Dijodohkan

Dijodohkan
Akhir Pekan


__ADS_3

Waktu tidak terasa telah berlalu dengan cepat tanpa sadar malam gelap gulita berganti kan terang karena sinar matahari menggantikan bulan menyongsong dari arah timur.


Raka limbung di sebelah istrinya yang sudah lemah tidak berdaya. Dia menatap langit-langit kamar berusaha menyeimbangkan napas yang masih tengah memburu akibat kepuasan yang dia dapat dari tubuh Zia. Sebenarnya ia belum puas dan ingin memulai lagi. Tapi, melihat kondisi wanitanya yang seperti tidak sanggup. Tubuh itu terlihat rapuh kalau ia memberinya satu sentuhan lagi tidak tahu apa yang terjadi.


Setelah merasakan napasnya normal seperti semula, Raka menoleh ke arah Zia yang dalam kondisi setengah tidur. Dengan rambut berantakan menutupi wajah terlihat hampir terlelap karena kelelahan. Entah, berapa kali wanita itu harus melayani suaminya dalam semalam ini. Raka tidak menyangka wanita di sampingnya itu saat ini berhasil menempati Tahta di dalam lubuk hati yang terdalam dan tubuhnya selalu membuat dia merasakan candu. Seperti selalu ingin mencecap manisnya madu tanpa bahan pemanis.


Perlahan-lahan Raka mengangsur jari-jarinya ke wajah Zia yang terlihat kepayahan itu, lalu menyingkap rambut yang menutup wajah hingga wajah itu terlihat sempurna. Zia hanya menggeliat merespons sentuhan itu. Melihat istrinya yang terlalap Raka memutuskan untuk membiarkan, dia bangkit tidak lupa mencium kening lalu melangkah ke kamar mandi, mengguyur tubuh di bawah rentikan air hangat menyegarkan tubuh yang dipenuhi keringat percintaan.


Setelah keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan sisa-sisa air di rambutnya tubuhnya masih terlihat menguap menimbulkan aura kesegaran dalam dirinya. Ia melihat ke arah Zia masih tertidur. Tapi dia juga kasihan pasti istrinya itu belum makan dari siang, mau tidak mau Raka harus membangunkannya.


“Zia.” Mengguncang pundak pelan. Zia hanya menggeliat sepertinya rasa lelahnya mengalahkan rasa lapar hingga membuat ia mengantuk. “Bangun Zia, kau harus makan. Perutmu dari tadi bunyi tuh,” ucap Raka masih mengguncang pelan.


Dengan berat Zia membuka matanya sayup-sayup merespons suara yang masuk di pendengarannya. “Aku tidak lapar. Kau saja yang makan ....” ucap Zia masih setengah sadar lalu tertidur lagi. Ia bisa mengelak tapi suara protes dari perutnya tidak bisa disembunyikan.


Jika Raka terus memaksa membangunkannya kasihan juga dia. Raka bangun lalu melangkah keluar berpikir akan mengambil sarapan untuk Zia. Karena melihat kondisi Zia saat ini tidak mungkin wanitanya itu untuk pergi ke meja makan.


“Bik.” Panggil Raka dari tepi tangga. Dengan sigap pelayan yang dipanggil menemuinya menunduk seolah siap diberi perintah. “Ia, tuan.”


“Bik, siapkan makanan untuk Zia. Aku akan membawakan ke kamar.”


“Baik, Tuan.” Bik sri pun langsung menyiapkan makan untuk Nyonyanya itu.


Sambil menunggu bik Sri selesai. Raka berja duduk di kursi makan sampai Bik Sri selesai menyiapkan makanan. Setelah selesai Bik Siri menyiapkan makanan, tanpa menunggu perintah dari Raka ia mengangkat nampan dan membawanya melangkah.


"Mau dibawa ke mana bik?” tanya tuannya itu. Menyipitkan mata memandang Bik Sri yang meringis. “Letakan di situ. Bair aku yang bawa ke kamar.” titahnya.

__ADS_1


“Baik Tuan.” Wanita paruh baya itu pun meletakan nampan di atas meja lalu melenggang pergi.


Mana mungkin Raka membiarkan seseorang memasuki kamar. Dalam kondisi Zia di atas ranjang berantakan pasti akan memalukan jika seseorang melihatnya. Cowok itu membawa nampan yang berisi makanan ke kamar supaya Zia bisa segera memakannya.


Saat masuk ke dalam kamar ia menggeleng ternyata Zia posisinya masih seperti semula.


Mungkin butuh cara lain untuk membangunkannya. Raka meletakan nampan di atas meja lalu duduk di sebelah Zia tidur. Diselipkan rambut yang menutupi telinga mendekatkan wajah lalu menggigit telinga Zia pelan sehingga seketika pemilik telinga terperanjat kaget.


“Apa yang kau lakukan hah?!” ucap Zia yang tiba-tiba merasakan telinganya hangat dan geli. Kedua sudut bibir si tersangka pun tertarik membentuk guratan senyum.


