Dijodohkan

Dijodohkan
BAB 12. AWAL BARU


__ADS_3

Bab 12. Awal Baru


**


Kejadian semalam seperti mimpi bagiku, antara aku dan Mas Aziz begitu dekat kita saling berpelukan tanpa adanya sekat.


Aku yang sering kali merasa canggung di dekatnya, malah berubah menjadi malu. Pipiku sering kali terasa panas setiap kali berpapasan dengan nya. Dan dia malah terlihat cuek saja, seolah tidak terjadi apa-apa antara kami. Aku maklum akan hal itu, dia lelaki dewasa pasti sudah sering melakukan banyak hal. Sekedar berpelukan pasti sudah biasa baginya.


Aku menenteng tas sekolah dan juga tas kerja nya, hari ini aku bersikap layaknya seorang istri pada umumnya. Menunggu nya bersiap, dan turun bersama.


Mama melihat ke arah ku, dia tersenyum dengan hangat. Aku tahu, saat kemarin mama memberitahu ku untuk pindah dia seperti menahan sesuatu dan enggan untuk meluapkan nya. Tapi hari ini wajah mama terlihat ceria tidak suram seperti kemarin, mungkin yang aku rasakan sama dengan yang mama rasakan.


"Papa mana mah?" Aku meletakan tas yang aku bawa, kemudian menarik satu kursi.


"Papa ke Bogor, tadi pagi-pagi banget." Mama menyahut cepat, dia mengulurkan piring pada ku.


"Kenapa gak bilang sama aku? Kok tumben sih?" Aku meletakan piring yang sudah berisi nasi goreng tepat di hadapan mas Aziz, kemudian menyuruhnya untuk segera di makan.


"Kamu masih tidur, gak enak mau bangunin." Mama tersenyum ke arah ku, kemudian duduk di depanku. Meja sebagai pembatas di antara kami. "Katanya kalo kepengen sesuatu tinggal telpon aja." Sambungnya kemudian.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, dan kemudian menikmati sarapan yang sudah mama buat. Seharusnya aku yang masak, bukan mama. Dan seharusnya aku yang melayani suami ku bukan mama, tapi bagaimana lagi keahlian masak ku begitu buruk. Hanya membuat mie instan saja tidak bisa, apalagi nasi goreng yang terlihat lumayan rumit. Lebih rumit dari rumus matematika dan fisika.


"Kamu berangkat sama siapa hari ini? Supir di bawa sama papa soalnya!" Ucap mama, dia menatap ku sebentar kemudian kembali melanjutkan sarapannya.


"Aku bawa mobil sendiri aja, takut pulangnya telat. Kata anak-anak bakal ada bimbingan. Gak papa yah mah?"


"Izinnya sama suami kamu, jangan sama mama."


Aku melirik ke arah mas Aziz, wajahnya terlihat biasa saja. Seperti tidak ada minat untuk bicara.


"Em mas..." Aku memanggilnya dengan ragu, kemudian dia melihat ke arah ku dengan cepat. "Itu.. aku bawa mobil sendiri gak papa, takut pulangnya telat soalnya." Sambung ku kemudian.


"Jam berapa pulangnya?" Aku yang sudah mengeluarkan ponsel, lantas kembali meletakkan nya. "Sebentar aku lihat dulu." Jawabku, kemudian membuka forum chat ku dengan teman-teman ku. "Jam 5 mas, mau ada bimbingan. Paling telat sampe malam." Sambung ku. Dia malah terlihat mengkerut kan kening nya, tidak percaya pada ku atau bagaimana?


"Se--sore itu?" Aku kemudian mengangguk, dan kembali melihat forum chat ku. Benar kok seperti yang mereka bahas sekarang. "Kalo gak percaya lihat aja sendiri." Aku menyodorkan ponsel ku padanya, dan tanpa di duga dia langsung mengambilnya. Mengotak-atik ponselku, kemudian memberikannya pada ku. Bau-bau posesive ini mah.


"Saya antar saja, nanti pulang nya saya jemput." Ucapnya pada akhirnya, aku mengerjap bingung. Bukannya dia hari ini ada meeting, kenapa malah ingin mengantar ku?


"Emangnya keburu jemput aku mas, maksud ku begini kamu bilang kan hari ini jadwal kamu full. Meeting aja sampe tiga kali, aku takutnya pulang lebih awal. Nanti malah ngerepotin kamu."

__ADS_1


Dia diam, seperti sedang berpikir. Aku menunggu nya dengan harap-harap cemas.


"Saya masih bisa jemput kamu." Hanya itu yang dia ucapkan, kemudian melirik arloji nya. Dan aku ikut melirik arloji ku sendiri. Gawat sudah siang. Aku langsung menegakan tubuhku, saking terburu-buru nya aku sampai lupa tidak menggeser kursi. Pada akhirnya kaki ku mencium bawah meja. Rasanya lumayan sakit dan juga ngilu. Aku sampai menutup mata untuk menetralkan rasa sakit ku ini.


"Hati-hati makanya, kenapa kamu sangat ceroboh!" Dia membantuku untuk menarik kursi, kemudian membawa tas nya sendiri. Padahal niat hati aku ingin seperti mama, yang membawa tas nya sampai keluar Rumah. Tapi apalah daya, kecerobohan ku menggagalkan semuanya.


"Loh Na, kamu kenapa?" Mama yang melihat ku berjalan tertatih terlihat begitu khawatir, dia mendekat kemudian melihat ke arah lutut ku. "Itu lebam Na, kamu jatuh apa gimana sih?" Aku meringis ketika mama malah mengusap lutut ku, rasanya perih padahal tidak ada luka.


Mas Aziz yang sudah sedikit jauh lantas mendekat, dia ikut berjongkok untuk melihat lutut ku. Menyingkap rok yang menghalangi dengan seenaknya, aku melotot ketika dia melakukannya tanpa seizin ku. "Kenapa tidak bilang jika ini sakit? Padahal tapi kepentok nya tidak terlalu keras." Ucapnya, kemudian mengusap lutut ku. Ya ampun, apa mereka tidak tahu jika itu sangat sakit.


"Kepentok dimana sih? Kok mama gak tahu?" Mama memandang ke arah mas Aziz, kemudian ke arah ku. "Itu tadi gak sengaja, abisnya kaget pas lihat jam udah siang." Jawabku sembari meringis, ini mas Aziz lagi apa sih? Kenapa lutut ku terus di usap-usap begini. Malah bikin aku geli. "Mas udah deh gak papa-papa kok, kita berangkat sekarang aja. Udah siang nanti aku terlambat lagi." Ucap ku kemudian, aku kembali melihat ke arah arloji ku. Mas Aziz tampak menghela nafas, terdengar begitu berat. Tapi tidak lama berdiri kemudian di ikuti oleh mama.


"Kamu mau tetep Sekolah Na? Mama ngeri lihat kaki kamu."


"Abis gimana ma, aku ada bimbingan. Gak papa kok ada Sarah juga kan?"


"Tapi Na, mama khawatir."


"Ihs mama lebay deh, orang gak papa. Aku berangkat yah."

__ADS_1


Mama hanya mengangguk dengan lesu, aku tahu mama khawatir. Tapi bagaimana lagi bimbingan ku lebih penting. Mas Aziz memapah ku, kemudian membatu ku masuk kedalam mobil. Sebenarnya lutut ku lumayan nyeri, di bawa jalan saja begitu nyeri tapi bagaimana lagi? Nasib seorang pelajar yang sudah memasuki semester akhir.


__ADS_2