Dijodohkan

Dijodohkan
Pacar Pura-Pura


__ADS_3

Hallo semua... Maafkan diriku yang suka telat-telat ini ya...


Selamat membaca...


Huek! ... Huek!


Zia kembali merasakan isi perutnya seperti diaduk-aduk ketika Raka mendekatkan sesendok nasi ke mulutnya. Setelah untuk kesekian kalinya ia mencoba memasukkan makanan tapi hasilnya sama ia tidak bisa menahan rasa mual yang diderita saat makanan itu berada di dekatnya.


Raka yang melihat itu menjadi kasihan, ia tidak tega melihat istrinya itu lemas tidak berdaya. “Sayang katakan, hari ini kamu mau makan apa, pasti aku akan menurutimu, asal kamu makan aku akan membelikannya untukmu,” ucapnya mengusap menyingkap anak rambut Zia yang terurai.


Kebetulan sekali Raka menawarkan. Ia sebenarnya tidak selera melihat makanan di hadapannya itu. Hanya karena tidak ingin membuat Raka tersinggung karena telah membawa ke kamar ia mencoba untuk memakan, tapi sia-sia makanan justru membuatnya semakin mual. Zia menggigit bawahnya seraya berkata, “Hem ... aku boleh nggak minta sesuatu?” tanyanya.


“Tentu saja boleh, apa pun yang kamu mau pasti aku turuti,” balas Raka menangkup wajah sang istri gemas. “Memangnya ... apa yang kamu inginkan, sayangku?”


“Aku mau mie instan,” ucap Zia tersenyum terpaksa. Ia tahu kalau suaminya itu tidak mau kalau dia makan mie instan. Menurut Raka tidak bagus mengonsumsi makanan yang serba instan akan berdampak buruk bagi kesehatan si pengonsumsi.


“Apa tidak ada yang lain selain itu, Zia? Kamu tau sendiri bukan, kalau aku tidak mengizinkan siapa pun di rumah ini memakan mie instan, tetapi kenapa kamu minta,” protes Raka.


Zia mengerucutkan bibir karena permintaannya ditolak sang suami. Ia menggunakan jurus andalan untuk menunjukkan aksi protesnya. Segera berbalik merebahkan tubuh, lalu menutup dengan selimut.


Raka menghela napas kalau sudah begini ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurutinya. Kasihan juga istrinya itu belum makan apa pun dari kemarin dengan terpaksa ia mengatakan, “Ya sudah ... aku akan menyuruh bik Srie membelikan mie instan.” Lalu berdiri akan keluar.


Ziara mengerjapkan mata tunggu, tunggu bukan itu yang ia mau. Ia membalik tubuhnya melihat Raka. “Tapi aku nggak mau kalau bik Srie yang membelikan. Aku maunya kamu yang beli dan setelah itu buatkan aku,” ucapnya. Membuat Raka membelalakkan mata.


Kenapa istrinya jadi aneh begini sih?


Raka mencebik berbalik. “Kamu tau aku tidak pernah membeli keperluan seperti itu,” tolaknya dengan santai. Ia tidak menyadari kalau mata istrinya itu sudah berkaca-kaca mendengar penolakannya. “Ya ampun ....” Zia pagi ini membuat dirinya kacau.


“Iya ... iya, aku yang akan beli,” imbuhnya lagi.


“Benarkah?” Seketika wanita itu bangkit dan mengecup bibir suaminya. “Terima kasih sayang ... aku mencintaimu,” mencium pipi berulang-ulang.

__ADS_1


“Apa kau mau pergulatan kita berlanjut, sayang ... kamu bisa pingsan kalau aku beraksi sekarang kalau kamu terus menciumku seperti ini” kata Raka melingkarkan tangan di pinggang wanitanya itu.


“Maaf, habisnya kamu gemesin sih. Ya udah pergi sana! Aku lapar, beby ....” Zia mendorong Raka sampai ke luar dari pintu kamar.


Kelakuannya itu membuat Raka menggelengkan kepala, menarik napas, lalu bersiap melangkah untuk ke minimarket yang tidak jauh dari rumah.


Sesampainya di minimarket Raka berkeliling mencari mie instan. Sebelumnya ia lupa bertanya kepada Zia mie rasa apa yang di inginkan. Ada banyak rasa di hadapannya mulai yang bergambar jin, burung, dan lain-lain sampai ia bingung harus pilih yang mana. Sampai akhirnya melihat mie instan yang ada foto opa Korea, ia segera mengambilnya pasti istrinya suka, karena dia sering melihat Zia menonton drama-drama begituan.


