Dijodohkan

Dijodohkan
Akhir


__ADS_3

Ziara terlihat bingung kenapa Raka tiba-tiba marah dan menonjok Erick. Wanita itu tidak mengerti kalau keributan yang timbul dialah penyebab dari keributan itu. Ia bahkan masih kebingungan apa sebenarnya yang diperebutkan oleh mereka sehingga terjadi perkelahian.


Zia menarik napas lalu melangkah berdiri di belakang Raka. “Apa kalian bisa jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa tiba-tiba ribut seperti ini. Raka apa kau tidak malu menjadi bahan tontonan orang banyak di sini?”


Raka yang dipenuhi amarah pun mulai melemah. Mengibaskan tangan Rio yang sebelumnya melerai dengan memegangi lengannya. “Lepas!” Rio pun melepas tangannya dan mundur.


Meski napasnya masih memburu tetapi emosi Raka mulai melemah. Indra pendengarannya mau menerima kata-kata saran dari Zia istrinya.


Zia melangkah dan menarik kursi supaya mereka membicarakan dengan kepala dingin. “Duduk!” titahnya seperti ibu dan anak saat menyuruh duduk. Raka dengan mata masih membara menatap Erick itu pun duduk. Begitu juga dengan Erick dengan memegangi pipi yang merah memar dan sedikit sobek itu pun duduk berhadapan dengan Raka. Sedangkan Zia dan Rio menengahi mereka.


“Katakan apa yang terjadi? Selesaikan sekarang juga. Di sini, di detik ini.” Menatap wajah Raka berharap.


“Oke, aku akan jelaskan.” Erick membuka suaranya. Menyadari ini semua memang salahku. Tapi apalah daya ini semua hanya salah paham. “Aku minta maaf. Aku tidak tau kalau menyukai apa yang sudah menjadi milikmu. Tapi ... harus kau tau, kalau aku tau tidak mungkin melakukan semua ini. Lagi pula ini tentang perasaan yang muncul begitu saja,” terangnya supaya kesalah pahaman cepat berakhir.


Kalimat yang diucapkan Erick masih ambigu buat Zia. Dia masih belum paham inti dari permasalahan mereka. “Salah paham? Sebenarnya apa yang membuat kalian salah paham? Dan ... apa barusan kau bilang menyukai apa yang sudah menjadi milik Raka. Memang apa barang apa yang kau sukai? Menatap Erick yang menunduk. Raka duduk dengan tangan bersedekap memandang sinis.


“Apa ada yang bisa jelaskan?” Memandang Erick lalu memandang Raka. Mereka berdua diam.


“Sayang?” berharap suaminya itu mau menjelaskan semua.


“Dia jatuh cinta padamu, Zia.” Raka menjawab cepat. Mendapat jawaban itu mata wanita itu membulat terkejut mendengar ucapan Raka.


“Bagai mana mungkin.

__ADS_1


“Bagai mana mungkin. Aku hanya dua kali bertemu dengannya. Itu pun hanya sekilas, apa semudah itu jatuh cinta?” ucap Zia.


“Itulah kelebihan lelaki gila seperti dia,” ucap Raka memandang sinis ke arah lelaki yang membuat ia kesal itu.


“Aku tidak gila, Raka ....” Erick menentang perkataan temannya itu. “Sudah kubilang. Aku tidak tau kalau dia istrimu. Siapa suruh punya istri cantik di biarkan berkeliaran sendiri. Masih untung aku yang jatuh cinta padannya kalau orang lain tidak mungkin dia mau menyerah semudah ini.” Kicau Erick. Membuat Raka geram langsung bangkit memegangi kerah Erick.


“Sudah cukup!” pekik Zia mereka berdua seketika menoleh. “Raka lepaskan.”


Raka pun langsung melepas tetapi masih menatap memangsa.


“Jadi kesimpulannya ini hanya salah paham. Raka tidak perlu melebih-lebihkan lagi, semua sudah jelas hanya salah paham.” Beralih memandang Erick. “Dan kamu Erick jangan sekali-kali menyimpan rasa itu lagi. Oke kemarin wajar karna kamu tidak tau kalau aku adalah istri dari temanmu. Tapi sekarang kau sudah tau bukan?” Erick mengangguk.


