
Sambil memainkan ponsel Zia tidak memedulikan Raka yang duduk di sampingnya. Bayangan mangga muda selalu terlintas di kepala, ia selalu membayangkan buah itu saat dipetik dalam keadaan masih segar ia akan memakan saat itu juga. Tetapi Raka jahat, tidak mau menuruti. Baiklah, Zia akan tetap diam sebelum permintaan itu terpenuhi. Ia memainkan ponsel membalas pesan chat dari karyawan yang berjaga di toko kue. Sebegitu asyiknya bercerita sehingga membuat ia hanyut dalam chat para karyawannya sehingga membuat dia senyum-senyum sendiri.
Raka mendengus kesal ternyata istrinya itu lebih memilih memainkan ponsel dibanding dirinya. Bahkan setelah bersusah-payah membuatkan makanan ia tidak mendapat ucapan terima kasih. Ia merapat ke sebelah Zia memeluk dari arah belakang tetapi wanita itu sama sekali tidak memedulikan. Ada rasa bersalah melintas di hatinya, tetapi ini demi kebaikan untuk dirinya sendiri. Raka mengangsurkan wajahnya di pundak lalu ke leher jenjang wanita yang tidak menghiraukannya itu, sehingga embusan panas napasnya menyeruak membuat si pemilik leher merinding merasakan geli. Lelaki itu pun mengangsurkan hidung ke belakang telinga sehingga membuat Zia menjungat kegelian, bibir disertai napas sensual itu mendekat dan berkata, “Aku akan menuruti kemauanmu. Asal ....”
Mendengar itu Zia seketika melirik ke arah Raka. Akhirnya suaminya itu memberikan kabar baik. Wanita itu segera membalik tubuhnya menghadap ke arah dada Raka. “Asal apa?” sahutnya antusias.
“Asal ... kamu sudah sanggup melayaniku.” Raka menguji istrinya, ia tahu kalau tidak mungkin Zia melayani kemauan dia karena kondisinya tidak memungkinkan akan mustahil jika istrinya itu mau.
Zia berpikir sejenak, memandang wajah Raka sembari menimbang-nimbang persyaratan dari suaminya itu. Setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya dia melayani, karena selain ia menginginkan mangga ia juga menginginkan Raka. Setelah menimbang, Zia tersenyum manaikan kaos Raka ke atas.
Raka seketika membelalakkan mata. Kenapa istrinya itu menerima tantangan yang ia berikan? Padahal ia hanya menggodanya saja supaya melupakan kemauan buah mangga. Tetapi kenyataannya sekarang istrinya itu sudah berhasil membuka kaos yang ia kenakan.
Sial!
Raka terbawa dalam suasana sesuatu di bawah sana sepertinya bereaksi lebih cepat dari pada dirinya. Ia mengusap wajah kasar putus asa, harus berpikir keras setelah ini bagai mana harus menemukan buah mangga yang baru dipetik dari pohon. Ternyata Zia lebih agresif dari pada biasanya sehingga tubuhnya tidak bisa menolak.
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu mengganggu aktivitas mereka yang baru saja akan di mulai. Raka segera bangkit hanya mengenakan celana tanpa kaos ia melangkah membukakan pintu. Sedangkan Zia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Ada apa, Bik?” tanya Raka setelah membuka pintu.
“Maaf Tuan, ada dokter Vino di bawah, katanya dia mau memeriksa Nyonya Zia,” kata bik Srie dengan segan.
__ADS_1
“Oh iya, suruh dia ke sini sekarang juga, Bik.”
“Baik Tuan.” Bik Srie pun segera pergi untuk menemui dokter Vino.
Setelah bik Srie menghilang, Raka segera memunguti pakaian yang berserak di lantai dan menyuruh Zia untuk memakainya lagi.
“Cepat pakailah, Vino sebentar lagi kemari.” Ia membantu memakaikan pakaian ke tubuh Zia yang terlihat mengerucutkan bibir itu. Dan sedikit merapikan rambut yang berantakan.
Dokter Vino pun tiba tepat waktu setelah Zia mengenakan pakaian lengkap. “Apa aku boleh masuk, Tuan ... Nona?” tanya Vino dari balik pintu yang sedikit terbuka.
“Masuklah!” balas Raka.
Vino di ikuti seorang perempuan itu pun masuk, melihat ke arah Zia berbaring yang ditemani Raka duduk di sampingnya.
