
Lidya keluar dari kamar mandi. Terlihat Gibor yang duduk dengan baju yang terlepas dan handuk yang sudah melingkar di lehernya.
"Kenapa lho buka baju?" tanya Lidya grogi
"Lah gue kan mau mandi, masa pakai baju sih?"
"Lho kan bisa membukanya di kamar mandi!"
"Emang kenapa sih? Orang gue udah biasa kayak gini, lagian kita kan suami istri" Gibor berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu.
"Apa yang harus gue lakukan? Gue belum siap! Gue belum siap... Gua belum siap. Pikirkan Lidya apa yang harus lho lakuin!" Lidya menggigit jarinya yang mondar-mandir dengan detak jantung yang tidak berirama.
"Sial... perut gue kenapa sakit banget? Aduh... ini terlalu sakit, jangan bilang kalau gue lagi dapat. Aduh gimana dong ini? Ini sakit banget, mata gue juga berat banget dan gue pengen muntah" Lidya dengan wajah pucat nya membungkukkan badannya di atas kasur lembut.
Matanya yang sangat berat tetapi tidak bisa tertidur karena nyeri di perutnya. Dua hal yang sangat bertentangan, dan ia yang selalu ingin muntah tetapi tidak ada yang keluar.
Hal ini adalah hal yang paling dibenci oleh Lydia. Sakit yang tidak bisa ia tahan dengan kurung waktu yang lumayan lama. Dia akan merasa kesakitan kurang lebih empat jam. Setelah sekian lama kesakitan, matanya akan tertutup dan tertidur lelap. Setelah lama bangun dari tidurnya, ia akan merasa baikan. Ia ingin sekali cepat tidur supaya sakitnya cepat sembuh, tetapi ia tidak bisa, sekalipun matanya sudah sangat berat.
Gibor keluar dari kamar mandi dan melihat Lidya yang sedang kesakitan. Dengan buru-buru ia menghampiri Lidya dan menanyakan apa yang terjadi dengan perasaan khawatir.
Ia tidak tahu harus berbuat apa karena Lidya tidak menjawabnya.
"Gue akan bawa kamu ke rumah sakit" Gibor menggendong Lidya.
Lydia meremas tangan Gibor dan menggeleng kepala. "Tidak... aku tidak apa"
"Tidak apa? Lihat lho kesakitan begini!" bentak Gibor yang merasa sangat khawatir.
"Itu...Ini hanya sakit karena... itu loh yang dialami wanita setiap bulannya" jawab Lidya dengan enggan.
"Oh lho lagi menstruasi yah?" ucap Gibor dengan santai.
"Ni cowok gak malu apa, santai banget ngomongnya. Tau ah... sakit banget nih perut" batin Lidya meremas perutnya dengan mata yang tertutup karena rasa ngantuk yang ia alami setiap ia menstruasi.
Gibor membaringkan kembali tubuh Lidya di kasur dengan lembut. Ia meninggalkan Lydia untuk sementara waktu.
"Ah... sakit banget ya Tuhan. huhuhu sakit banget " Lidya menangis tapi tetap dengan mata yang tertutup.
Gibor berlari melihat Lidya yang sedang menangis. Ia meletakkan barang yang ia beli di atas meja.
__ADS_1
"Sakit... perutku sakit..." tangis Lidya tiada henti.
"Ini gue beli obat pereda nyeri" Gibor membuka kantongan yang ia bawa tadi.
Lidya menggeleng kepalanya "Aku tidak mau minum obat huhuhu... sakit"
"Tapi lho sedang sakit... Lupakan. Gue bawa ini, kompres dengan ini aja! " Gibor meletakkan kompres panas pada perut Lidya.
"Ini tidak berpengaruh...huhuhu... sakit banget" Lidya melepaskan kompres panas itu.
"Apa yang harus gue lakukan? Hanya itu yang diberitahukan Alia. Gue cari di google aja kali yah?"
"Pijat? Gue mana tau pijat? Apalagi pijat perut. Bodoh amat lah, hanya pijat dengan lembut!" Gibor meletakkan kepala Lidya di lengannya. Ia memijat lembut perut Lidya.
Tangis Lidya perlahan menghilang.
"Apa lho merasa baikan?" tanya Gibor yang berbaring disebelah Lidya. Lidya hanya mengangguk tanpa membuka matanya.
