Dijodohkan

Dijodohkan
1


__ADS_3

Disinilah Lily berada, di kelas dimana suaminya sedang mengajar. Seperti biasa, fokus Lily hanya pada Satria. Menatap indah setiap gerakan Satria dan mendengar suara yang begitu merdu namun tegas.


Sungguh Lily masih belum percaya bahwa hubungannya seperti yang ia harapkan.


"Lily, sepertinya kamu tidak memperhatikan saya ya dari tadi!" Satria menatap tajam Lily.


Lily gugup. Seperti biasa, ia selalu dapat teguran dari Satria.


"Sepertinya kamu sangat suka yah di hukum setiap saat. Kalau begitu kamu nanti ke ruangan saya. Baik, demikian pertemuan kita pada hari ini, sampai jumpa di pertemuan berikutnya, selamat siang" Satria meninggalkan ruangan dengan wajah yang buruk.


'Mampus aku, Satria tetap lah Satria. Dia pasti marah, apalagi dia bukan tipe orang yang bisa menyamakan pekerjaan dengan hubungan kami yang sudah membaik. Ahhh, gimana dong ini? Mampus gue, kali ini dapat hukuman apa ya?'


Lily badmood. Bahkan saat dosen lain mengajar 1 les, ia tidak fokus lagi.


Mata kuliah Lily hari ini sudah selesai. Ia berjalan menuju ruangan Satria untuk menerima hukuman. Biasanya ia akan senang dihukum seperti ini supaya ia bisa lebih lama bersama Satria. Tapi sekarang, entah mengapa ia takut, padahal ia sudah terbiasa diperlakukan dengan buruk oleh Satria saat ia dihukum.


Lily berdiri di depan pintu ruangan Satria dengan gugup.


"Dihukum lagi yah?" Tanya Alvensia sahabat Lily, mungkin. Karena Lily belum sepenuhnya percaya dengan Tanya apalagi awal pertemanan mereka yang menurut Lily aneh.


Mereka berteman hanya karena Tanya yang membantu Lily dari pencopet dan tiba-tiba saja Tanya langsung mengajak Lily untuk jadi sahabatnya, bahkan kenalan aja belum. Ia takut Tanya punya maksud buruk, makanya ia masih ragu untuk bersahabat dengan Tanya.


Walaupun Lily terlihat masih sedikit menjauh, Tanya tetap tidak peduli dan selalu mendekatkan diri. Bahkan saat Lily melampiaskan kemarahannya kepada Tanya, ia tetap mengabaikan itu seakan semuanya tak pernah terjadi.

__ADS_1


Bahkan Lily pernah sengaja membuat Tanya marah supaya Tanya menjauh darinya, karena jujur Lily kurang nyaman dengan Tanya yang terlalu obsesif kepada pertemanan mereka, Namun belum lama Tanya marah, Tanya langsung berubah seakan kemarahannya tidak pernah terjadi. Ia meminta maaf dan meninggalkan Lily. Besoknya, ia kembali bersikap seperti biasa.


Lily pasrah dan memilih untuk menerima Tanya walaupun tidak sepenuhnya. Lily hanya menganggap satu sahabat yaitu Wilona Agnes, Sahabatnya dari kecil. Walaupun Lily mempunyai banyak  teman, tapi Wilona mempunyai tempat yang spesial.


Setiap masalah, Lily pasti cerita, hanya saja saat hari pernikahan Lily, Wilona tidak datang karena Wilona kuliah di luar negeri.


"Mmm" Lily mengangguk dengan cemberut.


"Tumben cemberut, Biasanya bahagia saat dihukum dosen tampan!"


"Kali ini beda!"


"Beda kenapa? Harusnya kan bahagia, karena pak Satria sudah jadi suamimu"


"Aku datang saat pernikahan mu, walaupun aku tidak mengucapkan selamat, karena takut kamu gak nyaman. Waktu itu orang tua ku sedang membahas pernikahan kalian, awalnya aku merasa kalau hanya namanya aja yang sama, tapi setelah liat marganya yang tertulis di undangan, aku yakin kalau itu kamu dan pak Satria. Saat itu orang tua ku sibuk, jadi mereka nyuruh aku untuk menghadiri pernikahanmu untuk memberikan selamat dan kado karena orang tua kita rekan kerja. Tapi aku hanya menitip kado karena takut kamu merasa aneh atas kedatanganku. Tenang saja, aku gak kasih tau siapa-siapa kok, semuanya aman terkendali!" Tanya tersenyum bangga karena dirinya bisa merahasiakan pernikahan yang ia anggap sahabat.


