
Raka mengantar Zia yang masih dalam keadaan syok itu ke rumah. Begitu banyak darah di tempat di mana kecelakaan itu terjadi, sehingga membuat Zia trauma, kejadian itu mengingatkan kejadian sewaktu orang tuanya mengalami kecelakaan dulu.
Saat Raka mengantar wajah Zia terlihat pucat pasi. Situasi itu tentu tidak baik untuk keadaan janin yang di dalam kandungannya saat ini jika terus berlangsung. Saat mereka tiba di rumah Raka langsung membawa istrinya itu ke kamar. Sebisa mungkin lelaki itu untuk mencoba membuat Zia tenang. Hingga akhirnya perempuan itu mulai sedikit tenang dalam dekapan sang suami.
“Pergilah, temui Vita. Aku takut terjadi sesuatu kepada dia, kamu adalah seorang yang mengenalnya, kita tidak boleh tinggal diam melihat dia sedang terkena musibah,” ucap Zia.
“Tapi ... bagaimana denganmu, sayang? Dalam keadaanmu seperti ini ... aku tidak bisa meninggalkanmu, sendirian.” Raka mengeratkan pelukannya.
“Aku tidak apa-apa, sayang. Bukankah, ada bik Sri yang menjagaku, kamu tenanglah. Aku rasa Vita sedang membutuhkan seseorang untuk menemaninya di sana, sebelum keluarganya dari luar negeri datang,” ucap Zia menepuk dada Raka pelan dan kepalanya bersandar di bahu.
“Baiklah, aku akan melihat keadaan Vita. Tapi pastikan kamu jangan beranjak dari tempat tidur, sebelum aku datang,” titah Raka posesif.
Sikap posesif Raka memang bertambah saat ini, sehingga tidak mengizinkan Zia untuk beraktivitas sedikit pun. Bahkan untuk makan saja Raka yang membawakan ke kamar.
“Pergilah, dan cepatlah kembali.”
Raka kembali mengecup kening lalu berangsur ke perut rambut-rambut halus sisa cukurab di dagu, mengenai kulit mulus itu, hingga membuat Zia menggelinjang kegelian. Perempuan itu memang sensitif dibagian itu.
“Sudah ah, geli sayang ....” ucapnya memekik kegelian.
“Kenapa? Aku kan, hanya mau mencium anakku.” Raka menonggak ke atas tersenyum tipis kepada sang istri. “Jaga Bunda ya, sayang ....” ucapnya mengelus-elus perut Zia lalu menciumnya sekali lagi.
__ADS_1
“Sudah pergi sana, siapa tahu pihak rumah sakit membutuhkanmu, untuk memberikan informasi,” titah Zia.
“Baiklah, aku pergi.” Raka mencium bibir sang istri lalu pergi. Sebelum pergi ia memerintahkan bik Sri untuk selalu berada di dekat istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Raka langsung menuju kamar rawat Vita yang diberi tahu resepsionis sebelumnya. Ia langsung masuk dan dia tidak melihat siapa-siapa di ruangan itu, selain Vita yang terbaring lemah belum sadarkan diri.
“Permisi, apa Anda adalah keluarga pasien, Tuan?” tanya seorang dokter yang baru memasuki ruangan. “Ada beberapa prosedur yang harus diselesaikan, ini kasus kecelakaan, dan ada dugaan pasien sedang terpengaruh minuman beralkohol. Ada administrasi yang harus diselesaikan, aku minta urus secepatnya, Tuan. Karena untuk melakukan operasi harus ada beberapa prosedur yang harus diselesaikan,” terang dokter tersebut.
Raka terkejut saat mendengar bahwa Vita sedang mengonsumsi minuman beralkohol. Ia tidak menyangka kalau perempuan yang ia kenal sebagai seorang ramah dan tampak baik itu meminum minuman beralkohol hingga mengalami kecelakaan. “Baik, dokter. Aku akan mengurus semua,” ucap Raka.
Setelah mendapat perintah dari dokter, Raka seketika menemui resepsionis untuk mengisi data-data dan bertanda tangan atas persetujuan, untuk melakukan operasi kepada Vita. Setelah Raka menyelesaikan semua urusan di administrasi. Para dokter, segera melakukan operasi kepada Vita.
