Dijodohkan

Dijodohkan
Ronde


__ADS_3

“Mereka memang keterlaluan! Mangil dan menyuruhku pulang seenaknya.” Sita menggerutu di sepanjang jalan sambil mengemudikan mobil yang ia kendarai.


Di tengah-tengah pusat kota Sita mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Karena di luar sedang hujan oleh sebab wanita itu mengurangi kecepatan menjaga pandangan agar tetap stabil.


“Kalau saja bukan karena Zie, aku nggak mingkin hujan-hujan begini berada di luar rumah!”


Walaupun dia dibuat kesal, tapi ia juga bahagia akhirnya bisa melihat temannya itu hidup bahagia dengan suaminya. Meskipun mereka disatukan dengan 'Dijodohkan' oleh kedua orang tuanya. Kalau saja waktu itu Sita menerima perjodohan itu, apakah mungkin dia akan bahagia dengan suaminya saat ini? Sita terus saja bergulat dalam benaknya.


“Bukankah itu, Rio?” Mata Sita tertuju kepada cowok yang berdiri di tepi jalan berteduh di halte. Sita menepikan mobilnya menghampiri Rio.


“Rio! Ayo cepat naik!” pekiknya dari dalam mobil membuka pintu mobil dari dalam, supaya mempermudah Rio masuk.


Sita datang di waktu yang tepat, Rio hampir satu jam berdiri di sana sedang mencari tumpangan. Motor yang ia kendarai mati di tengah jalan. Cowok itu segera masuk ke dalam mobil setelah mendapat ajakan Sita. Karena keadaan hujan semakin deras ia tidak ingin lebih basah lagi.


“Terima kasih Sita. Ternyata kamu punya jiwa sosial juga ya?” ucap Rio yang baru duduk di jok depan sebelah Sita.


Sita memandang malas dan tidak menanggapi Rio. Jika ia meladeninya tidak akan ada ujungnya, akhirnya berdebat, cemooh itu akan terjadi jika ia membuka mulut sedikit saja.


“Mobilmu ini nyaman ya Sita.” ucap Rio lagi, matanya memutar melihat sekeliling mobil.


Sita bersikekeh tidak mau menjawab pandangan lurus ke depan, menjaga keseimbangan.


Sedangkan Rio matanya terus saja berkelana, melihat wanita disampingnya dari ujung kaki sampai kepala. Ternyata gadis ini cantik juga, namun sayang, gadis itu mempunyi sifat sangat galak dibanding kedua temannya.


“Sita kenapa sih, kamu sampai sekarang belum menikah?” Tanya Rio mencoba mengajak Sita bicara lebih akrab.


“Bukan urusanmu!” jawab Sita ketus, pandangannya lurus ke depan. “Dia sendiri belu nikah, kenapa tanya aku begitu?” Cih! gumamnya.


“Sita, apakah kamu sudah punya pacar?" tanya Rio mengusik Sita yang sedang serius mengemudi. Untuk saat ini jangan mengajak bicara Sita. Ia sedang tidak ingin bicara dengan cowok disampingnya atau dia akan marah selayaknya harimau kehilangan induknya.


“Sita, kenapa kamu diam? Kamu gerogi ya ... satu mobil denganku?” canda Rio. Menggoda Sita.


Rupanya Rio menguji kesabaran Sita. Gadis itu melajukan mobil sekencang mungkin, membuat Rio merinding.


“Sita apa kamu sudah gila! Turunkan kecepatannya!” pekik Rio tanganya berpegangan kuat. Ia masih sayang dengan nyawanya. Melihat raut wajah gadis disampingnya membuat merinding. Melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


“Sita komohon hentikan! Aku masih mau melewati hidupku dengan bahagia!” pekinya lagi. Sita tetap bersikekeh, tanpa medengar Rio sedikitpun.


Sita melajukan mobil sangat kencang hingga membuat Rio memejamkan mata. Jangan nabrak, jangan nabrak, aku masih mau hidup .... Pinta Rio dalam hati.


Dalam waktu bersamaan dengan tiba-tiba Sita menginjak rem menda-dak. Rio yang belum siap pun terbentur kedepan. Meski tidak luka, namun itu berhasil membuat cowok itu meringis kesakitan memegangi dahinya.

__ADS_1


“Turun.” kata Sita yang baru memberhenti-kan mobil. Pandangannya lurus tidak menoleh tetap menyorot kedepan.


“Turun kemana? Ini masih jauh dari rumahku.” kata Rio bingung. Sebenarnya apa yang salah dengan kata-katanya sehingga Sita murka.


“Aku bilang turun, ya turun! ” Pekik Sita.


Karena Rio tidak mendengarkan. Gadis itu keluar di bawah rintikan gerimis ia turun menutupi kepala dengan tangan. Dan membuka pintu sisi kiri mobil.


“Keluar!” Sita menatap Rio. Tangannya


membukakan pintu supaya cowok itu leluasa keluar.


Yakin Sita adalah cewek tergalak yang pernah Rio temui. Dia lebih galak dari pada apapun. Rio kekeh tidak mau keluar, bagaimana bisa ia berjalan kaki dalam keadaan masih gerimis yang masih membuat pakaian basah.


“Kamu gila? Bagaimana aku bisa keluar dalam keadaan seperti ini. Ayolah jangan begitu ... aku janji nggak banyak tanya lagi. Kalau aku bicara kamu boleh turunkan aku dimana pun, yang kamu mau.” Pinta Rio, memohon kepada Sita yang berdiri kekeh.


“Oke! Aku akan mengantarmu sampai rumah. Tapi janji jangan bertanya apa pun. Kalau kamu banyak bicara, aku akan turunkan kamu di sungai.” Sita kembali menutup pintu disamping Rio dengan keras.


