
Bab 11. PINDAH
**
"Gila tahu gak, gara-gara lho balik duluan gue yang kena. Brengsek emang lho jadi temen."
"Si Denis belum balik tahu, dia nungguin gue di parkiran. Udah gitu si Satrio modus lagi nanya-nanya lho mulu."
"Ya abis gimana Sar gue udah di jemput."
"Ya lho ngomong kek, kalo si Denis nungguin gue. Ujung-ujungnya gue yang kena. Di ceramahin sampe Rumah gue."
"Ya sorry, gue gak lihat si Denis sumpah."
"Bohong banget, si Denis aja liat lho Na."
"Dia lihat gue, belum tentu gue lihat dia Sarah."
"Tahu ah gue bete, kagak dapet bulanan gue sama si Denis. Urus noh si Satrio. Tadi dia minta nomor lho, gue kasih aja abis nya kesel gue."
"Ngapain lho kasih nomer gue, astaga Sarah."
"Bodo amat."
Memang yah, kadang-kadang punya sahabat gak bisa mikir dulu. Main kasih nomor orang, tanpa meminta izin.
Aku menoleh ketika pintu kamar terbuka, ternyata mas Aziz sudah pulang. Tapi kenapa aku tidak mendengar suara mobil nya? Dia hanya melirik sekilas, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dan aku hanya mengangkat bahu.
Hari ini ketika sampai Rumah mama seperti biasa langsung mengoceh, tidak tentu arah. Aku hanya menjadi pendengar yang setia. Tanpa menjawab apapun, dan hanya bisa menurut.
"Kamu itu, udah punya suami Lena. Harus bisa jadi istri yang baik. Harus bisa melayani suami dengan baik. Dan sebagai bukti kamu harus pindah dari Rumah ini."
__ADS_1
Aku melotot mendengar ucapan mamah, aku langsung menegakkan duduk ku. Memandang mamah dengan tatapan sengit.
"Mamah ngusir aku gitu?"
"Bukan mengusir, tapi nyuruh kamu buat pindah. Ingat Lena, kamu punya suami punya kehidupan baru. Nah, maka dari itu kamu harus pindah ke Rumah mertua kamu."
"Maksud mamah apaan sih? Aku gak ngerti."
"Lena, Alena Atalia Atmaja putri mamah satu-satu nya. Setelah menikah tugas kamu nurut sama suami, mengikuti apapun keinginan suami kamu. Nah salah satu nya dengan cara kamu nurut."
"Masa harus pindah sih mah?"
"Sayang, perempuan kalo sudah menikah memang sudah kodratnya. Keluar dari Rumah terus mengikuti suaminya. Mungkin Aziz belum memberitahu kamu, karena dia masih bingung buat mulai semuanya. Nah maka dari itu, mamah yang kasih tahu. Kamu jangan salah faham, jangan berpikir mamah mu ini ngusir kamu. Tidak sama sekali, mamah juga dulu begitu setelah menikah langsung pindah."
"Harus yah mah?"
"Harus dong, mama mertua kamu udah telponin mama terus. Nanyain kapan kamu pindah? Maka dari itu mama kasih tahu sekarang. Kamu bebenah, terus setelah suami kamu pulang kamu ajakin dia buat ngebahas masalah ini."
Bahu ku melorot dengan sendirinya, rasanya begitu lemas. Usia muda sudah menyandang status sebagai seorang istri, padahal status pelajar ku pun belum selesai. Tugas ku semakin bertambah saja rasanya ini begitu tidak adil, aku ingin melambaikan tangan apabila ada kamera di sekitar ku.
Air mataku menetes tanpa aku suruh, entah kenapa rasanya begitu sakit. Mengingat aku hidup selama 17 tahun di Rumah ini, dan malam ini aku berkemas untuk aku bawa ke Rumah mertuaku nanti.
