
" Ellena duluan yah, banyak tugas soalnya." ketika pulang Sekolah tadi Ellena memang langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar, tidak banyak bicara dengan Aziz dan juga tidak menemui sang mama. Bukan menghindar hanya saja, memang sedang banyak-banyak nya tugas. maklum siswa akhir semester.
"Ngobrol dulu, jangan langsung kabur. kebiasaan kamu iih. " mama menyela ketika Ellena sudah berdiri dari tempat duduknya, dengan ogah-ogahan Ellena kembali duduk menampilkan wajah bete khas Ellena.
"Di depan, di depan ruang tv ngobrolnya. " Sambung mama dengan wajah menyebalkan, kemudian berjalan ke arah dapur. "Tolong potongin buah, bawa kedepan. " sayup-sayup Ellena mendengar suara mama, meski tidak terlalu jelas. Karena Ellena sudah lebih dulu sampai di kursi ruang nonton tv.
"Jarang-jarang kan quality time, kangen tahu mama sama kamu. " Basa basi mama, Ellena hanya melirik sekilas dengan hembusan nafas yang terasa berat.
Tidak lama bibi datang, dengan membawa nampan berisi mangkuk dan juga beberapa snack.
Bakalan lama gumam Ellena
" Ini pesanan Ibu, buah segar sudah di potong-potong. Dan ini snack kesukaan non. Ciki non. " Ucap bibi, yang hanya di tanggapi dengan senyuman tipis Ellena. Sedang kan nyonya Della sudah memasukkan dua potonga buah sekaligus.
" Makasih bi, aah lupa. minum nya mana? " tanya mama, dengan wajah pura-pura bersalah. Sedangkan Ellena tambah manyun, karena mama terlalu banyak basa basi. " Udah bi, enggak usah. Inem nya udah ngambek. " Gurau mama, dengan tawa yang renyah. Sekilas Ellena terpukau dengan tawa mama nya, tawa yang selalu mampu membuat mama terlihat lebih cantik. Tawa yang tidak di buat-buat. Tapi senyum di bibir Ellena musnah ketika mengingat betapa menyebalkan nya sang mama.
" Jadi maksud mama, aja aku kesini ada apa? " Langsung Ellena, dia sudah mulai gerah terlebih sang mama malah terlalu asyik memakan buah.
" Quality time sayang, kangen mama tuh sama kamu. " jawab mama, tanpa mengalihkan pandangannya dari semangkuk buah.
" Modus. " jawab Ellena, kemudian menyambar snack yang sudah di bawa oleh bibi tadi. " Mau bahas pernikahan aku pasti." tebakan nya tidak akan salah, ketika melihat sang mama yang langsung menyimpan mangkuk buah tersebut.
" Ah, pintar nya anak ku. Enggak salah mama Sekolahin kamu ke Sekolah yang mahal nak. " Ucap mama dengan dramatis, tangannya sibuk meng unyel-unyel wajah Ellena.
__ADS_1
" Sakit mah. " Rengek Ellena, dengan pipi yang menggembung.
" Berapa kilo kamu sekarang, kaya nya tambah gendut deh? " mama menelisik perubahan tubuh Ellena, matanya melirik ke arah perut Ellena dengan alis di naik turun kan.
" Apaan lihat nya begitu banget, kaya tante girang mau beli anak perjaka. "
" Enak aja, emang nya kamu pernah apa lihat tante girang wajah nya secantik mama. "
" Dih banyak kali, bahkan lebih cantik. "
" Masa, coba mana mama mau lihat. "
" Apa nya, enggak punya foto nya. Gak pernah nyimpen yang gak penting aku tuh. "
" Iya- aw ampun mah. haha "
Ellena hanya lah anak kecil, seorang anak kecil yang memiliki watak cuek terhadap sekitar. Bahkan mungkin dia juga sudah lapa kapan terakhir dia bisa bercanda dengan sang mama. Selain karena kesibukan nya, Ellena juga terlalu cuek terhadap mama. Apalagi ketika Ellena mengetahui jika dirinya telah di jodohkan. Seperti sedang mogok, namun dengan cara Ellena.
" Elle sayang mamah. "
" Ahh putri kecil mamah. "
" Dia Ellena, istri kamu. " Ujar tuan Atmaja, menepuk pundak menantunya.
__ADS_1
Ketika selasai makan Aziz memang berniat naik ke lantai atas, namun dia ingat masih ada barang yang tertinggal di dalam mobil. Hingga membuat langkah Aziz berbelok menuju pintu depan. Namun, karena arah pintu melawati ruang Tv alhasil Aziz malah menguping, sebenarnya bukan niat nya menguping hanya saja Aziz sedikit penasaran apa yang akan di bicarakan oleh istri dan ibu mertuanya tersebut, Aziz hanya takut jika sang istri akan di salahkan karena kejadian tadi sore.
Namun, apa yang Aziz pikirkan tidak lah benar. Ellena malah sedang tertawa dengan lepas, bagai kan seperti balita yang sedang bercanda dengan ibunya. Senyum di bibir Aziz merekah melihat pemandangan yang ada di depannya.
" Bahagiakan dia nak. " Ucap tuan Atmaja, matanya berkaca-kaca melihat kedekatan antara ibu dan anak yang ada di depannya.
" Pasti. " Tanpa sadar Aziz telah terlena oleh tawa Ellena, tanpa sadar hatinya telah berdesir. Dan Aziz akui bahwa dia telah kalah oleh pesona gadis ABG yang telah dia nikahi.
***
Waktu menunjukan angka 12 dimana Ellena tidak bisa memejamkan matanya, besok masih hari jumaat iti berarti dia masih harus pergi ke Sekolah. Tapi entah mengapa Ellena justru malah sangat sulit untuk memejamkan matanya. Kemana kah perginya si ngantuk, Apakah sudah tidak ngantuk lagi sekarang?
Dan Ellena hanya mampu menatap langit-langit kamar berwarna putih, dengan wajah gelisah campur kesal.
" Mungkin menghitung domba akan membuat ku ngantuk. " gumam Ellena, dan tanpa sadar hal bodoh tersebut langsung Ellena lakukan, matanya terpejam erat dan otak nya mulai menghitung domba. memang seperti tidak akan berhasil tapi entah datang dari mana elusan lembut, selembut kapas membuatnya terbuai dan membawa nya ke alam mimpi.
Ketika Ellena tengah berusaha tidur, Aziz tengah memeriksa kembali laporan dari para stap nya. Dan ketika Aziz melihat ke arah tempat tidur, hal pertama yang dia lihat adalah wajah sang istri. matanya memang terpejam, tapi bola matanya beputar kesana-kemari, membuatnya bergegas menyimpan laptop dan juga ponsel yang tengah ia pergunakan untuk mengecek laporan.
Tangannya terulur mengusap rambut Ellena, pelan tapi pasti Ellena mulai terlihat tenang. Terlihat dari bola mata yang sudah diam dan juga mata yang tidak terpejam dengan erat, Aziz tersenyum ketiak dia menyadari satu hal jika istri ABG nya tersebut lambat laun mulai patuh padanya.
" Night gadis ABG ku. " untuk ke dua kali nya, Aziz kembali nengecup Ellena.
Epilog..
__ADS_1
" Ya ampun Ariel Noah nyium aku. " dengan binar di matanya, Ellena kembali memejamkan matanya. tanpa sadar dia telah menarik seseorang masuk kedalam pelukannya.