
Hallo semua ada yang kangen aku nggak? enggak ya kasihan deh aku...
Selamat membaca...
Setelah menyatukan cinta mereka dengan dijodohkan yang banyak liku-liku yang mereka hadapi. Bahkan harus ada korban untuk menyatukan ego masing-masing entah ada berapa perasaan yang tersakiti demi bersatunya cinta mereka. Bahkan orang tua pun ikut menjadi korban demi menyatukan anaknya.
Seminggu setelah datang dari bulan madu dari Italia hidup Zia dan Raka berjalan normal. Seperti pasangan lainnya pagi bekerja dan pulang pada sore hari bahkan kadang pulang hingga larut malam. Sehingga mereka berdua tidak memiliki cukup waktu untuk menghabiskan bersama. Terlebih lagi perusahaan Raka saat ini sedang mengalami masalah jadi waktu Raka hampir setiap hari dihabiskan di luar untuk mengurus perusahaan.
Begitu juga sebaliknya toko kue Zia semakin hari semakin banyak pengunjung dan berkembang sehingga membuat dia menghabiskan waktu seharian di sana. Bahkan ia ingin membuka beberapa cabang di luar kota yang membuat tokonya semakin berkembang.
Saat mereka berdua pulang ke rumah hampir jarang bertatap wajah dan berbicara. Tidak jarang Zia ketiduran di sofa saat menunggu kepulangan Raka yang terlalu larut malam seperti yang dia lakukan sekarang.
Hari ini Zia sengaja memutuskan untuk pulang sedikit cepat dari biasanya. Dia ingin memasak untuk suaminya karena sudah lama ia tidak memasak untuk Raka. Sebelum Zia pulang dia menelepon Raka bertanya apa malam ini suaminya itu pulang malam atau tidak. Dan Raka mengatakan kalau dia akan secepatnya menyelesaikan urusannya dan segera pulang akan tiba di rumah saat makan malam.
Zia pun dengan senang hati memasak dan melupakan rasa lelahnya demi memasakan makanan kesukaan sang suami. Tanpa di bantu pelayan ia terlihat semangat dan terampil dalam hal memasak.
Setelah selesai memasak ia memutuskan untuk mandi dan menyiapkan linggrie untuk ia kenakan nanti saat mereka selesai makan malam.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Makan-makanan sudah tersusun rapi di atas meja dan ia juga sudah selesai mandi kini waktunya untuk menunggu kepulangan Raka.
Zia menunggu seraya melihat ke arah jam yang menggantung dinding. Hingga beberapa kali ia mengganti posisinya dari duduk tiduran dan duduk lagi. Sudah lama ia menunggu sambil memainkan ponselnya tiduran di sofa. Tetapi Raka belum menujukan tanda-tanda pulang. Zia mencoba menelepon, tapi tidak aktif mungkin sedang meeting batinnya.
Tidak terasa waktu semakin berlalu jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Entah sudah beberapa jam Zia duduk di sofa namun suaminya tak kunjung pulang. Hingga mata Zia begitu berat, ia mencoba melawan rasa kantuk itu supaya kalau suaminya datang ia ingin makan bersama. Tetapi rasa kantuk itu sangat berat hingga ia tidak bisa menahannya lagi. Wanita yang sedang menunggu kepulangan suaminya itu pun tertidur di sofa dengan masih memegangi ponselnya.
Raka terlihat lesu dan lusuh memasuki rumah yang sudah sunyi tidak ada tanda-tanda suara seseorang masih bangun. Ia pun segera ingin masuk kamar. Dan saat ia melangah menuju kamar melihat sesosok tubuh mungil dan wajah nampak polos beringsut seperti bayi di atas sofa. Raka mendekat menyelipkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh untuk di bawa ke kamar.
Zia yang merasakan tubuhnya terangkat setengah sadar ia mencium aroma tubuh Raka memenuhi indra penciumannya membuat ia nyaman dan semakin menenggelamkan kepala di dada bidang suaminya.
Setelah sampai di kamar Raka meletakan tubuh istrinya itu di atas kasur dengan lembut layaknya porselen mahal. Tak lupa ia memberikan kecupan di kening saat hendak beranjak dari sebelahnya. Saat cowok itu berbalik akan melangkah menuju kamar mandi. Tiba-tiba suara lembut khas bangun tidur istrinya memanggil.
“Jam berapa ini. Kenapa kau baru pulang, sayang?” tanya Zia sambil mengucek-ngucek matanya. “Aku lapar.” Rengeknya.
“Maaf Zia. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk,” ucap Raka merasa bersalah melihat istrinya lalu mendekat duduk di sebelah wanita yang ia cintai itu. “Aku janji ini tidak akan lama. Setelah menyelesaikan semua kita akan pergi bulan madu. Maaf ya, Sayang.” Raka memeluk dan mengecup pucuk kepala istrinya.
Rasa hangat pelukan yang diberikan Raka membuat Zia tenang hanyut dalam kenyamanan itu. “Mandi dulu sana, kamu bau acem,” ucap Zia menjauhkan kepala dari dada yang mendekapnya.
“Biar asem kamu suka, kan ....” Raka mencubit hidung kesukaannya itu. “Tunggu sebentar aku mandi, setelah mandi aku makan kamu. Maaf salah, kita makan.” Candanya.
Zia menyeringai mengejek. “Sengaja di salah-salahkan itu. Padahal maunya iya,” kekehnya.
