Dijodohkan

Dijodohkan
Nama Sama


__ADS_3

Tumpukan dokumen-dokumen di hadapan Raka membuat kepalanya semakin merasakan panas dan berdenyut. Keadaan itu menambah penyikasaan untuk Raka. Dikala dia harus menahan hasrat yang tidak tersalurkan saat melihat Zia didekatnya. Kini harus ditambah pekerjaan menumpuk membuat otaknya berkerja keras. Sehingga membuat kepala Raka seperti mau meledak.


"Rio suruh pelayan untuk membawa obat sakit kepala ke sini!" titah Raka memegangi pelipisnya. Rio yang berdiri di samping terlihat khawatir. Cowok itu memang memperhatikan sejak tadi kalau Raka sedang kacau tidak konsentrasi.


"Apa kau sedang sakit, Bos?" tanya Rio penuh kekhawatiran. "Apa tidak sebaiknya kau beristirahat di rumah?"


"Jika aku di rumah akan membuat kepalaku tambah pusing, Rio," ucap Raka lagi Memijit pangkal hidung yang merasakan bertambah pusing. "Aku akan tersiksa kalau melihat Zia di hadapanku, L ku pasti bangun saat aku melihatnya." Gumam Raka tidak terdengar oleh Rio.


"Baiklah aku akan mengambilkan obat, untukmu." Rio melangkah keluar untuk mengambil obat. Sedangkan Raka berpindah duduk di sofa mengambil posisi yang pas dan memejamkan mata mengarah ke langit-langit ruang. Posisi itu membuatnya sedikit rileks meredakan otot-otot leher yang kaku menikmati lebih dalam mulai hanyut ke dalam bawah sadar.


"Raka!"


Baru saja dia mau hanyut dalam tidur. Tiba-tiba harus dikagetkan dengan suara Erick yang tiba-tiba masuk dan menyeru namanya, sehingga membuat Raka terperanjak kaget. Kepala yang sudah hampir reda rasa sakitnya kini tiba-tiba rasa itu datang lagi. Raka pun menghela napas tanpa menjawab temannya itu.


Erick memang keterlaluan.


"Raka! Hari ini sangat luar biasa!" Erick dengan perasaan sangat menggebu-gebu menghampiri Raka. Dia ingin temanya itu orang pertama yang harus tau kalau dia sedang bahagia.


Sedangkan Raka terlihat tidak perduli dengan kabar yang akan di bawa Erick. Dia sudah tahu pasti itu tentang gadis yang diceritakan kemarin.


Erick mendekat duduk di sofa yang kosong sebelah Raka. "Apa kau tau, Raka. Aku sudah mendapat jalan untuk mengenal gadis itu lebih dekat. Dia sangat berbeda dengan wanita-wanita lain. Dia sangat berbeda, dia sangat cantik, dialah wanita yang aku cari." Erick terus saja nyerocos tanpa memperhatikan temannya yang tidak suka dengan kedatangannya.


Sejenak memperhatikan Raka yang terlihat tidak nyaman.


"Apa kau baik-baik saja, Ka?" tanyanya saat baru menyadari kalau orang yang ia ajak bicara tidak memperhatikan dan hanya memejamkan mata memijit pangkal hidungnya.

__ADS_1


"Ka, bentar aku panggil dokter." Dengan rasa khawatir Erick membuka kunci layar ponsel pintar miliknya, mencari-cari nama dokter untuk dihubungi. Mendengar hal itu Raka membuka matanya dan mencegah Erick.


"Tidak usah Rick. Rio sudah mengambil obat, sebentar lagi juga datang. Lagi pula sakit kepalaku ini bukan sakit seperti biasanya."


Erick membulatkan mata."Kalau bukan sakit seperti biasanya, terus kau sakit apa, Ka?" tanya Erick penasaran.


"Percuma di jelaskan jomblo sepertimu tidak mengerti apa artinya." Ini aib jika dia harus menceritakan tentang sakit kepala yang ia rasakan, kalau saai ini tersiksa menyimpan hasrat karena istrinya sedang datang bulan. Jika Erick mengetahui pasti dia akan habis jadi bulan-bulanan bercandaan temannya itu.


"Kenapa bawa-bawa setatus jombloku, Raka?" Erick menaikan sebelah alis memandang tidak suka. "Memangnya apa hubungannya dengan sakit kepalamu dengan jomblo." Erick menyeringai meremehkan Raka.