Rio hanya diam menyaksikan perdebatan mereka. Ia sudah pernah diposisi itu, dulu karena dia tidak mau mengalah Raka menghancurkan segalanya. Jadi untuk main-main dengan Raka butuh memikirkan puluhan juta kali atau jangan pernah berpikir sama sekali mengganggu apa yang sudah menjadi miliknya.


Erick menghela napas. Ini memang sakit, ini memang perih, kenyataan pahit yang ia alami sungguh memilukan. Sudah lama ia tidak merasakan jatuh cinta. Hatinya sangat sulit untuk terbuka untuk wanita. Tetapi di saat dia menemukan wanita yang pas dari segi fisik, mau pun sifat sangat disayangkan cinta bertepuk sebelah tangan. Ternyata wanita yang ia cintai adalah istri temannya sendiri.


“Sekali lagi aku minta maaf. Aku berjanji akan membuang jauh-jauh perasaan ini.” Walau sulit batin Erick.


“Kau dengar sendiri kan, sayang. Dia sudah minta maaf, lalu tunggu apa lagi, ayo damai ....” titah Zia.


Kalau sudah permintaan keluar dari bibir istrinya apa boleh buat. Mau tidak mau dia harus menyetujuinya walau hatinya belum terima. Dengan terpaksa Raka menghela napas. “Baiklah kumaafkan. Tapi jangan coba-coba mendekati istriku lagi!” titah Raka dengan nada mengancam.


“Iya aku janji.” Walau berat Erick harus mengatakan itu. Demi kebahagiaan sahabatnya ia rela memendam rasa cinta walau itu sakit.

__ADS_1


“Nah! Begitu dong ... kalau sudah begini kan enak. Jadi tidak ada salah paham lagi,” ucap Rio dengan senang melihat lelaki di depannya berdamai.


“Jadi aku peringatkan. Jangan ada yang coba-coba mendekati istriku. Siapa pun tidak kau Erick, dan juga tidak kau Rio. Zia sudah resmi menjadi milikku selamanya. Tidak ada yang boleh mendekatinya siapa pun.” Raka menggenggam tangan Zia. Wanitanya itu pun membalas tersenyum kepadanya.


Akhirnya setelah cobaan demi cobaan mereka lalui dan di awali derai air mata kini mereka bersama yang di satukan melalui ikatan ‘Dijodohkan’.


Erick harus terima kenyataan. Mungkin suatu saat nanti dia akan menemukan cinta yang tepat untuknya. Entah wanita itu di mana atau mungkin saat ini dekat dengannya.


Sedangkan Rio juga memutuskan untuk mencari pasangan hidup. Ia ingin mendapatkan wanita yang kuat. Dalam artian ia tidak ingin jika masa lalu ada yang datang menghampiri sewaktu-waktu akan menghancurkan setidaknya wanita itu kuat untuk menerima masa lalu kelamnya.


“Sepertinya aku harus membuatmu cepat hamil. Supaya tidak ada yang mengagumimu lagi. Karena sudah ada tanda diperut tidak mungkin ada orang yang berani mendekatimu kalau kau mengandung anakku.


Zia terlihat khawatir. “Tapi bagai mana kalau aku tidak bisa hamil, sayang?” ucapnya terlihat cemas. Saat ini mereka duduk hanya berdua.


Raka tersenyum. “Yakinlah semua akan baik-baik saja jangan terlalu memikirkan hal yang buruk.” Menggenggam tangan Zia menguatkan. Lalu wanitanya itu menyandarkan kepala di pundak.


“Erick sudah menyiapkan bulan madu untuk kita mungkin minggu depan kita akan pergi. Apa kau sutuju, Zia?” tanya Raka.


“Ke mana pun kau membawa aku selalu ikut.


Dan selesai kisah cinta rumit yang harus Zia dan Raka jalani. Part satu penyatuan cinta telah usai kita akan lanjut part dua perjuangan cinta mereka.


Jangan lupa ikuti Author juga ya...

__ADS_1


Karena author Up-nya dobel jangan lewatkan komen di atas juga ya...


__ADS_2