
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Gibor dan Lidya pun tiba. Terlihat Larry yang sedang sibuk mempersiapkan semuanya.
"Ya Tuhan... Kuatkan aku. Aku begitu gugup. Apa aku bisa melewatinya dengan baik?" batin Lidya yang mengatur nafas yang tidak berirama itu.
Lidya memegang dadanya dan merasakan detak jantung yang sangat kencang. Telapak tangannya mengeluarkan keringat. Tubuhnya menggigil seperti sedang kesetrum.
Ia menarik nafas dalam dan menghembuskan nya untuk mengurangi kegugupan yang melandanya.
Di sisi lain terlihat Randy yang sedang menghampiri sahabatnya itu. Ia melihat Gibor yang sedang terduduk di sofa dengan perasaan gugup.
"Ternyata ada saatnya gue liat lho menjadi orang bodoh seperti ini" ejek Randy menghampiri Gibor dan duduk di sampingnya.
"Gue ingat, gue juga pernah melihat orang yang tidak tahu diri menjadi orang bodoh seperti gue sekarang ini" sahut Gibor yang menutupi kegugupannya.
"Apa sahabatku ini sedang gugup?"
"Tentu saja. Ini adalah hari dimana gue akan melepas kejombloan gue selama hidup. Apalagi gue akan menikahi seorang wanita cerewet" keluhnya dengan senyuman.
"Apa yang lho katakan sungguh tidak sesuai dengan ekspresi yang lho keluarkan sekarang"
"Gue harap, pernikahan gue bisa langgeng dan romantis kayak lho. Semoga saja mantan kekasih Lidya tidak menghancurkan pernikahan kami" ucapnya khawatir
"Gue yakin Lidya tidak akan meninggalkan lho. Walaupun sikapnya agak amburadul, tapi dia orang yang setia. Bukankah lho udah tau tentang masa lalunya? Dia benar-benar setia kepada orang yang sudah menyakitinya"
"Itu yang gue takutkan. Gue takut Lidya akan meninggalkan gue saat orang yang dicintainya itu kembali"
"Lho berharap kalau hubungan lho bisa langgeng dan romantis. Bagaimana bisa langgeng? Jika lho sendiri tidak mempercayai orang yang akan menjadi istri lho sebentar lagi" Randy menepuk pundak Gibor.
"Gue benar-benar gugup"
"Itu wajar. Lho tidak perlu harus berpura-pura tenang saat hatimu memang sedang gugup. Semua orang juga pernah merasakan yang namanya gugup"
"Gue gak tau, ternyata sahabat kayak lho ada gunanya juga" ejek Gibor
"Sialan. Gue udah baik loh nenangin lho, eh malah diejek seperti ini"
"Sorry sorry bro tapi gue benar-benar tidak tahu ternyata lho bisa seperti ini. Biasanya juga tidak peduli, jahil, dingin lagi"
"Lho memang benar-benar sahabat yang tidak punya rasa terima kasih sama sekali"
__ADS_1
"Umm... baiklah hanya untuk kali ini. Terima kasih banyak bro"
"Nah gitu dong. Semoga sukses"
.
.
.
.
"Hello adikku sayang..." teriak Larry mengagetkan Lidya.
"kak..."
"Maaf maaf. Apa adikku ini terkejut melihat kedatangan kakaknya yang cantik?"
"Huh... Aku begitu gugup kak. Aku benar-benar gugup. Dari ujung rambut hingga ujung kaki rasanya seperti melayang" Lidya memegang kedua tangan Larry.
"Kakak tahu, kakak juga sudah merasakannya" Larry mengelus tangan adiknya dengan lembut.
"Kakak juga dulu seperti itu, tapi lihat kakak sekarang. Kakak benar-benar bahagia dengan seorang pria yang orang lain anggap dingin dan kejam"
"Itu karena kak Randy sangat mencintai kakak. Jadi kak Randy sangat bucin"
"Coba pikirkan, kalau Gibor tidak menyukai kamu bagaimana mungkin dia akan menikahi kamu. Kakak yakin walaupun belum ada cinta diantara kalian, setidaknya ada rasa suka yang akan membawa kalian ketitik yang disebut dengan cinta"
"Kakak benar-benar penolongku. Terima kasih kakaknya aku" Lidya memeluk erat tubuh kakaknya itu.