Gibor melanjutkan pijatannya sampai Lidya benar-benar tertidur. Tangannya merasa nyeri karena terlalu lama memijat perut Lidya dan memangku Lidya di lengan kanannya.
Setelah Lidya tertidur, Gibor menghentikan pijatannya dan tidur sembari memeluk tubuh mungil Lidya.
Pagi hari yang cerah, Lidya terbangun dan melihat Gibor yang tertidur pulas memeluk dirinya.
"Oh lho sudah bangun?" Gibor melepaskan pelukannya dan mengucek matanya.
"Mmm... Gue bangunin lho yah?" tanya Lidya gugup.
"Gak kok. Lho udah baikan?" tanya Gibor mengambil posisi duduk.
"Iya. Terima kasih sudah merawat gue semalam"
"Sama-sama. Lagian gue gak mungkin biarin lho kesakitan seperti itu, apalagi lho itu sekarang sudah menjadi istri gue, jadi lho itu akan menjadi tanggung jawab gue.
"Nih. Gue gak tahu merek apa yang lho pakai jadi gue beliin semua merek. Lain kali kasih tahu gue apa yang lho butuhkan. Gue akan masak, lho bisa bersih-bersih dulu, jangan lupa ganti sprei nya. Lho bisa pilih yang lho suka, gue simpan di lemari yang itu!" Gibor menunjuk lemari besar dan meninggalkan Lidya sendiri.
"Sial ini banyak banget. Dia beliin gue pembalut? Gue aja masih malu untuk beli ini. Yang perempuan siapa sih? Dan sprei nya...
Sial banyak banget. Dari tadi dia lihat ini? Kok gue gak sadar sih... Malu banget sumpah. Semuanya kotor sekarang." Lidya memegang pipinya yang merah merona.
__ADS_1
"Tapi dia bisa romantis juga, untuk mengurangi kecanggungan gue dia langsung pergi. Dia juga perhatian. Walaupun dia sangat dingin tapi so sweet" Lidya tersenyum dan segera membersihkan dirinya. Setelah siap mandi, ia merapikan tempat tidurnya dan mencuci sprei yang penuh dengan cat merah itu.
Lidya turun ke lantai satu dan melihat banyak makanan yang terletak di atas meja makan.
"Lho udah siap?" tanya Gibor memegang mangkok yang berisi sup.
"Mmm... Lho yang masak ini semua?" tanya Lidya tidak percaya melihat makanan yang terlihat lezat itu.
"Tentu saja. Emang menurut lho, siapa lagi yang ada di sini?" Gibor melekatkan sup nya dan duduk.
"Apa ini enak?" tanya Lidya dengan penuh curiga.
"Coba aja dulu" Gibor mempersilahkan Lidya untuk duduk.
"Ini terlihat enak. Tapi siapa yang tahu rasanya?" Lidya mencicipi makanan yang ada di depannya satu persatu.
"Tidak buruk. Tapi kenapa hanya satu mangkok sup dan kebanyakan sayur?"
"Lho itu lagi dapat, jadi butuh ini semua"
"Tapi gue gak suka makan sayur"
"Tidak ada tapi... Lho harus makan ini semua! Lho itu harus patuh. Gue gak mau punya istri yang kekurangan vitamin."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi...!!!" Gibor menyendok sayur yang banyak ke piring Lidya.
Dengan perasaan enggan, Lidya memakan sayuran yang ada di piringnya. Ia ingin memuntahkan sayuran yang ia makan, tetapi melihat tatapan Gibor yang tajam, ia mengubur dalam niatnya dan menghabiskan makanan dan sup nya.
"Nih udah siap. Puas kan lho?" bentak Lidya sekalipun ia tahu itu juga untuk kebaikannya.
"Bagus! Lho harus menghabiskan makanan yang gue masak, karena itu demi kebaikan lho sendiri." Gibor membereskan piring kotor dan membersihkan meja makan.
"Gue bantu yah?!" ucap Lidya mendekati Gibor
"Tidak usah! Lho lagi sakit jadi nikmati saja hari santai mu"
"Tapi gue udah sembuh. Rasa sakitnya juga hanya sebentar walaupun mematikan sih"
__ADS_1
"Udah. Lagian lho juga jarang santai kan? Nikmati saja karena setelah lho udah siap, gue gak akan bantu lho soal pekerjaan rumah"
"Iya bawel..." Lidya meninggalkan Gibor yang mencuci piring dan duduk di sofa menonton film.