
dorongan keras itu membuat Randy terjatuh ke lantai dan membuat kepala Randy terbentur meja. Darah segar keluar dari kepala Randy. Larry yang melihat itu syok dan khawatir.
"Ran... Randy? Ran... bangun...huhuhu Randy maaf... Aku... aku tidak sengaja huhuhu... bangun Ran...." teriakan Larry yang melengking dan tangan yang menepuk lembut pipi Randy berusaha untuk menyadarkan suaminya itu. Ia segera mengambil ponselnya dan menelpon dokter pribadi mereka.
Tidak lama kemudian, bantuan datang. Randy segera diangkat dan dibawa ke rumah sakit. Larry menggigit jarinya yang gemetar menunggu suaminya yang sedang diperiksa. Rasa bersalah Larry pada dirinya sendiri sangat tidak bisa ia maafkan.
Temy Luga ayah Randy dan Lisa Luga ibu tiri Randy bergegas ke rumah sakit. Mereka melihat menantu mereka terduduk mematung seperti manusia bernafas yang kehilangan jati dirinya.
Dengan rasa kasihan, Temy menenangkan Larry dengan banyak kata-kata indah yang keluar. Perlahan es dalam diri Larry mencair dan sedikit lebih tenang. Ia menyesali tindakannya yang ingin meninggalkan suaminya hanya karena masalah yang dipermasalahkan oleh dirinya sendiri. Ia merasa sangat menyesal karena tidak menghargai rasa cinta yang diberikan suaminya.
Satu jam kemudian dokter keluar dari ruangan Randy dan memberikan kabar baik. Semua lega akan hal itu tetapi tidak dengan Lisa ibu tiri Randy. Ia tersenyum kecut dan hampa untuk menyembunyikan kekecewaannya.
Semua memasuki ruangan dan melihat Randy yang terlentang di kasur rumah sakit. Larry duduk di kursi dekat Randy sedangkan Temy dan Lisa duduk di sofa ujung sebelah kanan.
Kata maaf terus terucap namun tidak terdengar. Mulut yang tidak bergerak dan hanya hati yang berbicara dihiasi air mata kristal yang mengalir.
Temy meminta izin kepada Larry untuk menjaga putranya karena ada keadaan mendadak yang harus ia lakukan. Ia meletakkan makanan Larry di atas meja. Larry mengangguk tanpa menoleh sedikitpun ke makanan yang ditinggalkan sekalipun ia sangat lapar.
Matanya yang masih mengantuk karena efek obat, ia tahan untuk melihat suaminya sadar dan tetap terjaga karena rasa takut kehilangan orang yang ia cintai.
__ADS_1
Perlahan mata Randy mulai terbuka. Larry melihat suaminya yang sudah sadar dengan mata yang dipenuhi air bening yang mengkristal karena bahagia.
Ia memeluk tubuh suaminya dengan tangisan yang sudah ia tahan. Tangis yang memuncak membuat dokter khawatir dan dengan sigap memasuki ruangan Randy. Senyuman tipis terpancar di wajah dokter dan perawat. Rasa khawatir mereka mereda dan segera keluar tidak mau mengganggu momen mengharukan sepasang kekasih itu.
Dengan susah payah Randy tersenyum dan menenangkan Larry yang menangis di badannya.
Larry akhirnya terdiam karena merasa capek. Matanya yang terjaga akhirnya tertutup rapat. Ia tertidur dengan posisi badan yang sama saat ia menangis. Randy memanggil dokter dan menyuruh mereka untuk memindahkan Larry ke sampingnya. Awalnya dokter menolak tetapi karena Randy bersikeras, akhirnya mereka setuju dan memindahkan Larry ke samping Randy.
Randy memeluk Larry dan membagikan selimut yang ia pakai ke tubuh Larry. Ia menatap wajah semesta nya hingga matanya yang mulai berat dan tertutup.