Sudah satu jam Raka menunggu tetapi lampu ruang operasi belum juga padam. Sembari menunggu, lelaki itu menelepon Zia, untuk memberitahukan kabar terharu mengenai Vita. Disela-sela meneleponnya, ada seorang perawat menghampirinya. Raka menutup telepon yang sebelumnya sudah memberitahu sang istri.
Raka tidak tahu harus apakan tas itu, tapi dia akan mencoba mencari identitas Vita barangkali menemukan petunjuk mengenai keluarganya di sana. Lelaki itu membuka tas Vita, memulai dari mencari-cari. Tetapi tidak menemukan apa pun. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah dompet tebal berbentuk persegi. Pelan-pelan ia membuka dompet yang berisi banyak kartu itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah foto tampak buram dan berukuran kecil. Foto itu memperlihatkan seorang gadis kecil sedang berdiri dengan rambut di kepang dua.
Raka mengenal gadis itu, dia tau siapa dia. Gadis kecil itu adalah gadis yang menolongnya sewaktu kecil. Raka yang dalam keadaan terkejut memperjelas melihat foto itu. Dan memang dia tidak salah ternyata Vita adalah gadis yang menolongnya waktu kecil.
Ceklek... (Suara pintu terbuka)
Para dokter keluar dari ruang operasi menunjukkan bahwa berakhirlah operasi yang di jalani Vita. Raka segera memasukkan dompet itu lagi ke dalam tas lalu berdiri untuk menemui dokter yang sudah berjalan melewatinya.
__ADS_1
“Dokter ... tunggu!” pekiknya segera menghampiri dokter yang sudah berhenti. “Bagaimana keadaan Vita, dok?” tanyanya dengan khawatir.
Dokter yang berperawakan tinggi itu pun tersenyum dan berkata, “Semua baik-baik saja. Pasien akan segera sadar setelah masa terpengaruh obat bius selesai, tidak ada yang perlu di khawatirkan.”
Raka menghela napas sedikit lega mendengar pernyataan dari dokter. Ia hanya ingin menemui gadis kecil yang dulu menjadi penolongnya selamat. Karena ia butuh mengucapkan terima kasih untuk semua yang di lakukan untuknya. Bahkan Raka baru mengetahui kalau Vitalah yang membantu perusahaan Raka kembali seperti semula tanpa sepengetahuannya.
Setelah beberapa jam kemudian.
Vita sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, begitu anehnya hingga sampai saat ini tidak ada satu pun keluarga atau kerabat yang datang untuk menemuinya ke rumah sakit. Hanya Raka yang berada di sana duduk di sofa sembari menelepon sang istri dan menunggu Vita sadar. Hingga matanya mengunci saat melihat jari-jari Vita mulai bergerak.
Pelan-pelan wanita yang masih lemah dan banyak luka lebam itu membuka mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina yang terasa menyengat indra penglihatannya. Vita mengerjapkan mata berulang hingga akhirnya matanya terbuka sempurna.
Samar-samar dia melihat seorang lelaki yang berdiri di sampingnya. Saat terlihat Rakalah yang ada di sana, menatap penuh kekhawatiran.
“Kenapa aku di sini? Seharusnya aku tidak ada di tempat ini ... seharusnya aku pergi menyusul kedua orang tuaku! Kenapa aku tidak mati ... kenapa aku tidak mati!” pekik Vita histeris yang terbaring lemah mencoba meronta.
Raka bingung apa yang terjadi, tapi satu yang ia tahu. Kalau Vita tidak boleh seperti itu, karena bisa memperburuk keadaannya setelah operasi. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi, segera ia menenangkan perempuan itu. Tetapi Vita terus saja histeris tidak mau berhenti memberontak sehingga tangan yang tertancap selang infus mengeluarkan darah. Dengan segera Raka memencet tombol pemanggil.
Tidak lama para perawat pun datang, untuk membuat Vita tenang perawat itu memberi suntikan penenang, supaya Vita berhenti memberontak, hingga akhirnya pelan-pelan perempuan itu mulai melemah dan kembali tidur.
“Anda tenang saja, Tuan, obat ini hanya untuk sementara, tidak akan ada efek samping apa pun yang akan mempengaruhi tubuh pasien, suntikkan ini hanya untuk menenangkan pasien supaya tidak melukai dirinya sendiri,” ucap suster tersebut.
__ADS_1
UNTUK YANG MINTA JANGAN LAMA-LAMA TAPI MALAS VOTE SEDIH DEH... AKU....