"Kamu mendingan pergi. Kepalaku mau pecah saat mendengar suaramu." Raka beranjak dari sofa dan berdiri tepat di hadapan Erick.


"Jadi kau mengusirku, Raka?" ucap Erick santai tanpa mengubah posisi sama sekali.


Disaat suasana sedang genting Erick masih saja memancing pembicaraan yang Unfaedah. Ia masih ingin menceritakan rasa bahagia yang telah berhasil mendekati gadis yang selalu ada di dalam pikirannya.


"Aku akan pergi, tapi ... dengarkan ceritaku dulu. Aku sangat bahagia saat inu, tidak bisa menunda lagi ingin menceritakan semua. Apa kau tidak senang melihatku bahagia, Raka?" Raka menghela napas. Percuma bicara sama orang yang sudah mabuk cinta, tidak mengerti sama sekali jika Raka ingin sendiri.


"Katakan, apa yang kau ingin katakan. Tapi ingat, langsung pada intinya. Jadi apa yang kau dapatkan mengenai gadis yang sudah membuatmu tergila-gila itu. Apa kau sudah berhasil melamarnya, Erick?" kata Raka menyandarkan kepala di kursinya.


Akhirnya, Raka mau mendengar curahan hati Erick.


"Melamar? Erick memutar bola matannya. "Aku tidak berani bertindak sejauh itu, Ka. Tidak melamar tapi baru tahu namanya. Apa kau tau, siapa nama gadis itu, Raka? Namanya yang indah seperti orangnya." Menyadarkan kepala dan bertumpu di kedua tangan, membayangkan mengingat gadis yang baru tadi ia temui.


"Siapa namanya?" tanya Raka. Walau dia tidak ingin tahu dia berpura-pura ingin tahu demi temannya supaya cepat pergi dari sana.

__ADS_1


"Namanya ... Zia."


Mendengar itu mata Raka mendadak terbuka lebar. Zia? Bukankah itu mirip nama istrinya? Apa mungkin gadis yang di sukai Erick adalah Zia istrinya. Tapi mana mungkin. Mungkin hanya mempunyai kemiripan saja, lagi pula tidak akan Erick menyukai wanita miliknya.


"Apa kau yakin, kalau wanita itu bernama Zia, Erick?" tanyanya memastikan. Dia melupakan rasa sakit kepala karena ada nama Zia disebut.


Erick mengangguk. "Iya namanya memang Zia. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Ka? Apa ada yang salah, apa kau mengenalnya?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja entah kebetulan atau apa, nama istriku adalah Ziara."


ppfft Erick manahan tertawa. "Jangan berpikir itu adalah istrimu. Karena tidak mungkin aku mempunyai selera sepertimu, dan pastinya seleraku lebih tinggi, dari pada seleramu," ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.


Perkataan itu membuat Raka seketika mengerutkan alis dan rahangnya mengeras. Secara tidak langsung perkataan temannya itu telah membuat dia geram. Karena secara tidak langsung Erick menganggap Zia lebih rendah dari gadis yang di sukai temanya itu.


Raka beranjak dari kursi lalu berjalan ke arah Eric duduk. Erick pun melihat penuh kewaspadaan. "Sudah habis waktumu untuk berbasa-basi mencaritakan wanita tidak berguna itu, pergilah." Raka menatap tajam lelaki di hadapannya itu.


"Kenapa kau tiba-tiba marah. Aku kan hanya bercandaa, Raka." Erick tersenyum getir. Melihat ekspresi Raka sepertinnya ia salah telah merendahkan selera temannya itu. Dari pada membuat wajah di hadapannya semakin merah, dia harus segera pergi sekarang.


"Baikalah terima kasih sudah mendengarku hari ini." Tanpa menunggu lama Erick dengan kaki jenjangnya melangkah keluar. Saat tiba di depan ruangan cowok itu menghela napas lega seperti baru saja lolos dari penculikan.


Selamat batinnya. Erick bisa selamat sekarang, karena dia hanya salah berucap tapi apa dia bisa selamat jika Raka tahu kalau wanita yang di sukai adalah istri dari temanya itu. Semoga Raka mengampuninya.



Kakak yang baik hati minta bantuan Vote dong buat Jenny ... caranya tekan tombol Vote sebelah sana ya kak, Makasih kalian baik deh...😆

__ADS_1


__ADS_2