
Sepulang dari rumah sakit, saat di dalam mobil suasana begitu hening. Berbeda dengan sewaktu berangkat tadi, Ziara yang terus mengoceh diantara mereka bertiga.
Claris juga bingung apa sebenarnya yang terjadi, sehingga membuat Ziara mengunci rapat mulutnya tidak bertanya sedikit pun.
Sepanjang perjalanan wajah Ziara nampak kosong, tanpa berekspresi. Raka melirik kearah istrinya itu hanya mencuri pandang. Ia mencoba untuk mengajaknya bicara siapa tau akan membuat wanitanya itu mau bicara seperti semula.
“Sayang, kamu mau makan apa malam ini?” ucap Raka melirik sesekali sambil mengemudi. “Oh iya, gimana ... kalau aku belikan makanan kesuka-an kamu, udang asam manis.” bujuk Raka.
“Terserah ....”
Jawaban keluar dari mulut Ziara hanya satu kata terserah. Itu sungguh menyakitkan bagi Raka, ia tidak suka melihat wanita di sampingnya itu bersedih.
Setibanya di rumah Ziara turun lebih dulu tanpa menunggu Raka atau Claris. Ia langsung masuk ke kamar. Wanita itu melepas pakaian, dan menggantinya mengenakan handuk kimono. Ia ingin mandi, mungkin mengguyur tubuhnya akan sedikit mengurangi hal yang mengganjal pikirannya.
“pleas ... jangan siksa aku seperti ini ....” lirih Raka yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Pelukan hangat itu terasa di punggung Ziara.
“Aku nggak papa ... kamu jangan khawatir. Aku hanya merindukan mereka saja.” ucap Ziara mengusap pucuk kepala Raka yang berada di leher. Ia merasakan geli di lehernya akibat Raka menyusuri dengan dagu yang baru ditumbuhi anak rambut, bakas cukuran sehingga membuat Ziara merinding.
“Baiklah, tapi jangan diam aku tidak suka. Besok kita akan berkunjung ke makam mereka, setelah itu ... kita ke makam Papa Romi. Aku sudah lama tidak kesana dan aku juga belum pernah membawamu kesana.”
“Makasih sayang!” Muah! Ziara mecium pipi Raka sebagai ungkapan terima kasih. Ia senang ternyata Raka akan mengajak ke makam orang tuanya sebelum ia meminta.
“Cepatlah mandi. Aku sudah memesan makanan kesukaan-mu, kamu boleh makan sepuasnya.” Raka meninggalkan Ziara keluar kamar.
Baberapa menit setelah Ziara selesai mandi, perutnya keroncongan sudah tidak bisa menahan lapar, ia segera memakai pakaian. Lalu turun ke bawah menuju meja makan.
“Sita!” Pekiknya terkejut melihat Sita duduk di kursi bersama Raka. Sita pun menoleh kearah suara yang memanggilnya tidak kalah histerisnya dengan Ziara.
“Zie!” Sita langsung berdiri dan berlari kearah temanya itu.
“Aku kangen kamu ... Sita,”
“Aku juga, Zie ....”
Mereka saling merapatkan badan. Berpelukan persahabatan seperti yang mereka lakukan dulu. Ziara sangat senang melihat Sita di sini mengobati rasa rindunya kepada orang terdekatnya.
“Kamu kesini kenapa nggak ngabari aku, Sita?”
__ADS_1
Sita tersenyum. Tentu saja dia tidak mengabari sebelumnya, itu semua karena Raka menelepon tiba-tiba menyuruh datang ke rumahnya. Buru-buru Sita segera datang karena ia takut terjadi sesuatu kepada Ziara.
“Tunggu-tunggu.” Ziara penuh tanda tanya. Apa ini ada hubungannya dengan pria yang duduk sebelah sana? Pikiranya tertuju kearah Raka yang tersenyum penuh makna kepadanya.
“Apa ini semua ... rencanamu, sayang?” tanya Ziara mengkonfirmasi pikirannya. Raka tersenyum menaikan kedua alis membenarkan pertanyaan Ziara.
“Aku tau kamu merinduhkan orang-orang terdekatmu. Yang aku tau Sita lah orang terdekatmu, oleh sebab itu aku menelepon dia, dan menyuruhnya kemari.” titah Raka berdiri dan mendekat kearah Ziara.
“Terima kasih sayang .... ” Ziara menempelkan tubuhnya, lalu Raka memeluknya mencium pucuk kepala yang tidak pernah ia lupakan.
Aku disini.... Aku ada disini....
La la la la....
Sita bernyanyi di belakang mereka. Kehadirannya seperti tidak indahkan. Buat apa dia dipanggil? Kalau hanya diam menyaksikan kemesraan mereka berdua.
“Makanan sudah siap. Ayok kita makan!” ajak Raka dan mereka bertiga makan bersama. Hingga akhirnya mereka selesai makan. Pelayan membersihkan meja sisa makan mereka.
