
Pagi ini Zia bangun sedikit terlambat. Wanita itu membuka matanya pelan-pelan meraba kasur di sisinya. Kosong, suami yang semalam mendekapnya saat ini tidak ada di sana. Dengan kondisi masih belum sadar sepenuhnya ia bangkit dari tempat tidurnya. Mencari sesosok yang biasa ia sapa pagi hari memutar bola mata mencari keberadaan suaminya.
Di mana Raka? Batinya.
Ia pun menyingkap selimut yang masih menutupi kaki, lalu menurunkan kaki menyentuh lantai. Melangkah ke balkon mencari sesosok suaminya namun tidak ada di sana. Ia pun keluar kamar menyusuri tangga kalau-kalau suaminya ada di ruang yang terlewat dari matanya.
“Selamat pagi Nyonya ....” sapa bik Sri.
“Pagi, Bik. Bik apa kau melihat Tuan Raka?” tanya Zia kepada bik Sri yang menunduk di hadapannya.
“Tuan— tadi pagi ... pagi sekali sudah mengenakan pakaian rapi. Sepertinya beliau berangkat bekerja. Maaf Nyonya saya takut untuk menanyakan,” ucap bik Sri.
“Tidak apa-apa kok, Bik. Terima kasih atas infonya ....” Zia membalik badannya lalu menaiki tangga ingin kembali ke kamar. Entah mengapa hatinya sedikit sakit, baru kali ini suaminya itu pergi bekerja tanpa berpamitan padannya lebih dulu. Entah kenapa ia berpikir suaminya itu berbeda dari biasanya. Ada perasaan tidak nyaman di pikiran Zia dari semalam ia selalu memikirkan kalimat Raka sewaktu di kamar mandi.
Entah kenapa suaminya itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan saat ia akan bertanya pagi ini suaminya sudah pergi ke kantor. Setelah sampai di kamar Zia mencari-cari ponsel miliknya berinisiatif menelepon Raka untuk menanyakan kenapa sampai tidak membangunkannya saat pergi. Dengan cepat ia menekan layar ponsel di tangan mencari nama Raka. Lalu mendekatkan benda berbentuk persegi itu ke telinga. Wanita yang sedang menunggu sambungan telepon itu pun menggigit bibir bawah berharap suaminya itu cepat menjawab teleponnya.
Setelah beberapa saat telepon dijawab oleh Raka. Namun suara dari seberang sana sangat berisik hingga suara Raka tidak terdengar jelas.
[Halo sayang! Apa kau mendengarku?] ucap Zia dijawab tetapi tidak terdengar jelas olehnya. Tak berselang lama ponsel mati tanpa satu kata pun yang ia mengerti. Banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya. Apakah suaminya sedang sibuk, apakah menyembunyikan seorang wanita, apakah suaminya itu sedang mengalami masalah dengan pekerjaannya. Entahlah hanya ‘Author’ yang tahu.
Karena waktu sudah siang kini waktunya Zia untuk mandi. Setelah mandi ia bersiap untuk pergi ke toko kue miliknya.
Dengan menggunakan mobil warna putih kesukaannya ia membelah kota melewati gadung-gedung mencakar langit di pusat kota. Saat lampu rambu-rambu lalu lintas menyala berwarna merah ia berhenti. Sembari meregangkan otot-otot menyadarkan kepala di punggung jok mobil. Saat ia menoleh ke mobil yang berada di sampingnya matanya tertuju melihat mobil yang tidak asing yang berwarna hitam itu. Ia melihat seorang lelaki yang ia kenal yaitu suaminya.
“Bukankah itu Raka?” Ia bertanya pada dirinya sendiri. Ia membuka kaca mobilnya ingin memanggil tetapi lampu rambu lalu lintas berubah menjadi hijau mobil Raka terlebih dulu sebelum Zia memanggilnya. Zia berinisiatif untuk mengikuti mobil tersebut tetapi ia kehilangan jejak mobil yang dikendarai suaminya menghilang begitu saja.
—
Di sebuah ruangan Raka terlihat cemas di dampingi Rio di sebelahnya. Ia bahkan membuang berkas-berkas ke sembarang tempat hingga berserakan. Ada pikiran berkecamuk dalam benaknya rasa takut kehilangan istrinya semakin besar entah kenapa ia selalu mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu. Di mana saat Ayahnya sedang tidak memiliki apa-apa, ibu yang seharusnya mendukung dan menemani justru malah meninggalkan mereka berdua pergi bersama lelaki yang lebih kaya.