Pintu kamar mandi kembali terbuka, aku buru-buru menghapus air mataku. Aku tidak mau Mas Aziz melihat aku sedang menangis.
Aku mendengar dia berjalan ke arah koper nya, aku lupa tidak menyiapkan baju ganti miliknya. Saking khusu nya aku berbenah sampai aku lupa tugas ku yang sebenarnya.
"Kamu sedang apa?" Itu suara Mas Aziz, setelah kemarin kami sah. Baru kali ini dia bertanya padaku.
"Mama bilang aku di suruh berkemas, katanya mau pindah ke Rumah tante Desi." Jawabku tanpa menoleh, entah kenapa ketika aku mengucapkan kalimat tersebut rasanya begitu sesak.
"Siapa yang suruh? Mama tidak memberitahu ku sebelumnya?" Dia terdengar kaget, tidak lama dia keluar dari kamar.
__ADS_1
Aku menoleh, berbarengan dengan air mata yang kembali menetes. Andai aku bisa melawan, aku tidak mau meninggalkan Rumah ini. Rasanya begitu berat.
"Halo Aziz anak mama yang ganteng, tumben kamu telpon mama."
"Mama bilang apa sama mama Della, bukannya sebelum nya saya sudah bilang jika kami akan tinggal disini."
"Mama pikir kamu bercanda."
"Saya tidak pernah bercanda, tidak ada gunanya."
"Jadi kamu serius mau tinggal di Rumah Della?"
"Untuk saat ini saya dan Lena akan tinggal di sini, dan kedepannya mungkin saya akan membeli Rumah. Saya pikir Elena itu masih butuh di sekitar orang tuanya. Maka dari itu saya memutuskan untuk tetap tinggal disini."
"Baiklah, biar nanti mama bilang sama mertuamu. Sekali-kali kamu bawa menantu mama ke Rumah. Mama juga ingin di kunjungi jika kamu tidak tahu."
Setelah mematikan sambungan telpon Aziz kembali masuk kedalam kamar, dia melihat istrinya itu masih berbenah. Dan entah kenapa rasanya begitu sakit, padahal hanya berbenah yang dia lakukan.
"Elena?"
"Iyah?" Aku bisa melihat jika dia seperti kaget, ketika aku memanggil namanya.
"Kemarilah !!" Dia menoleh dengan kaku kearah ku, kemudian langsung berdiri dan berjalan menghampiri ku.
"I-yah Mas?" Kenapa dia seperti orang yang gagap, aneh sekali?
"Duduk Lena." Dia terlihat ragu, tapi tetap duduk meski jarak kami sedikit berjauhan.
"Kamu tidak perlu membereskan baju-baju mu, karena saya tidak ada niatan untuk keluar dari Rumah ini. Saya sadar kamu belum siap akan hal tersebut, tapi untuk pindah mungkin akan saya lakukan tapi suatu saat nanti." Dia terlihat menunduk, entah malu atau karena apa? Tapi aku bisa mendengar jika dia mengeluarkan isak tangis nya.
Aku menghela nafas entah kenapa rasanya begitu sesak, wanita ini kenapa pura-pura kuat di hadapan ku. Padahal aku tahu jika dia tidak sama sekali menerima pernikahan ini sama hal nya dengan ku. "Kemarilah." Ucapku pada akhirnya. Dia masih menunduk, dan hal tersebut membuatku gemas.
__ADS_1
Aku mendekat kemudian menarik tubuhnya untuk aku dekap, tangis nya malah semakin menjadi. Karena kaos yang aku pakai sekarang terasa begitu basah.
"Sudah jangan menangis, saya tahu kamu belum bisa menerima semua ini." Ucapku mencoba menenangkan nya. Aku mengusap bahunya yang naik turun kemudian mengelus rambut hitam lebatnya, aroma nya begitu wangi. Padahal shampo yang dia pakai aku juga ikut memakai nya. Tapi kenapa tidak se--wangi ini?