Dijodohkan

Dijodohkan
Ke Dokter


__ADS_3

Hari ini di sela-sela kesibukan, Raka menyempatkan diri untuk pulang lebih awal karena ingin menemani Zia ke dokter kandungan yang sudah disepakati sebelumnya. Dokter Vino sudah mempersiapkan jadwal pertemuan dengan dokter spesialis kandungan yang sudah tidak diragukan lagi keahliannya dalam menangani para pasien-pasiennya.


Mereka menuju rumah sakit di sepanjang jalan Zia terlihat menutup mulutnya karena rasa mual masih menghantui sampai saat ini. Raka terlihat khawatir tetap memandang sang istri di sela-sela mengemudinya.


“Tolong berhenti, sayang, aku mau muntah.”


Melihat sang istri menahan mulut dengan tangan, Raka tanpa beralih memandang Istrinya dan menjaga keseimbangan menyetir segera menepikan mobil dipinggir jalan.


Dengan cepat Zia membuka pintu mobil, tetapi lagi-lagi tidak ada sesuatu yang ia keluarkan. Perempuan itu menyandarkan kepala di punggung jok tempat duduknya.


“Apa masih mau muntah, sayang?” tanya Raka menatap lekat sang istri.


Zia mengangguk membenarkan bahwa rasa mualnya masih ada namun perlahan-lahan sudah mulai berkurang. Tubuh wanita itu memang terlihat lemas, lunglai tidak berdaya.


“Maafkan aku ya, sayang ... demi buah hati kita kamu harus seperti ini. Terima kasih sayang aku mencintaimu, dan calon anak kita. Aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian. Terima kasih kamu sudah merelakan tubuhmu, untuk mengandung anak kita, walaupun kamu tau setelah ini tubuhmu akan berubah tidak seperti dulu lagi. Terima kasih ....” Raka yang menggenggam tangan sang istri mencium tangan dengan lembut. Ia merasa kasihan melihat Zia lemas.


Zia tersenyum tipis mendengar kalimat Raka yang membuat hatinya berdebar. “Kenapa harus minta maaf, sayang? Aku menikmati semua ini dengan senang hati. Apa kamu tau?” perempuan masih sedikit lemas itu menarik tangan suaminya lalu meletakkan di perutnya yang masih rata itu.


“Di dalam sini ada buah cinta kita, dia akan menambah kelengkapan sebuah keluarga. Tidak akan terulang lagi masa kehamilan anak pertama kita setelah ia lahir nanti. Kehamilan adalah moment berharga bagi seluruh wanita di dunia ini, jadi tidak usah merasa bersalah atau khawatir kepadaku. Aku sangat menikmati masa-masa ini.”


“Aku hanya kasihan kepadamu, melihat kondisimu aku tidak tega. Apa setiap perempuan mengandung seperti ini?” tanya Raka memandang ingin tahu.


Zia menggeleng rasanya ia tidak sanggup untuk bicara tetapi ia butuh menjelaskan kepada Raka. Perempuan itu tersenyum dan berkata, “Tidak semua wanita mengalami siklus kehamilan sama, ada yang tidak merasakan perbedaan apa pun, ada juga yang sepanjang hari hanya muntah seperti aku ini. Ayo kita jalan yuk! nanti bisa tertambat menemui dokter.”


“Seperti permintaanmu, sayang.” Raka menghidupkan mesin mobil lalu mereka berdua pergi menuju rumah sakit.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, Zia terlihat mulai merasakan hal tidak nyaman dari perutnya. Perutnya kembali seperti di aduk-aduk hingga membuatnya mual.


“Aku cari kamar mandi dulu ya, sayang. Sudah tidak tahan.” Raka pun mengangguk. Zia segera berlari masuk ke kamar mandi umum rumah sakit yang tidak banyak orang itu. Sedangkan Raka menemui resepsionis untuk bertanya kedatangan dokter kandungan yang sudah melakukan registrasi terlebih dulu melalui telepon dan Vino.


“Tuan Raka!” Sapa seseorang dari arah belakang sang pemilik nama pun menoleh saat mendengar namanya disebut.


“Nona ....?” Raka mengingat-ingat nama seseorang di hadapannya, seperti mengingat tetapi siapa?


“Nona Vita.” Perempuan tersebut menyambung pertanyaan Raka. “Sedang apa kau di sini, Tuan? Bukankah ini rumah sakit bersalin? Lantas kenapa kau ada di sini?” tanya Vita penasaran melihat partner bisnisnya itu berada di rumah sakit bersalin.


“Aku menemani istriku memeriksakan kandungan. Untuk pertama kalinya aku akan melihat keadaan anakku yang masih di dalam perut istriku. ” Raka bercerita dengan wajah berbinar.


