
Aku juga pamit sayang," ucap Raka menatap Ziara, tersenyum manis. "Nanti siang, pak Handoko akan jemput kamu untuk ke kantor. Aku ingin makan siang di kantor sama kamu dan ... melanjutkan yang tadi belum selesai"
Ziara membulatkan mata terkejut dengan kekonyolan sang suami. Nampaknya ia harus mulai terbiasa dengan kenakalan Raka, menjahili dia setiap saat. Gadis itu pun mengangguki perintah Raka. Saat ini tidak ada hal lain yang membahagiakan selain bersamanya.
"Sampai jumpa nanti siang, sayang ...." Raka mengecup kening Ziara lembut. Tangan Ziara bertumpu pada dada bidangnya. Lalu mereka saling melepas masing-masing.
"Hati-hati di jalan,"
Raka mencubit gemas hidung Ziara membuat gadis itu mengerucutkan bibir.
"Sakit tau ...." Ziara menepis tangan Raka yang membuatnya terhalang saat mau bernapas.
"Sudah siang ... bukanya kamu banyak pertemuan dengan klien?"
"Baiklah aku pergi, tapi ... cium dulu...." lirih Raka di telinga gadis itu. "Kenapa wajahmu bersemu, sayang?"
Cup!
Ziara dengan cepat mencium pipi Raka. Ia tidak ingin kecolongan lagi. Nanti bisa-bisa suaminya bukan ke kantor, justru berlanjut ke kamar kalau ia terus saja meladeninya.
"Sudah pergilah, kasian para klienmu harus menunggu lama." Ziara menepuk pelan dada Raka, lalu merapikan jas.
Raka yang disusul pak Handoko di belakang, pergi menuju kantor. Sedangkan Ziara memutuskan akan tiduran di kamar. Tubuhnya masih terasa sakit semua terutama bagian bawah sana, akibat perbuatan Raka semalam. Ia berjalan menuju kamar gadis itu tersenyum manis saat melewati Claris yang memandangnya sinis.
Saat masuk kamar ia sudah melihat ranjang tersusun rapi, tidak seperti tadi yang berantakan berserakan kemana-mana. Aroma dan suasana membuat Ziara nyaman. Ia duduk di ranjang, dengan kepala bersandar dan kaki lurus. Ia mengambil remot untuk menyalakan layar hitam yang menempel di dinding, memilih-milih mencari tayangan drama korea yang ia sukai.
Akhirnya ketemu juga tayangan yang ia cari-cari. Tinggal menikmati tayangannya baper-baper ria. Bantal sudah siap, suasana kamar sepi, kini ia waktunya menonton tanpa ada gangguan suara atau apapun. Namun ia tiba-tiba ingin ke kamar mandi. Gadis itu segera lari, dan meletakan remot di atas kasur.
Setelah ia selesai kini waktunya untuk melanjutkan tontonannya kembali. Ia terus saja berjalan menuju ranjang. Saat ia menaikan pandangannya ia terkejut melihat se-sosok pria bersandar duduk di ranjang memainkan ponselnya.
"Sayang, kenapa kamu disini? Bukannya kamu ada banyak pertemuan hari ini?" tanya Ziara merasa heran.
Raka mengangkat pandangannya yang sebelumnya menatap ponsel beralih melihat Ziara, lalu berkata,
"Aku batalkan semua janjiku dengan mereka."
__ADS_1
"Why?"
"Memangnya kenapa lagi? Tentu aku mau menghabiskan waktu dengan istri manisku."
Ziara membulatkan mata lebar, terkejut melihat suaminya tiba-tiba membatalkan janji dengan klien penting. Hanya karena ingin berduaan dengannya. Cinta memang membuat orang menjadi konyol, bisa membuat orang meninggalkan apapun hanya untuk 'cinta'.
Ziara masih berdiri di samping ranjang. Raka menepuk-nepuk ranjang menyisakan satu ruang agar Ziara bisa duduk di dekatnya. Gadis itu pun mendekat duduk di samping Raka, menaikan lengan kokoh itu, lalu ia bersandar di dada bidang sang suami. Kini wangi aroma tubuh maskulin itu terasa dekat dengan indra penciuman Ziara. Sehingga membuatnya hanyut dalam pelukan, ia memainkan lekuk wajah Raka dengan jari. Sedangkan Raka menyandarkan kepalanya dan menutup matanya seolah menikmati sentuhan sang istri.
"Sayang,"
"Hemm?"
"Apa— aku boleh meminta izin?" tanya Ziara menongak keatas melihat wajah Raka yang terpejam, pria itu lalu membuka matanya saat mendengar Ziara menyebut kalimat izin.
"Izin? Apa maksudmu?" Raka menaikan alis.
