Dijodohkan

Dijodohkan
Akhir Pekan 3


__ADS_3

Hari ini merupakan hari keberuntungan untuk Erick. Atau kesialan? Entahlah, hanya author yang tahu.


Jantung Erick semakin berdetak kencang semakin langkah itu mendekat semakin pula jantung itu berdetak kencang memompa aliran darah bergemuruh di dalam dada.


Apa ini hanya mimpi?


Dia seakan tidak percaya dengan indra penglihatannya yang seperti melihat bidadari siang ini. Ia mengucek-ngucek mata memastikan tidak ada kotoran yang merabunkan mata untuk melihat sang gadis pujaan hati yang terus berjalan dan tersenyum ke arahnya.


Apa ini nyata?


Dia masih tidak percaya kalau ini nyata. Dia takut ini hanya mimpi yang membuatnya terbuai dalam alam bawah sadar semata. Kedua sudut bibir cowok itu semakin tertarik lebar memperlihatkan deretan giginya putih. Guratan senyum semringah terukir dari wajahnya.


Wanita itu semakin mendekat dan jantungnya semakin tidak karuan.


Perasaan apa ini?


Tubuhnya seakan hanyut dalam sungai asmara yang dalam saat wanita itu tersenyum kepadanya. Tampar, cubit, yakinkan dia kalau dia masih tidak percaya kalau ini nyata. Belum pernah Erick merasakan jatuh cinta kepada wanita seperti ini, bahkan mendapat senyuman dari wanita itu saja sudah seperti mendapat harta karun puluhan peti.


Demi apa pun perasaan Erick tidak bisa dikendalikan. Langkah kaki itu semakin mendekat, dia bingung apa yang harus ia lakukan. Oh, tidak dia gugup, bingung, canggung, entah apalah itu namanya. Kakinya maju selangkah bermaksud untuk menjemput dan membalas senyuman wanita yang sekarang berada di hadapannya.


Tetapi kenapa, wanita itu melangkah melewatinya? Seketika dia mengerjapkan mata, menyadarkan diri ternyata wanita itu bukan tersenyum kepadanya. Erick berbalik melihat wanita yang ia kagumi melewatinya begitu saja tanpa melihat ke arahnya.


Ditunjukkan untuk siapa senyum itu?


Dan saat berbalik ...


Bagai petir menyambar kepala pada siang hari. Erick menganga mengerjapkan mata berulang kali ia tidak percaya, dan juga penasaran ternyata senyuman manis semanis gula itu bukan ditunjukkan untuk dia melainkan untuk orang di belakang yaitu teman baiknya.


Apa mungkin dia mengenal Raka? Semoga dia bukan siapa-siapa Raka. Dalam benaknya terus bertannya-tannya. Tetapi perasaannya semakin tidak enak saat wanita itu mendekat ke arah Raka. Lalu Raka memeluk dan mengecup pucuk kepalanya.

__ADS_1


Apa ini? Kenapa ini? Seribu pertanyaan menyeru dalam pikirannya hingga membuat bibirnya bergetar ingin menyerukan pertanyaan. “R-Raka, siapa dia?” tanyanya penasaran saat melihat tingkah mereka yang begitu mesra.


“o iya aku lupa, Rik. Kenalkan dia Zia istriku,” ucap Raka dengan bangga mengenalkan istrinya merangkul pundak erat posesif mereka saling melempar senyum.


Ya ampun, air mana air, Erick seketika kepanasan. Mendengar ucapan Raka darahnya seperti mendidih. Ingin rasanya ia tenggelam dan menghilang saat ini juga sekarang juga. Ia tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ini sungguh menyakitkan menyesakkan dada. Kalau sudah begini siapa yang disalahkan. Apakah dia harus menyalahkan perasaan yang datang tanpa ia meminta?


“Rick!” Raka melambaikan tangannya di depan mata Erick yang tidak berkedip. “Kamu tidak apa-apa, Erick?” tanyanya saat melihat wajah temannya seperti syok.


Erick berkedip membuyarkan lamunannya. “A-aku tidak apa-apa.” Menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Rio dan Zia pun memperhatikan tingkahnya. “Kau bicara apa tadi?” tanyanya lagi kepada Raka.


“Kau tidak sakit kan, Rik?” tanya Raka memperhatikan wajah Erick yang mulai pucat.


“Aku mau mati Raka.” Gumam Erick tidak terdengar oleh mereka.


“A-aku tidak apa-apa kok. Hanya ... Hemm ....” Melihat ke arah Zia yang dari tadi memperhatikannya.


“Tunggu, tunggu, bukanya kamu orang yang datang tempo hari ke toko kueku?” ucap Zia memastikan. Raka membulatkan mata. Sedangkan Erick pucat pasi bulir-bulir keringat menetes dari keningnya.