Sinar matahari terbit dengan cerah. Larry terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia terkejut melihat dirinya yang ada di atas kasur dan dipeluk oleh Randy. Ia dengan cepat ingin turun tetapi dicegat oleh tangan Randy.
Larry mengalah dan kembali membaringkan tubuhnya di samping Randy. Ia menatap wajah Randy dan beralih ke perban yang dilingkarkan di kepalanya.
"Maaf sudah membuatmu celaka" suara kecil namun terdengar jelas di telinga Randy.
Randy hanya mengeratkan pelukannya dan berbisik lembut "Dalam hubungan suami istri itu tidak ada kata tidak bagi kata maaf. Jangan menyalahkan dirimu karena aku yang bersalah karena lalai dalam tugasku sebagai suami. Tolong jangan membenciku" ucap Randy menatap lembut mata yang berkaca-kaca di depannya.
"Bagaimana bisa aku membencimu? Kamu adalah orang yang paling aku cintai. Aku hanya takut kamu merasa jijik jadi aku...."
__ADS_1
"Sstt... Jangan mengucapkannya lagi. Aku tidak akan pernah merasa jijik dengan orang yang aku cinta. Lagian itu kesalahanku dan juga aku merasa lega karena dia tidak mencelakai mu. Aku sangat takut saat orang yang mengangkat telpon mu adalah dia. Aku benar-benar khawatir dia akan membuatmu pergi jauh dariku seperti yang dilakukan oleh ibunya kepada ibuku. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi. Jadi tolong jangan pernah mengatakan kata pisah atau pergi dariku. Bagaimanapun nanti hubungan kita tolong jangan menyerah, karena satu hal yang aku tahu bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Hidupku akan terasa hampa dan tidak berarti." ucap Randy mengelus pipi Larry dan mencium kening istrinya itu.
Larry hanya mengangguk dengan air mata tiada habisnya. Ia tidak tahu dari mana asal air mata sebanyak itu dan bertahan selama itu. Ia hanya tahu apapun keadaannya, ia tidak akan pernah meninggalkan orang yang sangat berarti baginya dan juga sebaliknya.
Larry mendekatkan wajahnya dan mengambil inisiatif mencium bibir suaminya itu. Randy spontan terkejut dan tersenyum. "Istri yang sangat nakal. Aku tidak akan membiarkanmu pergi"
"Tunggu dulu. Kamu masih sakit!"
"Aku tidak peduli"
"Kita di rumah sakit!"
"Kalau begitu, kamu bisa kecilkan volumenya supaya tidak ada orang yang curiga" Randy menarik tubuh Larry hingga melekat pada dirinya. Ia mendekatkan wajahnya dan...
"Tok...tok...tok..." terdengar suara ketukan pintu yang membuat Randy harus berhenti. Randy berdecak kesal tetapi tidak dengan Larry, ia tertawa kecil melihat wajah kecewa suaminya.
Larry turun dari ranjang dan membuka pintu. Terlihat seorang perawat berdiri dengan semangkok bubur dan air putih di tangannya. Larry mengambil mangkok dan gelas yang berisi air putih itu dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Saat perawat beranjak dan menjauh, Larry menutup pintu dan meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
Ia melihat makanan yang ditinggalkan oleh mertuanya masih utuh. Ia membuang makanan itu karena sudah basi. Ia meminta izin kepada Randy untuk membeli makanan tetapi tidak diizinkan oleh Randy. Ia masih trauma akan hal buruk yang menimpanya. Ia meminta bawahannya untuk datang dan membeli makanan kepada Larry. Sembari menunggu makanan, Larry menyuapi Randy bubur yang dibawa oleh perawat tadi.
__ADS_1
Awalnya Randy tidak mau makan bubur dari sendok dan mencoba menggoda Larry. Ia tidak mau makan kecuali Larry menyuapi dengan mulut. Larry tahu kalau Randy hanya menggodanya dan menatap Randy dengan tatapan sinis. Dengan berat hati dan rasa kecewa, Randy akhirnya memakan semua bubur yang disuapi oleh Larry.