"Iya aku izin ... sudah lama menginginkan ini, jadi aku ... mau minta izin kepada-mu, supaya memberiku kesempatan untuk membuka toko kue...." lirih Ziara. Membuat Raka menahan senyumnya namun ia tak sanggup. Raka menertawakan ucapan wanita itu. Ia tidak percaya kalau istrinya itu bisa membuat kue.
"Kamu halu ya? Mana bisa wanita sepertimu bisa buat kue. Udah nggak usah banyak gaya! Simpan idemu itu, karena aku tidak akan mengizinkannya," ucap Raka santai.
Sang suami sudah melarangnya. Gadis itu kesal meraih remot tanpa menoleh ke arah Raka sebagai wujud protes, matanya menatap ke benda hitam yang menempel di dinding itu. Ia menekan-nekan tombol remot tidak menemukan tayangan yang pas.
"Marah?" Raka menggeser tubuhnya mendekat ke sampingnya. Dan gadis itu juga menggeser tubuhnya supaya Raka tidak mendekat, namun cowok itu terus mendekat.
"Dasar pemarah!"
Perkataan itu membuat Ziara semakin geram. Ia bediri akan keluar. Namun Raka juga ikut berdiri. Menarik tangan wanita itu membawanya ke atas pangkuan, lalu mendekapnya kuat.
"Apa-an sih ... lepaskan! Aku sedang marah jangan ganggu aku," ucap Ziara wajah merengut, mencoba melepaskan lingkaran tangan Raka. Namun pria itu tetap saja bergeming.
Se enaknya aja melarang keinginanku lihat saja nanti, aku akan membuat kamu mengizinkanku kita lihat siapa yang menang.
"Diam! jangan bergerak, kalau kamu bergerak seluruh isi rumah akan dengan suaramu,"
"Enggak mau,"
__ADS_1
"Diam!"
"Nggak mau!"
Raka memajukan bibirnya akan mencium. Namun di halau, Ziara menutup mulutnya dengan tangan. Supaya Raka tidak bisa menciumnya. "Buka mulutmu!"
Ziara menggeleng cepat menolak dan mulutnya masih tertutup tangan. "Buka mulutmu!"
"Nggak!"
Raka menggelitik perut Ziara, hingga membuat tangannya terlepas hingga terjatuh ke kasur. gadis yang sebelumnya cemberut menjadi tertawa terbahak-bahak.
"STOP!"
Pekik Ziara. tidak tahan lagi mencoba menepis tangan Raka. dan akhirnya Raka berhenti. Lalu mereka berdua bergeming berbaring menatap langit-langit kamar. Hingga akhirnya mata mereka saling beradu sama lain, namun bibir mereka bergeming.
"Apa kamu serius, dengan permintaanmu?" tanya Raka meyakinkan. Sebenarnya ia tidak ingin jika istrinya harus bekerja. Namun apalah daya, akhir-akhir ini ia tidak bisa menolak permintaan Ziara.
"Aku yakin. Sudah lama aku pengen buka toko kue, semenjak Ibu masih hidup, dan sekarang sudah tiada. Ibu selalu memberitahu cara membuat kue." ucap Ziara mata berkaca-kaca mengingat kenangan ibunya.
Raka yang melihat istrinya menggenang air mata. Ia segera mengalihkan topik, supaya Ziara tidak sedih. Ini sudah janjinya tidak akan membiarkan Ziara sampai menangis lagi. Karena dia satu-satunya orang yang dimiliki.
"Baiklah, aku akan menguji coba kamu. Kalau kamu lolos aku akan memberimu izin, dan sampai kamu nggk lolos ... turuti permintaanku, gimana?"
"Hemmm." Ziara berpikir, mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari. "Tapi apa uji cobanya?"
"Syaratnya kamu harus buat kue, aku yang yang mencicipi, kalau nggk enak kamu nggak lolos, kalau enak kamu jual di perusahaan Sanjaya grup. Aku tuan Raka akan membeli semua, jadi ... kamu nggak perlu repot-repot cari pembeli."
"Terus ... apa bedanya?"
❣️Tidak akan ada henti-hentinya Aku Minta dukungan kalian. Harap di baca jangan di abaikan, kalian sebelum baca pasti lihat ada bintang 5 kan? Saya mohon dengan sangat agar meluangkan waktu untuk menekan Bintang lima.
Like, Love, Vote itu geratisss teman-teman. Akan saya usahakan mulai besok kita akan Update setiap hari. Jadi sekali lagi kalau ingin cerita berlanjut saya mohon tekan diatas, seperti yang saya sebutkan tadi.❣️
JANGAN LUPA KOMEN YA GUYS😘😘😘
__ADS_1