Raka selalu mengingat kejadian itu. Masa kecil yang seharusnya ia mendapat kebahagiaan justru ia mengalami dengan kepahitan. Hinaan demi hinaan dari teman-teman dari orang terdekat semua itu masih terngiang di ingatannya.
__ADS_1
“Bos, tenangkan dirimu. Yakinlah kita semua akan bekerja keras menyelesaikan ini semua untuk mengembalikan perusahaan ini seperti semula,” Rio berucap berdiri di samping Raka yang sedang memijat pangkal hidungnya.
“Mereka memang licik, membuat perusahaan ini di ambang kebangkrutan. Apa pun itu kita tidak boleh menyerah, kita pasti bisa menghancurkan mereka.” Rio menunduk memunguti berkas-berkas yang berserakan di lantai.
“Kau benar, Rio.” Raka menyandarkan kepalanya di punggung kursi mengela napas mengambil waktu sejenak untuk berpikir. “Kita tidak boleh kalah dengan mereka, tender itu harus kita dapatkan. Aku tidak mau perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahku dari nol hancur begitu saja. Apa pun yang terjadi aku harus mengembalikan seperti semula.” Lalu ia beranjak berdiri di dekat jendela menatap keluar ruangan.
“Bukankah ... Erick menawarkan bantuan, Bos. Tapi ... kenapa kau menolaknya?” tanya Rio membuat Raka membuyarkan pandangannya dari arah luar.
“Tidak semudah itu, Rio.” Raka kembali menghela napas. “Menerima bantuan seseorang tidak mudah, aku tidak mau budinya merebut harta milikku yang paling berharga,” ucap Raka lalu ia melangkah duduk di kursi semula.
“Apa kau takut dia mengambil Zia darimu, Raka?” Raka mengangguk.
“Lebih tepatnya begitu. Erick adalah orang yang tidak mudah melupakan seorang yang ia cintai. Aku tau walau pun dia mengatakan tidak akan memikirkan Zia lagi, tapi aku yakin dia masih mempunyai perasaan kepada istriku.” Raka bersandar menatap langit-langit ruangan.
“Apa kau tidak pernah berpikir kalau sudah berlebihan terhadap Erick, Raka? Dia sudah mengatakan kalau tidak akan mendekati istrimu lagi, maka dia akan menepati janjinya,” Rio berucap dengan nada sedikit meninggi.
“Tidak mudah untukku mempercayai seseorang. Rio cukup hentikan, jangan membahas Erick lagi,” ucap Raka saat Rio hendak menjelaskan tentang Erick. “Sekarang atur pertemuan dengan direktur perusahaan Prawira Grup. Aku sendiri yang akan menemuinya.”
“Baik.” Rio menunduk lalu melenggang pergi. Ia ingin segera mengurus pertemuan Raka dan Direktur yang akan berpengaruh bagi perusahaan Raka itu.
Rio segera meraih dan memeriksa setiap lembar demi lembar dengan serius, tidak ada sedikit pun yang luput dari pandangannya. “Semua sudah sempurna ... terima kasih, Sita.” Lalu ia membawa berkas di tangannya itu menuju ke ruangan.
“Oke ....” ucap Sita saat Rio mejauh dari hadapannya. Ia tidak menyangka lelaki yang dia pikir tidak pernah serius dalam bekerja. Tapi nyatanya lelaki itu sangat serius saat ada masalah seperti ini. Ternyata anggapannya salah besar.
Sesampainya di ruangan, Rio meletakkan berkas di atas meja. Sesuai permintaan Raka ia segera meraih telepon untuk menghubungi perusahaan Prawira Grup.
Btw ... kalian pilih yang mana, Up satu hari sekali atau beberapa hari langsung dobel gitu?
Oh iya buat menunggu Dijodohkan Update Jenny punya rekomendasi bacaan buat kalian. Jangan lupa mampir juga ya...
1.Boss Come here Please!
__ADS_1
Pena:Novi Wu
OB kerudung biru
Pena : Putri Tanjung
3.bad girl vs iceman
Pena: aisyah larasati tambunan
Boss mafia: rencana pelarian
Pena:erel
Judul : I'M THE NECROMANCER KING
Pena : Kata Pandu
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE DONG... KALAU KALIAN SUKA MASIH LEMPENG AJA TUH.