Sehingga membuat Rio terperanjak. “Pantas saja dia di juluki perawan tua. Mana ada cowok yang berani mendekati harimau buas seperti dia.” Gumam Rio, yang melihat Sita berjalan menuju jok pengemudi.


Sita melanjutkan mengemudi, tanpa ada suara mengganggunya. Rio mengunci rapat mulutnya, demi ke-amanannya ia harus manaati perkataan Sita. Itu lebih baik dari pada dia harus jalan kaki. Karena malam-malam seperti ini sangat sulit menjumpai angkutan umum.


“Akhirnya ... sampai juga, ke rumahku.” Rio menarik napas lega, akhirnya ia bisa diam sampai di depan rumah. Sehingga tidak membuat Sita menurunkan ke sungai.


“Sita apa kamu yakin, nggak mau nikah?”


Sita mulai menarik napas menahan kekesalan.


“Sita, apa kamu wanita normal?” goda Rio lagi.


Kesabaran Sita sudah diambang batas. Ia dengan cepat menekan tombol penutup kaca. Dan kaca mobil berangsur naik.


Rio kaget saat kaca berangsur naik. Untung saja dia segera mengeluarkan tangan. Kalau tidak segera mengeluarkannya, tangan itu bisa diamputasi gara-gara wanita galak itu.


Tanpa memerdulikan Rio, Sita melanjutkan mengemudi. Dan Rio hanya menggeleng kesal.


“Cewek itu gila dari pada yang kubayangkan.” Rio berjalan masuk kerumah.


——


Di pagi hari.

__ADS_1


Ziara penuh semangat pagi ini, bagaimana tidak. Ia akan mengunjungi makam orang tuanya. Semoga rencana yang ingin ia lakukan hari ini. Akan sedikit mengurangi rasa rudundu kepada orang tuanya.


“Sayang, ayo bangun dong ... bukanya kamu janji semalam, mau mengajakku ke makam.” Ziara menggoncang-goncang tubuh Raka yang masih tidur nyaman enggan untuk bangun.


“Sayang ayo lah ....” Karena tidak mendapat respon Ziara mencoba mengacak-acak rambut suaminya supaya terganggu.


Namun bukanya bangun, Raka justru berpaling dan menutup kepala dengan bantal.


Ziara mengerucutkan bibir, ia kesal karena Raka tidak mau bangun. Mungkin dengan cara lain suaminya itu akan bangun. Melihat tubuh Raka tidak mengenakan pakaian, dan nampak menggoda mata wanita itu mulai berpikiran nakal, akan menjahili Raka.


Berangsur-angsur ia mengelus dada bidang Raka. Gadis itu terkikih dengan tingkahnya sendiri. Cukup lama jari-jari itu berkelana tapi, Raka tidak menunjukan respon. Ziara menyerah bangun atau tidak itu terserah. Ia kini menusuk-nusuk dada itu dengan jari sambil memikirkan sesuatu.


Raka terkikih dari balik bantal. Ia sengaja pura-pura tidak bangun dan tidak merespon Ziara. Raka ingin tau sampai mana istrinya itu menggoda. Ia merasakan tangan Ziara berkelana di area perutnya. Sungguh ia tidak bisa menahan lagi. Dengan cepat Raka menarik tangan Ziara hingga membuat gadis itu terjerambah di atas tubuh. Dan membuat wajah wanita di atasnya itu bersemu malu.


“Nakal!” ucap Raka suara khas bangun tidur. Ia mencubit manja hidung Ziara. “Siapa sih, yang membuat nakal begini?” Menatap menggoda.


“Memangnya siapa lagi?” jawab Ziara metanya menggoda Raka.


“Lanjut!” perintah Raka. Tangannya berkelana di punggung istrinya.


“Lanjut apa?”


“Ronde!”


“Bukanya semalam sudah?”


“Ahhh sudahlah!”


Dan terjadilah sesuatu diantara mereka. Setelah selesai dengan aktifitas ranjang. Mereka mandi dan bersiap akan ke makam orang tuanya.


Setelah beberapa jam perjalanan kini mereka sampai ke tempat tujuan. Ziara berjalan yang di iringi Raka di belakang. Mereka nampak serasi mengenakan pakaian warna hitam dan kaca mata hitam.


Setibanya di makam orang tuanya Ziara dan Raka berdoa cukup lama. Setelah berdoa dia memandangi batu nisan sang ayah. Entah kenapa ini terlalu cepat untuk dia, dalam sekejab ia harus kehilangan orang yang di sayangi dalam kurun waktu bersamaan.


Namun jika takdir sudah ditentukan kita tidak menggugatnya. Siapa yang bisa merubah takdir? Mau tidak mau itu harus kita jalani dengan ikhlas.


“Ayah, lihatlah aku datang dengan siapa?” Ziara menggengam tangan Raka.


Aku datang dengan laki-laki pilihan ayah. Kami bahagia saat ini ... itu semua karenamu. Ayah ... meskipun kalian tidak hadir bersama kami di sini, Zie, harap kalian bahagia disana. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik seperti yang ayah dan ibu katakan.”


Ziara meneteskan air mata. Bagaimanapun rasa rindu itu ada sampai kapan pun kasih sayang orang tua yang ia dapat tidak akan bisa terlupakan. Ziara terus saja menangis sedangkan Raka memeluknya ia ingin Ziara menumpahkan rasa rindunya walau dengan menangis.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, KOMEN, LOVE.


Cerita berlanjut ya... jadi author sudah sering mengatakan kalau UPDATE diadakan Satu hari sekali.


__ADS_2