Dijodohkan

Dijodohkan
Maaf


__ADS_3

Selamat Membaca~


Akhirnya mereka masuk ke dalam untuk memesan kamar. Lalu apa kabar dengan tangan dan tubuh yang dipenuhi dengan noda tepung. Raka tidak perduli itu adalah perkara yang gampang dibanding hasratnya yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Karena demi apapun ini sangat menyiksa untuk Raka.


Setelah mendapat kamar hotel mereka langsung menuju kamar. Setelah masuk Raka merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang di bernuansa warna putih.


Sangat pas. Batin Raka memejamkan mata dengan kepala bertumpu di kedua tangannya. Lupakan sejenak pekerjaan yang menumpuk di kantornya dia tidak perduli itu. Saat ini yang ia perdulikan adalah menghabiskan waktu dengan sang istri.


Sedangkan Ziara saat tiba ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan membersihkan diri. Lalu setelah selesai ia ke luar dan mendekat ke arah Raka.


“Zia.”


Raka memanggilnya dengan suara yang membuat dada Zia berdebar kencang. Suara itu terdengar sangat indah di telinga gadis itu.


“Apa?”


“Sini.”


Menepuk-nepuk sisi ranjang sampingnya menyisakan satu ruang untuk Ziara. Tapi Zia menggeleng kecil menolak. “Sini ....” panggilnya Raka lagi.


Kali ini Zia menuruti permintaan Raka. Ia mendekat membaringkan tubuhnya dan berbantalkan lengan sang suami. Raka memandang ke langit-langit ruangan sedangkan Ziara memandang rahang kuat yang di tumbuhi bulu-bulu halus milik suaminya itu.


“Sayang,” panggil Ziara kepada Raka yang memejamkan mata menikmati suasana.


“Hemm?”


“Apa menurutmu Gina itu cantik, sayang?” Tanya Zia lagi. Entah kenapa sesosok itu masih terbayang di pikiran wanita itu.


Raka membuka mata kenapa ia masih mendengar nama itu? Bukankah sudah sepakat berbaikan, lalu kenapa Zia masih menyebut-nyebut nama orang tidak bersalah. “Memangnya kenapa?” Menaikkan sebelah alisnya.


“Aku penasaran. Bagaimana caranya mempunyai tubuh yang ideal seperti itu. Pasti kamu suka kalau aku mempunyai tubuh seperti dia, benarkan, sayang.”


“Enggak. Aku lebih suka perempuan bertubuh kecil, seperti kamu, Zia.” Tangan Raka mengusap rambut wanitanya itu gemas. “Lagi pula kenapa sih kau tanya-tanya dia lagi?”

__ADS_1


“A-aku hanya ....” Sebelum Zia menyelesaikan kalimat bibirnya dibungkam oleh Raka. Hingga membuat wanita itu mengerjapkan mata dan menyesuaikan oksigen di dalam mulut.


Setelah beberapa menit melakukan aksinya. Raka mengusap bibir Zia yang masih basah dengan jarinya. “Jangan sama kan ini dengan orang lain. Tidak akan ada yang bisa memiliki bibir dan tubuh se-enak ini.” Tunjuknya ke bibir wanitanya itu.


Gombalan yang sempurna sudah di mainkan. Kini saatnya ia meminta hal lebih. Yang dari semalam sudah di inginkan. Karena ia sudah tidak sabar lagi menunggu. “Ayo!” Ajaknya dengan tatapan menggoda.


Pastinya Ziara mengerti dari ajakan sang suami dengan tatapan seperti itu. Pasti menginginkan lebih dari yang barusan mereka lakukan.


“Tunggu aku mau mandi, supaya lebih segar.” Zia berjalan ke kamar mandi dan Raka menghela napas entah sampai kapan ia harus menunggu karena bosan akhirnya ia meraih benda persegi berwarna hitam untuk menghidupkan layar pipih yang menempel di dinding. Sebenarnya itu bukan kebiasaannya dalam sehari-hari. Televisi adalah benda hanya pajangan di rumahnya. Hampir tidak pernah ia tonton setelah ia membelinya.


Setelah televisi itu menyala dan juga menemukan tayangan pas untuk ia tonton. Apa lagi kalau bukan kabar berita harga pasar yang di siarkan di televisi nasional.


