Dijodohkan

Dijodohkan
Bonchap Season 2


__ADS_3

Langkah Raka gontai, saat keluar dari ruangan. Ia lemas saat Dokter mengatakan, wanita yang sedang hamil dengan penyakit jantung bawaan sianotik. Mereka memiliki risiko lebih besar akibat penurunan saturasi oksigen. Aliran pirau kanan ke kiri pada pasien dengan penyakit jantung bawaan sianotik dapat semakin meningkat akibat penurunan afterload sebagai konsekuensi perubahan hemodinamik selama kehamilan.


Peningkatan aliran pirau abnormal akan memperburuk sianosis maternal. Gangguan intrauterin, bayi berat lahir rendah, kelahiran prematur maupun aborsi spontan dapat terjadi. Tapi keadaan penyakit Zia sudah cukup parah, tidak punya kesadaran untuk memeriksakan diri sebelum hamil membuatnya terlambat mengetahui semua ini.


Dokter juga mengatakan, kalau seseorang yang mempunyai riwayat jantung bawaan, sebenarnya tidak dianjurkan untuk hamil, itu semua karena bisa mengancam nyawa ibu dan juga bayi. Oleh sebab itu, dokter Aine menyarankan pada Raka supaya membawa Zia pada dokter spesialis jantung yang khusus menangani penyakit jantung saat kehamilan. Supaya bisa memberi perawatan pada Zia dengan khusus jika bersikukuh mempertahankan bayinya walau harapan hidup sangat kecil.


Sakit, hancur, remuk itulah yang dirasakan oleh Raka saat keluar dari ruangan dokter. Saakan tidak mempunyai tenaga lagi untuk berjalan ke mobil, di mana Zia sedang menunggu. Ia bingung, harus memulai dari mana nanti saat mengatakan pada Zia, Mama Clarys dan juga Vita.


Seberat inikah cobaan yang di lalui Raka? Bagaimana ia harus melalui ini semua?


Saat tiba di depan mobil, Raka menatap Zia yang sedang termenung itu dengan wajah nanar, tidak terasa air matanya menetes dari kelopak. Ia segera mengusap air mata itu, mengatur nafas, menstabilkan degup jantung yang tidak karuan saat mendengar kabar dari sang dokter tadi. Ia sebisa mungkin mengangkat wajah, supaya tetap terlihat tegar dan kuat.


Zia butuh penyemangat. Kalau ia bersedih lalu siapa lagi, yang memberikan support menghadapi semua ini?


Akhirnya setelah kiranya sudah bisa kalau semua baik-baik saja, lelaki itu segera berjalan menuju mobil, untuk menghampiri Zia.


“Memangnya apa yang tertinggal, sayang? Kenapa kamu lama banget?” tanya Zia saat Raka membuka pintu mobil.


Raka tersenyum tipis memandang Zia seraya berkata, “Tadi ada beberapa penjelasan dokter-” Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi segera menahannya. Lelaki itu kembali melempar senyum dan mengusap kepala Zia hingga sedikit berantakan


Zia yang terheran dengan tingkah laku suaminya itu. Sedikit bertanya-tanya seperti ada yang ditutupi, tapi ... apakah itu?


“Apa ada masalah yang serius, sayang?” tanyanya menatap Raka yang memutar persneling membawa mobil ke luar dari area parkiran rumah sakit.


Raka hanya kembali tersenyum untuk menenangkan Zia. “Nanti kita bicarakan saat di rumah ya.” Ia meraih tangan istrinya itu lalu mendaratkan sebuah kecupan di sana.

__ADS_1


Wajah Zia tampak tegang, ia merasa entah kenapa akan ada masalah yang cukup serius. Sepanjang perjalanan ia terus saja menatap Raka yang tampak serius dalam mengemudi. Suasana tampak hening, mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan yang ramai kendaraan berlalu-lalang.


Saat memasuki rumah mereka disambut oleh Mama Claris. Wanita itu sudah tidak sabar ingin mendengar kabar perihal calon cucunya itu.


“Akhirnya kamu datang juga, Zia. Mama dari tadi cemas menunggu kedatangan kalian. Semua baik-baik saja kan, Raka?” tanyanya.


Zia menatap Raka yang hanya diam.


