkas. Benar saja botol itu tidak mengenai Arkas namun, mengenai kepala Rio.


“Sorry Rio ... si Sita tuh.” Arkas menunjuk dengan mata mengarah kearah Sita.


“Kalian hanya bercanda dari tadi! Apa kalian makan gaji buta?” Rio geram karena map yang sudah rapi kini jatuh lagi. Sita dan Arkas hanya mengulum senyum menanggapi Rio.


“Kalian, ayo cepat bereskan! Ini semua ulah kalian!”


Sita merasa bersalah ia segera berlutut. Memunguti berkas-berkas tersebut dan menyerahkan kepada Rio.


“Ada apa ini?” tanya Raka yang mendengar keributan dari ruangannya.


Mereka bertiga hanya cengengesan saat Raka bertanya. “Apa kalian sudah nggak ada kerjaan?”


“Akan kami selesaikan tuan,” balas Arkas melindungi teman-temannya itu.

__ADS_1


“Jam empat, kirim hasilnya ke ruanganku.” Raka kembali berjalan menuju ke ruangannya.


“Ayo ... ayok! Kita harus selesaikan. Kalau nggak bos Raka murka.” Seru Arkas. Rio dan Sita pun pergi menuju ruanagan.



Di rumah.


Ziara terlihat sedang bersiap-siap akan pergi ke supermarket. Ia sudah menyiapkan catatan di tangan. Kini waktunya ia akan berangkat, sore hari jika Raka pulang kantor kue buatnya sudah siap. Namun rencana tinggal rencana. Sebelum ia keluar dari rumah tiba-tiba Mama Claris memanggilnya.


“Ziara ... apa kamu mau antarkan mama ke dokter?”


“Mama sakit?” tanya Ziara menatap mama Claris penuh khawatir.


“Aku nggak sakit. Hanya saja hari ada jadwal kontrol ke dokter, jadi kamu mau ya antarkan mama pleas ....” Ucap Claris memohon.


Yah nggak papalah Ziara harus membatalkan rencananya berbelanja. Tapi tidak apalah gadis itu senang jika membuat orang senang.


Saat mereka akan menaiki mobil. Tiba-tiba ada suara klakson mobil masuk ke dalam halaman rumah. Nampaknya Raka datang di keadaan yang tepat.


“Aku mau mengantar mama ke dokter. Hari ini jadwal mama kontrol jadi ... aku yang akan mengantar.” Jawab Ziara.


Raka tanpa banyak bertanya lagi ia segera membuka-kan pintu mobil dan berkata, “Naik!”


Dengan mata melirik ke mobi mengisyaratkan Ziara supaya mebawa Claris masuk ke mobil.


Ziara menggandeng Claris ke mobil Raka. Wanita itu hanya diam jika berurusan dengan Raka. Semoga suatu saat hubungan mereka menjadi baik dan mereka bertiga menjadi keluarga yang utuh.


Sepanjang jalan Claris hanya diam. Sedangkan Ziara mencoba memecah keheningan. Dengan mengajak bicara Claris yang duduk di belakang. Ia tau ibu mertuanya tidak akan suka jika dirinya mengajak bicara.


Namun ia akan berusaha membawa hubungan anak dan ibu akan segera mambaik.


Setibanya di rumah sakit tujuan mereka, Claris langsung melakukan daftar berobat bersama dokter Ryan Handrik dokter sepesialis kanker. Sedangkan Raka dan Ziara berada di belakangnya menemani.


“Kalian tunggu di sini, mama mau masuk kedalam. Dokrer Ryan sudah menunggu di dalam.” Claris terlihat sedang gugup, seperti mencemaskan sesuatu.

__ADS_1


“Mama nggak apa-apa sendirian?” tanya Ziara penuh kekhawatiran. Ia tau kalau Mama Claris sedang cemas dengan penyakitnya itu.


“Aku nggak apa-apa ... hanya, sudahlah kalian tunggu saja di sini.” Claris berjalan menuju ruangan Dokter Ryan.


“Tapi Ma ....” Ziara mencoba mengikuti Claris namun tangannya di cegah oleh Raka. Membuat ia mengurungkan niatnya.


“Kita tunggu disini, semua akan baik-baik saja. Kita tunggu saja wanita itu sampai selesai, aku kenal dokter yang menanganinya, nanti aku akan mencri tahu perkembangan wanita itu.” Raka menarik Ziara supaya duduk di ruang tunggu di depan ruangan yang sudah di sediakan.


“Baiklah.”


Ziara duduk cemas di sebelah Raka. Saat ia melihat ruangan di ujung sana, tiba-tiba pikirannya mengingat kedua orang tuanya yang meregang nyawa di rumah sakit ia berdiri saat ini. Tanpa ia sadari air matanya menetes di pipi mulus itu.


Dia masih ingat saat menangis di sudut ruangan ujung sana. Kini pintu itu terlihat menakutkan bagi Ziara, seolah membuka memori kematian orang tuanya.


Rindu Ayah dan Ibu, itu yang ada dalam benaknya. Air mata tidak henti-henti menetes meskipun ia mencoba menyembunyikannya.


Raka yang dari tadi memeriksa email masuk dari ponsel pintar miliknya, berhenti sejenak menoleh kearah Ziara. Dan melihat wanitanya itu menyembunyikan air mata dengan mengusap dengan tangan. Raka bingung apa yang membuat istrinya itu menangis? Apa tanpa sadar dia telah melukainya? Apakah Mamanya sebelum dia datang tadi menyakiti hatinya? Begitu banyak pertanyaan di dalam benak Raka.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Raka penuh kekhawatiran. Ziara yang sadar Raka memperhatikannya itu seketika membersihkan sisa-sisa cairan di pelupuk mata.


“Aku nggak papa kok,” ucap gadis itu mengelak. Namun Raka tidak percaya tidak mungkin istrinya itu menangis tanpa sebab.


Saat Raka memandang ruangan di sudut sana, laki-laki itu baru sadar. Dia tau sebab kenapa Ziara menangis. Raka langsung meraih kepala Ziara dan membenamkan di dadanya.


“Aku tau ini memang sulit, tapi ... bagaimana pun, ini adalah kenyataan yang harus kita alami. Kehilangan orang yang kita sayangi memang menyakitkan. Tapi ... yakin lah mereka akan bahagia melihat kita bersama.”


Kata-kata Raka begitu menyentuh di hati. Membuat Ziara menjadi menangis deras, mengingat orang tuanya yang berjuang menyatukan mereka.


Isakan terdengar dari dada Raka. Membuat dada itu bergemuruh ikut merasakan sakit yang dirasa istrinya. Raka merapatkan dekapan, lalu mencium pucuk kepala Ziara penuh arti.


Raka tau apa yang dirasakan Ziara. Ia juga mengalami hal yang sama saat Papa Romi meninggal bahkan ia tidak mempunyai siapa-pun untuk membagi kesedihan saat itu.


“Sudah jangan mengis, aku ada disini akan selalu menemani kamu. Kita akan lewati semua bersama-sama, aku janji akan selalu membuatmu bahagia.”


Mendengar kata-kata Raka. Sedikit mengurangi kesedihan Ziara. Air mata yang mengalir berangsur berhenti. Ia bersukur mempunyai suami seperti Raka, semoga suaminya itu selalu menaati janjinya.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, LOVE, VOTE KOMEN YA GUYS😘😘😘


__ADS_2