Larry membalas pelukan Lidya dan mengelus punggung yang sudah ditimpahi kebaya putih itu.
Larry menuntun Lidya untuk keluar dari kamarnya. Terlihat Gibor yang menunggu Lidya dengan kemeja putih dilapisi jas hitam. Benar-benar sangat tampan. Lidya tidak berhenti memalingkan pandangannya dari seorang pria yang akan dijadikannya sebagai suami itu.
Begitu juga dengan Gibor yang tiada henti menatap wajah cantik elegan yang ditimpahi make up ringan namun sangat senada dengan wajahnya. Badan yang sangat cantik apalagi dibentuk oleh kebaya putih dan rok bercorak berwarna kecoklatan itu.
"Kamu benar-benar cantik hari ini" ucap Gibor dengan malu.
"Kamu juga sangat tampan hari ini" balas Lidya dengan wajah yang merona.
__ADS_1
Larry membuka mulut untuk memecahkan ketegangan diantara kedua orang itu.
Dengan perasaan gugup keduanya melaksanakan acara pernikahan dan mengucapkan janji nikah mereka.
Waktunya untuk ciuman pertama keduanya. Hal yang belum pernah mereka lakukan.
Gibor benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sedangkan Lidya benar-benar gugup untuk ciuman itu.
Gibor mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Lidya. Lidya dengan refleks menutup matanya saat Gibor menyentuhkan bibirnya. Ia benar-benar sangat lega karena Gibor hanya mengecup bibirnya.
Satu hari yang melelahkan namun juga merupakan hari yang sangat bahagia untuk mereka. Semua tamu memberikan kadonya dan berpamitan pulang.
Keluarga Kartoni mendekat kepada kedua pengantin itu. Mengucapkan selamat dengan sedikit godaan yang membuat tawa kecil terpancar di bibir mereka semua.
Saat kedua orang tua Gibor membahas tentang anak, keduanya spontan merona. Kedua orang itu saling menatap yang berujung semakin merona apalagi dengan desakan orang tua Gibor untuk mempunyai cucu dari Gibor.
Rosa memeluk menantu cantiknya itu dengan erat. Ramor dengan sikap dinginnya itu hanya menepuk pundak anaknya yang sama dengan sikapnya juga karena terlalu malu untuk memeluk anaknya itu.
Randy dan Larry menghampiri keluarga itu dan bergabung dalam percakapan yang menyenangkan itu.
Hari yang semakin larut, saatnya untuk semua orang untuk pulang. Kedua pengantin itu pergi ke rumah Gibor.
Keheningan yang melanda di dalam mobil karena terlalu malu untuk memulai percakapan diantara mereka.
Lidya melirik Gibor yang sedang menyetir karena tidak ingin mempunyai kontak mata dengan orang yang sudah menjadi suaminya sekarang. Dia melihat Gibor yang sangat fokus dalam mengendarai mobilnya.
Lidya menghembuskan nafas kuat. Ia tidak mengetahui sebenarnya Gibor sangat gugup untuk memulai pembicaraan dan memilih seperti sangat fokus dalam mengendarai supaya Lidya memulai pembicaraan seperti biasanya.
Tiada percakapan yang terjadi diantara mereka sampai tiba di rumah Gibor.
Keduanya memasuki rumah mereka dan melangkahkan kaki ke kamar mereka.
"Emmm.. Kamu bisa mandi dulu" ucap Gibor memecah keheningan itu.
Lidya mengangguk dan mengambil pakaiannya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat dan menutup pintu kamar mandi.
Lidya menghembuskan dan menarik nafas dengan sangat cepat karena menahan kegugupannya di depan Gibor.
Lidya membersihkan dirinya dengan perasaan gugup untuk malam pertamanya. Bayangannya benar-benar tertuju untuk alasan yang akan dia berikan kepada Gibor supaya Gibor tidak melakukan hal layaknya suami istri.
__ADS_1
Setidaknya bukan untuk malam ini. Lidya benar-benar belum siap dan merasa takut. Apalagi mengingat orang yang dinikahinya itu adalah bosnya. Jika ia melakukannya dengan Gibor, maka ia pasti tidak akan bisa menatap Gibor lagi.