“Selamat siang, Raka dan kakak iparku,” sapanya.
“Siang ... dokter Vino,” balas Zia memandang Vino, dan saat tubuh lelaki itu melangkah maju, mata Zia seketika membulat. Ia melihat pembantu lamanya. “Sari!” pekiknya saat Sari tersenyum kepadanya. “Sari ... apa kabar? Kita sudah lama tidak ketemu sejak pernikahanmu dulu.”
“Main dokter-dok teran ya?” sahut Raka dengan senyum mengejek. Sehingga membuat Zia tertawa.
“Baiklah, siapa di sini yang harus aku periksa?” tanya Vino memandang Raka setelah itu memandang Zia.
“Periksalah, Zia. Dia dari tadi pagi muntah-muntah terus, sepertinya magnya kambuh.”
Mendengar ucapan Raka Vino seketika berpikir. Mengenai gejala-gejala yang dia dengar sepertinya bukan mag, tapi ada hal lain. “Kakak apa kau pusing?”
Zia mengangguk.
__ADS_1
“Kakak kapan kau terakhir datang bulan?”
Zia memutar bola matanya untuk mengingat. “Satu bulan yang lalu ....” katanya dengan cepat.
“Kakak aku hanya ingin memastikan, pakailah ini.” Vino memberikan alat kecil berbentuk pipih dari tasnya untuk mengetes kehamilan.
Zia menerima tentunya dia sudah tahu bagai mana fungsi dan penggunaannya. Dia sudah sering melihat sinetron di televisi. Ia pun segera membawa alat itu ke kamar mandi. Raka tidak tau menahu apa maksud dari semua ini dia hanya diam menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Vino, Raka, Sari terlihat cemas menanti Zia keluar dari kamar mandi. Cukup lama wanita itu berada di dalam sana dan sampai akhirnya ada suara pintu kamar mandi terbuka. Seketika mereka secara serentak menoleh.
Zia dengan membawa alat tes kehamilan itu terlihat canggung berjalan ke arah Raka. Sehingga membuat suaminya itu cemas. “A—aku ... aku ...” dengan terbata-bata sehingga membuat Vino, Raka dan Sari penasaran ingin tau hasilnya.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Raka menaikkan sebelah alisnya.
“Aku ... aku ... aku hamil sayang!” pekik Zia histeris. “Sebentar lagi kita jadi orang tua ....” ucapnya menujukan alat tersebut kepada Raka.
Vino memeluk Sari menyaksikan momen mereka berdua.
Raka melihat alat itu terlihat dua garis berwarna merah di sana. Ia tidak tahu apa fungsinya itu, tapi mendengar ucapan Zia apa itu memang menunjukkan kalau Zia hamil. “Jadi?” Ia menatap wajah istrinya itu. Zia mengangguk membenarkan pertanyaannya.
Raka segera meraih tubuh Zia memeluknya erat membenamkan wajah wanita yang membuatnya bahagia itu ke dadanya. “Terima kasih sayang ... terima kasih ....” Raka menuangkan rasa terima kasihnya dengan mengecup kepala istrinya hingga berulang-ulang.
Zia pun semakin mempererat pelukannya tidak ingin kehilangan momen ini. Kebahagiaan ini sungguh tidak setara dengan apa pun sehingga air mata tidak terasa menetes karena terharu bahagia. Ia mengusap air mata bahagia itu melihat wajah Raka ternyata suaminya itu sama dengan dirinya Raka terlihat mengusap air mata bahagia.
Vino dan Sari pun tidak luput terbawa suasana haru saat ini. Mereka berdua pun ikut meneteskan air mata bahagia, mereka tahu jalan cinta mereka berdua banyak kesedihan yang mereka lalaui. Vino adalah saksi perjuangan cinta mereka, dia senang akhirnya dua orang yang tidak memiliki siapa-siapa itu pun akan hadir ditengah-tengah mereka seorang malaikat kecil. Sari memandang Vino dan begitu juga sebaliknya mereka berdua saling menatap ikut merasakan kebahagiaan.
Author pov Kalau boleh jujur aku ikut nangis tau ... tulisnya aku ikut terharu dengan kebahagiaan mereka😍🤧
__ADS_1
Nex ...
Yang punya poin boleh disimpan dulu buat Vote Othor hari Senin. Maciuw kakak yang rajin baca dan komentar positif kalian memang luar biasa...