Akhirnya setelah seharian menahan lapar, perut Ziara kini kenyang juga.
Mereka berdua menunggu Raka menghilang dari hadapan. Setelah punggung itu tidak nampak lagi Ziara menarik pergelangan tangan Sita membawanya duduk di sofa.
“Apa kamu tau kabar Arini, Sita?” tanya Ziara penasaraan dengan kabar Arini. Sudah lama ia tidak pernah bertemu, dari semenjak makan malam itu. Semenjak malam itu Arini menghilang entah kemana. Bahkan gadis itu juga tidak datang waktu orang tuannya meninggal.
“Arini sedang menghukum dirinya sendiri. Dia tidak pernah keluar rumah walau pun cuma sebentar. Dia merasa bersalah, karena perbuatannya orang tuamu meninggal.”
“Kenapa? Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia,” Ziara memegangi pangkal hidungnya.
“Ada Zie, dia ikut andil merencanakan makan malam itu. Apa kamu tau Zie?”
“Apa?”
“Dia yang mengirim foto-foto itu kepada Raka!” Ucap Sita membuat Ziara mengangak kaget tidak percaya.
Tidak mungkin yang dia dengar pasti bohong. Arini tidak mungkin tega melakukan itu. Tapi, kalau tidur dengan Rio saat masih resmi jadi pacarnya di lakukan, mungkin hal itu juga dilakukan Arini. Ziara bergulat dalam benaknya.
“Nggak, Arini bukan wanita licik seperti itu. Mana mungkin dia setega itu.” ucap Ziara coba mengelak kalau yang diucap Sita itu tidak benar.
__ADS_1
“Dia merasa bersalah kepada hubunganmu dan Rio. Oleh sebab itu dia berencana menyatukan kalian lagi, dia nggak tau kalau kamu sudah mencintai Raka.”
Ziara bingung apa yang harus dia lakukan, terkejut tidak menyangka, kalau Arini berani berbuat begitu. Ia mungkin akan memaafkan saat dia kepergok tidur dengan Rio. Namun kalau sudah menyangkut hubungan dengan Raka, ia tidak akan memberikan celah dan memaafkan siapa pun orang yang akan mengganggu pernikahan mereka.
“Kamu kenapa, Zie?” tanya Sita melihat raut wajah nanar milik temannya. Inilah hal yang di takutkan Sita, Ziara pasti menjadi sedih mendengar semua itu. “Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Aku kangen kamu ngapain bahas yang lain.”
“Kamu benar Sita. buat apa memikirkan yang sudah berlalu. Aku dan Raka sudah bahagia saat ini, kami saling melengkapi satu sama lain, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu hubungan kami. Siapa pun, tidak terkecuali.” Mata Ziara menatap Claris yang berdiri di seberang sana.
Claris yang merasa keberada-annya tersorot mata Ziara, ia kembali masuk ke dalam kamar.
Sita dan Ziara pun melanjutkan mengobrol. Mereka membicarakan topik lain yang membuat mereka bahagia.
“Jadi kamu sudah malam pertam Zie?” Tanya Sita penasaran, mendengar cerita teman yang sedang bahagia. Ziara tersenyum malu dan mengangguk membenarkan.
“Akhirnya ... temanku sudah tidak perawan ....” Canda Sita menggoda Ziara yang nampak malu-malu.
“Husst! Jangan keras-keras ngomongnya malu.” Ziara memukul lengan Sita pelan. Membuat Sita menyadari suaranya terlalu nyaring.
“Iya maaf.” Sita mengulum senyum menutup dengan tangan. “Jadi, gimana Zie rasanya ... malam pertama?” tanya Sita lagi masih penasaran dengan cerita selanjutnya.
Ehemm! Ehemm!
Raka mengode kalau dia mendengar pembicaraan mereka. “Ini sudah malam, saatnya kamu pulang. Nggak bagus loh, anak perawan pulang malam-malam,”
Sungguh penghinaan untuk Sita, Raka menyuruh datang dengan cepat. Dan sekarang saat masih seru-serunya mengobrol kini ia disuruh pulang.
“Jadi, aku diusir nih?” tanya gadis itu. Raka menyunggingkan bibir dan menaikan alis, iya memang sudah tidak membutuhkan Sita.
Ziara tertawa menyaksikan temannya di jahili Raka. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan hanya jadi penonton saja. Dia akan membantu suaminya menjahili temannya itu.
“Iya Sit, ini sudah malam. Mendingan kamu pulang deh,”
“Kalian tega, aku nggak terima di ginikan.” ucap Sita masih menikmati dramanya sebagai orang di bully. “Ya sudah aku pergi!” gadis itu mengulum senyum meninggalkan mereka berdua.
“Hati-hati! dijaga keperawanannya.” pekik Ziara menertawakan teman yang sampai saat ini masih setia menjomblo itu. Ia dan Raka bergandengan mengantar Sita sampai ke depan pintu.
JANGAN LUPA KOMEN LIKE, VOTE YA GUYS😘😘😘
__ADS_1