“Ayok kita mandi.”
Ziara membelalakkan mata. “Bukannya kamu yang mau mandi? Kenapa jadi mengajakku? Ini kan sudah malam, lagian aku sudah mandi tadi sore,” ucapnya menarik selimut menutupi tubuhnya.
Tanpa menunggu aba-aba dari istrinya Raka menyingkap selimut yang di gunakan Zia sebagai perlindungan ia segera mengangkat tubuh itu membawa melangkah ke kamar mandi.
“Raka hentikan ini tengah malam, kumohon turunkan aku, aku tidak mau mandi!” Zia meronta bergeming.
“Au, ini dingin!” pekiknya ketika Raka memutar shower hingga mengguyur tubuh mereka berdua. Dengan masih mengenakan pakaian lengkap Raka memeluk tubuh Zia dengan erat.
“Tetap bersamaku. Jangan tinggalkan aku,” lirih Raka di bawah rentikan air napasnya menderu di leher Zia.
__ADS_1
Ada keanehan yang mengganjal di hati Zia. Ia merasa Raka sedang memikirkan sesuatu entah apa. Perempuan itu segera mengusir pikirannya ia ingin bertanya tapi ini masih dalam keadaan mandi mungkin setelah mandi akan bertanya.
Di tengah malam mereka mandi bersama. Melepas rindu setelah beberapa hari mereka cukup sibuk tidak ada waktu masing-masing untuk bersama. Setelah mandi bersama Zia terlihat memakai handuk kimono seperti biasanya. Sedangkan Raka sudah berganti pakaian piyama satin miliknya masih terlihat sibuk memeriksa ponselnya.
Zia melirik Raka yang ada di sebelahnya. Ia masih penasaran dengan kalimat yang diucapkan suaminya itu barusan di kamar mandi. Tidak seperti biasanya Raka selalu bercanda tapi itu terdengar serius dari hati. “Sayang, aku boleh tanya enggak?” ucapnya setelah meletakkan sisir.
“Apa yang ingin kamu tanyakan, sayang?” balas Raka sembari memainkan ponsel tanpa menoleh.
“Tentang ucapanmu barusan di kamar mandi.”
Raka menghentikan jarinya menekan ponsel. Ia mengingat apa yang baru di katakan di kamar mandi. Sepertinya kekhawatiran itu terlalu berlebihan. “Memangnya apa yang kukatakan di kamar mandi.” Mengusir pikirannya lalu kembali memainkan ponsel.
“Aku serius, tidak bercanda, sayang.” Zia menghela napas lalu mendekat.
Raka yang sibuk dengan ponselnya merasakan kasur beringsut pertanda seseorang duduk di sebelahnya. Namun dia masih terus menatap ponselnya.
“Apa kamu bisa dengarkan aku, sayang? Kalau aku tidak didengar lebih baik aku keluar, bicara sama pelayan. Mungkin mereka akan lebih mendengarkanku,” gerutu Zia. Ia mengerucutkan bibir dan bersedekap.
Drama dimulai.
Raka menghela napas. Ia lupa di sampingnya adalah istri yang sangat manja dan pemarah dalam hal apa pun. “Baikalah aku minta maaf. Apa yang akan kau tanyakan tadi?” Meletakkan ponsel di atas nakas.
“Pastikan ponsel itu sudah mati, sebelum kamu meletakkannya. Dia selalu mengganggu kita. Setiap kita berduaan pasti berdering. Menyebalkan sekali,” gerutu Zia sembari melirik ponsel Raka.
“Iya, ia bawel.” Raka mencubit hidung kesukaannya.
“Apa kamu mau membuat hidungku panjang seperti Pinokio, Raka? Selalu menarik hidungku setiap waktu.”
“Kenapa kamu mengatakan kalau aku jangan pernah meninggalkanmu? Apa kamu pikir aku akan meninggalkan seseorang yang aku cintai semudah itu, sayang?” ucap Zia menatap mata Raka. “Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui, sayang. Apa ada hal yang kamu sembunyikan dariku?” Menatap berharap Raka mengatakan sesuatu.
Namun Raka memalingkan wajahnya. Tidak mau istrinya itu membaca matanya. “Ak-aku tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu,” ucapnya tetapi matanya tidak berpaling ke arah Zia.
Benarkah?
Zia tidak percaya dengan jawaban yang diberikan suaminya itu. Ia ingin mengetahui yang sebenarnya tapi ini waktu yang tidak tepat. Karena sudah larut malam dan rasa lelah mendera akhirnya Raka dan Zia tertidur tanpa makan malam.
Gimana? Ada yang penasaran apa yang terjadi dengan Raka. Belum ya? hehehe
—
**Oh iya Jenny mau rekomendasikan karya Author seperjuangan. Silahkan mampir tinggalkan likom juga.
Judul : BUKAN PELAKOR
Pena : Thamie AK
__ADS_1
Judul: Promise
Pena: Light Queen
Judul : Kisah cintaku yang aneh
Pena : Rafi5904
MOY (My Only You)
Pena : versa
Judul: Cintaku Bukan Karena Uang
Pena: Muhammad Ridho
Judul : My kutub ketos
Pena : Bila-chan
Forgive Me
Pena : Senjahari_ID 24**
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMEN LIKE VOTE BUAT AUTHOR SAMAR YA😆
__ADS_1