“Aku sudah membangunkanmu. Tapi kau tidak bergerak sama sekali, Zia sayang.” Raka mengacak rambut wanitnya gemas. “Ayo cepat bangun. Kau pasti lapar aku sudah membawakan makanan untukmu, makanlah.” Mengarahkan dagu ke arah nampan.


“Aku mau mandi dulu. Enggak enak kalau makan harus dalam keadaan seperti ini.” Zia menyingkap selimut lalu bangkit akan pergi ke kamar mandi.


“Sini biar aku bantu." Dengan sigap Raka berdiri lalu menunduk mengangkat, tidak butuh waktu lama tubuh itu di dekapannya.


“Apa yang kau lakukan, aku bisa sendiri, Raka.” Raka membulatkan mata menatap tajam. Zia seketika menutup mulut. Apa, apa yang baru saja ia sebut. Barusan ia memanggil nama Raka? Tetap menutup mulutnya sendiri sambil menggeleng dia hanya salah sebut tadi.


“Kau panggil aku apa tadi?” kekeh Raka mengguncang tubuh ditangannya.


“Ampun, ampun. Maafkan, aku salah sebut. Janji, enggak akan ulangi lagi.” Zia melingkarkan keduan tangan di leher Raka untuk berpegangan. Raka terus saja membawa tubuh itu samapai masuk ke kamar mandi. Lalu meletakannya di bathup yang sudah terisi dengan air hangat. Dengan hati-hati dia meletakkan tubuh yang halus tanpa goresan itu selayaknya porselen mahal.


“Keluarlah, aku akan mandi sendiri,” ucap Zia terlihat malu-malu. Menyilangkan tangan untuk penutup dadanya.


Raka menyeringai. “Memangnya apa yang kamu tutupi? Apa kau tidak lihat tanda merah yang aku tinggalkan di sana.” Menunjuk dengan dagunya ke tubuh Zia yang penuh tanda merah. Zia yang baru menyadari bekas-bekas perbuatan Raka itu pun wajahnya seketika menjadi tersipu malu. “Sudah lihat sendirikan sedikit pun tidak ada yang kulewatkan.”

__ADS_1


“Kau keterlaluan. Sudah keluar sana aku mau mandi.”


“Tidak usah keras kepala. Berbaliklah biar aku yang mandikan.” Dengan cepat Raka meraih punggung di hadapannya lalu menggosok pelan, sehingga membuat wanitanya itu rileks. Menikmati sentuhan setiap sentuhan yang begitu lembut dari tangan Raka.


Setelah selesai ritual mandi memandi. Ziara sudah mengenakan handuk kimono duduk di sofa. Menghadap makanan yang aromanya menggugah selera membuat perut semakin berkoar minta diisi.


“Apa kau sudah makan sayang?” tanyanya menaikkan pandangan ke arah suaminya yang sedang memeriksa pesan melalui ponselnya.


“Makan saja dulu. Aku nanti akan makan di meja makan,” ucap Raka tanpa menoleh ataupun memandang ke arah istri yang sedang bertanya.


Selera makan Zia tiba-tiba menghilang saat Raka mengatakan itu. Ia ingin mengajaknya makan bersama tapi, justru suaminya itu mau makan nanti. Zia seketika meletakan sendok tidak keras namun benturan sendok di meja yang beralaskan kaca sehingga menimbulkan suara. Sehingga membuat pandangan Raka teralihkan menatapnya.


“Kenapa? Apa makanannya tidak enak?” Zia menggeleng. Oh, baiklah berarti tidak ada masalah Raka kembali menatap ponselnya.


“Inikan hari libur, tapi kenapa kau masih sibuk dengan ponselmu. Apa tidak seharusnya kau pergi saja ke kantor menyelesaikan tugas-tugasmu itu,” ucap Zia dengan nada kesal.


Raka menaikan pandanganya. Dia baru sadar ternyata istrinya itu sedang kesal, ia mengulum senyum melihat tingkah istrinya ith. Baikalah ia akan menambah kadar kekesalan itu semakin dalam. Menghela napas lalu meletakan ponselnya. Kini saatnya.


“Sebenarnya aku ada beberapa pertemuan hari ini, dan mungkin aku akan pulang terlambat hari ini. Kau tidak apa-apa kan, sayang?”


Zia menyipitkan mata. Bukankah mereka sudah berjani jika akhir pekan datang sepakat menghabiskan waktu bersama. Tetapi kenapa Raka justru ingin pergi bekerja.


“Apa kau tau Zia.” Menyandarkan kepala di ranjang dan wajah Zia semakin me-merah. “Sebenarnya di tempat kami mengadakan pertemuan ada Gina. Dia ikut menghadiri pertemuan itu,” ucap Raka semakin membuar Zia mengepal.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


TERUS BERIKAN DUKUNGAN KALIAN UNTUK MEMBERIKAN LIKE , KOMEN, VOTE . KARENA SEMAKIN MENURUN.


__ADS_2