"Maaf karena tidak mengundang kamu!"


"Tidak apa, lagian aku juga hadirkan sebagai undangan? Dan yang paling penting, aku merupakan satu-satunya yang tau tentang pernikahanmu, jadi aku merasa spesial walaupun kamu tidak menganggap seperti itu. Selamat yah, semoga pak Satria gak menyakiti kamu lagi. Kamu pasti bahagia sekarang, dan aku yakin kamu tidak memerlukan aku lagi sebagai tempat marah dan sedihmu. Tapi kamu kamu merasa sedih atau marah, kamu bisa datang kok, aku akan tetap open karena bagiku, kamu adalah sahabatku. Ya udah aku pergi dulu, semangat menerima hukuman dari suami" Tanya tersenyum menampakkan bibir dan membentuk tangan sebagai tanda semangat seakan menjahili Lily yang sedang kena masalah.


Tanya meninggalkan Lily dengan girang berlari seperti anak-anak. Ini yang Lily tidak suka. Perubahan ekspresi yang begitu cepat. Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi kecewa Tanya, dan seketika, berubah menjadi girang seakan tidak terjadi apa-apa. Walaupun maksud Tanya baik, tapi Lily merasa bersalah dan takut di waktu yang sama. Bukan karena hal serius, tapi ia takut kalau Tanya mendekatinya karena sesuatu.


Lily sudah sering bertemu dengan orang lain yang selalu memanfaatkan dirinya. Hanya Wilona yang benar-benar ada untuknya. Ia selalu merasa kalau Tanya mendekatinya karena Tanya menginginkan sesuatu, entah itu kekayaan, percintaan atau sesuatu seperti kedekatan untuk memperlancar semuanya. Tapi disaat yang sama Lily selalu berpikir untuk apa? Karena Tanya sudah punya semua kecuali hubungan percintaan. Tapi tidak mungkin karena itu, karena saat Tanya meminta pertemanan, Lily tidak sedang menjalin hubungan tapi malah selalu dicampakkan Satria.

__ADS_1


Tapi gak mungkin semuanya berjalan secara kebetulan kan? Lily yang tiba-tiba di copet dan Tanya yang bisa melawan preman yang badannya kekar bukan yang loyo-loyo gitu loh dan premannya bukan cuma satu tapi tiga. Dan Tanya yang tiba-tiba meminta Lily untuk menjadi sahabatnya bahkan belum kenalan,  untuk mengucapkan terima kasih saja, Lily belum sempat.


Perdebatan itulah yang selalu memenuhi kepala dan hati Lily. Pemikiran yang selalu membuat dirinya memasang tembok kepada Tanya.


Lily menghela nafas panjang dan mencoba melupakan yang baru saja terjadi. Kegugupannya sudah menghilang. Ia dengan cepat membuka pintu dan melihat Satria yang sedang menunggunya.


Melihat ekspresi Lily yang buruk membuat Satria bertanya-tanya. "Ada apa, hmm?"


Lily menggeleng dan mendekat dengan Satria dengan cemberut. "Hukuman apa kali ini?"


Satria tampak berpikir, "Apa yah?"


"Serius pak!"


Satria tersenyum. "Harusnya aku yang marah loh, kok jadi muridnya sih?"


"Aku lagi gak mood"


"Masa? Biasanya happy banget walaupun tau akan dapat hinaan"


"Maaf, tapi aku benar-benar gak mood!" Lily cemberut.


Satria menggerakkan tangannya memberitahukan Lily untuk duduk di pangkuannya. Lily nurut dan duduk. Lily merasa nyaman dan ia melupakan hal yang menggangu pikirannya.

__ADS_1


Satria senang, karena Lily sudah baikan. Ia mengajak Lily pulang dan akan memberikan hukuman di rumah. Pikiran Lily sudah aneh tapi ia tak masalah dengan itu. Lagian mereka sudah suami istri. Dan Siapa sih yang bisa menolak hukuman seperti itu apalagi dengan Satria.


__ADS_2