Wajah Vita seketika kaku mengerjapkan mata berulang-ulang. Raka mengatakan kalau sedang menemani istrinya? Ia tidak menyangka lelaki itu ternyata sudah beristri dan sekarang istrinya itu sedang mengandung.


“Wah ... selamat, Tuan. Aku turut bahagia mendengarnya, semoga kehamilan istri anda lancar sampai bayi lahir ke dunia ini,” ucapnya dengan senyum kaku.


“Aku sedang memeriksa data-data laporan rumah sakit. Oh iya, bisa tidak kita memanggil dengan tidak terlalu formal. Jadi canggung, tidak enak banget dengarnya.” Vita tertawa. Ia tidak suka jika terlalu formal kepada seluruh partner atau para pekerjanya. Vita adalah wanita ramah, bersahaja akan membuat siapa saja yang baru berjumpa akrab dengan cepat.


“Oh ya, baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggil dengan sebutan namamu, ‘Vita’ dan begitu sebaliknya kau juga harus memanggil dengan namaku.”


“Setuju!” Vita kembali tertawa. Mereka berdua banyak bicara di sana, sebegitu asyiknya sehingga Raka lupa pertanyaan untuk resepsionis.


Zia baru saja melepas rasa mual yang ia rasakan di kamar mandi. Dengan lemas perempuan itu keluar dari sana. Tubuhnya lunglai seperti tidak kuat lagi untuk berjalan. Ia melawati tremester ini dengan berat sehingga terus saja muntah sepanjang hari. Tapi baginya ini adalah sebuah nikmat yang tiada tara.


Setibanya di loby Zia melihat Raka sedang bicara dengan seorang wanita. Ia memperhatikan perempuan yang tampak begitu akrab dengan Raka itu. Ia pun menghampiri suaminya lalu bertanya, “Siapa dia, sayang?” tanyanya saat berdiri di samping Raka.

__ADS_1


“Zia kamu sudah selesai?” tanya Raka lalu melingkarkan ke pundak sang istri.


Zia pun menjawab dengan senyuman.


Dengan bangga Raka menggandeng istrinya itu dan memperkenalkan kepada Vita. Mereka berdua pun saling berkenalan tidak butuh lama mereka saling akrab, hingga melupakan Raka yang berada di samping mereka. Sampai akhirnya perawat memanggil Zia karena telah tiba saat Zia menemui dokter.


“Oke saatnya kamu masuk, sampai jumpa lagi Zia. Aku harap kita bisa mengobrol lagi dilain waktu,” ucap Vita melepas pelukan lalu Zia dan Raka masuk ke ruang dokter.


Setibanya di ruang dokter Zia ditemani Raka di sampingnya berkonsultasi tentang keluhan-keluhan saat ini. Sesudah menyampaikan kelu kesah Zia di perintahkan dokter Anin untuk berbaring di ranjang. Dokter Anin akan melakukan Ultra Senografi kepada perempuan yang baru pertama merasakan mengandung itu.


Perawat mulai mengoles gel yang membuat Zia merasakan dingin di perutnya. Raka duduk di samping dengan setia menggenggam tangan sang istri siap menatap layar yang akan memperlihatkan anaknya dari dalam perut.


“Kita mulai ya ....” Dokter yang duduk di sisi kiri ranjang itu pun mulai mengerakkan benda di tangannya. Pelan-pelan benda itu merayap di perut, hingga membuat Zia menahan geli. “Geli ya, Zia? Kamu belum terbiasa saja lama-lama juga biasa,” ucapnya sembari mata menatap layar di hadapannya untuk menemukan keberadaan janin di perut Zia.


“Bisa lihat sendiri, Tuan-nyonya. Ini adalah anak kalian.”


Raka segera bangkit untuk melihat lebih dekat. Ia tidak kehilangan moment ini.


“Memang belum terlihat, Tuan, karena usia kehamilan masih menginjak tiga minggu. Tapi ... sudah dipastikan anak anda dalam keadaan sehat,” ucap dokter masih menatap lekat layar memastikan dengan teliti.


Setelah mendengar pernyataan dari dokter. Raka mengecup kening sang istri dan Zia membalas dengan tersenyum, akhirnya dia lega mendengar kabar kalau calon anaknya baik-baik saja. Dokterpun melanjutkan memutar benda itu memeriksa secara keseluruhan.


MOHON MAAF JIKA BANYAK KESALAHAN PENULISAN.


Sebenarnya Author mau kasih bocoran tentang Vita. Jika kalian pembaca dari awal Dijodohkan pasti tau di chapter berapa gitu aku juga lupa.

__ADS_1


Ada seorang gadis sewaktu Raka dibully sama teman-temannya. Di situ ada anak perempuan menolongnya. Nah... Vita lah gidis itu. Jangan banyak yang protes ya, kak. Soalnya ini alur sudah saya susun dari jauh hari. 🙏🙏


TERIMA KASIH...


__ADS_2