Ziara keluar mengenakan handuk kimono dan rambut tergerai basah. Membuat Raka menelan saliva, dan menjatuhkan remot yang ia pegang. Akhirnya puasa dari kemarin malam akan berakhir juga.


“M-Sa-sayang.” Zia berjalan ragu mendekat ke arah Raka.


Pasti wanita itu malu-malu itu biasa setiap kali mau berhubungan pasti menujukan ekspresi seperti itu. Raka tersenyum lalu menepuk tempat di sisinya untuk duduk. “Kemari.” Zia pun mendekat.


“Dari pertama kita melakukan sampai sekarang, kenapa kau masih malu-malu.” Raka memeluk tubuh di sampingnya.


“Hemm?”


Tangan Raka berkelana di area perut dan bagian atas sekitarnya memainkan anggota tubuh wanitanya itu hingga membuat Ziara memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang ia berikan.


Dan kini saatnya tangan Raka akan menyusup di area bawah sana. Tapi tiba-tiba Zia dengan cepat mencekal tangannya.


“Kenapa?” tanya Raka menaikkan sebelah alisnya. Tidak seperti biasanya istrinya itu mencegahnya seperti itu. Justru biasanya dia suka kalau Raka bermain di sana.


Ziara masih terlihat ragu untuk mengatakan. Entah bagaimana reaksi Raka setelah ia memberi tahunya nanti.


“Kenapa, sayang?” tanyanya sekali lagi.


“A-aku,” ucap Zia terbata. Suaminya masih menatap penasaran. “Iya?”

__ADS_1


“Aku sedang datang bulan, sayang.” Jawab Zia cepat.


Ya ampun, cobaan apa ini yang harus di alami Raka. Bahkan ia harus menahan diri dari semalam untuk menyalurkan hasratnya. Setelah waktunya tiba kini ia harus menelan pil pahit kalau istrinya sedang datang bulan.


Walau tidak tahu apa itu datang bulan itu bagaimana. Yang jelas dia tau kalau istri sedang datang bulan dilarang berhubungan suami istri. Lalu bagai mana dengan dedek dibawah sana kasian sekali dia sangat miris lihatnya.


“Jadi bagai mana ini?” ucapnya matanya sambil melirik ke bawah sana. “Kenapa nggak bilang sih?” Mengusap wajah putus asa.


“Maaf, aku juga nggak tahu, sayang.” Zia tersenyum getir. Ia merasa bersalah kepada suaminya dan dia juga tidak tau kalau datang bulan yang biasa datang di akhir bulan. Kini sudah datang saat masih awal bulan.


Suasa hening.


Raka terlihat menghela napas dalam-dalam. Tenang, tenang Raka kamu pasti kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua.


Menarik napas lagi lalu berkata, “Sudahlah nggak apa-apa, sayang. Kita habiskan


berdua di sini besok kita baru pulang. Sini ....” Tangan melambai memanggil Zia untuk mendekat.


Dan mereka berdua menghabiskan waktu berdua di dalam hotel. Walau pun hanya sekedar menonton film lewat televisi. Waktu itu sangat berharga buat Zia. Karena akhir-akhir ini Raka sangat sibuk hingga jarang mendapat moment seperti sekarang.


Namun ditengah-tengah saat mereka yang sedang santai. Tiba-tiba ponsel Zia berdering dan sang pemilik pun mengangkat.


"Hallo..." Wajahnya terlihat panik saat mendapat telepon dari seseorang di seberang sana. "Tunggu, aku akan segera kesana." Zia menutup telepon lalu melihat ke arah Raka.


“Kenapa, sayang?” Tanya Raka saat melihat wajah Zia panik.


“Ada sedikit kekacauan di toko, sayang. Aku harus segera ke sana. Kau tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?”


“Enggak apa-apa, aku akan kembali ke kantor setelah kamu pergi.” Raka tersenyum ikhlas.


“Terima kasih sayang ....” Muah! Zia mencium pipinya, lalu dengan cepat Raka meraih tengkuk wanitanya itu. Menyatukan kembali bibir mereka menikmati dalam dan semakin dalam.


“Kalau hanya sekedar ini, tidak apa-apa, kan?"

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.


__ADS_2