Erick bingung harus berkata apa, dan harus berbuat apa yang jelas kejadian ini membuat ia ingin menghilang dari muka bumi ini. Saat ini, sekarang juga, siapa pun bantu Erick yang semakin tersudutkan dengan pertanyaan Raka. Bagai mana kalau temannya itu tau kalau selama ini yang ia ceritakan adalah istrinya sendiri. Membayangkan saja sudah membuat Erick merinding.


“Apa benar kau pernah ke toko kue istriku, Erick?” tanya Raka lagi mengintrogasi.


Erick menggaruk tengkuk yang tidak gatal dan menunjukkan deretan giginya tersenyum garing. “Iya,” jawabnya.


“Apa kalian saling kenal, sayang?” tanya Zia yang melihat mereka seperti sudah saling dekat.


“Dia temanku, Zia. Kami berteman sudah semenjak duduk di bangku SMA.” Terang Raka. Ziara mengangguk mengerti dengan penjelasan Raka.


“Kebetulan sekali ...” ucap Zia bahagia. Ia senang akhirnya keraguannya tentang Erick sudah terjawab jadi ia tidak perlu ragu lagi untuk kerja sama dengan lelaki itu. “Tuan, kebetulan sekali ... kau adalah teman dari suamiku, jadi kita bisa melanjutkan kerja sama.”

__ADS_1


“Kerja sama?” Raka menaikkan sebelah alisnya. Ia masih bingung dengan perkataan ambigu dari istrinya. “Jelaskan. Apa kalian saling mengenal, Zia— Erick?”


“Ia sayang ... kami saling mengenal,” ucap Zia menyenggol lengan Erick. “Tuan, kenapa kau diam? Ayo katakan sesuatu,” ucap Zia melirik lelaki itu.


Erick hanya sibuk menggaruk tengkuknya. entah berapa kali ia menggaruknya. Bingung apa yang harus ia katakan. “I-iya, kami saling mengenal. Aku sering ke toko kuenya.”


“Dan dia juga mengajak kerja sama denganku, loh sayang....” sambung Zia.


Kerja sama? Raka mengingat-ingat kata-kata itu. Sepertinya Erick pernah membicarakan dengannya. Raka memutar bola mata untuk mengingat lagi. Sepertinya pikirannya lagi susah untuk mengingat. Cowok itu beralih melirik ke arah Erick ia mengingat sesuatu tentang cerita temannya sewaktu di kantor. Bukankah Erick mengatakan kalau dia berhasil mendekati wanita itu dengan cara menawarkan kerja sama? Bukankah nama wanita itu adalah Zia? Apa yang Erick maksud


Adalah...


Erick tersenyum terpaksa menunjukkan deretan giginya lagi saat Raka menatap curiga padannya. Ia tau pasti Raka sudah paham dengan semua kalau wanita yang ia sukai adalah istrinya.


“Jadi selama ini KAU!” Rahang Raka mengeras tangannya mengepal kuat sehingga buku-buku tangannya terlihat putih, matanya menyorot tajam. Sedangkan Zia dan Rio terlihat kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.


“Raka, Raka, aku bisa jelaskan.” Tangan Erick terangkat sebagai perlindungan karena Raka melangkah ke arahnya dengan air muka yang menyeramkan. “Ini hanya salah paham, Raka. Kumohon jangan marah!” Dia bergerak mundur menyeimbangkan dengan langkah Raka yang maju ke arahnya.


“Ada apa ini, Raka?” tanya Zia kebingungan melihat suaminya berjalan mengepal ke arah Erick.


“Dasar brengs*k!” Satu layangan pukulan mendarat di pipi kanan Erick. Zia menutup mulut terkejut sedangkan Rio segera bangkit dari tempat duduk lalu meraih tangan Raka yang begitu kuat mengeras ingin menghantam kembali. Ia mencegah supaya tidak berbuat anarki di tempat umum.


“Rio lepaskan aku.” Rio menggeleng. “RIO LEPASKAN AKU!!” Raka berteriak dengan keras, sehingga suaranya menggema di seisi ruangan. Sontak membuat tontonan para pengunjung restoran.


“Raka tenangkan dirimu. Kita bisa selesaikan secara baik-baik. Tidak di tempat umum seperti ini.” Tutur Rio berdiri di antara mereka menjadi penengah. “Jaga nama baikmu di sini Raka, jangan bertindak selalu dengan kekerasan,” ujar Rio. Dia sudah tahu semenjak dulu kalau Raka sedang marah sangat sulit mengendalikan emosi.


“Ayolah Raka. Aku tidak tau kalau dia adalah istrimu. Ini hanya salah paham, maafkan aku, kalau aku tahu dia adalah istrimu tidak mungkin aku berani mendekatinya.” Kekeh Erick.


Terus berikan dukungan kalian ya...

__ADS_1


Dengan cara Like, komen, Love dan Vote sebanyak-banyaknya...


__ADS_2