“Apa Vita ada di rumah, Mah?” tanya Raka.


“Dia kebetulan baru datang setengah jam yang lalu,” jawab Clarys. “Memangnya ada apa Raka?” Ia memandang Raka bertanya-tanya.


“Panggil dia, Mah. Ada yang harus kita bicarakan bersama, aku tunggu di ruang tengah. Ayo sayang.” Raka menggandeng istrinya itu membawa ke ruang tengah.


Selain tempat makan, ruang keluarga adalah tempat favorit untuk berkumpul mereka. Menyelesaikan masalah kalau salah satu keluarga ada masalah.


“Aku ingin kalian kuat mendengar ini, terutama kamu, Zia.” Raka menoleh ke arah istrinya itu.


“Ada apa ini? Kenapa kamu jadi seserius ini. Semua baik-baik saja kan?” tanya Zia.


Sedangkan mama Clarys dan Vita hanya diam. Menanti hal yang akan disampaikan oleh Raka.


Raka menghela napas, walau ia sudah berusaha untuk tetap tegar, tapi ini sangat sulit. Bahkan air matanya jika ia tidak menahan dengan sekuat tenaga akan terjatuh. Ini sungguh menyakitkan dari pada apa pun.


“Katakan, Raka. Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?” sahut Clarys. “Semua baik-baik saja kan, Raka? Tidak ada masalah dengan kandungan Zia kan?” Seolah bisa menebak dalam pikiran Raka ia ingin memastikan kalau kandungan Zia baik-baik saja.

__ADS_1


Raka menggeleng. Nyatanya semua tidak baik-baik saja, ia ditempatkan diposisi sulit. Seorang suami yang harus memilih istrinya? atau seorang ayah yang harus memilih anaknya?


“Semua tidak baik-baik, Ma.” Ia menjawab Mama Clarys, tetapi matanya mengarah ke Zia.


Seketika tiga orang wanita yang membutuhkan perlindungannya itu menoleh ke arahnya.


“Apa maksudmu, Raka? Kenapa kau bicara seperti itu. Tidakkah kau tau, kalau tidak boleh berucap sembarangan sewaktu istri sedang hamil-kamu-” Kata-kata Clarys terhenti saat Raka berkata,


“Kita harus menentukan antara Zia atau bayinya, Ma.”


Seketika tiga wanita itu menoleh ke arahnya. Terkejut, penasaran hartanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi sehingga Raka berkata seperti itu?


“Zia menderita penyakit jantung bawaan, Ma!”


“....” Zia membekap mulutnya sendiri mendengar keterkejutan ini.


Sedangkan Vita dan Clarys tampak syok mendengar semua ini. Mereka hampir-hampir tidak percaya.


“Kita harus memutuskan. Menentukan pilihan, Zia atau bayinya. Karena jika tidak mereka berdua akan-”


Raka tidak kuasa melanjutkan kata-katanya ia segera mendongak ke atas mencegah air mata yang keluar. Kalau boleh jujur saat ini ia ingin menangis hingga meraung-raung mengeluarkan semua beban dalam hatinya. Tetapi apalah daya, dia harus kuat untuk menguatkan keluarganya.


Sangat menyakitkan jika harus mengatakan kalau dia harus kehilangan dua-duanya. Zia adalah belahan jiwa, hatinya, hidupnya, Zia adalah segalanya. Ia tidak mau jika harus kehilangan istri yang sangat ia cintai itu. Dan dia juga tidak mau jika harus kehilangan bayi hasil dari buah cintanya.


Tubuh Clarys melorot ke lantai. Cobaan apa ini? Ia menangis air matanya membanjiri wajahnya. Kasihan sekali nasib putranya, baru akan merasakan kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan itu akan dirampas begitu saja. Clarys menangis tidak terkendali hingga terisak-isak.

__ADS_1


Vita segera meraih pundak mamanya itu, membawanya naik duduk di atas sofa. “Ma, tenangkan diri mama dulu. Semua pasti baik-baik saja. Kita akan membawa kak Zia ke luar negeri, semua pasti akan baik-baik saja, Ma!” Tidak terasa air mata turut ikut membanjiri pipi Vita. Walau ia menguatkan sang mama, tetapi ia tidak sanggup mendengar ini semua.


__ADS_2