
" Jadi yang waktu lo ngomong itu beneran Na, sejak kapan??? " pada akhirnya, Ellena memilih menceritan pernikahannya pada Sarah, sahabat satu-satu nya yang dia punya.
Sarah memang gila, dan sedikit mempunyai kewarasan. Tapi, dia mempunyai solidaritas yang tinggi. Rahasia apapun yang Ellena ceritakan pasti akan di pegang erat oleh Sarah.
" Jadi Na, apa kamu udah? " Sarah menyatukan kedua tangan nya, seperti mulut yang saling beradu. Sambil cekikikan, sedangkan Ellena yang melihat tingkah nya mendengus dengan sebal. Tahu betul apa yang di maksud Sarah.
" Menurut kamu? pernikahan ini tuh belum aku terima Sar, aku tuh kaya mimpi tahu gak. pikir aja deh, usia dini begini udah punya suami. "
" Eh, kok sedih sih Na. Ya ampun, jangan mewek. "
" Gue gak secengeng itu. " Ellena memukul tangan Sarah, ketika gadis itu tengah mengusap lengannya.
" Ya kali aja, haha "
" Tapi Na, jadi rencana lo apa sekarang? " tanya Sarah, sembari menyesap minuman yang tengah ia pegang.
Kedua anak gadis tersebut tengah berada di Taman, tadi setelah bel pulang Sekolah berbunyi Ellena langsung mengajak Sarah ke Taman. Sebenarnya sudah sangat lama Ellena ingin menceritakan perihal pernikahannya. Hanya saja Ellena masih mempertimbangkan apakah harus ia bagi, atau malah di pendam.
Dengan memegang minuman di tangan masing-masing, dua anak gadis tersebut menandang ke atas, melihat langit biru yang memabukkan mata. Meski kadang terdengar helaan nafas dari keduanya.
" Jadi apa lo sudah menerima kenyataan yang sedang lo alami Na? "
" Gak tahu, masih banyak yang harus aku kejar. pernikahan berada dj urutan paling akhir. "
" Kenapa tidak mencoba menerima? toh kalian sudah terikat. Eh laki lo yang mana sih? yang waktu itu cariin lo bukan? "
Ellena hanya mampu mengangguk dengan lesu, entah takdir seperti apa yang sudah di rencanakan oleh Tuhan. Hanya saja ia merasa tidak adil dengan keadaan yang tengah ia alami sekarang.
" Na, nikah itu bukannya enak yah? " Sarah sudah duduk menghadap Ellena, wajahnya terlihat serius dan sedikit terlihat bodoh.
" Mana aku tahu, kami kan baru satu bulan. Dan di antara kami jarang ada perbincangan. interaksi seprerlunya. "
" Itu yang buat lo sulit, kalian berdua berarti belum mengenal satu sama lain? "
" Jangan kan saling mengenal, ngomong aja seperlunya. "
" Ya ampun Na, lo emang pinter dalam hal pelajaran. Tapi kaya begini doang bego nya gak ketulungan. "
" Gini yah Na, suatu hubungan itu harus saling komunikasi. Banyak ngomong kalo lo gak ngerti komunikasi, bukan berarti lo harus cerewet yah. Contohnya nih, lo minta pendapat dia atau gak lo coba cerita keseharian lo, seenggak nya lo bakal tahu apakah dia peduli dengan lo atau malah sebaliknya. "
" Meski gue belum punya pengalaman tentang menikah seenggak nya gue pernah menjalin hubungan dengan cowok, gak kaya lo lurus kaya jalan tol. "
__ADS_1
Sebenarnya, Ellena sudah mempertimbangkan semuanya. Dia dengan Aziz sudah mulai dekat, hanya saja apakah itu pertanda jika Aziz sudah menerimanya atau hanya karena sebuah setatus.
Suara handphon yang berbunyi membuyarkan lamunan Ellena, dan juga mengaget kan Sarah yang masih nyerocos memberi nasehat kesana-kesini.
" Buset lo budeg apa Na, itu nada dering keras amat. sampe sakit telinga gue. " Kemudian Sarah menggosok telinganya dengan keras, akibat mendengar suara dari handphon milik Ellena.
" Sejak kapan jadi sekerang ini? " Bingung Ellena setelah mengambil benda pipih tersebut.
