
DUAR!!
Suara pintu rumah Varsa terbuka lebar karena Raka menendangnya dengan kuat. Varsa dan Claris yang sedang bertatapan muka pun terkejut saat mendengar suara suara itu. Saat mereka menoleh melihat sesosok laki-laki bertubuh tinggi tegap dan mata menyala penuh marah berjalan menuju ke arah mereka.
“Apa yang kau lakukan di rumahku, Raka! Apa kau sadar, telah membuat kerusakan di rumahku?!” pekik Varsa dengan berani berteriak kepada cowok itu.
“Apa ini?” ucap Raka dengan nada dingin tapi menusuk. Mengangkat obat di tangannya hingga tepat berada di hadapan Claris.
Claris tidaklah bodoh untuk menangkap maksud dari pertanyaan tersebut. Terlebih lagi ia tau apa maksud dari kedatangan Raka saat menggenggam sebuah beberapa obat ditangannya.
“Apa yang kau tanyakan, Raka?” tanya Claris dengan nada terbata-bata gugup.
“Apa ini?” nada rendah tidak ada jawaban. “Ini apa!” teriak Raka memenuhi isi ruang membuat Claris dan Varsa menjungat kaget.
“Ada yang bisa jelaskan. Baiklah kalau kalian ingin aku menggunakan cara kasar. Kau sangat mencintai kariermu sebagai dokter bukan?” Mata Raka menyorot tajam ke arah Varsa dan gadis itu mengangguk terpaksa. Lelaki itu merogoh kantong celana menekan nomor seseorang.
“Hallo!” ucapnya dengan seorang di seberang sana. “Cabut izin praktik atas nama dokter Varsa Anaera.” Raka masih mendengar suara dari orang di seberang sana.
Sedangkan Varsa saat mendengar namanya disebut dan kariernya sedang terancam seketika membelalakkan mata dan tubuhnya bergetar tetapi ia menahan dengan menggigit bibir bawah. Betapa menyesalnya dia kenapa harus berurusan dengan keluarga Raka. Karier yang sudah lama ia bangun dihancurkan dalam lima detik oleh Raka. Ia lupa kalau orang di hadapannya saat ini adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit itu.
Setelah Raka menutup sambungan telepon dengan mata menyala dan rahang mengeras. Seolah ia belum puas kalau hanya mencabut izin praktik Varsa. Ia masih merencanakan sesuatu yang akan Varsa merinding. Setelah menatap Varsa kini mata cowok itu beralih menatap Mama Claris yang sedang menunduk merasa bersalah.
“Mulai sekarang jika kau melihatku, Jangan pernah anggap aku ada. Anggaplah aku sudah mati ketika kau meninggalkan aku dua puluh tahun yang lalu. Aku masih berbaik hati tidak memberi hukuman, karena aku masih ingat kau berjasa melahirkanku. Tapi mulai malam ini, jangan pernah melihatkan wajahmu di sekelilingku lagi, dan jangan mendekat ke sekitarku lagi. Kalau sampai aku melihatmu sekali saja akan kupastikan ....” Ucapan Raka terhenti karena ia menahan emosi.
Kesadaran Claris memang datang di waktu yang salah. Seharusnya ia menyadari sejak dulu dan tidak berbohong, mereka pasti sudah bahagia. Penyesalan memang datang terlambat, walau pun ia akan menjelaskan apa pun itu tidak akan mengurangi kemarahan Raka.
Diam, apa pun keputusan yang di berikan Raka akan ia terima. Ini semua hukuman untuknya yang harus ia ratapi dalam kesendirian saat tinggal sendiri nanti. Ia harus mengubur dalam-dalam keinginan tinggal bersama anak dan cucu-cucunya kelak. Claris hanya pasrah dan mengusap air mata.
__ADS_1
“Sayang, ayo kita pulang.” Zia menarik lengan Raka. “Ini sudah malam dan kau juga baru datang bekerja. Ayo kita pulang,” bujuknya supaya suaminya itu segera menyudahi pertikaian ini. Saat melihat Mama Claris Zia tau sepertinya wajah itu berbeda seperti biasa. Seperti terlihat penyesalan yang tertera di mata ibu mertuanya itu.