Saat ia sedang membawa belanjaan ke kasir, tiba-tiba ponselnya berdering ia pun segera menggeser tombol hijau dan berbicara dengan seseorang seberang sana.


“Ada apa kau meneleponku, Rio?” ucapnya sembari menyerahkan barang belanjaan ke kasir.


“Bos, kenapa kau belum pergi ke kantor? Ada banyak berkas-berkas yang harus ditanda tangani,” balas Rio.


“Aku tidak ke kantor hari ini, Rio. Zia sakit jadi aku akan menemaninya hari ini. Kau bisa kan mengatur untuk hari ini?”


“Jumlah total belanjaan semua lima puluh ribu, Tuan,” ucap kasir saat selesai menjumlah belanjaan Raka.


“Rio, apa kau masih di sana?” pekiknya menyambung kembali pembicaraan dengan Rio.


“Iya aku masih di sini Bos, ngomong-ngomong Zia sakit apa kalau aku boleh tau?” tanya Rio dari seberang sana ada Sita juga yang ingin tahu di belakang.


“Penyakit mahnya kambuh, jadi dia muntah-muntah terus dari pagi. Sudah, tidak usah banyak tanya aku tutup teleponnya.” Raka menutup saluran telepon lalu membuka mobil.


**


“Apa yang terjadi dengan Zia, Rio?” tanya Sita saat Rio selesai menelepon Raka.


“Mahnya kambuh, jadi dia mual-mual terus, Sita.” Rio memeriksa berkas di hadapannya.


“Jangan-jangan dia hamil, Rio,” ucap Sita sembarangan.

__ADS_1


“Dari mana kamu tau, kalau Zia hamil, apa kau dokter?”


“Tentu saja aku tau, mual adalah pertanda awal seseorang memasuki fase kehamilan. Aku yakin, kalau Zia sedang hamil. Aku turut bahagia mendengarnya.”


“Baguslah ... kalau Zia benar-benar hamil, tapi ... apa kau tidak ingin seperti dia, Sita. Sampai kapan kau akan terus menyandang gelar perawan tua?” Rio berucap terkekeh.


“Bukan urusanmu!” Sita melangkah kembali ke meja kerjanya. Rio hanya terkikih melihat tingkah wanita itu.


“Rio, di mana Raka? Aku mencari di ruangannya tidak ada,” ujar Erick membuat Rio dan Sita menoleh serentak melihatnya beru memasuki ruangan.


“Dia tidak pergi ke kantor hari ini, Zia sakit, jadi ... dia memutuskan untuk menemaninya.”


“Zia sakit?” tanya Erick mengonfirmasi ucapan Rio kembali. “Sakit apa dia?”


“Kata Raka dia dari tadi pagi muntah-muntah terus mungkin saja dia hamil.” Balas Rio.


Erick memikirkan sesuatu. Ia memikirkan perusahaan Raka yang diambang kehancuran. Ingin ia menolong tapi, Raka menolaknya hanya karena takut jika Erick merebut Zia darinya sebagai ganti bantuan yang diberikan. Ia sudah mengatakan kalau dia tidak akan merebut Zia dari Raka tapi, Raka tidak mempercayainya.


“Sita–Rio, aku ingin bicara dengan kalian. Terutama kamu Sita.” Erick mendekat dan duduk di kursi depan Sita.


Sita menautkan alis lalu berkata, “Bicara tentang apa, Tuan Erick?”


“Ini hal serius menyangkut tentang Raka dan Zia. Kita tau kalau perusahaan Raka sedang dalam kondisi tidak bagus ... aku sudah menawarkan bantuan padanya tapi ... Raka menolakku, sebagai seorang teman aku tidak bisa melihat kalau perusahaan dia hancur begitu saja. Terlebih lagi dia sudah seperti saudaraku sendiri, dan perusahaanku jadi berkembang atas bantuan om Romi ayah Raka.” Erick memandang Sita. “Sita, maukah kau membantuku?”


“Memangnya apa yang harus kubantu, Tuan? Selagi aku mampu pasti aku akan membantu, karena Zia bukan hanya teman bagiku. Seperti keluarga tuan Raka menganggapmu, begitu juga keluarga Zia menganggapku. Katakan Tuan, apa yang harus saya bantu.” Sita menatap Erick kini tatapan mereka saling mengunci.


“Sita, jadilah pacar pura-puraku ....”


Uhuk!! Uhuk!!


Rio yang sedang minumpun seketika tersedak karena terkejut.

__ADS_1


__ADS_2