Di lain tempat, Aziz kelimpungan mencari sang istri. Padahal sudah dia katakan jika pulang nanti dirinya lah yang akan menjemput. namun sang istri justsu malah sudah tidak ada di area Sekolah.
" Anak-anak sudah pulang sekitar satu jam yang lalu mas, guru-guru memulangkan mereka lebih awal karena ada rapat. " ujar pak Agus satpam Sekolah Ellena.
" Satu jam yang lalu yah? " ulang Aziz, kemudin dia mengecek apakah istri nya itu mengabari nya atau malah sengaja tidak memberitahu kan nya. tidak ada pesan apapun dari Ellena, berarti istri nya itu sengaja tidak memberitahu kan dirinya.
" Makasih pak, mungkin dia sudah pulang. " Ujar Aziz kemudian, mulai mengendarai mobilnya meninggalkan halaman Sekolah.
" Halo Bi, saya Aziz. Apa Lena sudah pulang? "
" Belum, non Ellena belum pul- siapa bik? ini mas Aziz bu. Biar saya yang bicara. "
" Hallo Aziz, ini mama. Ada apa? "
" Oh, dia belum pulang mungkin masih di dalam kelas. "
" Iya mungkin, saya tutup mah. "
" Iyah. "
Lalu kemana perginya istrinya itu, Aziz mengusir pikiran buruk tentang Lena. Dia sudah banyak mendengar cerita tentang Lena. Dan semua cerita yang dia dengar tidak ada yang negative. Tapi yang namanya ABG tetap lah ABG, mempunyai kebisaan buruk seperti diri nya dulu.
" Ini yang tidak aku harapkan, dia masih muda. Mungkin sedang berpoya-poya dengan teman-temannya atau malah pacarnya. " Ucap Aziz, sambil tersenyum dengan miris.
Ellena langsung menelpon balik nomor yang menghubungi nya barusan, deringan kedua orang tersebut baru mengangkat panggilannya.
" Kenapa? "
" Kamu dimana? suami kamu tadi nelpon ke Rumah. jangan keluyuran yah Lena, kamu itu-
" Aku di Taman, sama Sarah mah. kalo mau jemput kesini aja, Taman belakang Sekolah. " kemudian Ellena mematikan secara sepihak panggilan tersebut, tidak tahu saja di sebrang sana sang ibu sudah mengeluarkan sumpah serapahnya.
Aziz menepikan mobilnya, ketika melihat ada notif masuk kedalam handphone nya.
__ADS_1
Tante Della
Ellena ada di Taman belakang Sekolah
Setelah membaca notif tersebut, Aziz langsung putar balik dan bergegas menuju Taman sesuai pesan yang dia baca.
" Nyokap lo? "
" Hm, menantunya tadi nelpon ke rumah. "
" Wah jangan-jangan suami lo mikir jelek lagi Na!!"
" Terserah lah. "
" Gue balik deh, entar si Denis ngamuk lagi gue kelamaan perginya. "
" Cih dasar bucin, yaudah sana. "
Baru Sarah berdiri, dan membenarkan seragam Sekolah nya. Seorang pria terlihat berjalan mendekat ke arah mereka.
" Ellena? "
Keduanya kompak melihat ke arah belakang, namun dengan pandangan yang berbeda. Ellena dengan wajah datar nya, sedangkan Sarah dengan wajah yang penuh binar.
" Na, dia-
" Suami gue. " jawab Ellena, kemudian berdiri dan menepuk rok sekolah nya.
" Ya ampun, laki tulen ini mah. " ucap Sarah dengan kegirangan.
" Udah sana, katanya mau pulang. Entar si Denis marah. " ucap Ellena, mendorong pelan punggung Sarah.
" Hiss bilang aja mau berduaan, gue balik deh. Entar bulanan gue di potong lagi. Pulang yah Na, awas hati-hati hihi. " Pamit Sarah, kemudian ngacir meninggalkan Ellena dan juga Aziz.
" Pulang? " Tanya Ellena dengan Jutek.
Aziz hanya mengangguk, dan berjalan lebih dulu.
Ternyata benar batin Aziz tersenyum
Sedangkan Ellena gadis tersebut mendengus dengan sebal, mengikuti langkah Aziz yang begitu lebar.
__ADS_1