“Mama minta maaf, semua ini memang terjadi atas kebodohanku. Untuk ingin hidup bersama dan meminta maaf kepada anak-ku, aku sudah membuat kebohongan yang begitu besar. Mulai saat ini Mama janji mulai saat ini tidak akan menampakkan diri lagi kepada kalian,” ucap Mama Claris di sertai isakan tangis.
Sedangkan Raka hanya memandang dingin tidak merasa iba sekali pun. Menurutnya pemandangan di hadapannya itu hanya sandiwara semata. “Zia,” panggilnya membuat Zia terperanjat.
“Iya.” Zia maju selangkah mendekat ke samping Raka.
“Carikan tempat tinggal untuk wanita ini. Pastikan tempat itu yang jauh dari hadapan kita,” ucap Raka memandang Claris tajam tanpa beralih sedikit pun.
“Ba-baik,” jawab Zia terbata.
Setelah berhasil membuat suasana mencekam Raka pergi meninggalkan mereka berdua yang kaku seperti patung tanpa berekspresi.
Raka yang di ikuti istrinya di belakang dengan cepat berjalan menuju mobil. Sewaktu di dalam mobil dia hanya diam. Jika sudah aura ganasnya seperti itu wanita di sampingnya itu tidak berani membuka suara.
Ziara yang melihat merasa kasihan dengan suaminya itu. Kehidupan lelaki yang kini menjadi suaminya itu memang menyedihkan. Ibu adalah kekurangannya di dunia ini, sejak kecil ia selalu merindukan kasih sayang itu. Tapi sayang hanya Papa Romilah yang selalu menyayanginya.
Pelan-pelan gadis itu mengangkat kaki Raka ke dalam pangkuannya. Lalu ia meraih sepatu yang masih menempel di kaki dan melepasnya satu per satu.
Raka membuka mata saat tiba-tiba kaki yang sebelumnya berat terasa ringan dan di sentuh oleh tangan lembut dan hangat.
“Kau tidak perlu melakukan itu, Zia. Aku bisa sendiri, bukan tugasmu di sana, tapi tugasmu di sini.” Raka menunjuk pipi kirinya.
Bukannya dia tadi marah dengan penuh gejolak. Kenapa dia tiba-tiba ia menjadi lembut seolah-olah ingin dimanja. Ziara menggeleng dan tersenyum, suaminya itu memang punya cara sendiri untuk menunjukan perasaannya.
“Apa kau enggak mau mandi, sayang?”
__ADS_1
“Mau, tapi mandikan ....” balas Raka dengan manja seperti anak kecil.
“Mandi sendiri, kau kan sudah besar ....” Ziara menyipitkan mata dan bibirnya mengerucut. “Ayo bangunlah ... kau bau.” Menutup hidungnya lalu menarik kaki sebelah kanan. Tapi tidak tergerak sama sekali karena Raka sengaja memberatkan tubuhnya.
“Kalau enggak mau mandikan aku nggak mau mandi.” Raka menyeringai dan melipat tangan untuk bertumpu kepalanya.
Zia menghela napas putus asa. Kenapa suaminya itu tidak mengerti, kalau ia memandikannya akan ada permintaan lain. Sedangkan ia masih datang bulan. Ayolah Raka jangan seperti anak kecil yang ingin dimanja seperti itu.
“Sayang ... kau tau kan, kalau aku sedang datang bulan?” ucapnya menahan suara dan merapat kan gigi.
“Memangnya kenapa kalau kau sedang datang bulan atau datang tahun? Aku hanya minta kau memandikanku saja, sayang. Janji hanya mandi tidak lebih,” ucap Raka.
“Baiklah, baiklah, tapi janji ....” ucap Zia meyakinkan.
“Iya sayang ....”
Dan mereka berdua masuk ke dalam kamer mandi. Memang benar Raka menepati janjinya dia hanya ingin wanitanya itu memandikannya. Setelah selesai bermain di kamar mandi seperti Ibu memandikan anaknya. Raka sudah berpakaian santai.
“Kau mau makan apa, sayang?” tanya Zia.
“Aku mau makan kamu,” jawab Raka sambil menyeringai.
Ziara membulatkan mata. “Apa kau lupa, sayang?”
Raka terkikih melihat ekspresi sang istri seolah menganggap serius perkataannya itu.
Kakak yang minta lanjut, cepet, banyak-banyak Up tapi enggak mau Vote, sedih deh aku.
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.